Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
Langit senja di atas perbukitan tampak begitu tenang hingga terasa seperti sedang mengejek manusia yang masih percaya hari esok akan sama seperti hari ini. Cahaya matahari terakhir menyapu pagar baja vila, memantulkan kilau kemerahan yang menyerupai bara api sebelum perlahan tenggelam di balik cakrawala. Hanya Arga yang mengetahui bahwa matahari yang terbenam sore itu adalah matahari terakhir bagi dunia yang damai.
Desir...
Angin membawa aroma rumput basah melintasi halaman luas vila ketika Arga menekan tombol di ruang kontrol. Seluruh monitor CCTV menyala serempak, memperlihatkan setiap sudut pagar, gerbang otomatis, gudang logistik, bunker bawah tanah, hingga jalan masuk yang berkelok menuju perbukitan. Ia berdiri di tengah ruangan dengan wajah setenang seorang komandan yang bersiap menghadapi perang yang telah ia alami sekali seumur hidup.
"Ayah, mulai sekarang anggap semua sistem ini adalah tanggung jawab Ayah," ujar Arga sambil menunjuk panel-panel kendali. "Kalau listrik utama mati, generator harus aktif dalam waktu kurang dari tiga puluh detik. Kalau pagar gagal bekerja, jalur manual harus langsung digunakan."
Ayah mengangguk mantap meski kedua matanya masih sibuk mempelajari puluhan tombol dan layar monitor. Ia mencoba menghafal fungsi setiap sakelar, membaca petunjuk yang telah ditempel Arga, lalu beberapa kali mengaktifkan simulasi pembukaan dan penutupan gerbang otomatis untuk memastikan seluruh prosedur benar-benar dipahami. Wajahnya dipenuhi keseriusan yang bahkan belum pernah diperlihatkannya selama bertahun-tahun bekerja.
Klik...
Gerbang baja perlahan bergeser menutup, lalu terbuka kembali sesuai perintah dari ruang kontrol. Ayah mencatat waktu respons sistem pada sebuah buku kecil yang sengaja disiapkan Arga, sementara suara generator sesekali menggema ketika diuji agar seluruh instalasi dipastikan bekerja tanpa cela. Setiap hasil pemeriksaan ditulis dengan rapi, seolah ia sedang mempersiapkan benteng terakhir yang harus bertahan dalam situasi apa pun.
Di sisi lain vila, ibu Arga telah mengenakan celemek sederhana sambil berdiri di depan gudang logistik yang luas. Rak-rak besi berjajar memenuhi ruangan, dipenuhi beras, makanan kaleng, air mineral, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, hingga berbagai kebutuhan harian yang telah dikumpulkan selama berminggu-minggu. Dengan telaten ia mulai menempelkan label pada setiap rak dan mencatat tanggal kedaluwarsa setiap persediaan agar semuanya mudah ditemukan ketika keadaan berubah menjadi kacau.
"Kita harus tahu letak semuanya," gumamnya sambil menuliskan tanggal kedaluwarsa pada beberapa kotak obat. "Kalau panik nanti, jangan sampai malah sibuk mencari makanan atau obat."
Arga yang melintas di depan gudang berhenti sejenak sambil tersenyum tipis. Dalam kehidupan sebelumnya, ibunya meninggal hanya beberapa hari setelah kiamat dimulai karena tidak sempat memperoleh persediaan obat. Kini wanita itu justru sedang membangun benteng logistik yang mungkin mampu menjaga seluruh keluarga tetap hidup selama berbulan-bulan, bahkan lebih lama dari yang pernah ia bayangkan.
Tak jauh dari sana, Sari berdiri di lapangan latihan kecil dengan wajah tegang. Sebuah radio komunikasi tergantung di dadanya, sementara di atas meja telah tersedia kotak P3K, magasin kosong, dan senapan yang belum diisi peluru. Arga berdiri tepat di hadapannya, memperagakan setiap gerakan dengan sabar sambil sesekali membetulkan posisi tangan adiknya.
"Pegang seperti ini," katanya sambil memperbaiki posisi jemari Sari. "Senjata bukan untuk membuatmu berani. Senjata dipakai supaya kamu punya kesempatan pulang hidup-hidup."
Sari menelan ludah sebelum mengikuti instruksi kakaknya. Jemarinya masih sedikit gemetar ketika mencoba memasang magasin kosong, tetapi ia terus mengulang gerakan itu tanpa mengeluh. Setiap kali posisinya membaik, Arga mengangguk puas, membiarkan rasa percaya diri adiknya tumbuh perlahan melalui latihan yang berulang.
Ceklek...
Magasin akhirnya terkunci sempurna.
"Wah..." Sari mengembuskan napas lega sambil tersenyum kecil. "Ternyata lebih susah daripada di film."
Arga terkekeh pelan. "Di film, orang hanya menunjukkan saat mereka berhasil. Dunia nyata jauh lebih kejam."
Setelah seluruh latihan dasar selesai, Arga melirik jam di pergelangan tangannya. Tanpa memberikan aba-aba apa pun, ia diam-diam menekan tombol merah besar di sisi panel komunikasi vila, membiarkan sirene memecah ketenangan yang baru saja tercipta.
Wiuuu... Wiuuu... Wiuuu...
Alarm darurat meraung keras memenuhi seluruh kawasan. Ibu yang sedang menyusun logistik terkejut hingga menjatuhkan sebuah kotak makanan, Ayah berlari keluar dari ruang kontrol tanpa sempat mematikan salah satu monitor, sementara Sari panik mencari jalur menuju bunker sambil masih menggenggam radio komunikasi.
"Ke bunker!" teriak Arga dengan suara tegas. "Sekarang!"
Suasana yang semula tenang berubah menjadi kacau. Ayah sempat salah membuka pintu menuju gudang, ibu kembali berlari karena lupa membawa tas medis, sedangkan Sari hampir terpeleset ketika menuruni tangga menuju bunker. Kekacauan itu mencapai puncaknya ketika sebuah kotak logistik terlepas dari tangan seseorang dan menghantam lantai lorong.
Bruk...
Kotak logistik terjatuh di lorong.
Arga hanya mengamati tanpa membantu sedikit pun. Wajahnya tetap datar meski menyaksikan kepanikan yang terjadi di depan mata, karena baginya latihan ini jauh lebih murah daripada kehilangan satu anggota keluarga saat Hari Nol benar-benar datang. Ia membiarkan mereka belajar melalui kesalahan yang masih bisa diperbaiki.
Beberapa menit kemudian alarm berhenti berbunyi. Seluruh keluarga berdiri terengah-engah di dalam bunker dengan napas memburu dan wajah dipenuhi rasa bersalah. Arga menatap mereka bergantian sebelum akhirnya mengucapkan satu kalimat pendek yang terdengar jauh lebih berat daripada bentakan apa pun.
"Kita ulang."
Percobaan kedua dimulai beberapa saat kemudian. Kali ini semua orang bergerak jauh lebih tenang dan teratur. Ayah mematikan panel yang diperlukan sebelum keluar dari ruang kontrol, ibu langsung mengambil tas medis beserta daftar logistik darurat, sedangkan Sari membawa radio komunikasi sambil membuka jalur menuju bunker sesuai prosedur yang telah diajarkan.
Wiuuu... Wiuuu...
Alarm kembali meraung.
Tidak ada lagi kepanikan seperti sebelumnya. Mereka bergerak cepat, saling mengingatkan ketika ada yang terlewat, lalu tiba di bunker jauh lebih singkat daripada percobaan pertama. Meski belum sempurna, koordinasi keluarga itu mulai terbentuk menjadi sebuah kebiasaan yang kelak akan menentukan hidup dan mati mereka.
Arga memandang mereka satu per satu sebelum berkata pelan, "Mulai besok tidak ada lagi kesempatan untuk belajar sambil salah."
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Tidak ada yang menyela, karena akhirnya mereka benar-benar memahami bahwa latihan tersebut bukan sekadar simulasi. Kesalahan kecil setelah hari esok bisa berarti kematian.
Malam turun perlahan menyelimuti perbukitan. Setelah seluruh latihan selesai, aroma masakan memenuhi dapur vila ketika ibu memanggil semua orang untuk makan malam. Tidak ada lagi pembicaraan tentang monster, Organisasi Hitam, ataupun kiamat. Untuk beberapa jam, mereka sepakat menjadi keluarga biasa yang sedang menikmati akhir pekan terakhir dalam dunia yang masih damai.
Mereka duduk melingkar di teras yang menghadap lembah, menikmati semangkuk sup hangat, ayam goreng kesukaan Arga, sambal buatan ibu, dan teh manis yang masih mengepul. Ayah tertawa kecil ketika mengingat bagaimana Arga pernah memanjat pohon mangga milik tetangga saat masih duduk di bangku SD, lalu tercebur ke kolam ikan karena ketahuan pemilik rumah. Sari langsung menepuk meja sambil tertawa terbahak-bahak, sedangkan ibu hanya menggeleng sambil berkata, "Dari kecil memang bandel."
Arga ikut tersenyum. Tawa itu terdengar begitu hangat hingga sesaat ia lupa bahwa dirinya pernah hidup di dunia yang hanya dipenuhi jeritan, reruntuhan, dan keputusasaan. Dalam kehidupan sebelumnya, meja makan seperti ini telah lama menghilang. Tidak ada lagi aroma masakan rumahan, tidak ada lagi suara kedua orang tuanya yang saling menggoda, dan tidak ada lagi adik yang tertawa karena cerita masa kecil. Yang tersisa hanyalah makanan kaleng dingin, bangunan runtuh, dan kesunyian yang perlahan membunuh harapan.
Pandangannya beralih kepada wajah kedua orang tuanya, lalu kepada Sari yang masih sibuk menghabiskan makan malam. Ia menghafal setiap senyum mereka seolah takut takdir kembali merampas semuanya. Jika esok dunia benar-benar berubah seperti yang pernah ia alami, setidaknya malam ini akan menjadi kenangan yang tak akan pernah ia lepaskan.
Sementara itu, jauh di luar sana, kehidupan terus berjalan seperti biasa. Lampu-lampu jalan tol menyala terang, memantulkan cahaya kendaraan yang masih mengalir tanpa henti. Anak-anak berlarian di taman sambil tertawa mengejar gelembung sabun, pasangan muda menikmati makan malam di restoran yang penuh pelanggan, sementara pesawat demi pesawat terus lepas landas menuju berbagai kota. Tidak seorang pun mengetahui bahwa mereka hanya memiliki satu malam lagi sebelum dunia berubah selamanya.
Menjelang larut, Arga berdiri sendirian di balkon lantai dua. Bulan purnama menggantung indah di langit yang bersih tanpa awan, sementara keheningan malam terasa begitu damai hingga sulit dipercaya bahwa semuanya akan berubah hanya dalam hitungan jam. Ia menatap bulan cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan, "Besok... semuanya dimulai lagi."
Keesokan paginya, 14 Juli 2026, vila kembali dipenuhi aktivitas. Arga memeriksa seluruh gudang logistik untuk terakhir kalinya, memastikan setiap rak terisi penuh dan seluruh persediaan telah tercatat dalam sistem digital. Setelah itu ia memindahkan perlengkapan tambahan ke dalam Ruang Dimensi, mulai dari kristal, perlengkapan medis, hingga senjata yang telah dirawat sempurna agar siap digunakan kapan pun diperlukan.
Dengung...
Generator industri kembali diuji.
Tangki bahan bakar seluruh kendaraan diisi hingga penuh, termasuk mobil pikap, truk ringan, dan Rolls-Royce yang kini lebih sering berfungsi sebagai kendaraan cadangan. Arga memeriksa tekanan ban, kondisi aki, serta memastikan tidak ada satu pun peralatan yang tertinggal. Baginya, persiapan sekecil apa pun dapat menjadi pembeda antara bertahan hidup dan kehilangan segalanya.
Di markas Organisasi Hitam yang berada ratusan kilometer dari sana, Raven berdiri diam di depan jendela ruang komando. Laporan demi laporan terus berdatangan mengenai pemindahan laboratorium darurat, relokasi para ilmuwan Project Genesis, serta pencarian artefak Omega yang hingga kini belum berhasil ditemukan. Namun semakin banyak laporan masuk, semakin kuat pula perasaan bahwa ada sesuatu yang luput dari jangkauan mereka.
"Ghost Collector?" tanya salah satu bawahannya.
Raven menggeleng pelan. "Masih hilang."
Ia memandang langit cerah di luar jendela dengan sorot mata yang tak berubah. Ada sesuatu yang terus mengusik nalurinya, sesuatu yang tidak tercantum dalam laporan intelijen mana pun. Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya sebagai pemburu, ia merasa sedang menunggu musuh yang bahkan belum mengambil langkah berikutnya.
Sementara itu, Indonesia tetap menjalani hari seperti biasanya. Rumah sakit masih dipenuhi pasien yang mengeluh demam dan kelelahan, polisi tetap berpatroli mengatur lalu lintas, bursa saham menutup perdagangan dengan angka-angka yang terus berubah, dan sekolah-sekolah menikmati masa libur semester. Tidak ada berita aneh, tidak ada peringatan, dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa sejarah manusia sedang menghitung detik-detik terakhirnya.
Malam kembali turun. Seluruh keluarga telah beristirahat lebih awal sesuai arahan Arga, sementara ia sendiri tetap berjaga di ruang kontrol. Puluhan monitor CCTV menampilkan pagar, halaman, jalan masuk, dan hutan di sekitar vila yang masih sunyi tanpa tanda-tanda mencurigakan. Di dinding ruangan, jam digital terus menghitung waktu tanpa ampun.
23:59.
Arga berdiri tanpa berkedip sedikit pun. Kedua tangannya berada di belakang punggung, sementara ingatan tentang Hari Nol di kehidupan sebelumnya kembali memenuhi kepalanya. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa ketika bencana itu dimulai tidak ada gempa, tidak ada ledakan, bahkan tidak ada tanda apa pun dari langit.
Detik demi detik berlalu.
23:59:40.
Napas Arga terdengar semakin berat.
23:59:50.
Monitor tetap memperlihatkan malam yang damai.
23:59:59.
Tidak ada sirene yang berbunyi. Tidak ada meteor yang jatuh. Tidak ada tanda dari langit. Hari terakhir peradaban berakhir sama damainya seperti hari-hari sebelumnya. Namun Arga tahu, ketika jarum waktu melewati tengah malam, dunia tidak akan pernah menjadi dunia yang sama lagi.
Bip...
Jam digital berubah perlahan.
00:00:00.
15 Juli 2026.
Hari Nol telah dimulai.