Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
orang asing bernama abang
Tiga hari telah berlalu sejak pemakaman Ibu.
Rumah itu masih sama. Dindingnya masih berdiri kokoh, perabotannya masih berada di tempat semula, bahkan aroma melati kesukaan Ibu sesekali masih tercium samar dari arah kamarnya. Namun, bagi Haseena, rumah itu sudah kehilangan jiwanya. Keheningan kini menjadi penghuni paling setia di setiap sudut ruangan.
Di ruang tamu, Rayyan duduk bersandar di sofa sambil memegang secangkir teh yang sejak tadi tak kunjung diminumnya. Tatapannya kosong menembus jendela. Entah sedang memandangi halaman rumah atau justru larut dalam kenangan bersama perempuan yang telah menemaninya puluhan tahun.
Haseena keluar dari dapur membawa sepiring pisang goreng yang baru selesai digoreng. Ia meletakkannya di atas meja, lalu duduk di samping Abah.
"Bah... tehnya nanti keburu dingin."
Rayyan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
"Iya."
Namun, cangkir itu tetap tidak berpindah dari tangannya.
Beberapa hari terakhir, mereka mulai belajar menjalani hidup tanpa Syafa. Meski terasa mustahil, hidup tetap memaksa mereka berjalan. Haseena mulai mengambil alih pekerjaan rumah yang dahulu selalu dikerjakan Ibu. Sementara Rayyan kembali mengajar di pesantren meski hanya beberapa jam setiap harinya. Keduanya sama-sama berusaha terlihat kuat, walaupun diam-diam masih hancur.
Yang belum berubah hanyalah satu hal.
Tak ada kabar dari Zafran.
Sejak menghilang dari rumah sakit tiga hari lalu, pemuda itu seakan ditelan bumi. Teleponnya tidak aktif. Teman-temannya tidak mengetahui keberadaannya. Bahkan tim relawan yang sempat dihubungi Rayyan pun tidak menemukan jejak apa pun.
Haseena beberapa kali ingin bertanya kepada Abah apakah mereka perlu melapor ke polisi. Namun setiap kali melihat wajah lelaki itu yang semakin menua dalam hitungan hari, ia mengurungkan niatnya.
Satu kehilangan saja sudah cukup menyakitkan.
Ia tak sanggup menambah beban di pundak Abah.
"Bah..." Haseena memecah keheningan.
"Hm?"
"Abang pasti pulang, kan?"
Rayyan terdiam cukup lama.
Tatapannya jatuh pada foto keluarga yang terpajang di dinding. Foto itu diambil tepat setahun yang lalu. Saat itu Syafa masih tertawa lepas, Husna masih berdiri sambil merangkul Haseena, dan Zafran masih memasang wajah jahil seperti biasa.
Semuanya tampak utuh.
Semuanya tampak bahagia.
"Abah percaya..." ucapnya lirih. "Setiap anak pasti tahu jalan pulang."
Belum sempat Haseena membalas, suara salam terdengar dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum..."
Suara itu terdengar serak.
Lemah.
Nyaris tak dikenali.
Haseena dan Rayyan saling berpandangan.
Jantung Haseena mendadak berdegup lebih cepat.
Rayyan segera bangkit dan membuka pintu.
Daun pintu berderit pelan.
Di ambang pintu, seorang laki-laki berdiri dengan pakaian yang dipenuhi lumpur. Jaketnya robek di bagian lengan, celananya basah hingga lutut, sementara sepatu gunung yang dikenakannya tampak penuh goresan. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya dipenuhi debu dan bekas luka kecil yang belum sempat dibersihkan.
Namun yang paling membuat Haseena terkejut...
Adalah tatapan matanya.
Kosong.
Seolah cahaya yang dulu selalu menyala di sana telah padam.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Rayyan lirih.
"Bang...?" suara Haseena nyaris berbisik.
Zafran mengangkat wajahnya perlahan.
Tatapannya sempat berhenti pada Haseena.
Lalu bergeser kepada Rayyan.
Tak ada senyum.
Tak ada rasa lega setelah kembali ke rumah.
Tak ada kata maaf.
Ia hanya mengangguk kecil, lalu melangkah melewati mereka begitu saja.
"Zafran."
Langkahnya tidak berhenti.
Rayyan kembali memanggil.
"Abang."
Masih tak ada jawaban.
Pemuda itu terus berjalan menuju lorong rumah dengan langkah berat, seolah tak ingin berbicara dengan siapa pun.
Haseena menatap punggung abangnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya penampilannya.
Bukan hanya luka-luka di tubuhnya.
Melainkan... cara ia berjalan.
Cara ia memandang rumah ini.
Seolah tempat yang selama ini ia sebut rumah telah berubah menjadi tempat yang asing.
Rayyan akhirnya menyusul beberapa langkah, lalu menggenggam pergelangan tangan putranya.
"Berhenti dulu."
Langkah Zafran terhenti.
Namun ia tidak menoleh.
Suasana rumah mendadak kembali sunyi.
Dan Haseena tahu...
Kepulangan ini tidak akan membawa ketenangan.
Justru menjadi awal dari badai yang baru.