Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Dadakan
Pagi ini, sekitar pukul 8 pagi Amora sudah sampai di kantor seperti hari biasanya, namun kedatangan Intan yang sepertinya sengaja menunggunya membuat Amora kebingungan.
"Mba Ara, selamat pagi. Anda sudah ditunggu di ruang rapat."
Seketika itu juga tubuh Amora membeku di tempatnya, ia seperti linglung mendengar ucapan Intan barusan.
"Ditunggu di ruang rapat?" ulang Amora tidak percaya.
Intan mengangguk dengan senyum. "Sudah sekitar 10 menit pak Davion menunggu kedatangan anda," beritahu Intan semakin membuat Amora tidak percaya.
Apa yang dikatakan Intan terdengar sangat mustahil sekali. Seorang Davion yang biasanya menunda rapat bahkan membatalkan tina-tiba sekarang berada di ruang rapat dan sudah menunggu selama 10 menit?
"Ck." Amora berdecak, namun langkah kakinya membawanya ke ruang rapat.
Pintu ruang rapat terbuka. Amora kembali diam di ambang pintu melihat beberapa staf kantor yang sudah duduk di kursinya masing-masing, dan di ujung meja ada seorang Davion yang juga duduk tenang sembari menatap ke arahnya.
Untuk beberapa saat suasana hening, sebelum akhirnya kembali normal setelah suara Davion terdengar.
"Selamat pagi bu menejer, mari kita mulia saja rapat pagi ini," ujar Davion disetujui oleh beberapa orang yang berada di ruang rapat tersebut.
Namun tidak sedikit juga yang mendumel dalam hati mengingat Davion mengumumkan rapat sangat pagi sekali tadi, jam 8 sudah harus berada di ruangan sementara menejer mereka sendiri datang hampir jam setengah 9.
Meski masih diliputi rasa kebingungan, tetapi Amora pada akhirnya bisa mengikuti rapat dengan lancar dan bahkan Amora banyak memberi gagasan yang disetujui untuk bekerja sama.
Sekitar pukul 11 rapat selesai, beberapa orang mulai pamit untuk ke ruangan masing-masing, dan kini hanya tersisa Amora, Davion juga Intan yang sedang mengemasi barang-barang milik Davion.
"Pak Dav, saya pamit keluar dulu" pamit Intan diangguki oleh Davion.
Beberapa barang milik Davion sudah dibawa Intan keluar, tinggal ponsel dan tab yang masih di atas meja.
Sementara Amora baru saja akan bangkit dari duduknya saat suara Davion menginterupsinya untuk kembali duduk.
"Bagaimana? Apa saya masih merepotkan anda bu menejer?" tanya Davion terdengar sedikit pongah di telinga Amora.
Terkadang Amora heran pernah tertarik dengan laki-laki seperti Davion hanya karena penampilan laki-laki itu, semakin ke sini Amora semakin tahu seperti apa sosok laki-laki di depannya ini.
"Saya akui anda cepat belajar dari kesalahan, tetapi cara anda tetap saja salah menyuruh karyawan tiba-tiba rapat dadakan seperti tadi, saya yakin banyak diantara mereka yang kurang menyukai tindakan anda ini."
"Jika ingin merubah atau menebus kesalahan anda beberapa waktu lalu, anda bisa memulainya dengan lebih disiplin lagi, setidaknya mengikuti rapat yang sudah kami atur atau tidak menggagalkannya, pak Davion tidak perlu repot-repot untuk mengadakan rapat dadakan seperti tadi."
Setelah mengatakan itu Amora bangkit dari duduknya, berniat untuk keluar dari ruangan rapat, namun siapa sangka baru beberapa langkah saja tiba-tiba sepatu hak tinggi yang Amora kenakan terlepas dan Amora hampir saja jatuh jika saja Davion tidak segera menangkap pergerakan tubuhnya.
Davion benar-benar seperti superhero yang bergerak dengan sangat gesit, laki-laki itu kini benar-benar menopang tubuh Amora yang hampir saja jatuh ke lantai.
Untuk beberapa saat keduanya saling melempar pandang, menatap satu sama lain dengan suasana yang entah lah, nyaman tetapi juga ada kegugupan di dalam sana.
"Pelan-pelan saja bu menejer," lirih Davion seketika membuat Amora tersadar dan segera mengubah posisinya.
Sudut bibir Davion tertarik ke atas melihat tingkah Amora yang terlihat salah tingkah.
"Terimakasih pak Dav," ujar Amora berusaha tenang dan senormal mungkin.
Amora tidak mau sampai terlihat gugup dan salah tingkah di depan Davion, meski nyatanya sudah sangat telat, Davion sudah menyadari itu sedari tadi.
"Sama-sama bu menejer," balas Davion dengan senyum yang entak kenapa bagi Amora sangat menyebalkan.
Davion seperti orang yang baru saja berganti jiwa menurut Amora.
Mendudukan dirinya di kursi, Amora memijat pelipisnya, bayangan dimana tadi tubuhnya ditangkap oleh Davion kembali berputar di otaknya.
"Kenapa bisa aku begitu ceroboh?" gumamnya menggigit bibir bagian bawahnya. Mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya dan melupakan kejadian tadi.
Sementara Davion kembali ke ruangannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat kembali mengingat kejadian tadi.
"Anda mengingatkan saya pada-"
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu di ruangan Davion terdengar, tidak lama munculah Intan yang membawa map dan berjalan ke arahnya.
...****************...
Bryssa baru saja sampai di kampusnya saat tiba-tiba Elgan datang menghampirinya dan menawarkan makanan untuk Bryssa.
"Thank you," ujar Bryssa menerima makanan yang diberikan oleh Elgan.
Menganggukan kepalanya, Elgan menatap Bryssa dengan pandangan yang susah untuk diartikan, ada kekaguman juga seperti ada rasa pensaran dari tatapan mata itu.
"Kenapa?" tanya Bryssa merasa tidak nyaman dengan tatapan Elgan padanya.
"Lo cantik," puji Elgan terus terung.
Bryssa memutar bola matanya jengah, Bryssa rasa cowok seperti Elgan akan mengatakan itu pada setiap gadis yang ditemuinya.
"Gue cewek ke berapa yang lo puji siang ini?" pertanyaan Brysaa sempat membuat kebingungan Elgan, namun setelahnya cowok itu malah tertawa mendengar ucapan Bryssa yang terdengar menyepelekan pujian darinya tadi.
"Pertama," singkat Elgan hanya dibalas anggukan kepala oleh Bryssa.
"Oke thank you kalau gitu, gue duluan," pamit Bryssa berjalan lebih dulu.
Elgan ingin mengejar langkah Bryssa, namun tertahan saat Cisel tiba-tiba datang dan langsung berkomentar.
"Ehem, pagi," sapa Cisel membuat Elgan menoleh. Menatap Cisel yang sedang menatap kepergian Bryssa semakin jauh.
"Dia baru aja mengakhiri hubungan yang uda 2 tahun berjalan, jadi masih susah buat percaya sama cowok lagi," beritahu Cisel seketika membuat Elgan penasaran.
"Menurut lo? Bry bakal buka hati buat gue nggak?" tanya Elgan langsung pada intinya, seketika Cisel gelagapan sendiri.
Hatinya sedikit mencelos, Cisel menyukai Elgan dari pertama melihat, tetapi sepertinya Elgan memang menyukai Bryssa. Dan Cisel pun sadar akan itu, ia tidak mempermasalahkan karena memang perasaannya baru ditahap tertarik, belum ditahap untuk memiliki.
"Mungkin aja, tapi cewek kaya Bryssa itu nggak suka terlalu di kejar," ujar Cisel diangguki oleh Elgan.
"Cisel, lo mau bantu gue kan?" tanya Elgan membuat Cisel terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Oke, thank you, gue duluan," ujar Elgan menepuk pundak Cisel pelan sebelum kepergian.
Menghela napasnya, Cisel melanjutkan langkahnya. "Yang naksir siapa yang dikejar siapa? Bry lo seberuntung itu ditaksir cowok sekeren Elgan," gumam Cisel menjerit.
Pasalnya Elgan termasuk mahasiswa baru yang langsung mendapat perhatian dari beberapa mahasiswi karena paras tampan dan juga desas-desus tentang keluarganya.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️