NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

...^^^ ^^^...

..."Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."( Q.S. Ali-Imran; 185)...

...Dibawah batu nisan kini terbaring jenazah ibunya. Pikirannya berkelana jauh membayangkan tidak akan ada lagi ibu yang memeluknya ketika butuh pelukan, tidak akan ada panggilan, teguran dirumah kecilnya lagi. Seketika hampa, kosong menyusup dengan tegasnya....

...Para pelayat sudah pulang sejak tadi. Hanya tersisa Hawa,Asrina dan Mama. Menghela nafas perlahan mencoba untuk terlihat kuat, ia bangkit, menepuk pelan bajunya yang terkena debu tipis tanah pemakaman. Tersenyum tipis, memandang sekitar. Tatapan sendu dibalik senyuman tipis....

"Bu, Hawa pulang dulu ya, nanti Hawa akan sering kesini temani Ibu" bisiknya. "Mah, As ayo kita pulang. Langit sudah menggelap" ajaknya pelan. Dengan berat hati menyeret langkah kakinya menuju rumah kecilnya. Tempat dimana tersimpan semua kenangan bersama kedua orang tuanya. Mama dan Asrina mengikuti dalam diam. Membiarkan Hawa dengan keheningannya.

...Dirumah sudah ada bu RT dan warga yang menyiapkan tahlilan. Suasana yang teratur tapi tidak bising. Memberi ketenangan bagi seorang anak perempuan yang baru saja kehilangan ibu nya. Mereka merasa iba, karena selama hidupnya ibu orang yang baik, rajin membantu siapa saja yang membutuhkan. Beliau ramah, supel. Banyak yang senang dengan nya....

...Hawa meraih handuk dan baju gamisnya. Menyeret langkah ke kamar mandi yang berada disamping kamarnya. Asrina sudah menunggu didalam kamar, karena ia sudah mandi terlebih dahulu. Merebahkan tubuh sekejap, untuk mengistirahatkannya....

...Air dingin menyentuh ujung jarinya, membuatnya terkejut. Pelan tapi pasti air dingin mulai membasahi tubuhnya. Meluruhkan lelah yang ia rasakan, membuatnya segar seperti memperoleh energi baru. Gamis hitam dengan kerudung hitam instan melekat dibadannya....

...Hawa sudah terlihat lebih baik dan segar. Walau wajahnya tetap pucat....

"Wa, makan dulu yuk" ajak Asrina semangat. Meraih tangan sahabatnya menuju dapur. Dimeja tersaji nasi, ayam dan tahu goreng, sambel terasi, tumis kangkung. Menu yang menggugah selera. Melihat menu itu mengingatkan akan makanan kesukaan ibunya. Matanya memanas, Asrina menyadarinya. Diusapnya bahu Hawa.

"ayo makan. Ibu sedih kalau melihat kamu nggak mau makan" ucapnya mengambil nasi ke piring "sama apa Wa?" menoleh kearah Hawa.

"kangkung aja As" senyum tipis menghiasi bibir pucatnya.

"Oke ... Siap" dengan semangatnya, menyuguhkan nasi, tumis kangkung menambahkan ayam dan sambel terasi. "silahkan nona" dengan gaya seperti karyawan rumah makan. Hawa tersenyum tipis, ingin protes karena terlalu banyak makanan yang disuguhkan temannya itu. Tapi ya sudahlah.

"selamat makan" Hawa menyuapkan nasinya, mengunyah pelan. "hmm, enak " gumamnya pelan. Baru terasa melilit setelah melewati badai kehilangan orang tersayangnya. Asrina senang melihat Hawa makan dengan lahap. Mereka sangat menikmati tumis kangkung itu.

...Acara tahlilan berjalan dengan khidmatnya. Warga sudah kembali kerumah masing-masing. Tersisa Mama, Papa dan Hasby yang setia duduk bersila diruang tamu. Terlihat sedang berunding, entahlah, Hawa tak mendengarkan....

..."Hawa ... sini nak!" ujar mama tenang dan penuh kelembutan....

Hawa beranjak pelan mendekat ketempat mama duduk. Pikirannya entah kenapa melayang tentang perjodohan yang mungkin akan dibatalkan. Dadanya sesak jika membayangkannya. Ia duduk disamping mama, dengan dada berdebar.

"Hawa, papa dan mama ingin memberitahu pesan terakhir Ibu kamu." ucap Papa tegas menatap lurus ke netra Hawa. menimbang sesuatu. Hawa memandang mata tegas milik Papah dengan hati yang gugup. Ia hanya menganggukkan kepala pelan. Bibirnya melengkung tipis.

"Tadi siang sebelum kamu datang, ibu sudah menikahkan kamu dengan Hasby. Jadi kalian sudah resmi menikah"

...Deg ......

...Hawa mematung, badannya kaku, jantungnya berdetak lebih kencang, netranya melihat Papa dan Mama mencari kebenarannya. Jemarinya mencengkram gamisnya lebih kuat....

"nggak pah,, ibu tadi nggak bilang sama aku"

Tatapannya beralih pada Hasby. Hasby menganggukkan kepalanya singkat. Hawa lemas seketika.

"kenapa tadi ibu tidak bilang apa-apa padaku mah?" Hawa tergugu mengingat kejadian tadi siang. Memeluk lututnya sendiri. Mencari kekuatan untuk tetap sadar.

"maafkan kami yang baru memberi tahu sekarang nak, kami keluargamu sekarang, jika perlu sesuatu katakan saja. " ujar Mama tenang.

"Hasby, malam ini sampai malam ke tujuh, kamu disini menemani Hawa. Jaga istrimu nak. !" lanjut Mama memandang netra anak semata wayangnya itu.

"iya mah, Hasby janji akan jaga Hawa" saut Hasby tenang. Melirik sekilas Hawa.

..."Tapi mah,, nanti kalau jadi fitnah gimana??" sela Hawa memandang Mama takut. Senyum terukir dibibir mama. "Tidak nak, RT disini sudah diberitahu dan memakluminya."...

" Tenang saja, berita ini tidak akan bocor kesekolah. Mengingat kalian masih sekolah. Jadi rahasiakan. Setelahnya nanti kita bicarakan lagi" ucap Papa santai. " kamu terima kan kalau Hasby jadi suami kamu?" lanjutnya lagi.

...Mencoba memahami situasi mendadak yang membuatnya terkejut ini. Tangannya saling bertaut meremas dan bertaut dengan erat,....

"Insyaa allah pah, tapi,,, Hawa belum bisa jadi seorang istri. Ini terlalu cepat dan mendadak." gumam Hawa lirih tapi masih bisa didengar semuanya.

"Tenang nak, kalian bisa sama-sama belajar." ucap Papa, netra teduhnya beralih memandang kearah putranya "Hasby belajarlah lebih giat lagi, sekarang Hawa tanggung jawabmu" menepuk pelan bahu lebar Hasby.

"Insyaa allah Pah, aku akan berusaha semampuku" Hasby memandang Papa dan memeluknya erat. Lebih lama dari pelukan biasanya, seperti meluapkan emosi yang tertahan. Tanggung jawab yang harus diembannya begitu besar. Diusia yang terlalu muda.

...***...

...Langit malam bersih tanpa satupun bintang hadir menghiasnya. Dedaunan bergemerisik karena angin menyapa lumayan kencang. Angin membawa aroma tanah yang begitu khas. Air langit jatuh seperti peluru yang tiada henti. Menyerbu membasahi semua yang dibumi. Termasuk gundukan tanah yang didalamnya terbaring jenazah Ibunya. Hawa memandang kosong tikar didekat ķakinya. Duduk bersila dengan tangan diatas paha saling bertaut....

...Hasby menatap Hawa dengan tenang" Ehem,,, tidurlah!" titahnya singkat. Hawa tersentak dan mendongakkan kepala menatap Hasby, suaminya . Menundukkan kepalanya sejenak. menarik nafas dan menghembuskan pelan....

"iya kak" ia bangkit dari duduknya dan menyeret kakinya pelan, tiba-tiba ia berhenti dan berbalik menatap Hasby "kakak tidur dikamar ibu aja ya,," tambahnya lagi. Hasby terlihat menganggukkan kepalanya. Hawa melanjutkan jalannya kekamar tidurnya sendiri setelah memastikan dimana Hasby tidur.

...Malam semakin larut dan hujan belum ada tanda-tanda mau berhenti. Mereka tidur bertemankan suara air yang jatuh mengenai genteng diatasnya. Aroma hujan yang menenangkan membantu mereka segera terlelap. Mengistirahatkan tubuh yang kelelahan....

...Suhu semakin malam semakin dingin, membuat Hawa merapatkan selimutnya. Sangat banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada Hasby, tapi karena lelah ia lebih memilih istirahat. Besok ia harus bicara dengan Hasby....

..."nak,maafkan ibu, sudah menikahkanmu mendadak tanpa kamu tahu. mulai sekarang nurut dan berbakti lah pada Hasby, karena ibu percaya padanya. Jadilah istri yang baik, raih lah cita-citamu. Jangan bandel" jelas ibu tersenyum lembut penuh kehangatan....

...Peluh membanjiri dahinya, ia segera duduk diatas ranjang kecilnya. Dengan nafas memburu mata yang sudah berkaca-kaca. Mengingat apa yang baru saja terjadi. Tadi ia bertemu dengan ibu, mendengarkan nasehat ibu. Tapi tiba-tiba ibu menghilang. Binggung diwajahnya tercetak jelas....

...Suara azan dikejauhan terdengar samar, sebelum azan dikampungnya berkumandang. Hawa beranjak dari ranjang nyamannya untuk segera menunaikan kewajibannya....

Pintu berderit pelan tapi terdengar jelas sesorang didapur menoleh dan netranya bertemu dengan netra Hawa. Ia langsung menguasai keterkejutannya. Belum terbiasa dengan kehadiran Hasby. Suami dadakannya.

 Sungguh lucu hidupnya. Kemarin sekolah dengan semangat yang selalu diberikan oleh ibunya. Ibunya sakit dan meninggal, membuatnya menjadi sebatang kara. Tiba-tiba malam tadi ia sudah berganti status menjadi seorang istri dan berdampingan dengan status pelajarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!