Di semesta tanpa akhir, tempat miliaran ras tak berujung hidup berdampingan, berdiri banyak kekuatan tertinggi yang menguasai aliran reinkarnasi, berbicara langsung dengan Dao Agung, dan menekan seluruh era tanpa batas. Di antara semua kekuatan itu, hanya beberapa yang benar-benar mengguncang seluruh multisemesta.
Rumah Ilahi Ungu, sebuah kekuatan misterius dengan aura tak terbandingkan, hanya dengan sedikit gerakan saja mampu membuat tak terhitung banyaknya semesta bergetar ketakutan.
Keluarga Gu, keluarga kuno yang menyimpan rahasia tabu paling menakutkan. Mereka mengendalikan rahasia yang menekan seluruh era, dari masa lalu hingga masa depan.
Sekte Pedang Wuji, penguasa Dao Pedang tertinggi. Sekali pedang mereka terhunus, surga dan neraka tak terhitung jumlahnya gemetar dan bertekuk lutut.
dan anak muda bernama lu feng memiliki peradaban yang mengguncang seluruh multisemesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wusan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di jemput dengan pesawat modern
Lalu, di bawah mata telanjang semua orang, kedua serangan itu benar-benar terhisap.
Bersih.
Tidak tersisa apa pun.
Bahkan awan di langit ikut tersedot.
Serangan teknik tingkat kaisar pun tampak tak mampu menghadapi lubang hitam itu.
Bahkan matahari seolah bisa ikut terhisap.
Hal ini membuat Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er tak bisa mempercayainya.
Para murid di bawah pun tercengang.
“Surga… Lu Feng sekuat itu?”
“Sialan, kemampuan apa itu? Apakah serangan bisa dilahap begitu saja?”
“Kalau bertarung melawan Lu Feng, bukankah memakai teknik magis malah akan menangis?”
Para murid berdiskusi dengan penuh semangat.
Kekuatan Lu Feng benar-benar sesuatu yang baru bagi mereka.
Bahkan Gu Lie dan Jian Li mengerutkan kening.
“Bagaimana mungkin serangan teknik tingkat kaisar dilahap begitu saja?”
“Terlebih lagi lubang hitam ini aneh. Ini bukan teknik melahap, tapi seperti terbentuk secara alami.”
“Jian Tua, anak lu ini sungguh tidak sederhana.”
Gu Lie menatap Lu Feng dengan pandangan baru.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Baru satu hari, perubahannya sebesar ini?”
Jian Li berpikir dalam diam.
“Kakak Feng…”
“Lu Feng…”
Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er mendekat.
Wajah mereka dipenuhi rasa bersalah dan sedih.
Melihat kedua gadis itu, Lu Feng menghela napas.
“Oh… kalian berdua. Bisa tidak sedikit dewasa?”
Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er menundukkan kepala.
Jian Xiao Xue kemudian menatap Lu Feng.
“Lu Feng, jadi pertunangan kita?”
Dia ingin memastikannya.
Bahkan jika jawabannya mengecewakan, dia siap menanggungnya.
“Xiao Xue, untuk saat ini aku belum bisa. Aku masih lemah. Lagipula, aku belum punya niatan mencari pasangan.”
Lu Feng menjawab dengan serius.
Jawaban itu membuat Jian Xiao Xue kecewa.
Namun Lu Feng memang benar. Sejak kecil, dia selalu menganggap Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er sebagai adik perempuan.
Lu Feng juga tak pernah menunjukkan ketertarikan khusus pada Jian Xiao Xue sebagai seorang wanita.
Hal itu membuat Jian Xiao Xue mengambil keputusan dalam hatinya.
Dia bersumpah akan membuat Lu Feng melihatnya sebagai seorang wanita.
Sementara itu, Gu Xun’er merasa lebih sedih.
Kakak Lu Feng masih menganggapnya sebagai adik perempuan.
Dia tidak mau itu.
“Aku mau menjadi wanitanya Kakak Lu Feng.”
Mata Gu Xun’er menunjukkan rasa posesif yang kuat, bercampur dengan cinta yang berlebihan.
Lu Feng mengira mereka berdua sudah mengerti.
Dia mengangguk pelan.
“Baiklah, kalian berdamai dulu.”
Mendengar itu, Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er saling menatap.
Percikan terlihat di mata mereka.
Lalu mereka mendengus bersamaan.
“Humph.”
Keduanya memalingkan wajah ke arah berlawanan.
“Kalian berdua…”
Lu Feng hanya bisa pasrah.
Sungguh, gadis-gadis kecil yang nakal dan sulit diatur.
Gu Lie dan Jian Li di langit tak tahu harus berkata apa.
Nona muda mereka yang biasanya dingin dan sulit diatur, justru tampak benar-benar penurut di depan Lu Feng.
Gigi mereka terasa gatal, ingin sekali memukul Lu Feng.
Jian Xiao Xue mendengus.
“Hmp, seharusnya dia yang minta maaf padaku.”
Gu Xun’er mendengar itu langsung meledak, seperti kucing yang diinjak ekornya.
“Kenapa harus aku yang minta maaf?”
Dia melotot ke arah Jian Xiao Xue, namun wajahnya tetap terlihat sangat imut.
“Kamu yang mengganggu acara pertunangan kami.”
Jian Xiao Xue melipat tangan, menatapnya dengan sinis.
“Apa-apaan? Aku datang karena tidak setuju. Dan kau juga salah, kan? Seharusnya kau tidak memakai alasan bahwa para tetua menjodohkanmu dengan Kakak Lu Feng, sampai membuatnya bertunangan denganmu.”
“Itu melanggar janji kita.”
Gu Xun’er menunjuk sambil memarahi.
“Yah, terus kenapa? Bersamaku, Lu Feng pasti bahagia. Kami akan menjadi pasangan yang serasi.”
Jian Xiao Xue sempat membayangkan masa depan indah sambil tersenyum manis, namun langsung ditepis.
“Heh, pasangan serasi? Dengan muka dinginmu itu? Seperti tembok salju sepuluh ribu tahun. Pria mana pun pasti menyerah kalau harus berurusan cinta denganmu.”
Gu Xun’er mengejek tepat mengenai titik lemah Jian Xiao Xue.
Bahkan Lu Feng menatap Xun’er dengan tak percaya.
Sejak kapan Xun’er mempelajari kata-kata setajam itu?
“Apa bedanya kau, Gu Xun’er? Kau masih kecil. Di bagian tertentu pun masih kecil, sudah bicara soal cinta. Lebih baik kau bermain dulu sana.”
Kata “kecil” itu membuat Gu Xun’er tertegun.
Dia menatap dadanya sendiri, lalu menatap Jian Xiao Xue.
Memang, dibandingkan milik Jian Xiao Xue, ukurannya masih sedikit lebih rendah. Walau masih bisa digenggam satu tangan penuh, tetap saja itu membuatnya merasa terhina dan marah.
“Kau… Jian Xiao Xue! Aku akan melawanmu sampai mati!”
Xun’er marah, wajahnya memerah.
Kata-kata itu benar-benar menyinggungnya sebagai seorang wanita.
Lu Feng tercengang memandang Jian Xiao Xue.
Bukankah gadis ini selalu berbicara sopan dan berbudi luhur?
Kenapa ucapannya bisa sepedas ini?
“Heh, siapa takut? Maju sini.”
Jian Xiao Xue sama sekali tak gentar, bahkan sudah bersiap untuk bertarung.
Gu Lie dan Jian Li di langit hanya bisa berkedut.
“Dari mana nona muda kita belajar berbicara sekasar ini?”
“Hei, hei, sudah tenang dulu.”
Lu Feng mengulurkan kedua tangannya, masing-masing menahan mereka, mencegah pertarungan kembali pecah.
“Kakak Lu Feng, lepaskan aku. Aku akan menghajar wanita ini, biar dia tahu aku bukan anak kecil.”
Gu Xun’er menatap Jian Xiao Xue dengan marah.
Jian Xiao Xue membalasnya dengan senyum sinis.
Wajah Gu Xun’er yang cantik terlihat sangat imut saat marah.
Lu Feng harus mengakui, ketika emosi, dia memang masih seperti anak kecil.
“Xiao Xue, sudah. Jangan mengolok-oloknya lagi.”
Lu Feng menatap Jian Xiao Xue dengan nada memohon.
Namun Jian Xiao Xue menggeleng dan mendengus.
“Hmp, tidak mau. Dia yang salah. Dia harus minta maaf.”
“Aduh, kalian berdua…”
Lu Feng mendesah, tetap menahan mereka.
Di bawah, banyak murid menatap dengan iri.
Lu Feng menyentuh dua dewi yang tak terjangkau di hati mereka.
Sungguh menyakitkan.
Tiba-tiba jam tangan Lu Feng berdering.
“Bip, bip, bip.”
Lu Feng langsung mengerti.
Yang menjemputnya sudah datang.
Dia menatap ke arah awan yang jauh.
Gu Lie dan Jian Li tiba-tiba tertegun.
Mata mereka berubah kuno dan mengerikan.
Dao surgawi bergolak.
Ruang dan waktu seakan berhenti.
Di Aula Sekte Pedang Wuji, Kaisar Pertama turut merasakannya.
Di Keluarga Gu, Kaisar Pertama juga menatap ke arah Benua Timur bersama empat tetua lainnya.
“Aura kaisar dewa? Tapi aneh… bukan kaisar dewa, namun kekuatannya setara.”
Kaisar Pertama Gu bergumam.
“Ada sesuatu yang datang.”
Di Sekte Pedang Wuji, seorang murid menunjuk ke langit.
“Lihat!”
Di balik awan, terdengar suara aneh seperti mesin.
Lalu muncul sebuah pesawat terbang modern, berdesain futuristik.
Mirip jet tempur, namun ukurannya lebih luas seperti kapal udara.
“Wah, keren sekali bentuknya. Alat transportasi apa itu?”
Seorang murid bergumam kagum.
Jian Xiao Xue dan Gu Xun’er berhenti bertengkar, menatap pesawat aneh itu.
Di langit, Gu Lie dan Jian Li langsung waspada.
Aura dari benda itu tak kalah kuat dari mereka.
Jian Li bersuara, suaranya bergema ke segala arah.
“Aku Kaisar Agung dari Sekte Pedang Wuji. Teman dao, siapa yang berkenan datang kemari?”
Suara itu membuat seluruh murid dan para tetua satu hingga lima yang menjaga pos masing-masing mengerutkan kening.
“Gu Zong, sepertinya kita kedatangan tamu.”
Tetua Kedua berbicara sambil masih memegang bidak catur, berhadapan dengan Gu Zong, Tetua Kedua Keluarga Gu.
“Iya, aku juga merasakannya.”
Gu Zong dan Tetua Kedua sama-sama menatap langit.
“Astaga… kaisar agung. Pihak dalam transportasi itu adalah seorang kaisar.”
“Apa yang membawa seorang kaisar agung kemari?”
Banyak murid merasa bahwa sesuatu besar terjadi,mereka berpikir dan berdiskusi.