NovelToon NovelToon
AKU BISA MEMBUATMU JATUH CINTA, TUAN

AKU BISA MEMBUATMU JATUH CINTA, TUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Cinta setelah menikah
Popularitas:86.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hany Honey

Seri kedua Kau Curi Suamiku, Kucuri Suamimu. (Hans-Niken)
(Cerita Dewa & Fitri)
Masih ada secuil tentang Hans-Niken, ya? Juga Ratu anak kedua Hans.

Pernikahan yang tak diharapkan itu terjadi, karena sebuah kecelakaan kecil yang membuat warga di kampung Fitri salah mengartikan. Hingga membuat Fitri dan Dewa dipaksa menikah karena dituduh melakukan tindak asusila di sebuah pekarangan dekat rumah Fitri.
Fitri berusaha mati-matian supaya Dewa, suaminya bisa mencintainya. Namun sayangnya cinta Dewa sudah habis untuk Niken, yang tak lain istri dari Papanya. Dewa mengalah untuk kebahagiaan Papanya dan adik-adiknya, tapi bukan berarti dia berhenti mencintai Niken. Bagi Dewa, cinta tak harus memiliki, dan dia siap mencintai Niken sampai mati.
Sayangnya Fitri terus berusaha membuat Dewa jatuh cintai padanya, meski Dewa acuh, Fitri tidak peduli.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, Tuan!"
"Silakan saja! Cinta tidak bisa dipaksakan, Nona! Camkan itu!"
Apakah Fitri bisa menaklukkan hati Dewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Aku Mau Satu Macam Saja

Dewa sudah sampai di kota asal Fitri. Dewa benar-benar menuruti permintaan Fitri yang ingin pulang, mungkin Fitri memang ingin menentramkan pikirannya, karena ulah dia semalam yang menyiksa Fitri di atas ranjang dengan penuh paksaan dan kekerasan. Dewa sangat marah pada dirinya sendiri kalau mengingat semua kejadian semalam.

“Kamu langsung masuk saja Fit, biar koper kamu aku yang bawa. Ajakin Putri juga sekalian,” ucap Tama setelah turun dari mobilnya.

Kedatangan Fitri dan Putri langsung disambut dengan heboh oleh adik kembar sepasang mereka. Angkasa dan Mega sangat heboh melihat kakaknya datang.

“Yeay ... Kak Putri dan Kak Fitri datang,” ucap mereka bersorak gembira. Angkasa langsung memeluk Putri, dan Mega memeluk Fitri.

“Kalian di luar lagi apa? Mana Eyang Uti dan Kakung?” tanya Fitri.

“Uti di warung, adanya Kakung tuh di dalam, tadi kita pulang soalnya Kakung ada tamu, tamunya tapi sudah pulang,” jawab Angkasa.

“Kalian betah nih di sini?” tanya Putri.

“Betah banget, Kak!” jawab mereka antusias.

“Lho ini kok kalian ke sini?” tanya Pak Teguh.

“Iya, tuh katanya Kak Fitri kangen Bibi sama Paman? Minta ke sini dadakan,” jawab Putri.

“Terus kalian ke sini sama siapa? Apa Tama lagi yang antar kamu ke sini?” tanya Pak Teguh.

“Aku sama Mas Dewa, Paman,” jawab Fitri.

“Oh ... ya sudah masuk dulu,” ucap Pak Teguh.

Jelas Teguh menanyakan Tama, karena Tama yang sering mengantar Fitri pulang ke sini, dan Dewa jarang mengantarnya. Bahkan tidak pernah sama sekali mengantar Fitri berkunjung ke sini, kecuali kalau di sini ada acara atau lebaran. Itu pun satu keluarga, tidka Dewa dan Fitri saja.

“Paman, sehat?” ucap Dewa yang baru saja akan masuk ke dalam, karena tadi mengambil koper milik Fitri dan Putri.

“Alhamdulillah, sehat. Kamu tumben yang antar Fitri ke sini? Biasanya Tama?” ucap Teguh, sengaja biar Dewa perasaannya peka sedikit, kalau Teguh kecewa dengan Dewa yang memperlakukan itu pada Fitri.

“Ehm ... iya, aku juga ingin ke sin, mumpung ada Angkasa dan Mega juga, terus Putri libur, jadi sekalian liburan di sini,” jawab Dewa.

“Oh begitu? Ya sudah silakan masuk,” ucap Teguh.

“Apa Tama sering ke sini, Paman?” tanya Dewa.

“Iya, antar Fitri ke sini, ya katanya kamu sibuk sekali, jadi Fitri seringnya ke sini sama Tama. Kadang mereka menginap satu sampai tiga hari,” jawab Teguh, sengaja biar Dewa tersindir.

“Menginap?”

“Iya, kenapa? Kamar di rumah Paman banyak kok, jadi kan bisa digunakan mereka,” jawab Teguh. “Ayo masuk!”

Dewa tidak menyangka kalau Tama juga menginap di sini. Dewa kira, Tama hanya mengantar Fitri saja, lalu dia pulang, dan nanti kembali menjemput Fitri kalau Fitri sudah ingin pulang. Ternyata menginap di sini juga. Pantas saja mereka sangat dekat sekali. Bahkan Tama lebih tahu segalanya tentang Fitri.

Dewa masuk dengan membawa kopernya. Dia  melihat Fitri dan Putri yang langsung melepas kangen dengan adik kembarnya.

“Kopernya langsung masukin ke kamar saja, Dewa,” ucap Pak Teguh.

“Kamarnya yang sebelah mana, Fit?” tanya Dewa yang memang tidak tahu.

“Oh iya lupa, Paman kira Tama yang sudah hafal di mana kamar Fitri kalau di sini,” ucap Pak Teguh.

Lagi dan lagi Dewa merasa tersisih sekali. Lagi-lagi Tama yang lebih tahu segalanya tentang Fitri. Sampai dia mengembuskan napasnya dengan kasar karena saking kesalnya nama Tama selalu disebut.

“Sini aku taruh sendiri saja!” ucap Fitri yang langsung mengambil alih koper dari tangan Dewa.

“Kalian istirahat dulu saja, Paman mau ke warung lagi, Angkasa sama Mega mau di sini atau ikut Kakung balik ke warung?” tanya Teguh.

“Di sini saja, Kakung. Kan ada Kak Putri. Aku kangen Kak Putri,” ucap Mega.

“Sama, Angkasa juga ingin mainan sama Kak Putri, nanti malam aku tidur sama Kak Putri saja ya, Kakung?” ucap Angkasa.

“Iya, tapi kalian yang nurut sama kakak kalian, ya? Ya sudah Kakung pamit ke warung dulu,” ucap Teguh.

Fitri membawa masuk kopernya ke dalam kamar. Putri pun sama, dia langsung membawa kopernya ke kamar, dan si kembar langsung ingin tidur dengan Putri nanti malam.

Dewa mendudukkan dirinya di tepi ranjang, dan melihat Fitri membuka kopernya lalu menata pakaiannya ke dalam lemari. Dia melihat dari tadi Fitri hanya menata baju-bajunya saja, tidak ada baju Dewa satu stel pun.

“Kok kamu Cuma bawa baju kamu, Fit?” tanya Dewa.

“Iyalah, masa baju kamu juga?” jawab Fitri santai.

“Lalu aku ganti bajunya?” tanya Dewa.

“Kamu pulang, kan? Gak menginap di sini?” ucap Fitri.

“Aku kan bilang, kita akan menginap di sini dulu, dua atau tiga hari, Fit? Kenapa kamu bawanya baju kamu saja?”

“Ya sudah nanti tak cariin bajunya Tama saja. Kayaknya dia ninggalin baju di sini deh,” ucap Fitri.

“Bajunya Tama? Gak sudi!”

“Kenapa? Dia sepupu kamu kok? Kelihatannya kamu dan Tama badannya sama saja kok? Ukuran bajunya juga sama sepertinya?”

“Tahu banget kamu tentang Tama?”

“Gak salah lah aku tahu sekali soal Tama, dia saja yang selalu peduli sama aku? bagaimana aku tidak tahu?” jawab Fitri. Tidak peduli dengan suaminya yang sudah kembang kempis napasnya karena menahan marah.

“Gak usah marah gitu? Memang kenyataannya, kan? Kalau gak nyata baru kamu bisa marah. Sudah tenang saja, dari dulu juga Tama begitu, sering deketin aku. Tapi akunya kan gak merespon? Aku anggap dia saudara saja sih, lebih ke Kakak. Lagian hatiku tahu siapa pemiliknya. Gak usah khawatir, Dewa. Memang cinta segila ini, meski disakiti ya tetap saja mau terima. Kadang aku merasa aku ini bodoh, ya? Kenapa mau bertahan? Itu kenapa aku sekarang pengin sudah saja, Dewa. Kayaknya percuma deh, untuk apa aku bertahan selama ini dengan orang yang tidak mencintaiku? Sedangkan orang yang sangat baik dan ugal-ugalan mencintaiku aku abaikan?” ucap Fitri.

“Ngapain saja kalau sama Tama di sini?” tanya Dewa.

“Ngapin, ya? Ya ngilangin stres, ngilangin beban hidup, jalan-jalan, nonton, ya begitulah,” jawab Fitri.

“Kirain aneh-aneh!”

“Aneh-aneh apa maksudnya?”

“Ya kan Tama suka sama kamu, kirain saja ngelakuin hal aneh sama kamu!”

“Tama bukan kamu, Dewa! Bukan kamu yang katanya tidak cinta tapi malah kamu merusak aku, mengambil apa yang aku jaga. Aku memang istrimu, aku berhak memberikannya, tapi apa tidak bisa kamu mengambilnya dengan cara yang baik, meskipun kamu tidak cinta? Gak kesetanan seperti semalam!” ucap Fitri dengan geram. “Keluar sana! Aku pengin istirahat!” usir Fitri.

Lagi-lagi Dewa salah ucap. Dewa masih bergeming di tempatnya. Meski Fitri sudah mengusirnya, Dewa tetap saja duduk di tepi ranjang yang melihat Fitri sudah selesai menata bajunya. Lalu menaruh koper di atas lemari, dan merebahkan dirinya di tempat tidurm dengan memunggunggi Dewa.

Dewa beringsut naik ke tempat tidur. Dia lalu merebahkan tubuhnya di samping Fitri. Benar perkataan Fitri tadi, seharusnya meski dirinya tidak cinta pada Fitri, tapi bisa dengan baik dan lembut saat melakukannya.

Mereka ketiduran setelah lama berperang dengan pikirannya masing-masing yang sangat berisik. Hingga sore menjelang Dewa dan Fitri baru saja bangun dari tidur siangnya.

Dewa dan Fitri saling tatap setelah dia terbangun dari tidurnya. “Ngapain kamu masih di sini?” tanya Fitri.

“Aku ngantuk, tadi ketiduran,” jawab Dewa.

Fitri beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Fitri kira Dewa tidak akan ikut menginap makanya dia tidak membawkan baju ganti untuk Dewa. Setelah keluar dari kamar mandi, Fitri langsung keluar kamar, dia mencari baju milik Tama yang ketinggalan saat kemarin ikut menginap di sini.

“Kak, aku ajak Angkasa sama Mega ke pantai, ya?” pamit Putri.

“Pakai apa ke pantainya? Jauh lho?”

“Itu ada sepeda motornya Adiknya Paman Teguh. Tadi ke sini bawain sepeda motor, biar aku bisa jalan-jalan ke pantai sama kembar, katanya Warung masih ramai,” ucap Putri.

“Ya sudah sana kamu hati-hati, ya? Jangan sampai petang, nanti Kakak sama Kak Dewa nyusul deh,” ucap Fitri.

“Sudah gak usah, kakak lanjut saja buatkan aku keponakan, gak usah keluar-keluar, anggap saja ini itu momen bulan madu Kakak sama Kak Dewa,” celetuk Putri.

“Ih apaan sih kamu! Sudah ah, sana kamu ajak kembar main!”

“Ih tuh kan ngusir? Mau lanjutin ronde selanjutnya nih pasti?” ucap Putri sambil langsung pergi keluar dengan cekikikan.

Fitri hanya menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya adik iparnya bicara seperti itu. Dewa yang melihatnya hanya bisa tersenyum, lalu mendekati Fitri.

“Benar juga kata Putri, yuk lanjutin saja di kamar?” ucap Dewa.

“Apaan sih! Sana mandi!”

“Yuk lanjutin lagi, tuh adik kita minta keponakan!”

“Gak usah macam-macam, Dewa!”

“Aku maunya satu macam sana kok, Fit? Yuk lanjut lagi?”

“Yuk lanjut berdebatnya?” ucap Fitri.

“Aku mau seperti semalam, tapi janji aku akan lembut melakukannya,” ucap Dewa.

“Jangan harap deh! Sana mandi!”

Dewa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dewa harus bisa mengambil hatinya Fitri, dan terus membuktikn pada Fitri kalau dirinya akan sungguh-sungguh berubah dan belajar mencintai juga menerimanya sebagai istri.

1
Asriaty
jangan dong ratu sm rey,,,kasi muncul tokoh baru thor,,atau sm di duda sj
Yusniwati Wati
ga sabar ni nunggu kelanjutannya
Bagus Rahmad
suerrr yg tekwewr...kewer
Eni Hayati
saya suka banget lanjut KK
Ning Suswati
surat apa sih, bikin penasaran lho
Ning Suswati
kasih ada permainan petak umpet pada viona, jg sampai keduluan viona yg bermain main, kok pa2 hans belum bertindak, helllo pak mafia, jgn sampai lho, viona berbuat nekat sama keluarga lho, gk usah kasih kesempatan
Ning Suswati
fitri2masih saja ragu, ya pastas2 saja sih, 3 thn dianggurin, tapi cobalah sedikit membuka hati dan yakin dewa sdh benar2 jatuh cinta sama fitri
Ning Suswati
semoga dg kedatangan viona, dewa semakin takut kehilangan fitri,
Ning Suswati
aq suka ratu bisa menyadari kesalahan fatal yg di perbuat, dan fakus mengadap kedepan, buka mata lebar2 dan tdk terpuruk pada hati yg sdh salah memilih
Ning Suswati
semoga saja ratu membuka matanya lebar2 dan menggunakan otaknya dg benar, apalagi masalah cinta2an,
Ning Suswati
semoga saja ratu sadar se sadar2nya bahwa itu bukan cinta, tapi otaknya yg gk berfungsi dg baik
Ning Suswati
tama sangat bijak menasehati ratu, emang benar dia sendiri juga gk becus dlm mengelola hati dan perasaan, tapi si ratunya aja otak nya di taruh di dengkul, anak perawan sih susah diatur, malah menjerumuskan diri ke dlm.lumpur, gk pernah bersyukur di berikan kehidupan yg layak bergelimang harta, malah kesemsem dg masa lalu ma2nya yg buruk.
Ning Suswati
rasain kamu dewa, emang enak dicuekin, nikmati dan sadari apa yg telah diperbuat selama nikah, dan sabar dlm menghadapi dan usaha tuk memperbaiki diri dan hati
Ning Suswati
ada y manusia bertahan selama itu, tapi mau kata apa, ortunya sendiri gila dan harus pulang kemana juga, lanjut aja, semoga dewa emang mau memperbaiki nya
Ning Suswati
gila abis si ratu tapi sinting plus plus, itu bukan cinta tapi opsesi balas dendam karena niken tdk jadi pisah dg pa2 hans, tolol apa bodoh sih ratunya, kaya gk ada laki2 dlm dunia ini, melek dikit ratu matanya, jgn pura2 buka dan tuli, masa laki2 bekas ma2nya dan ma2.sambung di embat juga, sebelas dua belas kali otaknya dg ma2 zahra, jgn dong thor, masa anak sama emak gila semua
Ning Suswati
eh siapa sih, pacar rahasia ratu, kok manggilnya om, jgn2 mantan ma2 niken
Ning Suswati
bagus dong sifat hans selalu mencintai isterinya, daripada kelayapan celup sana sini, kan lebih aman dg isteri
Ning Suswati
hhhh, bagus deh fit aq suka, lanjut aja
Ning Suswati
lanjut thor, aku baru mampir setelah selesai curi2an suami 🤭
Safa Rizkia
malu2in viona mengerjar suami orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!