Plakkkkkk
Suara tamparan tampak menggema di sebuah ruangan gelap dimana semua orang menatapnya dengan ekspresi terkejut diwajah mereka.
Daxia, Atau kini namanya telah berubah Yu Chaoyin, Gadis yang seharusnya melakukan rutinitas belanjanya di hari pekan kini berubah sempurna kala dirinya berada didunia yang dia anggap mengerikan.
"Ku perintahkan keluar, Atau ku hancurkan wajah sialanmu itu dengan kuku ku"
Ucapnya dengan kasar, Menatap marah pada sosok gadis muda di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pio21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran mengundang bahaya
Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja, Kini Chaoyin dan Lan memilih untuk mengisi perut mereka yang telah memberontak sejak tadi.
Chaoyin tampak menikmati makanan dihadapannya dengan tenang, Begitupun dengan Lan yang telah dipaksa Chaoyin agar duduk dan makan di meja yang sama dengannya.
Meski Lan sempat menolak dan berkata tidak sopan, Namun berkat ancaman dari Chaoyin dia akhirnya menyerah.
"Putri, Hamba ingin ke toilet sebentar"
Chaoyin hanya menganggukkan kepalanya, Kembali menyantap makanannya dengan sesekali melirik ke arah bawah dimana memperlihatkan banyak aktifitas orang-orang dibawah. Gadis itu cukup senang Lan mengambil tempat disudut ruangan tepat di depan jendela.
Sejenak mata Chaoyin tertuju pada dua orang pria yang menggunakan caping jerami dikepalanya. Jika dilihat tidak ada yang tampak istimewa namun entah mengapa pandangan Chaoyin terkunci pada kedua sosok tersebut.
Disisi lainnya, Merasakan sepasang mata tertuju padanya, Sosok pria yang menggunakan caping jerami itu mengangkat pandangannya, Dia ingin tau siapa yang memperhatikannya, Hingga tatapannya tertuju pada seorang gadis yang duduk tepat dihadapan jendela sebuah kedai makan.
Tatapan mereka bertemu beberapa waktu, Hingga gadis itu memilih membuang pandangannya begitu Lan terlihat datang menghampirinya.
"Tuan"
Sahut seseorang disebelahnya begitu menyadari sosok yang dipanggil tuan itu menghentikan langkahnya.
"Lanjutkan perjalanan"
Timpalnya yang kini kembali melanjutkan perjalanannya.
...****************...
Saat malam tiba, Chaoyin tengah sibuk dengan sebuah gulungan dan kuas di tangannya, Dia membuat gambaran hanfu yang akan dia berikan pada tukang jahit besok.
Sedangkan Lan, Gadis itu juga sama, Sibuk dengan kuasnya, Dia terlihat sibuk menulis beberapa huruf atau bahkan kalimat yang cukup panjang dikertas tersebut.
Beberapa kesukaan atau bahkan kegemaran para putri kekaisaran yang ada dibenua ini. Sebenarnya Lan cukup bingung kenapa nonanya itu memintanya menulis hal-hal tersebut, Namun ketika dia menanyakannya nonanya berkata akan memberitahu jika kerjaannya telah selesai.
Takk
Chaoyin meletakkan kuasnya di atas meja, Cukup puas dengan gambarnya, Di pikir-pikir untung saja dia memiliki bakat melukis dimasa depan.
Sejenak gadis itu melirik kearah Lan, Dimana pelayan miliknya masih sibuk dengan gulungannya.
"Lan"
Panggilnya yang membuat Lan menghentikan gerakannya lantas berbalik menatap nonanya itu.
"Di kekaisaran ini, Apakah ada tempat yang energi qi spritualnya cukup tinggi dan bagus untuk melakukan kultivasi?"
Tanyanya cepat, Chaoyin pikir dia harus meningkatkan kultivasinya secepat mungkin agar dia mengalahkan Meiyin dengan kemampuannya sendiri, Setidaknya dia harus membalas dengan menerbangkan tubuh gadis itu kemudian menghantamnya ke dinding.
Lan tampak berfikir sejenak, Mencoba mengingat ingat tempat tempat yang memiliki energi qi spritual yang padat di kekaisaran utara.
"Hutan Tengfei, Putri"
Jawab Lan kemudian
"Hutan Tengfei"
Gumam Chaoyin pelan
"Dimana itu? Apakah jauh?"
Tanyanya dengan penasaran.
"Tidak putri, Hutan Tengfei berada di bagian selatan dari kekaisaran ini"
Jawab Lan cepat, Namun tiba-tiba dia menatap Chaoyin dengan tatapan penuh curgia.
"Jangan bilang jika putri akan kesana"
Tuduhnya dengan cepat
"Seperti biasa, Kau sangat pintar"
Chaoyin terkekeh ringan, Lantas gadis itu segera bergerak menghampiri lemari mencari hanfu yang cukup ringan agar bisa memudahkannya bergerak dalam perjalanan.
"Putri jangan gegabah, Hamba mohon hutan cukup berbahaya untuk anda, Anda bahkan baru saja pulih putri"
Lan berkata dengan panik, Dia meninggalkan pekerjaannya dengan menghampiri Chaoyin yang tampak sibuk memilah hanfu yang akan digunakan.
Bagaimana bisa dia membiarkan nonanya itu pergi dihutan dimalam hari. Dalam hati dia meruntukki kebodohannya yang menjawab jujur pertanyaan Chaoyin, Seharusnya dia berbohong saja, Begitu pikirnya.
"Lan, Apakah kamu percaya jika aku sudah mati?"
Tanya Chaoyin dengan serius membuat Lan seketika terdiam
"Putri, Jangan mengatakan hal-hal yang mengerikan"
Sahutnya yang bergidik ngeri, Entah mengapa persoalan kematian dan ekspresi serius nonanya terasa begitu menakutkan bagi Lan.
Chaoyin mengedikkan bahunya acuh
"Aku kan hanya sekedar bertanya"
Lagi pula Chaoyin pikir tidak ada gunanya takut akan kematian, Lagipula dia juga sudah melewati masa sekarat, Dan jika mati di dunia ini mungkin saja dia akan kembali ke dunia asalnya, Entahlah Chaoyin pusing memikirkannya
"Intinya tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja, Aku akan kembali sebelum matahari terbenam"
Lanjut gadis tersebut
"Baiklah putri hamba akan ik....."
"Aku akan pergi sendiri"
Potong Chaoyin membuat Lan kembali terkejut setengah mati.
"Putri ingatan anda bahkan belum kembali, Bagaimana bisa anda pergi sendiri, Bagaimana jika putri tersesat atau...."
"Ini"
Perkataan Lan seketika terhenti ketika Chaoyin memperlihatkan sebuah token anggota inti kekaisaran utara tepat didepan matanya.
"Jika aku tersesat, Aku hanya akan minta tolong pada orang yang ada disana untuk mengantarkan ku kemari, Siapa yang tidak ingin menolong putri mahkota?"
Jelas Chaoyin dengan santai
"Tapi bagaimana jika orang yang putri temui adalah bandit?"
Tanya Lan dengan perasaan yang benar-benar tidak tenang, Bagaimana mungkin dia bisa tenang melepaskan sang putri begitu saja ditempat yang cukup berbahaya seorang diri. Selain khawatir jika nonanya akan terluka, Kaisar Yu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja ketika tau dia membiarkan sang putri mahkota pergi seorang diri.
"Jawabannya tetap sama, Akan ku perlihatkan tokenku, Lalu aku akan mengatakan"
Kini Chaoyin tampak berdiri dengan berkacak pinggang, Seolah dia sedang berhadapan dengan para bandit yang akan menculik atau mencelakainya.
"Tidak perlu mencelakai ku, Aku tidak membawa uang sekarang, Kalian antarkan aku ke istana dan aku akan memberikan kalian 50 tael emas jika aku sampai dengan selamat"
Dan reka adegan selesai dan Lan juga kehilangan kata-katanya, Dia benar-benar tidak habis pikir dengan isi otak sang putri saat ini. Benar-benar terlihat tidak memiliki ketakutan sama sekali membuat dirinya semakin was-was saja.
"Tapi putri, Bagaimana jika kaisar Yu mencari anda?"
Tanya Lan kembali, Sungguh dia memikirkan cara bagaimana menggagalkan rencana sang putri yang terasa begitu konyol dikepalanya.
"Lan kau ini bagaimana, Kan aku sudah bilang kalau aku akan kembali sebelum matahari terbit"
Ketus Chaoyin kearah pelayannya itu. Kini gadis itu segera bersiap dengan mengganti hanfu yang akan dia gunakan, Bewarna biru tua dengan potongan sederhana menjadi pilihannya kali ini.
Melihat Lan kembali ingin bersuara, Chaoyin lebih dulu membuka mulutnya
"Lan, Jika kau kembali menghentikan aku, Aku akan memecatmu dan meminta kaisar Yu untuk mencarikan pelayan baru untukku, Setidaknya pelayan yang selalu mendukung keputusanku"
Dan Lan bisa apa jika ancaman itu keluar dari mulut nonanya, Ingin melarang tapi takut jika yang dikatakan sang putri akan terjadi.
"Baiklah, Tapi putri harus janji, Harus kembali sebelum matahari terbit, Dan putri harus janji kalau putri kembali dalam keadaan tidak terluka walau sedikit saja"
Pasrah Lan yang menatap Chaoyin dengan mata berkaca-kaca.
Sejenak Chaoyin terharu melihat tersebut, Namun memilih menormalkan ekspresi wajahnya.
"Kau ini, Aku berjanji"
Ucapnya dengan jenaka
thanks teh 💪😍🙏
biasanya gua skip,tapi iseng2 baca dulu Ng tau bagus banget.
thanks teh 🙏💪😍
di tunggu double up ny thor