Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Kesetiaan
Luna keluar dari kamar setelah mandi. Ia berjalan di lorong lantai atas menuju anak tangga. Suasana apartemen begitu sepi, hanya terdengar suara detik jam dinding dan mesin pendingin yang samar.
Digenggaman tangannya ada benda pipih kesayangannya. Beberapa kali ponselnya bergetar, tetapi Luna memilih mengabaikannya. Itu panggilan dari Raka.
Sudah ada lima belas kali panggilan tak terjawab dari sang suami. Namun tidak ada niatan Luna untuk menerimanya.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang wanita berpakaian pelayan saat ia sudah berada di lantai satu.
"Kamu siapa?"
"Saya pelayan di sini," jawabnya. "Anda bisa memanggil saya Hana."
Luna mengangguk. "Baiklah, Hana."
"Ada yang Nyonya butuhkan?"
Luna mengangguk. "Aku sedikit lapar, Hana."
"Mari, Nyonya. Makanan sudah siap di meja makan."
Hana meminta pada Luna untuk berjalan lebih dulu ke ruangan makan, sementara dirinya mengikuti.
Sampai di ruang makan, Hana menarik salah satu kursi untuk Luna duduki. "Silahkan, Nyonya."
Luna mengangguk lalu duduk di kursi tersebut.
"Hana," panggil Luna. "Ke mana Papa?"
"Tuan pergi ke kantor, Nyonya. Beliau akan kembali nanti saat jam makan siang."
Luna kembali mengangguk pelan.
Setelah itu Luna menikmati sarapannya dengan tenang tanpa gangguan apa pun. Namun tidak berselang lama, ponselnya bergetar halus. Layarnya menyala, memunculkan nomor Raka.
Luna memilih mengubah ke mode silent lalu membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya.
Seharian Luna menghabiskan waktu di apartemen dengan membuat desain dan juga membaca buku yang ia temukan di tempat itu. Hingga tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Hana mengatakan jika Bara akan pulang saat makan siang. Namun sampai pukul dua siang, pria itu belum juga datang. Padahal dirinya akan pergi.
Luna beberapa kali melihat benda pipih di tangannya. Ia bimbang, lebih baik menghubungi Bara untuk meminta izin atau sebaiknya tidak.
"Sudahlah, mungkin Papa sedang sibuk. Aku chat saja."
Luna mengetikkan sebuah pesan untuk Bara. Setelah selesai ia langsung mengirimnya.
Luna keluar dari kamar, pada saat melangkah menuruni anak tangga, ia mendengar suara Bara meskipun samar.
Tiba di ruang tengah, Luna melihat Bara sedang mengobrol dengan Ares. Wajah keduanya terlihat serius. Luna memilih menunggu dari pada mengganggu dua pria itu.
Namun, Bara menoleh membuat tatapan mereka bertemu.
"Pergilah!"
Bara memberikan isyarat pada Ares untuk pergi. Setelahnya, pria itu berjalan ke arah Luna dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya.
Bara berhenti satu langkah di hadapan Luna membuat wanita itu nampak gugup. Namun Luna mencoba untuk menyembunyikannya meskipun tidak sepenuhnya berhasil.
"Mau pergi?" tanya Bara.
Luna mengangkat wajahnya lalu mengangguk. "Arumi mengajakku bertemu."
"Mau diantar?"
Luna menggeleng. "Aku pergi sendiri saja. Aku lihat Papa lagi sibuk."
"Baiklah."
Suasana menjadi hening sesaat. Luna belum bergerak seolah ada sesuatu yang menahannya langkahnya.
"Ehmmm." Luna berdehem mencoba meredam kegugupannya.
"Pa … boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hmm, katakan saja."
"Apa Papa pria yang pernah memberiku uang 200 juta? Enam tahun yang lalu?"
Bara tersenyum tipis, tangannya terangkat, jemarinya mengusap pipi Luna dengan lembut.
"Sudah ingat?"
Luna mengangguk.
"Aku pergi dulu. Nanti setelah pulang kita deep talk," ucap Luna.
Bara mengangguk setuju, ia membungkuk mengecup kening Luna dalam jeda waktu yang cukup lama.
"Hati-hati. Kabari aku jika butuh sesuatu."
"Baiklah," sahut Luna. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa."
*****
Karena kemacetan panjang, Luna tiba di cafe pukul tiga sore lebih. Ia masuk ke dalam cafe dengan langkah terburu-buru.
Sampai di dalam, Luna mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arumi. Ia menghela napas saat melihat Arumi duduk di tempat biasa, seperti dulu.
"Arumi," panggil Luna.
"Hai." Arumi berdiri lalu menyambut kedatangan sahabatnya dengan memeluknya.
"Maaf, aku terlambat. Tadi ada kecelakaan," ucap Luna.
"Tidak apa-apa. Ayo duduk."
Luna mengangguk, lalu kemudian duduk berseberangan langsung dengan Arumi.
"Aku sudah pesan makanan," ucap Arumi.
"Beef burger dan milk tea," seru keduanya bersamaan. Setelah itu tawa mereka pecah ketika mengingat masa lalu.
"Oh iya, apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Itu nanti saja," jawab Arumi. "Kita makan dulu saja."
"Arumi ..."
"Luna ..."
"Ck, baiklah."
"Kita makan dan bersantai dulu sebelum masuk ke pembicaraan yang lebih berat."
Luna mengangguk. "Aku menurut saja."
Setelah itu Luna dan Arumi menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Keduanya mengobrol ringan dan sesekali tertawa di sela obrolan.
Hingga beberapa saat kemudian, makanan mereka habis tanpa sisa. Arumi menghela napas sebelum mulai bicara.
"Luna," panggil Arumi. Ekspresi dan suaranya tidak sesantai sebelumnya.
"Ya," sahut Luna. "Ada apa, mm? Kenapa wajahmu tiba-tiba sangat serius?"
Luna masih terlihat tertawa kecil. Namun detik berikutnya tawa itu pudar melihat ekspresi Arumi yang nampak tidak biasa.
Luna mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Arumi. Tatapannya penuh tanya.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja?"
Arumi mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja. Tapi setelah aku mengatakan alasan mengajakmu ke sini ... mungkin kamu yang akan tidak baik-baik saja."
Kening Luna mengerut dalam. "Apa maksudmu?"
Arumi menggeleng lalu menghela napas berat. Sebenarnya ia ragu untuk bicara, tetapi dirinya juga tidak tega jika sahabatnya terus dibohongi.
"Aku harap setelah ini kamu bisa kontrol dirimu sendiri, Luna."
"Ck, Arumi … ada apa sebenarnya? Kamu jangan membuat aku takut dong."
"Luna … aku semalam mengatakan jika pernah melihat suamimu, kan?"
Luna langsung mengangguk.
"Sebenarnya aku tidak melihatnya di majalah atau pun berita lainnya. Tapi …"
"Tapi apa, Arumi?"
"Aku melihatnya di sebuah acara pernikahan."
"Acara pernikahan?"
Arumi mengangguk.
"Saat tahun baru, aku pergi bersama suamiku ke luar negeri. Di sana kami tidak sengaja melihat sebuah acara pernikahan. Tapi karena pesta itu intimate jadi kami tidak bisa mendekat. Tapi aku mengambil gambarnya saja karena menurutku mereka sangat romantis."
Arumi menghela napas sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan foto yang ia maksud.
"Kamu lihat saja sendiri."
Luna mengambil ponsel milik Arumi. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, ia merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Luna mulai melihat layar ponsel itu. Matanya membulat saat melihat foto yang terpampang jelas di layar.
"Masih ada beberapa."
Luna menggeser layar ponsel itu dengan tangan yang bergetar. Betapa terkejutnya melihat hal yang sebenarnya tidak ia bayangkan tapi pernah ia rasakan. Sekarang foto-foto itu membuktikan semuanya, pengkhianatan dari orang yang sangat ia percaya.
Luna meneteskan air matanya, dadanya terasa sesak seperti terhimpit sesuatu yang besar. Ia menundukkan wajahnya di atas meja sesaat, lalu kembali melihat ke arah lain, mencoba untuk menenangkan diri. Tetapi tidak bisa.
Luna bahkan mengigit bibir bawahnya agar suara tangisannya tidak pecah.
"Jadi … selama ini mereka ternyata memiliki hubungan spesial. Bahkan mereka menikah?"
Tubuh Luna mulai bergetar.
"Luna … control yourself."
"Pantas saja selama ini Raka lebih membela dan percaya dia dari pada aku?" ucap Luna di sela isak tangisnya.
Luna lalu mengusap air matanya, menghela napas beberapa kali untuk menenangkan diri. Meskipun dirinya pernah berjanji akan menerima kemungkinan terburuk, tetapi tetap saja hatinya sangat sakit saat tahu kesetiannya selama ini dibalas oleh penghianatan.
Luna menggeser kursi ke belakang cukup kasar, menbuat bunyi gesekan kursi dan lantai terdengar sangat nyaring. Ia lalu berdiri dan pergi begitu saja.
Arumi yang khawatir langsung mengejar Luna. Beruntung Arumi berhasil menyusulnya.
"Luna …"
"Aku mau sendiri, Arumi?"
Arumi menggeleng. "Aku antar kamu pulang."
"Ayo." Arumi berniat menuntun Luna, tetapi Luna justru menahan langkahnya.
"Aku bisa."
"Luna —"
"Please."
Arumi menghela napas berat. Meskipun khawatir, tetapi Arumi tetap mengangguk. "Hati-hati. Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah."
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur