Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Luar Pintu
Jarum jam dinding di sudut kamar menunjuk tepat ke angka tiga dini hari. Suasana malam begitu hening, hanya tersisa suara halus dari pendingin ruangan yang mempertahankan suhu hangat di dalam kamar.
Kelopak mata Kirana bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya masih mengabur, terasa sangat berat dan perih seolah-olah dilapisi kabut tebal. Kirana mengeripkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan temaram dari lampu tidur bernuansa keemasan.
Saat kesadarannya perlahan terkumpul, rasa asing langsung menyergap dirinya.
Ia tidak lagi berada di jalanan bersalju yang membeku. Tidak ada lagi tiupan angin kepingan es yang menusuk kulitnya, dan tidak ada lagi rasa putus asa yang mencekat dada. Kirana mendapati dirinya terbaring di atas ranjang yang sangat empuk, berselimutkan kain tebal bernuansa lembut yang memberikan rasa hangat luar biasa.
Kirana mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan. Langit-langit kamar tampak tinggi dengan ukiran klasik yang sangat elegan. Di sisinya berdiri lemari kayu jati yang kokoh, tirai beludru mewah yang menjuntai menutupi jendela besar, serta karpet tebal yang melapisi lantai marmer.
"Aku... di mana?" bisik Kirana parau. Suaranya hampir tenggelam di tenggorokannya yang terasa sangat kering.
Memory malam itu berputar kembali di kepalanya seperti rekaman film: pengusiran kejam oleh ayahnya, senyuman puas adik tirinya, dinginnya salju yang merayapi tubuhnya, dan bayangan sebuah mobil mewah yang berhenti di depannya sebelum semuanya menjadi gelap.
Kirana memegang kepalanya yang masih terasa agak pening, lalu perlahan mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menyadari pakaian tipis yang tadinya basah oleh salju kini telah berganti dengan pakaian tidur yang bersih dan hangat. Kebingungan bercampur rasa cemas kini memenuhi benak gadis itu. Siapa yang telah menolongnya? Dan di mana ia berada sekarang?
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Kirana memutar tubuhnya perlahan dan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Begitu telapak kakinya menyentuh karpet tebal yang empuk, rasa hangat menyapu tubuhnya yang masih tersisa dingin. Kepala Kirana masih terasa sedikit pening dan berdenyut, namun rasa penasaran yang membuncah mengalahkan rasa sakitnya.
Ia berdiri perlahan, berpegangan pada pinggiran meja kecil di samping ranjang untuk menyeimbangkan tubuhnya. Matanya kembali meneliti setiap sudut kamar mewah itu dengan cermat. Semuanya teratur, bersih, dan memancarkan kemewahan yang tak biasa. Namun, rasa asing yang menyelimuti tempat ini justru membuat dadanya berdebar kencang.
Langkah kakinya yang tanpa alas bergerak pelan dan hampir tanpa suara menyusuri lantai. Kirana berjalan mendekati pintu kayu jati berukir indah yang menjulang kokoh di hadapannya. Jemari tangannya yang mungil ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memegang gagang pintu tembaga yang terasa dingin.
Cklek.
Kirana menekan gagang pintu dan menariknya perlahan. Pintu besar itu terbuka tanpa suara, mengungkapkan lorong megah berlantai marmer dengan lampu-lampu dinding yang menyala temaram.
Namun, baru saja Kirana melangkahkan satu kakinya keluar dari ambang pintu, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok pria berbadan tegap yang berdiri sigap di sisi kiri dan kanan pintu. Keduanya mengenakan setelan jas hitam rapi dengan earpiece menempel di telinga mereka. Wajah mereka datar, memancarkan aura ketegasan yang sempat membuat Kirana tersentak kaget dan mundur satu langkah.
Melihat gadis di dalam kamar telah siuman dan keluar, salah satu bodyguard langsung memutar tubuhnya menghadap Kirana dan menundukkan kepala sedikit dengan penuh kesopanan.
"Anda sudah sadar, Nona?" tanya bodyguard itu dengan suara berat namun sopan.
Kirana menelan ludahnya, tangannya meremas tepi pakaian tidurnya dengan erat. "Sa-saya... di mana ini? Siapa kalian?" suara Kirana bergetar menahan cemas.
Bodyguard itu tidak langsung menjawab pertanyaan Kirana. Sebagai gantinya, ia menyentuh earpiece di telinganya dan menekan tombol pada radio komunikasi kecil yang terpasang di kerah jasnya.
"Tuan Devan, Nona di kamar tamu utama sudah siuman dan baru saja keluar kamar," lapor bodyguard itu secara singkat dan jelas melalui sambungan telepon internal.
Hanya butuh beberapa detik hingga sebuah suara berat dan berwibawa terdengar menjawab dari balik earpiece. Bodyguard itu mengangguk pelan.
"Tolong tunggu di sini sebentar, Nona. Tuan Devan akan segera datang menemui Anda," ujar pengawal itu kembali menatap Kirana dengan tenang, membiarkan Kirana berdiri terpaku di ambang pintu dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di dalam dadanya.