Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Keputusan Ibu
Empat puluh hari merayap bagaikan siksaan lambat sejak malam mencekam saat rahasia kain linen dan tangisan dari dalam lemari terkuak.
Hari demi hari berlalu di bawah bayang-bayang ketakutan yang kian menggelembung. Galang menyimpan potongan kain linen yang hangus itu di dasar lipatan bajunya, merahasiakan fakta mengerikan tentang status dirinya dari Bayu dan adik-adiknya.
Setiap kali ia menatap wajah-wajah polos Mia, Rian, dan Gilang, dadanya terasa dihantam godam keras—mereka adalah darah daging Pak Broto yang sesungguhnya, target utama dari ikatan perjanjian pesugihan yang sedang menagih hutang.
Dan kini, hitungan itu telah tiba. Hari ke-120 sejak kematian Pak Broto.
Pagi di pinggiran Madiun itu bergulir kelabu. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon jati di sekitar rumah, membawa hawa lembap yang tertahan di udara.
Di ruang tengah, atmosfer terasa tegang bagaikan benang kelasa yang siap putus. Bayu duduk kaku di kursi kayu, matanya merah karena kurang tidur. Pertiwi memangku Gilang di sudut ruangan, sementara Mia dan Rian merapat takut-takut di sisi Galang.
Selama empat puluh hari terakhir, kamar utama tetap bisu, meski bau kemenyan yang keluar dari dalamnya perlahan berubah menjadi aroma minyak bunga melati yang sangat pekat dan dingin.
Tepat saat jarum jam dinding berdentang enam kali menandai pukul enam pagi, sebuah suara bergema dari lorong tengah.
Sreeek ... KLAK.
Suara kait selot kayu yang sudah berbulan-bulan menyegel pintu kamar utama itu terdengar terlepas. Engsel kayu yang berkarat mendecit tajam, membelah keheningan rumah bagaikan suara pisau digoreskan di atas kaca.
Kriiiieeek ....
Daun pintu kayu jati itu perlahan-lahan terdorong terbuka dari dalam.
Seluruh penghuni rumah menahan napas serentak. Bayu berdiri dari kursinya dengan napas memburu, sementara Galang maju dua langkah ke depan, memasang badan untuk melindungi adik-adiknya.
Dari balik kegelapan lorong kamar yang kusam, sebuah sosok melangkah keluar.
Bu Retno berdiri di ambang pintu.
Ruang tengah mendadak disergap keheningan yang dingin. Sosok wanita yang berdiri di sana tampak begitu berbeda dari ibu yang mereka kenal enam bulan lalu.
Kulit wajahnya pucat pasi, seperti kertas kusam yang tak tersentuh sinar matahari bertahun-tahun. Lingkar hitam pekat melingkupi kedua matanya yang sayu dan dalam, membuat pupil matanya tampak kian mengecil. Tubuhnya amat kurus, tulang-tulang bahu dan lehernya menonjol tajam di balik balutan kebaya kain batik kusam berwarna cokelat tua.
Namun, di balik wajahnya yang layu dan kelelahan itu, ada aura lain yang merayap keluar—sebuah ketenangan yang dingin, asing, dan memancarkan wibawa yang mengerikan.
"I-Ibu ...?" Suara Pertiwi tercekat di tenggorokan, air matanya merebak pelan.
Bu Retno tidak langsung menjawab. Matanya yang sayu menyapu seluruh ruangan, menatap satu per satu wajah anak-anaknya.
Saat pandangan matanya tertambat pada Galang, ada kilatan rahasia yang melintas sangat cepat di manik matanya—sebuah riak kesadaran akan kain linen dan rahasia yang kini berpindah tangan.
"Ambilkan air hangat, Tiwi," ucap Bu Retno. Suaranya serak, dalam, dan datar tanpa intonasi duka sedikit pun. Suara itu begitu jernih, sama sekali berbeda dari bisikan patah-patah yang selama ini bergema dari balik pintu terkunci.
Pertiwi tersentak, lalu tergesa-gesa berlari ke dapur dengan tangan gemetar.
Bayu melangkah mendekati ibunya, dahinya berkerut dalam antara rasa lega dan amarah yang menumpuk.
"Bu! Enam bulan Ibu ngurung diri! Enam bulan rumah ini kayak kuburan! Ibu tahu apa yang terjadi sama kita selama Ibu di dalam kamar?!"
Bu Retno mengalihkan pandangannya pada Bayu. Wanita itu tidak tersinggung oleh bentakan anak sulungnya. Ia hanya mengangguk pelan, sangat pelan, bagai dahan kayu yang tertiup angin kuyu.
"Ibu tahu, Bayu," balas Bu Retno ringkas. "Ibu tau warung kita lama tutup. Ibu tau kalian tidak punya uang. Dan Ibu tahu ... Bapak kalian meninggalkan beban yang tidak sanggup kalian pikul sendirian."
Galang melangkah mendekat, matanya menatap lurus pada jemari ibunya yang kurus. Kuku-kuku jari Bu Retno tampak bersih, tidak ada lagi jelaga hitam atau noda tanah merah pemakaman. Seolah-olah wanita itu telah menyelesaikan suatu ritual penyucian ghaib di dalam kamar gelapnya selama empat puluh hari terakhir.
"Ibu sudah merasa lebih baik?" tanya Galang hati-hati, mencoba menggali maksud di balik keputusannya keluar tepat pada hari ke-120.
Bu Retno menatap Galang. "Bukan masalah merasa lebih baik atau tidak, Galang. Waktunya sudah tiba. Kita tidak bisa bersembunyi terus di sini. Warung Nasi Broto ... harus dibuka kembali."
Pernyataan itu menghantam ruangan bagaikan petir di siang bolong. Bayu melotot, sementara Mia dan Rian saling pandang heran.
"Buka warung lagi?!" seru Bayu dengan nada tak percaya. "Bu, modal kita udah habis! Bahan masakan juga nggak ada! Lagian, tetangga-tetangga desa udah terlanjur ngomongin yang aneh-aneh tentang keluarga kita gara-gara kejadian di kuburan Bapak! Siapa yang mau beli masakan kita, Bu?!"
Bu Retno berjalan pelan menuju meja makan kayu. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak bersuara sama sekali di atas lantai semen. Ia menarik kursi kayu jati, lalu duduk bersedekap dengan anggun namun kaku.
"Orang desa akan selalu bicara, Bayu," ucap Bu Retno dingin. "Tapi orang desa juga mudah lupa kalau bau masakan sudah memenuhi jalanan. Bumbu warung ini adalah warisan Bapakmu. Dan warisan itu ... tidak boleh mati."
Pertiwi datang dari dapur membawa segelas air hangat yang asapnya membumbung tipis. Gadis itu meletakkannya di depan ibunya dengan tangan gemetar. Bu Retno meraih gelas itu, meminumnya sedikit demi sedikit tanpa mengalihkan pandangannya dari meja.
Galang merasakan firasat buruk yang teramat pekat menggerogoti lambungnya. Ia tahu persis apa yang ada di balik keputusan ini. Ibunya tidak sedang berusaha menyelamatkan ekonomi keluarga secara wajar.
Hari ke-120 adalah batas waktu yang ditandai oleh 'perjanjian' itu. Membuka warung kembali berarti menyalakan kembali mesin pesugihan yang selama enam bulan ini padam—sebuah syarat mutlak agar pesugihan itu kembali memuntahkan kekayaan, meski harganya adalah nyawa anak-anak Pak Broto.
"Ibu yakin mau buka warung lagi?" pancing Galang dengan suara rendah penuh tekanan. "Ibu tahu kan ... konsekuensinya kalau warung itu buka lagi?"
Bu Retno menghentikan gerakan gelasnya. Ia mengangkat wajah, menatap Galang dengan mata sayunya yang kelam. Di dalam keremangan ruang tengah, Galang melihat sekilas pantulan warna kehitaman yang menjalar tipis di sekeliling pupil mata sang ibu.
"Warung itu adalah tempat kita semua makan, Galang," jawab Bu Retno dengan nada penuh rahasia yang mematikan. "Kalau warung itu tidak dibuka kembali ... tidak ada satu pun dari kalian yang akan bertahan hidup di rumah ini. Apa kamu mau melihat adik-adikmu mati kelaparan satu per satu di depan matamu?"
Galang Bungkam. Pertanyaan ibunya adalah sebuah sekakmat yang kejam. Ia memandang Gilang dan Mia yang tampak kurus dan pucat karena kurang gizi selama berbulan-bulan.
Kenyataan ini menjepit Galang di antara dua jurang kematian: mati perlahan karena kelaparan hari ini, atau mati secara ghaib akibat pesugihan di masa depan.
Bayu, yang tidak mengetahui rahasia kelam di balik warung tersebut, mendengus lega meski masih dipenuhi keraguan.
"Kalau memang mau buka lagi, kita dapat modal dari mana, Bu? Pasar nggak bakal ngutangin kita bahan makanan lagi tanpa uang muka."
Bu Retno meletakkan gelas air hangatnya kembali ke atas meja dengan bunyi ketukan pelan.
"Modal itu akan datang sendiri," ucap Bu Retno mantap, seolah-olah ia telah menjadwalkan kedatangan seseorang. "Sebelum minggu ini berakhir, akan ada bantuan yang datang ke rumah kita."
"Bantuan dari siapa? Kerabat Bapak di Nganjuk aja udah nggak mau dihubungi!" cecar Bayu heran.
Bu Retno tidak menjawab pertanyaan Bayu. Ia menyunggingkan bibirnya tipis—sebuah senyuman yang sangat asing, kaku, dan tanpa kehangatan sedikit pun di wajahnya yang pucat pasi.
"Seseorang yang dikirim untuk meneruskan apa yang ditinggalkan Bapakmu," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir menyerupai helaan napas angin dingin yang menyusup dari celah jendela.
Galang mengepalkan tangannya di balik saku celana, meremas sisa kain linen tua yang selalu ia bawa.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya