Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barak Masak
Kasih terbangun dari tidurnya karena mengendus aroma nasi panas dan juga sambal teri kacang yang bercampur dengan aroma keringat dua puluh
saat bersamaan, Bi Inah datang menghampirinya. "Kasih, bangun... Ini sarapan buat pekerja makan siang." ucapnya, sembari mengguncang pundak gadis tersebut.
"Iya, Bi..." Kasih menjawab dengan pelan. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit terasa pusing.
Kasih beranjak bangkit, lalu berjalan dengan sempoyongan. Matanya masih bengkak karena banyak menangis.
Di luar kamar barak, dua puluh kuli sudah duduk melingkar, dan menunggu dengan wajah lapar.
Kasih membantu Istri Mandor Karjo menyusun makanan.
Mendadak para pekerja terkejut dengan kehadiran Kasih.
Wajah cantik penuh pesona itu membuat kedua puluh pekerja melongo.
Tak ada yang dapat memungkiri kecantikan Kasih, dan itu sungguh kenyataan yang sangat nyata.
Saat bersamaan, tiba-tiba pintu barak Farhan terbuka. Ia keluar dengan rambut acak-acakan.
Farhan berjalan dengan menggunakan kaos oblong dan juga celana training. Ia menggunakan helm proyek.
Di tangannya terdapat penggorengan dan juga spidol.
Ia berjalan menghampiri para pekerja. "Perhatian, kita rapat siang ini,"
"SIAP BOS!" jawab para pekerja dengan serempak.
"Hari ini target kita cor tiang lima. Yang telat, gajinya dipotong buat beli cilok. Yang kerja bagus, dapat bonus nasi Kasih."
Kasih di dapur yang mendengarnya langsung bingung. "Loh kok bawa nama saya?!" ucapnya, sembari mengerutkan keningnya.
"Iya. Biar mereka semangat." sahut Farhan dengan asal.
"Pak Bos... itu penggorengan buat apa?" tanya Bi Inem.
Farhan melihat apa yang di pegangnya. Ia juga bingung mengapa penggorengan itu ada ditangannya. "Ini mikrofon. Buat semangat." jawabnya asal, lalu meletakkan penggorengan di atas lantai.
*****
Waktu memperlihatkan pukul luma sore. Kasih sedang mengiris bawang. Sesaat ia mengingat kisah tentang para pria yang sudah pernah menjadi tumbal karena nekad menikahinya.
Tanpa terasa, ia menangis sesenggukkan. Ia tidak tahu bagaimana harus menjalani hidupnya.
Farhan yang kebetulan sedang melintas melihatnya dengan kerutan kening.
"Kenapa kamu menangis? Kepedesan ya?"
Kasih menoleh le arah Farhan. Lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak. Keinget masa lalu." ucapnya dengan nada yang sangat pelan.
Farhan manggut-manggut. "Oh, begitu. Sini." Ia menghampiri,.lalu mengambil bawang dan mengirisnya dalam waktu tiga detik. "Sudah. Nangisnya cukup tiga menit saja. Lebih dari itu kamu lembur mengiris bawang."
Kasih melongo. "Kamu sepertinya gak normal."
Farhan berkacak pinggang. "Aku ini mandor. Maka aku harus gak normal dalam menjalankan tugas. Kalau normal, proyek gak akan jalan."
Tiba-tiba salah satu kuli yang berniat ingin mengambil air minum dalam galon, diam-diam melotot melihat Kasih.
Pekerja itu bernama pak Karno, dan usianya sudah empat puluh lima tahun. Ia sudah lama menduda. Saat makan siang tadi ia tidak ada, sebab berada di luar, mencari es batu.
Ia mendadak merasa ingin memiliki Kasih. Tetapi melihat Farhan baru saja pergi dari sana, membuat ia mengurungkan niatnya.
"Gila... Cantik bener tuh orang..." ucapnya dalam hati. Ia merasakan desakan yang langsung tertuju pada rudal bawahnya.
Kemudian ia mengambil galon air, dan meninggalkan ruangan barak. Tetapi otaknya sangat berisik, untuk merencanakan sesuatu.
Saat bersamaan, angin dingin bertiup dari got dan keluar asap hitam yang mengepul, lalu meliuk, dan mengikuti Karno dari arah belakang.
"Dia cantik... Kalau di per-istri, maka kamu akan puas luar dalam." suara bisikan yang hadir di kepalanya dengan begitu jelas.
Karno meletakkan galon air di dekat para pekerja. Ia terlihat sedang berfikir.
"Jangan tunggu lama-lama, nanti lama-lama, dia diambil orang. Masa iya kamu mau saingan sama Farhan," suara itu kembali hadir di kepalanya, membuat ia terasa sangat pusing.
Karno menelan salivanya. Wajahnya memerah, karena bisikan itu, membuat rudalnya naik, dan wajah Kasih langsung hadir si pelupuk matanya, ia bahkan mulai berfantasi.
"Aku gak bisa berhenti memikirkannya..." ucap Karno dalam hatinya.
Tak berselang lama, mobil molen pengaduk semen datang, dan mereka beramai-ramai menyambutnya, untuk melakukan pengecoran.
Di tempat lain, Kasih yang masih sibuk mengiris bumbu terdiam sejenak.
Ia merasa aneh dengan Farhan. Ia melihat jika pemuda itu memiliki sikap absurd, tetapi sepertinya tidak tertarik padanya.
Bahkan berbeda dengan pria kebanyakan. Yang mana begitu melihatnya, langsung ingin memilikinya.
"Kenapa kali ini, aku yang deg-deg an?" gumamnya dalam hati. "Tapi aku gak boleh jatuh cinta. Jika sampai aku jatuh cinta, maka itu sama artinya aku akan mengorbankan satu nyawa." gumamnya dengan lirih dalam hati.
ditempat lain, Farhan sedang sibuk mengawasi para pekerja yang sibuk dengan penyelesaian cor nya.
"Gimana, Tuan? Cantikkan?" tiba-tiba saja Sundel Bolong hadir si sampingnya.
"Astaghfirullah!"
Plaaak!
Farhan langsung menggetok kepala Sundel Bolong yang sudah mengagetkannya dengan helm proyek yang lupa melekatkan tali dagunya...
Sundel Bolong langsung kliyengan, dan memasang wajah manyun.
"Ya, gak gitu juga konsepnya, Tuan..." Sundel memegangi kepalanya yang sakit.
"Makanya kalau nongol jangan ngagetin..." omel Farhan, sembari memegangi dadanya yang bergemuruh.
Wuuuussh!
Sundel Bolong sedikit menjauh, dan kini mereka berhadapan. "Lamar aja, Tuan... Biar kutukannya patah," sarannya.
"Siapa? Kamu minta saya lamar?" tanya Farhan.
"Waaah, ketiban apa saya, sampai di lamar Mas Farhan?" Sundel Bolong memasang wajah centil.
"Eheeeem... Eheeem..." Pocong datang memberikan kode,"
Sundel langsung menoleh, dan tersenyum kikuk. "Gak kok, Sayang... Aku gak mungkin khianati kamu,"
Farhan mengerutkan keningnya. Lalu menatap Pocong. "Gak usah cemburu... Aku bukan perebut istri Demit..." jawabnya dengan nada datar.
Para pekerja yang melihat Farhan sedang berbicara sendirian tampak bingung.
"Si Bos kenapa ya?"
"Gak tau, konslet kali..." sahut yang lainnya.
Saat bersamaan, Kuntilanak Biru menjambak rambut pemuda tersebut.
"Aaaww, sakit.. Siapa yang jambak rambut aku?" ucapnya dengan kebingungan.
"Makanya jangan asal bicara, sebut Tuanku konslet." ucap Kunti Biru.
Sedangkan sang pemuda merasakan bulu kuduknya meremang.
"Apa setan ya?" gumamnya lagi.
"Kamu kenapa?" tanya rekannya.
"Ada yang menjambakku," ucapnya dengan menggedikkan pundaknya.
"Woooy, kerja, jangan ngobrol!" teriak Mandor Karjo dari kejauhan, dan membuat mereka menghentikan obrolannya.
Sedangkan Farhan, diam-diam meresapi ucapan Sundel Bolong barusan. Entah mengapa, ia mengakui semuanya, jika Kasih memang cantik.
Hanya saja, ia seperti ada yang menahan perasaannya, entah apa.
Wuuuussh!
Tiba-tiba saja, ia merasakan ada desiran angin yang cukup dingin dan membuatnya bergidik ngeri.
"Sepertinya ada yang meminta tumbal," gumamnya. Lalu melirik ke arah barak, tempat dimana Kasih sedang mengupas bumbu saat ini.
Sesaat Farhan memperhatikan semua pekerjanya. Ia merasa jika diantara para pekerja, ada yang sedang berniat tidak baik pada Kasih.
Maaf baru up, hari ini sibuk banget.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )