Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Kelakuan Sulastri
Saat matahari mulai condong ke barat...
Sebuah sepeda motor melaju perlahan memasuki jalan utama Desa Sekar Sari. Di depan, Rudi fokus mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sementara di belakang, Winarsih duduk dengan sopan sambil memeluk tas kainnya.
Jarak tangannya tetap terjaga, hanya sesekali ia berpegangan pada besi pegangan di belakang jok ketika motor melewati jalan yang berlubang.
"Ada jalan rusak di depan, Mbak. Pegangan yang kuat ya," ujar Rudi.
"Iya, Mas," jawab Winarsih pelan.
Motor itu terus melaju menuju arah rumah kontrakan Bu Ratna.
Di saat yang hampir bersamaan, Sulastri baru saja keluar dari toko sembako sambil membawa dua kantong belanja. Ia berjalan perlahan menuju rumahnya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
"Itu kan... Winarsih?"
Dari kejauhan, ia melihat Winarsih sedang dibonceng oleh seorang pria menggunakan motor.
Sorot mata Sulastri langsung berubah tajam. "Bukan main..." gumamnya sinis. "Baru kemarin dia diusir dari rumah, sudah berani boncengan sama laki-laki lain."
Padahal, dari posisi duduknya Winarsih tidak terlihat sedang bermesraan dengan pria itu. Namun, rasa benci telah menutup akal sehatnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
Cekrek!
Satu foto berhasil diambil. Merasa kurang jelas, ia memperbesar layar ponselnya.
Cekrek... cekrek...
Beberapa foto kembali diambil ketika motor itu melintas di depannya. Senyum licik perlahan menghiasi bibirnya.
"Nah... ini baru bukti." Sulastri terus menatap layar ponselnya dengan puas. "Mau mengelak bagaimana lagi kamu, Winarsih?"
Ia segera membuka aplikasi pesan dan mencari nama putranya... Benni. Tanpa menunggu lama, ia mengirimkan tiga foto tersebut.
Tak lama kemudian, ia mengetik sebuah pesan.
Benni, ternyata firasat Ibu benar. Lihat sendiri mantan istrimu. Baru juga kamu ceraikan, sekarang dia sudah berani terang-terangan jalan sama laki-laki lain. Untung Ibu sempat memotretnya. Perempuan seperti itu memang tidak pantas dipertahankan.
Pesan itu langsung terkirim.
Sulastri tersenyum puas. "Biar Benni melihat sendiri siapa perempuan yang selama ini dia bela."
Ia sama sekali tidak peduli bahwa kenyataannya Winarsih hanya diantar pulang oleh rekan kerja atas perintah Juragan Warso demi keselamatannya.
Di Jepang, ponsel Benni bergetar di atas meja.
Drrrttt...
Benni yang baru selesai mandi mengambil ponselnya. Alisnya langsung berkerut saat melihat pesan dari ibunya. Ia membuka foto pertama. Terlihat Winarsih sedang duduk di belakang seorang pria di atas motor.
Foto kedua, sudut pengambilan yang berbeda, tetapi tetap memperlihatkan mereka berdua. Foto ketiga, motor itu tampak melaju menjauh.
Rahang Benni langsung mengeras. "Winarsih..."
Tangannya mengepal tanpa sadar, lalu ia membaca pesan dari ibunya. Tatapan Benni berubah semakin dingin.
"Jadi... secepat ini?"
Namun, beberapa detik kemudian ia memperhatikan lagi foto-foto itu. Entah mengapa, ada sedikit keraguan yang muncul di dalam hatinya.
Foto-foto itu memang memperlihatkan Winarsih dibonceng seorang pria, tetapi tidak menunjukkan sesuatu yang mesra. Jarak duduk Winarsih pun tampak sopan, dan wajah pengendara motor itu bahkan tidak terlihat jelas.
Benni mengembuskan napas pelan. "Apa benar seperti yang Ibu pikirkan...?"
Keraguan itu hanya muncul sesaat. Tak lama kemudian, bayangan fitnah yang sebelumnya telah diterimanya kembali memenuhi pikirannya.
Perlahan, hatinya kembali mengeras. "Kalau memang kamu sudah memilih jalan itu..." Benni mengunci layar ponselnya. "Maka keputusan menceraikanmu tidak akan pernah aku sesali."
Sementara itu, Benni tidak mengetahui bahwa foto-foto tersebut hanyalah potongan kejadian yang diambil dari sudut pandang tertentu, tanpa memperlihatkan alasan sebenarnya mengapa Winarsih pulang bersama Rudi.
Di sisi lain, Sulastri tersenyum puas karena merasa rencananya berhasil membuat putranya semakin yakin pada kesimpulan yang telah ia tanamkan sejak awal.
***
Kini motor yang dikendarai Rudi akhirnya memasuki gang kecil tempat rumah kontrakan Bu Ratna berada. Langit mulai berubah jingga, sementara angin sore berembus pelan membawa aroma sawah yang masih basah.
Rudi memperlambat laju motornya, lalu berhenti tepat di depan halaman rumah kontrakan.
"Ckitt..."
Winarsih segera turun dengan hati-hati. "Terima kasih banyak ya, Mas Rudi," ucapnya sambil melepas helm.
Rudi menerima kembali helm itu sambil tersenyum ramah. "Sama-sama, Mbak. Nggak usah sungkan. Ini juga perintah Juragan Warso."
Winarsih mengangguk pelan. "Tetap saja saya merepotkan."
"Ah, merepotkan apanya?" Rudi terkekeh kecil. "Sesama rekan kerja harus saling membantu."
Winarsih tersenyum tipis.
"Besok pagi saya jemput lagi, ya."
Winarsih langsung menggeleng pelan. "Mas, jangan. Saya bisa berangkat sendiri."
Rudi menggaruk belakang kepalanya. "Kalau itu saya nggak berani memutuskan sendiri, Mbak. Juragan sudah berpesan supaya sementara waktu saya yang mengantar dan menjemput Mbak."
Winarsih terdiam sejenak. Ia tahu semua itu dilakukan karena semua orang masih mengingat kejadian semalam.
"Kalau begitu... saya ikut saja."
"Nah, begitu dong." Rudi menyalakan kembali motornya. "Ya sudah, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mas."
"Iya."
Brumm...
Motor itu perlahan meninggalkan halaman kontrakan hingga menghilang di ujung jalan. Winarsih masih berdiri beberapa saat memandangi jalan yang mulai sepi. Dalam hati ia kembali merasa tidak enak karena telah merepotkan banyak orang.
"Semoga suatu hari nanti aku bisa membalas semua kebaikan mereka," gumamnya lirih.
Saat itulah pintu rumah Bu Ratna terbuka. "Kamu sudah pulang, Nak?" sapa Bu Ratna sambil membawa sapu lidi.
Winarsih segera menghampiri. "Iya, Bu."
"Gimana hari ini? Capek?"
"Hmm, lumayan Bu."
Bu Ratna memperhatikan wajah Winarsih yang tampak sedikit lebih segar dibanding pagi tadi. "Syukurlah. Ibu senang melihat kamu sudah mulai bisa tersenyum."
Winarsih membalas dengan senyum kecil.
"Tadi yang mengantar pulang itu teman kerja kamu?"
"Iya, Bu. Namanya Mas Rudi."
"Oh..."
"Juragan Warso yang menyuruh. Katanya saya tidak boleh pulang sendirian dulu."
Bu Ratna mengangguk penuh pengertian. "Juraganmu benar. Setelah kejadian semalam, memang lebih aman begitu."
Winarsih menghela napas pelan. "Sebenarnya saya tidak enak sudah merepotkan banyak orang."
Bu Ratna tersenyum lembut lalu menepuk pelan bahu Winarsih. "Jangan berpikir seperti itu. Kadang Allah menolong seseorang melalui tangan orang-orang baik."
Mata Winarsih kembali berkaca-kaca. "Iya, Bu."
"Sudah, masuk sana. Ibu tadi masak sayur asem sama ikan goreng. Nanti makan malam sama Ibu saja."
Winarsih langsung menggeleng sungkan. "Bu, nanti saya malah tambah merepotkan."
"Lho, kok merepotkan lagi?" Bu Ratna tersenyum hangat. "Masak buat dua orang atau buat tiga orang sama saja."
Winarsih menundukkan kepala. "Terima kasih banyak, Bu."
"Sekarang cuci muka dulu. Setelah itu baru kita makan."
"Baik."
Winarsih pun masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya sesaat. Hari itu terasa begitu panjang. Kali ini ia pulang ke tempat yang membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Di luar kamar, Bu Ratna memandang pintu itu sambil tersenyum haru. "Ya Allah," bisiknya pelan, "lindungilah anak itu. Jangan biarkan cobaan datang bertubi-tubi kepadanya."