NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Mari menepi dari kisah Cinderella Story (Pangeran tampan/CEO menikahi Upik Abu), kisah kawin kontrak, dan juga kisah menikah dengan keterpaksaan karena balas budi. Saatnya kita belajar dari pengalaman ana yang aku tulis dikarya perdanaku ini.

Ana merupakan mahasiswi magang di PT. Asri Global Tbk, di perusahaan tersebut ana bertemu dengan seorang pria yang benama julio, julio merupakan manager acounting di divisi tempat ana magang.

Sejak pandangan pertamanya dengan ana, julio sudah menaruh hati terhadap ana, sehingga ia mendekati ana.

Tak banyak rekan-rekan kantornya yang mengetahui jika ternyata julio telah memiliki istri dan anak di kampung halamannya, begitu pun dengan ana.
Hingga hubunganan mereka mereka yang sudah terlalu jauh, sampai pada akhirnya ana mengandung anak julio.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Sesuai dengan requestan Ana, sepulang dari mengurus administrasi pendaftaran layanan aplikasi pesan antar untuk toko kue ibu, Lyra membawakan rujak mangga muda special untuk Ana.

"Nih Mbak pesanannya." Lyra menyerahkan bungkusan berisi rujak mangga muda kepada Ana.

"Wahhh... terima kasih ya, Lyr." Dengan exited Ana membuka bungkusan tersebut dan tanpa menunggu waktu lama Ana langsung memakan rujaknya dengan lahap.

Sudah beberapa hari ini sebenarnya menginginkan rujak mangga muda namun ia belum ada kesempatan untuk membelinya, kakinya yang masih di perban membuatnya tidak bisa pergi ke mana-mana.

Melihat Ana yang tampak lahap memakan rujak mangga, Lyra menjadi ingin ikut memakan juga. "Bagi ya Mbak." Lyra mengambil satu potong mangga kemudian mencocolnya ke bumbu rujak, lalu memasukannya ke dalam mulutnya.

Baru beberapa detik mangga itu masuk ke dalam mulut Lyra, gadis itu nampak mengernyit keasaman.

"Iiiih Mbak Ana ini asem banget loh, kok Mbak Ana kuat sih!!!" Lyra langsung membilas lidahnya dengan segelas air putih untuk menghilangkan rasa asam tersebut.

"Ini sama sekali tidak asam ko Lyr, malah seger banget. Terima kasih ya udah beliin rujak untukku." Ana melahapnya hingga habis.

Ibu yang melihat tingkah Ana jadi teringat ketika dirinya sedang mengandung putri bungsunya. Sama seperti Ana, Ibu pun tidak merasakan rasa asam memakan mangga muda pada saat itu, padahal orang-orang di sekitar yang ikut mencicipi rujak mangga muda tersebut merasa keasaman.

'Opo kiro-kiro ana nembe ngandut?' gumam ibu dalam hati.

*Apa jangan - jangan ana sedang hamil

Namun lagi-lagi ibu menepis pikiran tersebut, ia tidak mau menduga atau bertanya hal yang belum pasti, Ibu takut jika nanti Ana malah jadi tersinggung.

Ibu memilih untuk ke dapur melanjutkan masak untuk makan siang, tidak lama kemudian Lyra menghampiri Ibundanya di dapur.

"Ibuuuu, masak nopo sakniki?"

*Ibuuuu, masak apa hari ini?

"Jagan asem, sambel, iwak asin. kepiye urusane, wis beres?"

* Sayur asem, sambel & ikan asin. gimana tadi urusannnya sudah beres?

Tanya ibu sambil memasukan ikan asin ke dalam wajan penggorengan yang telah berisi minyak panas.

"Alhamdulillah beres buk mung ngenteni verifikasi 5 dino, dino ker..."

*Alhamdulillah selesai bu, lagi nungguin verfikasi lima hari, hari ker...

Hooooeeek.... Hooeeek....

Lyra yang mendengar suara Ana sedang muntah-muntah segera berlari menghampiri Ana di toilet, kemudian Lyra mengambil minyak kayu putih dan membaluri leher Ana dengan sedikit pijatan kecil agar ana lebih baik.

Setelah Ana mengeluarkan semua isi perutnya, Lyra memapah tubuh Ana duduk di meja makan. Ibu yang telah selesai menggoreng, menghampiri Ana dan membuatkan

teh manis hangat untuknya.

"Kamu kenapa Nduk kok tiba-tiba muntah-muntah?" tanya ibu sambil memberikan teh manis hangat yang telah di buatnya.

"Aku tidak tahu Bu, tadi kecium bau ikan asin tiba-tiba jadi mual," jawab Ana kemudian ia meminum teh manis hangat buatan ibu.

"Nduk, boleh Ibu bertanya? tapi mohon maaf sebelumnya jika nanti pertanya ibu menyinggungmu."

Ana menganggukan kepalanya, memperbolehkan ibu untuk bertanya padanya.

"Apa kamu sedang hamil?" tanya ibu dengan hati-hati.

Deg...

Ana bingung harus berterus terangkah atau berbohong mengatakan dirinya hanya masuk angin, tapi jika ia berbohong mengatakan bahwa ia masuk angin tentu ibu akan mengetahuinya karna ibu sudah berpengalaman mengandung.

Setelah berpikir sejenak Ana menghembuskan nafasnya, ia memutuskan untuk berterus terang.

'Toh aku di sini hanya sampai kakiku sembuh, sebelum perutku membesar aku akan pergi dari rumah ibu,' gumam Ana dalam hati.

Perlahan Ana menganggukan kepalanya pertanda ia membenarkan ucapan ibu bahwa ia tengah mengandung.

Sejenak ibu menghela nafas dalam-dalam, ibu khawatir jika pertanyaannya yang ini akan membuat Ana tidak nyaman. Ibu semakin mendekati Ana, menggenggam tangan ana kemudian ibu bertanya kembali kepada Ana.

"Lalu bagaimana dengan suamimu?"

Ana kembali terdiam tak sepatah kata pun terucap dari bibir Ana, lama kelamaan cairan bening turun dari mata ana, air matanya mulai membasahi pipinya, isakan kecil pun mulai terdengar.

"Jika kamu tidak mau cerita tidak apa-apa Nduk, maafkan ibu sudah membuatmu tidak nyaman," ucap ibu sambil mengelus punggung telapak tangan Ana.

Ana memeluk Ibu menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukan Ibu. Ana merasa seperti menemukan kedamaian, kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Perlahan-lahan isakan tangisnya mereda, Ana mulai menceritan bahwa ia telah mengandung anak di luar nikah. Ana juga bercerita bahwa pria yang telah menghamilinya telah memiliki istri.

Namun Ana bertekad untuk bertanggung jawab merawat anaknya seorang diri, mencurahkan semua cinta yang ia miliki kepada anaknya. Ia tidak mau menghancurkan rumah tangga orang lain, ia tidak mau menjadi orang ke tiga dalam pernikahan orang lain. Cukup dirinya saja yang merasakan perih di bohongi oleh pria tersebut, ia tidak ingin menyakiti hati wanita lain yaitu istrinya.

"Lalu bagaimana dengan keluargamu apa mereka mengetahui tetang kondisimu?" tanya ibu kembali.

Ana menunduk menahan tangisnya agar tidak pecah kembali, dengan terbata bata ia menceritakan jika ibundanya telah meninggal dunia saat melahirkannya.

Sedangkan ia tidak mengetahui keberadaan Papanya sejak Papanya memutuskan untuk menikah lagi, pertemuan terakhir na dengan Papanya saat Ana berulang tahun yang ke 17 tahun.

Ana juga bercerita tentang kakak kandung satu-satunya yang sangat marah bahkan tega mengusir dirinya karena tidak bisa menerima kondisi kehamilan Ana.

Lyra yang turut menyimak cerita Ana seketika mendekat ke arah Ana kemudian memeluk Ana dari samping, mereka bertiga berpelukan memberikan suport untuk Ana.

Dengan perlahan Ana melepaskan pelukan ibu dan Lyra, Ana tidak ingin berlarut pada kenyamanan ini karena nanti akan terasa berat jika waktunya tiba dirinya pergi dari rumah ibu.

"Tapi Ibu dan Lyra tidak perlu khawatir, setelah kakiku sembuh aku akan pergi dari sini. Aku tidak ingin terus-terusan merepotkan Ibu dan Lyra serta membuat Ibu malu." Ana menghapus air matanya, ia berusaha untuk tersenyum seolah dirinya terlihat baik-baik saja.

Ibu menggelengkan kepalanya, Ibu tidak setuju dengan apa yang Ana ucapkan.

"Tinggallah di sini sampai kapan pun kamu mau, jika kamu bersih keras untuk pergi dari sini. Pergilah, tapi setelah kamu melahirkan anakmu," ucap ibu sambil menatap mata Ana.

"Aku tidak ingin merepotkan Ibu dan Lyra, aku juga tidak ingin membuat Ibu malu karena keberadaan dan kondisiku," tolak Ana.

"Nduk, ibu sudah menganggapmu seperti anak Ibu sendiri jadi ibu sama sekali tidak merasa di repotkan, dan untuk masalah orang-orang yang nanti menanyakan tentang kehamilanmu, biar nanti Ibu yang menjawabnya, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting." Ibu kembali meraih tangan Ana dan menggenggamnya

"Keselamatanmu dan anakmu jauh lebih penting dari omongan mereka, jika kamu melahirkan seorang diri Ibu takut terjadi apa-apa denganmu dan anakmu, Ibu tidak mau hal itu terjadi." Ibu kembali memeluk Ana, ia sangat menghawatirkan kondisi ana.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama Nduk, yo wis Ibu goreng ikan bawal saja agar kamu tidak mual lagi. kebetulan di kulkas ada stok ikan." Ibu beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke dapur, menggoreng ikan bawal untuk makan siang Ana.

Ketiganya makan siang dengan hangat, tidak ada lagi kesedihan di raut wajah Ana, karena Lyra sangat periang ia mampu merubah suasana sedih menjadi ceria.

1
Nancy Nurwezia
Luar biasa
Apalah Arti Sebuah Nama
cuma ada di novel lelaki seperti RIO,☺️☺️☺️
imelda
cerita wanita tangguh.lumayan keren.
kalea rizuky
ini uda gk. perawan tp sok jual mahal. hadehhh
Mita Karolina
Bukannya kalau LDR itu yg paling penting komunikasi ya?
aima
di Shopee ada ga ya kek rio 🤣😭
Irma: Kalo ada, dah soldout mba😂
total 1 replies
Susi Sinaga
bukan hanya di author ada lelaki spt itu ....dunia nyata jg ada...
Susi Sinaga
wow....terima ...terima
Susi Sinaga
ke rumah si pecundang tak tanggung jawab
Susi Sinaga
terharu aku masih ada org berhati emas spt Bu lyra
Sita Sit
adakah di dunia nyata laki2 kayak Rio,,keren pokoknya rio
altanum
ceritanya bikin penasaran dan ingin segera menyelesaikan membaca semua bab....semangat thor
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
Pak Rio kamu royal juga ya sama istri nya ngasih hadiah ngak tanggung" fatanstis ya
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
keren habis
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
Semoga hayalan kamu buat nikah sama Julio bisa Jadi kenyataan ya Ana
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
luar biasa

suka sama cerita nya walau baca yg 21+ tapi tetap bagus cerita nya walau belum baca semua bab nya
Leny Hui
a very great novel and there are many lessons that we can learn, highly recommended novels from the author
Defi Danny Firmansyah
semangat....semangat...💪🏻💪🏻💪🏻
Defi Danny Firmansyah
semangat trs berkarya Thor....💪🏻💪🏻💪🏻
Kod Driyah
wah Rio sdh mulai berubah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!