Julius sedang berada di puncak karier dan kesuksesan sebagai seorang musisi ketika berita duka itu datang.
Berita tentang sahabatnya yang seorang model majalah pria dewasa tewas dan di isukan mabuk sebelum loncat dari lantai 4 Apartemen sungguh membuat Julius berhenti sejenak.
Julius yang bermasalah di masa lalu putuskan untuk membereskan segalanya. Ia juga tidak percaya sahabatnya itu tewas bunuh diri.
Julius pun pergi sendirian.
Pacarnya yang seorang artis jelas tidak terima dengan keputusan Julius yang tiba-tiba meninggalkan ketenaran dan hidup mapan.
Di saat yang sama, Nani mencari Julius dan bertemu dengan Angela.
Angela curiga, Nani cinta pertama Julius dan Nani Yakin, Angela belum putus dengan Julius. Walau demikian, keduanya sepakat untuk sama-sama mencari Julius.
Sampai akhirnya, Nani dan Angela jadi tahu siapa dan bagaimana kehidupan Julius seutuhnya.
Sisi gelap dunia hiburan, persabatan dan cinta.
Kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang jatuh bangun mengejar mimpi.
tidak cengeng, tapi sanggup membuatmu nangis. Tidak gombal, tapi sanggup membuatmu jatuh hati.
jujur, terbuka dan menginspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restih dan Kata yang Tak Sempat Terucap
“Alasan apa lagi yang mau kamu katakan Frans,” kata Widya pada Julius.
“Aku rasa, aku tidak perlu lagi beralasan. Capek. Aku butuh keyakinan,” jawab Julius.
“Bagaimana aku yakin? Kalo aku masih melihat kamu sedekat itu sama dia,” nada ucapan Widya makin dalam.
“Dia sahabat kita Disa? Dia butuh kita!”
“Tapi kamu peluk-pelukan di depan umum itu keterlaluan Frans!” ungkap Widya dengan lantang.
“Lihat aku Disa, lihat.” Julius membalikkan Widya dan menyematkan tatapan. Widya pun tertawan.
“Apa kamu tidak yakin, sebentar lagi kita nikah. Kalo kamu begitu terus aku yang jadi ragu padamu Disa,” ucap Julius dengan lembut.
Widya menatap Julius dengan lekat. Tubuh mereka begitu dekat dan eratnya cengkeraman Julius terasa hangat dan meyakinkan. Widya jadi membisu seperti terbius dan.
“Cut! Kemana dialognya Widya?” tanya Om Dandi.
“Sorry sorry Om, Si Juli nya nih.”
“Kok nyalahin gue?”
“Elu tuh kecakepan. Gue jadi gimana getoh.”
“Huuh!” Teman-temannya mengejek.
“Dasar lo nya aja yang kegatelan,” celetukan Jamal disambut tawa yang lain.
“Sudah sudah, ganti yang laen,” titah Om Dandi. Julius dan Widya pun minggir.
“Bang Juli,” seorang Rilda yang tiba-tiba nongol di pintu memanggil Julius. Rilda salah satu anggota yang baru bergabung seminggu yang lalu. Julius pun menoleh, Rilda pun meyakinkan Julius.
“Sini sebentar. Penting.” Julius menghampiri Rilda.
“Ada apa Rilda?”
“Mm begini Bang. Anu, ada temen Rilda dari kampung. Dia perlu bantuan gitu,” ucap Rilda.
“Maksudnya, dia itu kabur dari rumah. Sekarang ada di kontrakan aku.” Menyadari mungkin ini masalah serius, Julius ngajak Rilda ke luar ruangan.
“Temen kamu kabur dari rumah? Kenapa??”
“Ceritanya panjang Bang, bukan kah kemarin-kemarin Abang bilang kurang orang buat figuran di...”
“Iya, tapi? Kita gak bisa sembarangan juga,” jawab Julius.
“Dia teman aku. Orangnya baik banget. Pendiam.”
Selesai jam latihan Julius dibawa Rilda menemui temannya itu.
“Dia belum tidur?” Tanya Julius.
“Belum. Orang dari sore nangis terus.”
Sesampainya ke kontrakan Rilda. Julius dihadapkan pada seorang gadis kelas satu SMA yang pemalu, pendiam dan tatapannya yang sayu penuh harap membuat Julius terkesiap. Sepanjang jalan tadi Rilda bercerita. Kalo temannya yang bernama Restih itu kabur dari rumah karena kasus narkoba. Ada seorang siswa yang naksir namun di tolak oleh si Restih ini. Dan sialnya, kenapa si cowok itu ngerjain Restih dengan cara menaruh beberapa pil narkoba murahan dalam tas sekolah Restih dan Restih kena razia.
Julius masih sulit membayangkan betapa malang anak ini. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kena razia, dikeluarkan dari sekolah, dimarahi habis-habisan sama orangtuanya. Julius juga jadi berpikir, betapa gawatnya pergaulan anak SMA sekarang. Ia juga jadi ingat adik semata wayangnya, Krismita, kakaknya Lia. Iya jadi khawatir dengan lingkungan bahkan di sekolah sekalipun.
Julius pun menjelaskan secara detail.
“Ini seperti kursus, tapi kalo ada lowongan kerja, ya langsung kerja. Pokoknya, jangan anggap ini kerja. Anggap aja kita sedang main sambil belajar. Kebetulan banget kita lagi kurang pemain. Kamu langsung saya ajak. Kayak Rilda, cuman duduk aja di bangku atau mondar-mandir tapi dibayar. Dapet makan lagi, masa kamu gak mau.”
“Gimana? Mau yah?” Tanya Rilda pelan. “Daripada di kamar Mulu, sumpek tau.” Restih pun hanya mengangguk kecil.
Besoknya Julius membawa Restih ke mall. Julius membelikan kostum dan segala keperluan Restih. Seperti yang Rilda ceritakan, Restih hanya membawa pakaian yang melekat di badan.
Sedikit Julius menyentuh kulit Restih yang mulus itu waktu membantu memilihkan baju seragam. Sadar tidak sadar, Julius jadi hafal aroma parfum Restih yang kalem, aroma napasnya yang khas, tingkat ketebalan rambutnya yang hitam mengkilat dan bau rambutnya yang seperti bau madu. Julius juga terus menghibur Restih dan membesarkan hatinya dan efek baliknya adalah, Julius merasa jadi laki-laki dewasa yang mengambil tanggung jawab.
“Oh iya, sekalian aja, tuh ****** *****,” tunjuk Julius dengan wajah culun.
“Apaan sih, malu ah,” tolak Restih.
“Daripada pinjem punya Rilda, jorok tau, hehe maaf! Abang gak bermaksud apa-apa. Kalo gak mau Abang kasih cuma-cuma, kamu tinggal ganti aja nanti kalo udah dapat honor. Tanpa bunga oke?” ramah Julius diselingi canda.
“Ya udah, abangnya sana keluar dulu, akunya mau milih ****** *****.”
“Nah gituh dong,” tukas Julius seraya melangkah keluar toko. Tapi hati Julius jadi lucu sendiri.
“Kenapa anak perawan tidak mengizinkan seorang pria melihat ****** ********. Bahkan yang baru mau dibeli sekalipun???”
Sampai di kantor keesokan harinya gadis pemalu bernama Restih itu hampir selalu sembunyi di ketiak Julius.
“Santai aja, di sini orangnya baik-baik. Kalo ada yang macem-macem bilang aja yah.” Restih hanya mengangguk kecil dan senyuman kecil dari bibir yang mungil kembali menghias wajahnya. "Astaga! Cantik sekali," pikir Julius. Keduanya berjalan begitu dekat sampai mepet-mepet, Restih seperti hendak memasuki rumah hantu dan tidak mau jauh dari Julius. Mau tidak mau pesona dan kepolosan Restih meresap ke hati Julius. Dan Julius jadi bangga sendiri. Seolah ia pamerkan pada teman-temannya, sekarang ia sudah jadi laki-laki sejati dan jadi tempat bernaung seorang gadis cantik.
Semua administrasi Julius yang urus. Julius jadi pahlawan bagi Restih. Bahkan Julius jadi sering ngajak Restih jalan-jalan atau makan di restoran.
Sore kemudian, ini malam minggu, sepulang syuting Julius ngajak Restih jalan. Restih sangat penurut dan pendiam. Julius jadi banyak ngoceh sendiri sementara Restih hanya senyum dan mengangguk. Dan yang Julius suka, Restih penakut dan suka dekat di ketiaknya. Mungkin Restih merasa aman dan percaya pada Julius.
“Kamu laper gak,” tanya Julius.
“Belum.”
“Ya udah, kita duduk di sana yuk,” ajak Julius menunjuk selingkar beton yang menghadap air mancur di taman kota yang mereka lewati. Seperti biasa Restih hanya mengangguk. Julius membeli gorengan dan dua cup jus jeruk. Mereka pun sampai dan duduk.
“Maaf Bang, ini kan malem minggu, emangnya kak Tina tidak marah, kita jalan berdua kayak gini,” tanya Restih dan sejenak Julius mencerna ucapan malu-malu dari mulut imut itu. Mengerti kemana arah pembicaraan Restih itu, Julius jadi tersenyum.
“Siapa yang bilang Tina pacar saya??”
“Ya kelihatannya. Abang deket banget aja," cap Restih.
“Restih Restih, kita itu cuma temen. Emang sih, kita deket banget. Lagian kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Kita fokus sama kerjaan dan kekeluargaan aja. Di sini kita semuanya saudara, senasib sepenanggungan. Kita terbuka kalo ada masalah atau ada yang perlu bantuan. Oke?” tutur Julius penuh optimisme. Kembali Restih mengangguk dan tersenyum kecil. Sejenak mereka menikmati gorengan dan jus jeruk. Manis sekali senyum Restih. Bibirnya mungil. Sisa-sisa minyak gorengan membuat bibir mungil itu mengkilap basah segar. Perlahan Restih bersandar ke pundak Julius.
Air mancur yang indah, lampu-lampu malam yang mengintip dari dedaun dan ranting-ranting pohon menjadi saksi kenyamanan mereka berdua. Julius pemuda normal dan tidak bisa dipungkiri, hasratnya pun bangkit. Tapi Julius selalu bisa mengalihkan perhatian dan keras pada diri sendiri. Tapi sekeras-kerasnya pemuda usia 20 th-an, akhirnya Julius mimpi basah juga karena Restih datang tiba-tiba dalam mimpinya dan mendekap dengan erat.
Pagi yang lemah. Tubuh yang terasa remuk dan syarat-syaraf otak serasa putus semua. Tapi Julius merasa ada yang tercukupi. Ia pun mandi dan mencuci selera yang tumpah tak terelakkan.
Kembali Julius menjemput Restih dengan sepeda motor bututnya. Kedang Julius punya keinginan untuk beli sepeda motor baru. Tapi terlalu banyak kenangan yang indah dengan sepeda motor bebek itu. Seperti sekarang, saat membonceng Restih. Shockbreaker motornya yang udah dol itu berguna jika ada markah kejut (polisi tidur). Ini jadi imbalan tersendiri bagi pengendara motor yang beruntung seperti dirinya di mana Restih selalu menempelkan dadanya ke punggung dan tangannya melingkar ke pinggang.
Sesampainya ke lokasi syuting, Restih lupa belum memakai lipstick. Padahal ini syuting dengan setting anak SMA. Tapi Restih berperan jadi bagian anak-anak geng centil dan berpenampilan mencolok.
“Kak, aku lupa belum pake lipstick, tolong dong,” pinta Restih sambil mencari lipstick dari dalam tasnya. Setelah ketemu ia pun mengacungkannya pada Julius. Julius pun menerimanya. Restih belum terbiasa memakai lipstik. Julius pun mulai memoleskan lipstik merah itu ke bibir Restih yang mungil. Kembali Julius menapas aroma lembut yang keluar dari mulut Restih. Julius jadi ingat mimpinya semalam dan berharap mimpinya itu segera jadi kenyataan.
"Kenapa senyam-senyum?" heran Restih mendapati si Abang pilin itu memulas bibirnya sambil senyam-senyum gak jelas.
"Ah engga, pengen seyum aja," kilah Julius sambil kembali serius memulas bibir Restih.
"Sudah,"
"Terima kasih Kak," ucap Restih lantas berjingkat pergi. Julius merasa beruntung sekali.
Restih pun berlalu dengan riang. Membaur Dengan yang lain. Julius pikir, Asisten Sutradara itu telah salah menempatkan Restih. Restih sama sekali bukan cewek centil. Julius jadi lucu sendiri melihat kelakuan yang Restih perankan.
Restih Berbeda Julius rasa. Berbeda dengan Tina atau Widya yang suka curi-curi kesempatan bersandar di bahunya, atau bercanda dan menubruknya dari belakang. Julius tidak terlalu berhasrat bahkan terasa biasa. Alhasil Julius pun merasa tidak etis kalo dirinya menikmati pesona Restih tanpa izin si pemilik keindahan itu sendiri. Julius berpikir untuk nembak Restih. Tapi terlalu cepat Julius rasa.
Sampai pulang kemudian, Julius terus melamun dan menimbang rasa sampai malam tiba di hadapan malam yang penuh bintang. Tanpa ia sadar Jamal datang dan mengagetkan Julius yang lagi rebahan di kursi malas di dak terbuka lantai tiga kantor manajemen artis itu.
“Woy! Hehehe Ketahuan lo, lagi terkapar karena panah asmara ya bocah.”
“Heh, bikin kaget aja lah.”
“Tapi bener kan?” goda Jamal. Julius pun duduk dan terbuka saja pada Jamal dan mulai membagi keluh kesahnya.
“Abang tau kan, anak baru itu? Temennya Rilda.”
“Ya tau dong! Kalo urusan cewek gue yang paling update. Trus kenapa lo jadi bego kayak gitu, tinggal sikat aja apa susahnya. Ibarat merpati, tuh cewek udah jinak ama eluh.”
“Dia kayaknya perlu duit banyak Bang, dia putus sekolah dan kabur dari rumah,” cerita Julius.
“Alamak? Yang bener lo?” Jamal sampai melotot dan dua alis tebalnya hampir bertemu. Kaget.
“Kalo saya udah gak kuliah sih mungkin bisa ngebiayain dia lanjut sekolah,” pikir Julius dengan tatapan jauh menjatuhkan bintang-bintang.
“Lagian ngapain sih lo kuliah segala. Lihat gue. Bebas. Pusing tau, kebanyakan pelajaran yang belum tentu kepake buat hidup lo. Buang-buang waktu dan duit aja lo.”
“Bang, gimana kalo dia kita tawarin jadi model buat majalah pria dewasa?” tanya Julius.
“Mmm? Masuk sih,” Jamal mulai serius.
“Kalo cuma buat biaya sekolah ama jajan sih cukup.”
“Tapi...”
“Jangan banyak tapi. Jakarta keras Bung! Kalo engga? Cara apalagi yang mau lo lakuin buat ngebantu dia?” Perkataan Jamal ada benarnya juga Julius rasa. Tapi, banyak 'tapi' yang bergulung dalam benak Julius.
Sampai bertemu dengan Restih di kemudian hari, Julius tetap bungkam dan tak kunjung menyampaikan ide nekad itu.
Sampai akhirnya, sepulang syuting, seperti biasa Julius mengantar pulang Restih dengan sepeda motor.
“Wahai shockbreaker dol dan jalan berlubang. Terima kasih. Kalian luar biasa.” sesuatu yang mengganjal di punggungnya terasa begitu kenyal.
Di tengah jalan Julius memelankan laju sepeda motornya. Bukan sekedar untuk berlama-lama menikmati gumpalan kenyal di dada Restih yang selalu menempel ke punggungnya. Tapi soal Tawaran itu. Ide yang semalam Jamal setujui hendak ia utarakan sekarang. Tapi, masih banyak tapi yang menghalangi hati Julius. Roda terus berputar dan beberapa langkah lagi sampai. Akhirnya Julius putuskan membicarakannya bertiga dengan Rilda. Sekalian minta pendapat Rilda. Sesampainya di kontrakan Rilda. Julius tidak langsung pulang. Julius masuk setelah ucap salam. Ternyata orangtua Rilda tidak ada di situ.
“Kak, mau minum dulu,” ucap Restih. Rilda keluar dari kamar. Kebetulan sekali Julius rasa. Mumpung orangtuanya Rilda sedang tidak ada di rumah.
“Res, Apa kamu berpikir untuk lanjut sekolah tahun ini saja, gak nunggu taun depan?” Julius membuka pembicaraan.
“Maksud Kakak apa? Duit dari mana?” jawab Restih seraya menaruh sebuah picher plastik yang barusan diambilnya dari dalam kulkas, dua buah gelas dan berbagi sisa gorengan dengan Julius. Gorengan yang sudah lembek yang dibelinya di tempat syuting. Sejenak Julius menikmati gorengan itu. Seiris tempe berbalut adonan tepung terigu yang lebih menyerupai kardus habis tersiram air. Rilda melangkah ke dapur.
“Ada cara cepat buat kamu dapat duit banyak. Tapi maaf.” Seperti biasa, Restih hanya duduk menyimak dan berharap Julius menjelaskan cara seperti apa yang Julius maksud. Restih duduk tidak jauh dari Julius.
“Mau gak, jadi model buat majalah pria dewasa,” ucap Julius berkesan biasa supaya tidak dianggap luar biasa oleh Restih. Tapi Restih berpikir lain, pupil matanya yang hitam bening itu bergulir dan menatap tajam Julius. Seolah Restih menangkap aroma busuk dari tawaran Julius. Restih kemudian mengalihkan perhatian pada sesuatu yang tidak tentu. Rilda datang dari dapur membawa satu toples cemilan. Tiba-tiba Restih bangkit dan bergegas masuk kamar.
Julius hendak menyergahnya. Tapi ia tidak berani. Ia berpikir untuk minta bantuan Rilda. Rilda tidak tahu apa yang terjadi. Rilda hanya mengerutkan dahi dan tatapannya menuding Julius. Seolah bertanya, Apa yang salah dengan Restih. Sepertinya Restih kecewa dan barusan berjingkat dengan segera masuk kamar.
Pintu depan ada yang membuka. Bapaknya Rilda datang. Dengan seseorang yang tidak Julius kenal. Seorang bapak-bapak, lebih tua dari bapaknya Rilda.
“Eh nak Juli, Ida, bikin kopi buat Bang Juli,” ucap bapaknya Rilda dengan nada yang sangat ramah begitu ia menemukan Julius.
“Ah, gak usah Pak, saya gak lama, mau pamit,” ucap Julius. Kehadirannya takut mengganggu tamu bapaknya Rilda itu. Kontrakan ini terlalu sempit untuk menampung banyak orang.
Setelah bersalaman Julius melangkah keluar. Tidak lupa orang asing itu juga ia salami. Sampai di luar Julius mendapati orang-orang asing keluar dari sebuah mobil sejenis SUV bersama ibunya Rilda.
“Nak Juli mau ke mana,” sapa ibunya Rilda begitu menemukan Julius keluar dari pintu kontrakan.
“Saya udah dari tadi, mau pamit Tante, masih banyak kerjaan menunggu,” kilah Julius. Tidak lupa, Julius pun lantas mengalami ibunya Rilda itu dan dua ibu-ibu yang lain yang tidak ia kenal juga turut ia salami dengan sopan. Julius tidak buru-buru pulang. Selain karena urusannya dengan Restih belum selesai. Ia sedikit ingin tahu siapa orang asing itu. Sejenak Julius tertegun dan lantas suara berisik dari dalam menarik perhatiannya. Terdengar suara tangisan. Sepertinya tangisan Ibu-ibu yang baru masuk itu. Lalu terdengar tangisan lain. Semuanya tangisan perempuan. Julius tiada hendak masuk dan memastikan siapa yang menangis dan siapa yang membuat orang menangis. Julius jadi ingat sesuatu. Restih seorang pelarian. Mungkinkah mereka orangtuanya Restih yang datang menjemput. Rasa ingin tahu Julius terjawab dengan keluarnya Restih dalam pelukan Ibu-ibu asing itu. Itu ibunya? Itu bapaknya???. Dan mungkin itu saudaranya. Bisa ditebak dari sikap dan wajahnya yang tidak jauh berbeda. Sekali Restih mendelik pada Julius. Tatapan berderai itu jelas menampilkan hati yang kecewa.
“Pasti Restih tersinggung,” pikir Julius. Sampai Restih dibawa masuk ke dalam mobil sejenis SUV warna hitam itu. Julius hanya terbengong. Samar-samar Julius masih bisa melihat Restih yang sesenggukan dari balik kaca mobil yang hitam itu. Perlahan mobil itu pun melaju. Pelan, pelan sekali. Seolah memberikan kesempatan pada Julius untuk menyergahnya. Tapi Julius tetap tak bergeming. Sampai mobil itu benar-benar melaju menjauh.
Rilda menghampiri Julius dan memberitahu Julius.
“Itu tadi orangtua Restih. Restih dijemput pulang.”
Julius hanya terpaku dan terus terpaku. Hatinya terseret mobil itu. Sakit. Julius tidak menanggapi ucapan Rilda. Julius asik dengan angan dan penyesalannya.
“Dia akan disekolahkan di sekolah yang baru,” bilang Rilda sebelum akhirnya Julius menghidupkan mesin motornya. Dengan lemas Julius pulang.
Julius melaju pulang seperti layangan putus dari benang. Baru saja ia merasa indah dekat dengan seorang gadis. Sekarang sendiri lagi.
“Mungkinkah ia merasa dilecehkan dengan tawaranku itu?” pikir Julius terus berkelumit di antara ilalang dan jalanan berlubang. Julius juga merasa tidak enak hati karena belum menjelaskan secara mendalam maksud tawarannya itu. Dan yang paling membuatnya kecewa pada diri sendiri adalah, ia belum sempat mengutarakan isi hatinya.
bagussss bgt thor dan ini kadang masalah yg d alami semua orang
bentar lagi masuk bagian inti teka tekinya neh
liat nani berasa liat diri sendiri, dulu temenan 10 orang, 8 cwo dan 2 cwe, sekali2 nya nonton konser grtisan tuh, yg ngeslank bareng jinggo, pulang jam 2 malem baju basah nyampe rumah abang gw dah nungguin, kabayang kan lanjutan nya apa, auto d ceramahin mpe seminggu kdepan
kadang perih dan sakit itu perlu, dalam mencapai impian, suatu saat nanti kita sukses akan terasa lebih hebat
baru ngeh q bacanya kebalik, baca purnama k2 dulu yg ini