Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Perhatian berbalut ketus
Gerbang Benteng Dharmawangsa
Sesuai dengan ucapan Valerie, tidak ada pesta dansa, tidak ada resepsi mewah. Begitu dokumen pernikahan ditandatangani, Zevanna langsung digiring masuk ke dalam mobil Rolls-Royce hitam milik Areksa. Sepanjang perjalanan menuju kawasan elit Dharmawangsa, keheningan di dalam mobil begitu padat hingga desah napas pun terdengar jelas.
Areksa sibuk dengan tablet di tangannya, memeriksa laporan bisnis seolah-olah ia baru saja pulang dari rapat tahunan, bukan dari altarnya sendiri. Sementara Zevanna cuma menatap cincin berlian yang kini melingkar di jari manis kirinya.
Mobil akhirnya melambat dan berbelok memasuki sebuah kompleks tersembunyi yang dijaga oleh pagar besi hitam setinggi tiga meter dengan sistem keamanan biometrik. Rumah pribadi Areksa bukan sebuah rumah mewah bergaya modern yang pamer kekayaan, melainkan sebuah rumah kolonial tua yang telah dipugar dengan sentuhan minimalis gelap. Dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rimbun, tempat itu memang terlihat seperti benteng yang terisolasi dari dunia luar.
"Turun," perintah Areksa pendek saat mobil berhenti di depan teras luas. Pria itu keluar lebih dulu tanpa membukakan pintu untuk Zevanna.
Zevanna menahan kekesalannya, mengangkat ekor gaunnya yang berat dan melangkah keluar.
Seorang kepala pelayan paruh baya berjas rapi, bernama Pak Haris, sudah berdiri menyambut mereka bersama dua pelayan wanita muda yang menunduk hormat.
"Selamat datang di kediaman Vareksa, Nyonya Zevanna," ucap Pak Haris dengan nada sangat sopan.
"Terima kasih ya, Pak," jawab Zevanna mencoba ramah.
"Haris, bawa barang-barangnya ke kamar utama. Terus pastikan seluruh gerbang samping dikunci. Mulai hari ini, nggak ada yang boleh keluar atau masuk tanpa izin tertulis dariku," instruksi Areksa dengan nada dingin yang mutlak.
Zevanna menoleh cepat ke arah Areksa. "Maksudmu apa, Areksa? Izin tertulis? Kamu benar-benar berniat memenjarakanku di sini, ya?"
Areksa menghentikan langkahnya di undakan tangga dalam rumah, berbalik dan menatap Zevanna dari posisi yang lebih tinggi. "Ini bukan penjara, Nana. Ini rumahku, jadi ikuti aturanku. Kamu kan sudah tanda tangan kontraknya," Pria itu melirik jam tangan mewahnya. "Aku harus balik ke kantor sekarang. Ada rapat pemegang saham darurat soalnya berita pernikahan kita bikin saham Valerius meroket, dan aku harus amankan sisa aset kakekmu dari pamanmu yang serakah itu."
Ia melangkah turun kembali, mendekati Zevanna hingga jarak mereka makin tipis. Areksa merapikan helaian rambut Zevanna yang keluar dari sanggulnya dengan gerakan yang lumayan lembut, tapi kata-katanya tetap terdengar seperti peringatan.
"Bersihkan dirimu, makan malam yang sudah disiapkan, terus tunggu aku di kamar utama. Aku bakal pulang lumayan larut... jadi kuharap mentalmu sudah siap pas aku balik nanti."
...
Malam telah larut ketika Zevanna akhirnya selesai membersihkan diri. Proses melepaskan gaun pengantin high-neck berenda Prancis itu ternyata sama menyiksanya dengan yang ia bayangkan—butuh waktu hampir setengah jam baginya untuk menjangkau deretan kancing kecil di bagian punggung tanpa bantuan siapa pun.
Kini, ia duduk di tepi ranjang king-size berseprai abu-abu gelap di kamar utama. Kamar Areksa mencerminkan pemiliknya: luas, dingin, didominasi warna monokrom, dan sangat rapi hingga terasa tak berpenghuni. Zevanna mengenakan piyama sutra berlengan panjang warna biru dongker—pilihan paling aman dan tertutup yang bisa ia temukan di dalam koper yang sudah dipindahkan pelayan.
Kriitt...
Suara pintu yang terbuka perlahan membuat Zevanna otomatis menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Areksa melangkah masuk. Pria itu tampak luar biasa lelah; dasinya sudah dilepas, dua kancing teratas kemeja hitamnya terbuka, dan jaket jasnya tersampir di lengan kiri.
Areksa sempat tertegun melihat Zevanna yang masih belum tidur dan duduk manis di atas ranjangnya. Tatapan kelam pria itu menyapu piyama longgar Zevanna. Ada kilat geli yang melintas cepat di matanya. Istrinya benar-benar kelihatan siaga.
"Belum tidur kamu?" suara Areksa terdengar lebih serak dari biasanya, efek dari rapat berjam-jam yang menguras tenaga.
"Gimana aku bisa tidur kalau pemilik rumahnya ngancam dulu sebelum pergi?" balas Zevanna ketus, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Areksa mendengus pelan, melemparkan jasnya ke atas sofa santai di sudut kamar. Ia melangkah mendekati ranjang, membuat Zevanna refleks bergeser mundur. Namun, alih-alih merangkak naik ke atas ranjang atau berbuat macam-macam, Areksa justru berhenti di sisi tempat tidur, menatap Zevanna dengan pandangan yang agak sulit ditebak.
"Aku terlalu capek buat berdebat, apalagi buat merobek baju ketatmu itu, Zevanna," ucap Areksa datar. Ia membalikkan badan dan melangkah menuju walk-in closet untuk berganti pakaian yang lebih santai.
Ketika Areksa keluar beberapa menit kemudian dengan hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus oblong putih polos, ia tidak langsung naik ke ranjang. Pria itu berjalan ke arah meja konsol, mengambil sebuah mangkuk kecil berpenutup dan sebuah gelas yang sejak tadi diletakkan pelayan di sana atas perintahnya.
Areksa membawa benda itu dan meletakkannya di atas meja nakas di samping tempat tidur Zevanna.
"Makan," perintah Areksa pendek.
Zevanna mengernyitkan dahi, menatap mangkuk tersebut dengan curiga. "Apaan nih? Aku kan sudah makan malam tadi sama Pak Haris."
"Kamu cuma nyentuh supmu tiga sendok doang, Nana. Jangan pikir pelayan di rumah ini nggak laporan ke aku," Areksa duduk di tepi ranjang sebelah kanan, membelakangi Zevanna sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Itu bubur ayam herbal. Kakekmu pernah cerita kalau kamu punya maag akut yang gampang kumat kalau lagi stres atau telat makan. Aku nggak mau namaku jelek gara-gara pengantin baruku pingsan di hari pertama nikah."
Zevanna tertegun sejenak. Kalimat terakhir Areksa memang terdengar ketus dan gengsi banget, tapi fakta kalau pria itu tahu soal penyakitnya dan repot-repot memesankan bubur khusus bikin rasa kesal di dada Zevanna sedikit melunak.
"Kamu... sempat nanya-nanya ke Kakek soal aku? Beneran? Bukannya dari dulu kamu memang sudah tahu aku punya maag? Ternyata kamu masih ingat hal-hal kecil tentang aku, ya?" tanya Zevanna lirih, agak tidak menyangka.
Areksa memilih tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke sisi lain tempat tidur, lalu merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur dengan satu lengan menutupi matanya, mengisyaratkan kalau dia sudah malas memperpanjang obrolan.
Zevanna menatap bubur yang masih mengepulkan uap hangat itu. Perutnya memang terasa agak perih sejak sore tadi. Perlahan, ia membuka tutup mangkuk dan mulai menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Rasa hangat dan gurihnya langsung menyebar, menenangkan lambungnya yang bergejolak. Diam-diam, seulas senyum tipis yang tak disadarinya terukir di bibir Zevanna. Pria es di sampingnya ini ternyata tidak sepenuhnya terbuat dari batu.
"Kalau lapar ya langsung makan aja. Gengsi nggak bakal bikin kamu kenyang," sindir Areksa tiba-tiba tanpa membuka matanya.
"Siapa juga yang gengsi!" ketus Zevanna gemas, refleks menyambar bantal di sampingnya dan melemparnya tepat ke tubuh Areksa.
"Kamu, Zevanna Vareksa!"