NovelToon NovelToon
Ice Cream Boy

Ice Cream Boy

Status: tamat
Genre:Persahabatan
Popularitas:254.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aulia Istik

Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.

Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.

Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.

Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 3. B a c k T o T h e C o m p e t i t i o n

 "Ambar," panggil Putri saat Ambar akan masuk ke dalam ruang ekstra. Ambar mengurungkan niatnya untuk memasuki ruang ekstra kemudian menghampiri Putri yang duduk di kursi depan deretan ruang ekstra.

Ambar mendudukkan diri di samping Putri. "Ada apa, Kak?" tanya Ambar.

"Gimana konsep fotonya? Udah ada?" tanya Putri langsung pada intinya.

Ambar mengangguk mantap. "Udah dapet, kok." Ambar menjelaskan tentang detail fotonya dengan senang hati. Dan Putri cukup senang dengan konsep yang diambil Ambar. Jika mengandalkan Ambar, seperti biasa Putri merasa telah mengandalkan orang yan tepat.

"Oh, iya. Anak-anak baru udah mulai masuk, ya?" tanya Ambar mengalihkan topik pembicaraan.

"Iya, udah dari minggu kemarin malah. Lo belum perkenalan, kan? Masa mereka gak kenal sama kandidat ketua di ekstra yang mereka ikuti." Mendengar itu, Ambar justru menggelengkan kepalanya.

"Enggak, ah." Ambar menolak.

"Kenapa enggak?" tanya Putri meminta alasan yang sudah dapat dipastikan usahanya akan sia-sia.

"Karena enggak mau," jawab Ambar. Putri menghela napas. Kemudian mengibas-ngibaskan tangannya sebagai kode agar Ambar pergi.Kadang memang Ambar dapat diandalkan, tapi kadang ya ... seperti itu.

Ambar masuk ke dalam ruang esktra. Di dalam sedang berlangsung penjelasan dari salah satu anggota ekstra yang satu angkatan dengan Ambar. Sejenak suasana fokus mereka sempat terdistraksi oleh kehadiran Ambar. Tapi segera saja Vansa--teman satu ekstra Ambar yang sedang memberi materi--mengambil alih kembali fokus dari junior-junior baru.

Ambar segera bergabung dengan lima belas temannya yang berada di sisi lain ruangan yang memang sengaja di sekat menjadi dua bagian. Mereka sedang membahas konten untuk mading mingguan. Di sana ada Gilang yang memimpin pertemuan, lelaki itu adalah salah satu saingan Ambar sebagai kandidat ketua ekstra jurnalistik.

Di SMA Aster atau AHS, ekstra kurikuler jurnalistik cukup diminati banyak orang karena memiliki banyak prestasi. Mulai dari lomba karya ilmiah, lomba karya tulis seperti cerpen dan puisi, lomba fotografi, hingga bahkan dua tahun lalu mendapat juara satu dalam lomba novel nasional. Dan anggota esktra jurnalistik pada angkatan Ambar bukan hanya lima belas. Tapi ada duapuluh tiga orang, yang bertahan sampai sekarang. Di awal dulu jelas lebih banyak lagi, tapi kebanyakan memilih mengundurkan diri atau keluar tanpa kabar dengan alasan semakin banyak tugas.

Beberapa saat setelah Ambar duduk, tiga orang temannya yang tadi memberikan materi pada para junior, kini ikut bergabung dalam obrolan yang santai tapi menghasilkan. "Kok, ke sini? Yang di sana gimana?" tanya Gilang.

"Lagi pada ngerjain tugas. Tadi kita suruh praktik buat puisi." Gilang memberi respon dengan mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian rapat kembali dilanjutkan.

"Jadi tema udah, terus pembagian tugas udah, tinggal eksekusi dua hari lagi. Bendahara jangan lupa besok sore belanja sesui keperluan yang udah ditentuin tadi, ya." Seseorang yan menjadi bendahara pun mengacungkan jempol.

"Loh, rapatnya udah selesai, ya?" tanya Ambar tiba-tiba setelah sejak datang tidak mengeluarkan suara apapun.

"Heleh, salah sendiri telat," ucap Gilang setengah mengejek.

"Tadi gak telat-telat amat sebenernya. Cuma ngobrol dulu sama Kak Putri."

"Yaudah, perkenalan dulu sana," ucap salah satu teman Ambar yang lain. Tapi lagi-lagi Ambar menolak.

Tiba-tiba Vansa berdiri dan berjalan menuju tempat junior-junior sedang berkumpul. "Sudah selesai puisinya?" Beberapa dari yang ditanya menjawab jika sudah selsai. Sisanya berkata jika belum. "Oke, lanjut nanti, ya. Ada Kakak yang mau perkenalan dulu, nih. Terus katanya juga mau bacain salah satu puisi buatan kalian."

Ambar terkejut mendengar ucapan Vansa, gadis itu segera melongok ke ruang samping. Tetapi alih-alih hanya melongok, Ambar justru di dorong beberapa temannya hingga membuat gadis itu nyaris terjerembab dan spontan di pandangi seluruh adek kelas yang sedang ada di sana.

"Nah, itu yang mau perkenalan." Di dalam hati sebenarnya Ambar merasa dongkol, tapi bagaimana pun dia sudah terlanjur di panggil. Mau tidak mau dia harus tetap memperkenalkan diri, jika tidak dia justru akan malu sendiri.

Ambar berjelan ke depan lalu tersenyum sambil mengabsen setiap wajah yang ada dihadapannya. "Selamat sore," sapa Ambar dengan senyum manis khasnya. "Nama saya Ambar panggil saja Kak Ambar. Terimakasih."

"Gak ada yang mau tanya-tanya sama dia, dek? Tukang foto dia, tapi pialanya bejibun." Ambar langsung melotot ke arah Vansa meskipun sambil tersenyum malu-malu.

Beberapa orang sempat mengajukan pertanyaan pada Ambar. Mulai dari alamat, status, sampai bagaimana cara dia bisa menjuarai banyak lomba fotografi. Setelah tidak ada lagi yang bertanya dan mengucapkan terimakasih sekali lagi, Ambar berniat keluar dari ruang ekstra jurnalistik untuk menemui Putri karena ada yang ingin gadis itu bicarakan. Sejanak Ambar hanya berdiri di ambang pintu mencari-cari keberadaan Putri. Tapi yang dicari tidak lagi berada di tempatnya tadi.

Setelah mengamati, Ternyata Putri sedang berdiri di koridor sekolah, membelakangin Ambar sambil berhadapan dengan seorang lelaki yang tidak terlihat jelas wajahnya. Ambar berjalan biasa menghampiri Putri. Tapi langkah gadis itu tertahan saat tau siapa lelaki yang sedang berhadapan dengan Putri.

 

1
Esih Mulyasih
semangat Ambar..💪😁 semoga Damar bs mjd teman akrab mu 😉
Ani Nur
Thor ko kty mau bkin cerita Angga SMA lala ko ga ada cerita,klw bsa sih ada judul Bru trs Ambar SMA damar ending nikah jg dceritay🤭
Bee Pen Wibu
otw baca dari awal
Rinna Al Malik
marathon baca nya inih maaa,, bagus banget soalnya
Rinna Al Malik
baru baca novel kakak...
bagus banget sumpah 😍😍
Neno
ini g ada sequelnya gitu,pdhal ceritanya seru,aku aza maraton bc nya
Anis🦕
semangat kak😍😍,jangan lupa mampir jg yuk ke ceritaku dan jangan lupa like dan komennya trimakasih🤗
Umi Sholihah
boleh banget, sekalian sisipin hubungan ambar ma damar, biar ada manis2nya gitu.
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Puput Tiara andreani
awalx aku bingung dgn crtax makin kesini terxata makin seru aq jdi ikut mewek
asna
ceritanya bagus
asna
pengen gue kasih sianida bapaknya damar
asna
mama nya ambar sakit apa y jadi deg degan
asna
kok gue geregetan
asna
berasa nonton drama jepang
asna
ditolong jangan ?
asna
kayaknya damar emang sering dimarahin ama dipukul singkatnya dianiaya orang terdekat kayak di drakor
asna
jangan jangan di gebugin babenya kayak aku dulu di getok sendok nasi sama emak gegara nilai mtk ku 3.5😁
asna
aku selalu gemes ama cowok pake kacamata
asna
gue ngakak pas baru loading abis maret april jadilah indoapril 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
girl_N.J
Cerita nya bagus aku suka👍😃
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕

Terima kasih🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!