NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:664
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Kebebasan Sesaat, Ancaman Mendekat.

***

Pesan singkat dari Rendy itu terasa seperti angin segar yang mengikis seluruh sisa ketakutan dihati Freya. Tanpa membuang waktu, Freya langsung mematikan layar ponselnya, lalu menoleh kembali ke arah Kirana yang masih menatapnya dengan pandangan iba.

"Tante, sebenarnya... pagi ini Freya juga tidak perlu diantar oleh kak Galen”. Tutur Freya, mengulum senyum tulus. "Tadi, teman sekolah Freya sudah mengabari lewat pesan kalau dia mau menjemput Freya. Jadi Freya berangkat bersama teman Freya saja, ya?".

Kirana sempat terkejut mendengar penuturan putri angkatnya, namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi lebih rileks dan dipenuhi senyuman penuh arti.

"Oh ya? Baguslah kalau begitu. Jadi kamu tidak perlu repot mencari taksi atau ojek online lagi pagi ini."

Baskoro yang sejak tadi mendengarkan dari ujung meja akhirnya meletakkan cangkir tehnya, lalu memberikan anggukan kepala yang hangat. "Tentu saja boleh, Freya. Asalkan kamu hati-hati dijalan dan tetap fokus belajar di kelas tiga ini. Jangan sampai terlambat masuk kelas, ya?".

"Baik, Om. Terima kasih banyak”. Jawab Freya riang. Rasa bahagia karena mendapat izin mengalir deras didalam dadanya.

Gadis tersebut segera berdiri dari kursinya, menyandang tas ransel sekolah, lalu melangkah keluar meninggalkan ruang makan yang perlahan mulai kehilangan hawa mencekam sepeninggal Galen tadi.

Baskoro dan Kirana tetap berada di dalam rumah, melanjutkan sarapan mereka dalam ketenangan yang hangat

***

Galen sudah melajukan mobil Mercedes-Benz miliknya beberapa menit yang lalu, meninggalkan pekarangan rumah dengan deru mesin yang dingin dan pekat.

Suasana di sekitar gerbang besi hitam yang menjulang tinggi itu kini berangsur sepi, menyisakan embusan angin pagi yang sejuk.

Tak lama setelah mobil Galen menghilang di balik tikungan komplek, suara raungan mesin motor sport yang khas kembali memecah kesunyian.

Motor sport berwarna merah metalik itu melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Danendra.

Sang pengendara melepas kaca helmnya, menampilkan wajah tampan Rendy yang seketika dihiasi senyuman teramat hangat begitu menangkap siluet Freya yang berjalan anggun keluar dari halaman rumah.

Freya, yang pagi ini tampak cantik dengan seragam putih-abu-abu yang membungkus siluet tubuhnya, tersenyum lega. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya akibat keberadaan Galen di meja makan seketika menguap runtuh.

"Pagi, Freya Cantik”. Sapa Rendy dengan nada suara baritonnya yang renyah. "Sudah siap menghadapi rumus fisika hari ini?".

"Pagi, Rendy. Siap tidak siap, harus siap, kan?". Balas Freya dengan nada riang, matanya berbinar ceria.

Freya mengulurkan tangan mungilnya, berniat meraih helm cadangan yang digantung Rendy di jok belakang. Namun, sebelum jemari lentiknya menyentuh permukaan helm hitam tersebut, gerakan Rendy jauh lebih cepat.

Cowok jangkung itu menahan tangan Freya, mengambil helm itu sendiri, lalu turun dari motornya dengan gerakan yang teramat santai namun penuh percaya diri.

"Biar aku saja”. Ucap Rendy lembut.

Rendy melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Freya bisa mencium aroma parfum maskulin segar khas remaja dari tubuh cowok itu.

Dengan kedua tangan kekarnya, Rendy perlahan memakaikan helm tersebut ke kepala Freya. Jemarinya bergerak telaten, merapikan anak rambut Freya yang sempat tersangkut di pinggiran helm, lalu mengunci tali pengikat dibawah dagu Freya dengan bunyi klik yang halus.

Jarak wajah mereka yang teramat dekat, ditambah tatapan mata Rendy yang begitu intens dan penuh perhatian, seketika membuat jantung Freya berdegup kencang dengan cara yang sangat berbeda dari rasa takutnya pada Galen.

Wajah Freya mendadak bersemu mera, menjalar hingga ke ujung telinganya.

"Nah, sudah pas. Rambutmu tidak boleh berantakan, nanti cantiknya berkurang”. Goda Rendy sembari mengetuk pelan dahi helm Freya dengan ujung jarinya, tertawa kecil menikmati rona merah di pipi gadis itu.

"Ih, Rendy! Gombal pagi-pagi itu dilarang tahu!”. Protes Freya dengan wajah cemberut yang menggemaskan, menyembunyikan rasa salah tingkahnya dengan langsung naik ke atas boncengan motor sport Rendy.

Rendy kembali naik ke atas motor, menoleh sekilas ke belakang lewat kaca spion. "Pegangan yang erat, Frey. Aku tidak mau tanggung jawab kalau kamu tertinggal di aspal."

Tanpa menunggu balasan, Rendy memutar tuas gasnya. Motor sport itu melesat mulus membelah jalanan komplek, membawa mereka berdua keluar menuju jalan raya utama yang mulai padat oleh volume kendaraan pagi.

Sepanjang perjalanan di atas motor, angin pagi yang menerpa wajah mereka tidak mampu membungkam keceriaan di antara keduanya. Rendy adalah tipe cowok yang selalu memiliki seribu cerita konyol untuk mencairkan suasana.

"Frey, kamu tau gak?". Seru Rendy setengah berteriak di balik helmnya agar suaranya tidak tenggelam oleh deru angin jalan raya. "Kemarin sore setelah pulang ngantar kamu, aku dihukum mama membersihkan akuarium di rumah!".

"Lho, kenapa? Emangnya kamu buat salah apa lagi, Ren?". Tanya Freya, sedikit memajukan tubuhnya agar bisa mendengar suara Rendy dengan lebih jelas.

"Aku niatnya baik, Frey! Aku lihat ikan mas koki milik papa matanya bulat besar dan terlihat ngantuk. Karena kasihan, aku meneteskan dua tetes kopi hitam kedalam airnya, berharap ikannya bisa begadang bersamaku!". Jawab Rendy dengan nada dramatis yang konyol.

Freya seketika tertegun, lalu sedetik kemudian suara tawa lepas yang teramat renyah dan merdu pecah dari balik helmnya. Gadis remaja itu tertawa begitu lepas, terguncang-guncang halus di atas boncengan.

"Hahaha! Astaga Rendy, kamu benar-benar gila! Terus gimana nasib ikan mas kokinya?!".

"Ikannya tidak begadang, Frey, tapi malah berenang terbalik sambil kayang! Mama ngamuk dan mengancam akan menggoreng ikan itu bersama motor kesayanganku ini jika aku tidak segera menguras airnya!". Raung Rendy ikut terkekeh geli.

Tawa freya kian membuncah hebat, bahkan air matanya pun ikut sedikit keluar karena terlalu geli mendengar kebodohan cowok di depannya.

Di atas motor sport yang melaju membelah kemacetan kota pagi ini, Freya benar-benar merasakan kebebasan. Rasa sakit akibat cengkraman kasar Galen dan memori ciuman paksa kemarin sore seolah terkikis habis oleh kehangatan yang Rendy berikan.

Namun, kebahagiaan yang begitu indah itu mendadak berada di bawah bayang-bayang petaka yang mengintai.

Motor sport Rendy perlahan mengurangi kecepatannya dan berhenti tepat di barisan depan sebuah perempatan lampu merah yang sedang menyala. Di samping kiri mereka, sebuah mobil sedan mewah Mercedez-Benz hitam mengkilap juga berhenti secara bersamaan—sejajar dengan posisi motor Rendy.

Di dalam kabin mobil yang mewah, dingin, dan kedap suara itu, Galen sedang mencengkram roda kemudi dengan kuat. Pria tersebut melarikan diri lebih awal dari rumah karena pikirannya kacau, namun takdir justru mempertemukannya kembali dengan visual yang paling membakar dadanya pagi ini.

Melalui kaca jendela mobilnya yang dilapisi film tipis, sepasang mata elang Galen menangkap dengan sangat jelas bagaimana Freya sedang tertawa lepas, memegangi pundak Rendy dengan sisa tawa yang manis dan bahagia—senyuman yang tidak akan pernah Freya berikan untuknya.

Entah Kenapa melihat pemandangan itu, darah di dalam tubuhnya yang dingin Seketika mendidih sempurna. Seluruh urat di pelipis dan lehernya menegang kaku, menahan amarah yang meletup menghancurkan sisa logikanya.

Rahang Galen mengeras sempurna hingga giginya bergemertak keras di dalam mulut. Ternyata ancaman dan ciuman peringatan yang ia berikan didalam kamar kemarin sore sama sekali tidak dipedulikan oleh freya.

Gadis pembawa sial itu justru dengan lancang memamerkan tubuhnya berboncengan mesra dan tertawa bersama laki laki lain di depan matanya sendiri.

“Sialan….” Desis Galen, suaranya terdengar rendah seperti bisikan dan sarat ancaman yang berbahaya.

Mata elang Galen mengunci pergerakan tangan freya yang masih bertengger di pundak Rendy dengan kilat kebencian dan amarah yang kian pekat.

“Kau benar-benar menantangku, Freya Anindita”. Gumam Galen dingin, jemarinya mencengkram erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. “Kau pikir, kau bisa tertawa sepuas itu setelah setelah melanggar perintahku? Kau lupa siapa yang memiliki nyawamu dirumah itu? Nikmati tawamu pagi ini, bocah lancang. Karena nanti, aku sendiri yang memastikan kau menangis memohon ampun dibawah kuasaku!”.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!