NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan ke Ibu Kota

Memutuskan siapa yang akan membawa salinan bukti ke lembaga antikorupsi di ibu kota bukan keputusan mudah. Aku ingin pergi sendiri, tapi Yanto dan yang lain menentang keras.

"Wajah kamu udah terlalu dikenal, Rangga," kata Yanto tegas. "Kalau kamu yang bawa, dan mereka berhasil cegat kamu di jalan, kita kehilangan bukti sekaligus kehilangan kamu."

Setelah perdebatan panjang, kami akhirnya sepakat Sari yang akan pergi—wajahnya belum terlalu dikenal publik meski sempat muncul dalam kasus penahanannya dulu, dan latar belakang pendidikannya membuatnya lebih mampu berkomunikasi dengan bahasa formal yang dibutuhkan untuk berurusan dengan lembaga resmi semacam itu.

"Aku bakal bawa salinan dokumen paling penting," kata Sari, mengemas tas kecil dengan hati-hati, menyembunyikan kartu memori dan salinan kertas di antara barang-barang biasa agar tidak mencurigakan. "Yang asli tetap kita simpan di sini, tersebar di beberapa tempat aman, jaga-jaga kalau ada apa-apa di perjalanan."

---

Perjalanan Sari ke ibu kota dirancang dengan hati-hati, menghindari rute langsung yang mudah dilacak. Ia berangkat naik bus malam biasa, bukan kereta atau pesawat yang membutuhkan identifikasi lebih formal, ditemani salah satu pemuda dari kampung nelayan yang dipercaya Pak Rusdi sebagai pengawal tidak resmi sepanjang perjalanan.

Aku menghabiskan malam itu dengan kecemasan yang sulit kujelaskan, menunggu kabar lewat pesan singkat yang datang sesekali dari nomor darurat yang hanya kami gunakan untuk situasi seperti ini.

*"Sudah di bus, aman."*

*"Berhenti di rest area, semua terlihat normal."*

Setiap pesan yang masuk membuatku sedikit lebih tenang, meski rasa waspada tidak pernah sepenuhnya hilang.

---

Di ibu kota, Sari menghubungi kontak yang sudah lebih dulu disiapkan Mira lewat jaringan sesama wartawan—seorang staf muda di lembaga antikorupsi bernama Made Wirawan, yang menurut rekomendasi Mira dikenal punya rekam jejak bersih dan cukup berani menangani kasus-kasus yang melibatkan pejabat daerah.

Pertemuan pertama mereka berlangsung penuh kehati-hatian, di sebuah kafe ramai yang dipilih justru karena keramaiannya, tempat yang menurut Made lebih sulit untuk diawasi secara diam-diam dibanding tempat sepi.

"Saya butuh waktu buat verifikasi awal semua ini," kata Made setelah mendengarkan penjelasan Sari dan melihat sebagian dokumen yang dibawanya, menurut laporan yang disampaikan Sari padaku lewat pesan singkat malam itu. "Kalau ini beneran valid, ini kasus besar. Tapi saya juga harus hati-hati, karena kasus yang melibatkan pejabat daerah kadang punya 'pelindung' juga di level yang lebih tinggi."

---

Sementara Sari berjuang di ibu kota, situasi di Karang Wetan juga semakin memanas. Ujang melaporkan bahwa razia dan patroli di sekitar Karang Wetan meningkat drastis, tanda bahwa Baskoro dan orang-orangnya semakin gencar mencari Broto sekaligus mengawasi pergerakan kami.

"Mereka mulai curiga kita nyembunyiin sesuatu yang lebih besar dari sekadar Broto," kata Yanto malam itu, menatapku dengan wajah tegang. "Kita harus siap-siap kalau mereka nekat nyerang lagi, lebih besar dari sebelumnya."

Aku mengangguk, merasakan beban berlapis yang harus kupikul—kekhawatiran akan keselamatan Sari di ibu kota, ancaman yang semakin dekat di Karang Wetan, dan tanggung jawab besar untuk memastikan semua pengorbanan yang sudah dilakukan banyak orang tidak sia-sia.

---

Tiga hari kemudian, kabar yang kami tunggu akhirnya datang. Sari menghubungi lewat panggilan singkat yang penuh kehati-hatian, suaranya terdengar lelah tapi penuh harapan.

"Made bilang, dari hasil verifikasi awal, ini kasus yang cukup kuat buat mereka tindak lanjuti secara resmi," katanya. "Tapi dia bilang, proses formalnya bisa makan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum ada tindakan konkret. Sementara itu, dia saranin kita tetap jaga semua bukti asli baik-baik, dan dia juga saranin, kalau memungkinkan, publikasi lewat media tetap jalan bareng-bareng, biar ada tekanan publik yang jaga supaya kasus ini nggak 'menghilang' di tengah jalan kayak biasanya."

Aku mendengarkan dengan perasaan campur aduk—lega karena akhirnya ada institusi resmi yang mau menindaklanjuti, tapi juga khawatir karena proses yang lambat itu memberi banyak waktu bagi Baskoro dan Hardian untuk menyusun langkah balasan mereka sendiri.

"Kita nggak bisa cuma nunggu proses resmi jalan sendiri," kataku pada semua yang berkumpul malam itu. "Kita harus tetap dorong lewat Mira juga, bareng-bareng, biar mereka nggak sempat cari celah buat nutupin semua ini lagi."

---

*(Bersambung ke Bab 33)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!