Pertemuan yang tak baik belum tentu menjadi akhir yang buruk, karna seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan muncul, contohnya perasaan jatuh cinta dan suka.
seperti kisah Jovandra dan adelliana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annaaluvv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
Liana berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya, entah kenapa liana tiba tiba tundukin kepalanya buat periksa kakinya " Ngapain di pake sih nih sepatu si cowo playboy itu " Gumam Liana.
Liana angkat kepalanya, bisa bisanya Liana lupa padahal Liana semalam sampai berjanji pada dirinya sendiri kalau dia gak akan pakai sepatunya, tapi Liana lupa.
" AAAA!! " Jerit Liana sewaktu ada yang rangkul leher dia dari belakang, datang tiba tiba banget bahkan Liana sampai terhuyung ke depan.
" Minggu! kaget banghmmpp- "
Minggu bekap mulut Liana " Eittt, cewe cantik gabole ngomong kasar " Potong Minggu.
Liana cepat berjongkok supaya rangkulannya lepas dan setelah itu dia pukul cukup keras tangan Minggu " Jangan rese, masih pagi tau! " Ketus Liana lanjut jalan kedalam sekolah.
" Laahhhh, udah biasa juga kan gue kaya gini, lagian Lo kenapa sih sensi amat pagi pagi biasanya juga ga gini " Ujar Minggu berjalan di samping Liana.
Liana berhenti terus tatap Minggu yang berdiri di sampingnya " brengsek gak sih cowo yang udah cium gue dua kali sekarang malah pacaran sama orang lain terus tiba tiba bersikap dingin sama gue dan gobloknya gue malah baper sama sikap care dia! "
Minggu berkedip berkali kali denger Liana ngomong secepat itu.
Minggu juga diam, dirinya merasa tersindir setelah denger ocehan Liana barusan, ini Liana gak lagi marah atau sindir dia kan?
" Yaaaa, ya be-brengseklah, cowo kaya gitu harus di kasih pelajaran, itu, iyaaa " Balas Minggu, Minggu menelan ludahnya sendiri lalu berpikir, ini dia kaya lagi ngutuk dirinya sendiri.
Liana mengepalkan tangannya kesal " Kalo ada dia gue cekek! gue jambak rambutnya! gue tendang junior- " gerutunya
" Liana,,, "
Liana sama Minggu otomatis berbalik badan sewaktu ada yang panggil nama Liana dari arah gerbang luar yang belum terlalu jauh dari tempat Liana sama Minggu berdiri.
Liana membeku waktu lihat cowo itu sekarang jalan ke arahnya, cowo yang baru aja Liana bahas beberapa saat lalu.
" Weh Jo, ada apa gerangan nih datang ke lentera putih?? " Tanya Minggu.
" Ada urusan sama dia " Balas Joan sembari menunjuk Liana yang berdiri di belakang Minggu.
Minggu angguk angguk kepalanya, niat mau tanya lagi tapi Minggu lihat ada salah satu siswa dari lentera biru datang ke arah mereka, tentu Minggu kenal, itu Yesa.
" Loh Jo di sini juga Lo, ngapain? " Tanya Yesa beberapa saat setelah sampai di dekat mereka.
Joan berbalik ke kanan dimana Yesa berdiri
" Lo sendiri ngapain di sini? " Tanyanya.
" Samperin Liana " Balas Yesa santai.
Yesa angkat satu alisnya sewaktu lihat reaksi Joan yang malah diam tak membalas atau pun bertanya lagi padanya, alhasil Yesa milih buat samperin Liana karna memang itu tujuannya.
" Jadikan pulang sekolah nanti? " Tanya Yesa pada Liana
Liana diam natap bergantian Yesa Joan dan Minggu, Liana merasa aneh saja pagi pagi sudah di kelilingi tiga cowo tampan.
" Jadi yes, nanti gue temuin Lo di parkiran sekolah lo " Jawab Liana.
Joan yang tadinya ingin berbicara dengan Liana mengurungkan niatnya setelah mendengar obrolan Yesa dan Liana, di sisi lain Minggu di buat kebingungan.
Hawanya kaya drama Korea, dugaan Minggu kaya ada cinta segitiga di antara mereka, entah salah atau benar Minggu pun bingung.
Bel sekolah berbunyi, Minggu yang masih lihat suasana yang terasa aneh itu pun langsung tarik tangan Liana " Udah bel ayo masuk, Lo berdua ke tempat semula sono "
Liana refleks cubit pinggang Minggu " Gu! Jangan ngusir juga kali "
" Gue masuk kelas duluan ya yes ,,,,,Jo " Pamit Liana, matanya masih saja melihat ke arah Joan, berharap Joan membalas.
" Iya, semangat belajarnya Li " Kata Yesa.
Kecewa sebenarnya Joan cuma balas pake senyuman tipis, Joan bener bener udah gak peduli atau pura pura gak kenal sama Liana sebenarnya?.
...----------------...
Dika sama Bram sekarang lagi memanaskan motornya buat on the way pulang, di sisinya juga ada Joan juga Yohan yang lagi duduk di pembatas bata area pohon.
" Anjay cakep banget yes mau kemana nihh? " Tanya Bram sewaktu lihat Yesa datang.
Yesa tersenyum manis " Jalan sama calon pacar " balas Yesa sumringah, dia seneng banget akhirnya bisa jalan lagi sama Liana setelah dua Minggu yang lalu gagal dan cuma 2 jam mereka ketemu.
Yohan merhatiin Joan yang lagi tatap Yesa gak biasa " Kenapa Lo? " Tanya Yohan sembari menyenggol bahu Joan " lemes banget Lo "
" Kagak " Singkat Joan, wajah ketusnya mulai terlihat, Yohan heran padahal dia tanya baik baik.
" Yesaa,,, "
Seluruh mata langsung tertuju ke arah di mana suara itu, ternyata Liana ada di sana tengah berjalan menghampiri mereka, Ahh lebih tepatnya menghampiri Yesa.
Yesa tersenyum melihat Liana, dengar Liana hanya memanggil namanya Yesa senang bukan main.
" Jalan sekarang? " Tanya Liana.
Yesa mengangguk cepat " Eoh sekarang lah kapan lagi, bentar ambil helm dulu " Balas Yesa lalu berjalan ke arah Bram untuk mengambil helmnya.
Setelah itu Yesa berjalan ke arah motornya dan menjalankan motornya mendekat ke arah Liana, memberikan helmnya agar di pakai oleh Liana.
Liana menolehkan kepalanya ke arah teman teman Yesa, matanya tertuju langsung pada Joan yang tengah sibuk memainkan ponselnya, benar sepertinya Joan sudah tak peduli lagi pada Liana.
" Duluan ya " pamit Liana pada teman teman Yesa.
Mereka balas dengan senyuman dan acungan jempol.
" Hati hati ya Li, Yesa kadang suka kelepasan " ujar Bram.
Yesa natap tajam Bram, bisa bisanya Bram ngomong kaya gitu gimana kalau Liana mikir yang aneh aneh soal dirinya " Bacot Lo ah,,, ayo Li "
Liana pun naik ke atas motor Yesa dan segera pergi dari sana.
Setelah kepergian Liana dan Yesa Dika mendadak merasa sunyi, dan gak sengaja mata dia melihat ke arah Joan.
Dika entah kenapa langsung paham kayaknya emang instingnya kuat, Dika pura pura mencium bau sesuatu " Eh eh lu berdua nyium gak bau gosong "
Bram sama Yohan saling tatap setelah denger Dika ngomong itu, beberapa detik selanjutnya Bram dan Yohan terburu buru pergi pas lihat Joan yang lagi natap Dika pakai tatapan mematikan.
" Sindir gua? "
...TO BE CONTINUED...