Cerita Generik tentang reinkarnasi di dunia lain dengan gimik sistem ala-ala game.
.
Arga mati tertabrak truck (standar awalan kisah isekai) kemudian berienkarnasi di dunia yang serupa dengan game favoritnya, sebagai Argeas Danae, seorang Penjahat Sampingan, yang akhirnya akan mati di tangan tokoh jagoan.
.
Ikuti kisah Arga/Argeas dalam upayanya menghindari kematian menggunakan pengetahuan tentang seluk beluk dari game favoritnya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taming
"Sebenarnya aku juga ingin memiliki [Familiar] sepertimu. Tapi aku tidak cukup berani untuk melakukan ikatan dengan Mytichal Beast," ucap Evangeline ketika ia dan Argeas sedang berbincang di ruang baca beberapa hari kemudian.
"Hm... bagaimana kalau kau melakukan penjinakan hewan buas saja." Argeas memberi masukan.
"Maksudmu Taming?" Evangeline memastikan.
"Benar. " Argeas menyangguk kecil.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Ar? Aku bukan seorang Tamer. Jadi mana mungkin aku memiliki kemampuan Taming," balas Evangeline.
"Jangan kuatir," balas Argeas balik.
"Apa jangan-jangan kau ingin memberiku [Beast Master Crest]?" Evangeline menebak dengan wajah kuatir, kalau-kalau tebakannya benar.
"Tidak. Aku belum mencari tahu dimana tempat untuk mendapatkan [Beast Master Crest]," jawab Argeas dengan santai.
"Lalu?"
"Aku punya [Sigil of Wilderness]," lanjut pemuda itu masih dengan santainya.
"Kau punya Sigil untuk melakukan penjinakan? Kenapa aku tidak terkejut mendengarnya. Kau mendapatkannya dari salah satu reruntuhan di sekitar wilayah Danae?" Evangeline bertanya.
"Tidak. Aku membelinya dari pedagang ketika sedang singgah di kota Herpoit di tengah perjalanan menuju kemari." Argeas menjawab.
"Benarkah?"
"Ya, awalnya aku beli karena tertarik saja untuk mengkoleksinya," jawab pemuda 16 tahun itu lagi dengan penjelasan.
"Kau tertarik mengumpulkan Sigil? Prestis sekali hobimu itu, Ar," sahut Evangeline.
"Haha... ya, tidak salah juga kalau dibilang begitu. Karena aku membelinya seharga 3 keping Platinum Emas," lanjut Argeas dengan wajah sedikit bangga.
"Heh? Tiga keping Platinum Emas? Apa kau sudah gila? Kau sudah ditipu mentah-mentah tahu?! Sigil rata-rata seharga 80 keping emas di pasaran. Paling mahal juga sekitaran 1 keping Platinum Emas," sewot Evangeline setengah tidak terima Argeas mengeluarkan uang sebanyak itu untuk barang yang tidak terlalu bernilai.
"Ya, aku rasa karena aku benar-benar menginginkannya saat itu. Jadi tidak berpikir panjang lagi," jawab Argeas mengakui kesalahannya.
"Kau benar-benar harus merubah kebiasaan burukmu itu. Mulai sekarang berkonsultasilah padaku saat kau ingin membelanjakan uang dalam jumlah besar." Evangeline menambahi.
"Baik, akan ku lakukan dikedepannya," jawab pemuda itu sambil tersenyum dengan sedikit canggung.
'Ya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli saat membelinya. Karena aku tahu perlu menjelajah Dungeon di wilayah selatan untuk mendapatkan Sigil itu secara langsung. Dan kurasa akan sulit untuk menuju ke sana dalam kurun waktu dekat ini. Jadi aku beli saja tanpa pikir panjang,' batinnya kemudian.
"Kembali ke penjinakan." Argeas mengeluarkan potongan kayu selebar telapak tangan dan sepanjang dua ruas jari dari Spacial Storage nya. Itu adalah [Sigil of Wilderness].
"Gunakan Sigil ini untuk menjinakan hewan buas."
"Kau ingin aku menjinakan hewan buas sendiri?" Evangeline mengerutkan dahinya.
"Jelas tidak. Aku akan mendampingi dan memberi tahukan caranya padamu."
"Apa aku bisa melakukannya?" tanya gadis itu dengan sedikit harapan terlihat di matanya.
"Jangan kuatir. Lagi pula Class [Tamer] adalah class turunan dari [Erudite]. Jadi harusnya alami untuk dilakukan olehmu," ujar Argeas mencoba meninggikan hati calon tunangannya.
"Tapi tetap janggal rasanya. Kenapa tidak kau saja yang melakukan penjinakan, Ar?"
"Aku tidak berminat memiliki [Partner]. Karena aku sudah punya Lushu. Sedang untuk menjadi milikmu, binatang buas harus kau jinakan sendiri. Karena [Partner] atau [Pet] tidak dapat dipindah tangankan," jawab Argeas seraya memberi penjelasan.
"Ya... aku tahu itu." Evangeline terlihat sedikit ragu dan bimbang.
"Kalau begitu binatang buas apa yang akan kita jinakkan?" Argeas mencoba merubah tema pembicaraan untuk mengalihkan kebimbangan calon tunangannya.
"Hm... kalau dipikir-pikir, harus yang cukup kuat untuk membantu kita dalam bertarung. Tapi juga jangan terlalu menakutkan agar dapat dibawa ke tempat-tempat umum," jawab Evangeline yang mulai melupakan kebimbangannya sebelumnya.
"Kalau Grifon mungkin terlalu menakutkan," ucap Argeas sambil berpikir. "Bagaimana kalau Pegasus? Kurasa hewan itu cukup keren dibawa ke tempat umum."
"Apa persepsimu tentang hal umum itu sudah rusak, Ar? Kau menyebut Grifon dan Pegasus seolah tidak perlu usaha untuk menjinakan hewan buas sekelas itu?" sewot Evangeline.
"Jangan kuatir. Aku dan Lushu yang akan mengalahkannya. Kau hanya perlu menjinakannya saat ia sudah tidak berdaya."
"Bukan itu maksud dari ucapanku."
"Oh! Bagaiaman kalau Fenrir. Bukankah itu binatang buas khas wilayah perbatasan ini?" potong Argeas tiba-tiba.
"Fenrir?" Evangeline terlihat mulai menimbang. "Serigala Perak itu cukup kuat untuk membantu kita bertarung. Dan terlihat cukup jinak untuk dibawa ke tempat-tempat umum."
"Benar. Hewan itu tidak terlalu sulit untuk dikalahkan. Dan terlebih lagi, Fenrir adalah binatang khas wilayah Lavis. Benar, kan?" Argeas mulai terlihat bersemangat karena Evangeline mulai tertarik dengan idenya itu.
"Ya, kurasa kau benar. Baiklah kalau begitu. Kita akan menjinakan Fenrir," ucap Evangeline yang akhirnya memberi putusan.
"Siap!" seru Argeas menimpali.
"Eh, tapi kita tidak bisa melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, kan? Apa yang harus kita jelaskan kalau tiba-tiba aku memiliki Fenrir sebagai binatang peliharaan?" Evangeline menyelakan masalah yang akan mereka hadapi.
"Benar juga."
"Bagaimana kalau kita buat sekenario, kalau kita menjinakkannya tanpa sengaja?" Evangeline mengungkapkan idenya.
"Sekenario?"
"Benar. Jadi kita akan pergi di siang hari dengan meminta ijin untuk melakukan perjalanan berdua saja. Kemudian dalam perjalanan itu tanpa sengaja kita bertemu dengan Fenrir, dan untuk menyelamatkan diri pilihan terakhirku adalah menjinakannya," jelas gadis itu seolah sedang menceritakan kejadian yang sudah pernah terjadi.
"Oh... Terdengar masuk akal buatku." Argeas mengangguk kecil. Terlihat puas dengan alasan yang dikarang oleh calon tunangannya.
"Jadi kita pakai alasan itu saja?" tanya Evangeline meminta konfirmasi.
"Ya," sahut Argeas tanpa berpikir lagi.
-
-
Keesokan harinya rencana berburu Fenrir pun dijalankan. Evangeline meminta ijin kepada keluarganya untuk berkuda bersama Argeas menuju sebuah danau beku di balik hutan di sekitaran kastil.
Yang langsung diijinkan oleh sang Marquis tanpa berpikir dua kali.
"Kalau sudah berhubungan denganmu, ayah selalu saja setuju," ucap Evangeline saat mereka berdua sudah cukup jauh berkuda dari kastil.
"Kurasa semua itu karena alasan kita cukup masuk akal dan tidak berbahaya," balas Argeas yang tidak mau mengakui ucapan calon tungannya itu.
"Padahal hari ini aku benar-benar ingin piknik bersamamu di pinggiran danau beku," ucap gadis itu kemudian dengan sedikit manyun.
"Jangan bersedih seperti itu. Kita pasti akan sering keluar dan berpiknik berdua saja setelah aku sudah memasuki akademi nanti," balas Argeas mencoba menghibur calon tunangan.
"Benarkah? Janji?"
"Iya aku janji," jawab Argeas cepat. "Nah, sekarang ayo kita memasuki hutan itu. Ascian bilang ada sarang Fenrir di sekitar tempat itu," tambahnya kemudian.
Kembali Evangeline memanyunkan wajahnya. "Baiklah," balasnya dengan malas.
Mereka berdua mulai berkuda menuju bibir hutan yang kemudian meninggalkan kuda-kuda mereka ketika mulai memasuki area yang terlalu rimbun.
Argeas dan Evangeline meneruskan perjalanan mereka dengan berjalan kaki. Dan untungnya Evangeline mengenakan pakaian yang biasa di pakai oleh seorang pemburu. Jadi mempermudahkannya untuk bergerak di area seperti itu.
.
Tak lama kemudian terdengar suara geraman yang meresahakan datang dari arah samping pasangan itu.
Argeas segera mencabut tongkat sihirnya dan menatap ke arah geraman itu berasal dengan waspada.
"A-apa itu, Ar?" Evangeline segera melangkah mendekat dan bersembunyi di belakang Argeas.
"Sepertinya kita sudah menemukan yang kita cari-cari." Argeas menjawab seraya menunjuk ke arah depan.
Terlihat samar dari balik bayang-bayang pohon seekor serigala berbulu putih yang nyaris sebesar kuda terlihat menggeram penuh intimidasi ke arah Argeas dan Evangeline.
"Wah... cukup menakutkan. Apa yang harus aku lakukan, Ar?" ucap Evangeline dengan sedikit gemetar mencoba lebih bersembunyi di belakang tubuh Argeas
"Seperti yang biasa kau lakukan saat kita sedang menjelajah Gua Labirin. Akan ku beri tahu kapan kau harus menjinakannya," ucap pemuda 16 tahun itu kemudian.
"Ba-baiklah."
'Pada dasarnya, tehnik penjinakan ini serupa dengan sihir dominasi yang menyerang mental saat dalam kondisi terpuruk, dan memaksanya melakukan kontrak. Jadi kurang lebih seperti saat aku mendapatkan Lushu, serigala ini harus dikalahkan terlebih dahulu,' batin Argeas sebelum kemudian bersiap untuk melakukan serangan.
"Lu!" Argeas memanggil keluar [Familiar]nya. "Ayo kita mulai," lanjutnya kemudian dengan ajakan.
'Siap, tuan!'
Dan Rubah Elemental itu pun segera menerjang maju, disusul tuannya yang mulai menembakan bola api ke arah serigala putih tersebut.
.
Pertarungan kali tergolong mudah bagi Argeas dan Lushu. Karena yang mereka lawan adalah Fenrir yang tergolong binatang buas biasa. Dan bukan monster atau Mytical Beast dari sebuah Special Event.
.
Dengan skill [Analys] yang telah dipelajari Argeas sebelumnya, pemuda itu terus memantau status dari serigala putih yang dilawannya itu.
Jadi ia bisa tahu kapan saatnya untuk berhenti menyerang dan melakukan penguncian agar Evangeline bisa melakukan penjinakan.
Dan tak berselang lama, setelah nilai HP Fenrir itu berada di bawah 100, Argeas segera memerintahkan Lushu untuk berhenti menyerang. Kemudian ia mulai menggunakan Magic Skill [Bind] untuk mengunci gerak serigala tersebut.
"Baiklah Eve, sekarang kau bisa menjinakannya," ucap pemuda itu kemudian.
"Ba-baik." Evangeline terlihat sedikit ragu.
Kemudian tampak gadis itu menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan potongan kayu dari tas di pinggangnya.
"Tame!" serunya seraya mengarahkan potongan kayu tadi ke serigala yang sudah tidak dapat bergerak di hadapannya.
Potongan kayu itu bersinar terang dan tak lama kemudian menghilang dengan begitu saja.
Kayu itu adalah [Sigil of Wilderness]. Sebuah Perangkat Sihir yang masuk dalam kategori Rune. Aksara sihir yang rata-rata hanya bisa digunakan sekali untuk mendapatkan Skill, Spell, atau Status khusus.
Selain Sigil masih ada Emblem, Crest, dan Insignia yang termasuk dalam kategori Rune.
Sedang untuk [Sigil of Wilderness] sendiri memiliki Special Skill [Tame] yang akan hilang begitu sekali digunakan.
Sementara itu sebuah simbol mulai terbentuk dan bersinar terang di punggung tangan kanan Evangeline setelah Sigil yang ia gunakan tadi menghilang. Hal itu adalah pertanda bahwa proses penjinakannya berhasil.
Kemudian muncul pemberitahuan dalam benak Evangeline.
...<
...<
...<
...<
...<
...<
"Bagaimana Eve?" Argeas berjalan mendekati calon tunangannya itu dengan sedikit kuatir.
Sedang Evangeline terlihat mengejapkan mata beberapa kali menatap ke arah serigala putih yang tengah terluka cukup parah di hadapannya itu.
"Kurasa berhasil," ujarnya tanpa berpaling dari Fenrir itu.
"Kalau begitu akan kulepas sihirku," ucap Argeas seraya membatalkan Magic Spell [Bind] dari serigala tersebut.
Dan setelah sihir pengunci Argeas menghilang, Evangeline segera bergegas menghampiri serigala itu sambil mengeluarkan beberapa botol kecil Elixir untuk menyembuhkan luka.
Tak lama kemudian serigala putih itu sudah mampu untuk kembali berdiri.
Evangeline terlihat sangat gembira dan segera memeluk leher [Partner] barunya itu.
"Mulai sekarang namamu adalah Snow," ucap gadis itu memberi nama.
Dan Fenrir itu pun mulai melolong panjang seolah sedang menunjukan rasa gembiranya atas nama yang diberikan oleh Evangeline.
Namun tiba-tiba saja muncul beberapa serigala lain dari balik pepohonan di sekeliling tempat Argeas dan Evangeline berdiri.
Dengan sigap Argeas dan juga Lushu memasang posisi siaga bersiap melakukan serangan.
Terlihat Snow menyalak pendek saat melihat Argeas mulai mengangkat tongkat sihirnya.
"Tunggu sebentar, Ar," sahut Evangeline yang menyadari ada yang tidak beres.
"Ada apa Eve?"
"Sebentar." Kembali Evangeline menatap hewan buas miliknya itu seolah sedang berkomunikasi dalam diam.
"Apa? Kau adalah Serigala Alfa di kawananmu?" Tiba-tiba saja Evangeline berteriak tanpa alasan.
"Kenapa, Eve?" Kembali Argeas bertanya tidak mengerti.
"Serigala-serigala itu adalah kawanannya Snow," ucap Evangeline yang akhirnya memberikan penjelasan.
"Maksudmu Snow adalah pemimpin mereka?" Argeas memastikan.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Lalu apa itu berarti mereka juga bagian dari Pact yang kau buat dengan Snow?" Kembali Argeas bertanya.
"Kurasa seperti itu. Status," seru Evangeline yang kemudian menatap ke Jendela Statusnya yang mana adalah udara kosong dalam sudut pandang Argeas.
"Tapi kenapa aku hanya punya 1 ikatan saja? Eh, sebentar... Sepertinya sisa kawanan Fenrir itu masuk dalam kategori [Pet]," lanjut gadis itu sambil mengerak-gerakkan jari telunjuknya di udara di hadapannya.
"Woa! Mereka ada 18 ekor. Aku punya 18 [Pet], Ar! Dan semuanya Fenrir!" serunya kemudian dengan heboh.
"Tidak kusangka menjinakan pemimpin kawanan akan menjinakan seluruh kawanannya juga." Argeas berucap.
'Hal ini tidak pernah terjadi dalam game nya. Mungkin dunia ini memiliki perbedaan aturan dengan Game nya,' batinnya kemudian.
"Lalu bagaimana sekarang? Aku punya 18 ekor Fenrir tambahan. Tidak mungkin kubawa seluruhnya ke akademi, kan?" Terlihat kebingungan di wajah Evangeline.
"Ya, kurasa kita harus meninggalkannya disini terlebih dahulu. Sambil mencari solusinya." Argeas memberi saran.
"Yah... padahal aku sudah berencana akan membawamu ke Akademi dan memamerkannya ke semua orang."
Evangeline tampak sedikit kecewa sambil memeluk leher serigalanya itu.
.
"Aku akan coba meminta kepada ayah agar Snow dan kawanannya memiliki tempat tinggal khusus di sekitaran kasti," ucap Evangeline saat mereka tengah berjalan menuju ke tempat kuda-kuda mereka berada.
"Dan memperingatkan orang-orang untuk tidak memburu mereka," lanjut gadis itu lagi.
"Kau bisa memerintahkan mereka untuk berjaga akan adanya monster di sekitaran kastil nantinya. Maka warga juga akan merasa diuntungkan dengan keberadaan mereka." Argeas memberi saran.
"Benar juga. Kurasa ayah pasti akan setuju dengan ide itu."
.
Kedatangan Argeas dan Evangeline membuat heboh penghuni kastil Lavis. Terutama para penjaga dan pelayan.
Itu karena mereka berdua berkuda diikuti 19 Fenrir di sekitaran mereka. Yang mana ukuran tubuh Snow nyaris sebesar kuda yang mereka berdua tunggangi.
-
"Kalian ini ada-ada saja." Marquis mengeleng pelan setelah mendengar cerita lengkap dari putrinya. Dan juga permintaann tentang meninggalkan kawanan tersebut untuk sementara di hutan di sekitaran kastil.
"Tapi apa boleh buat. Kau boleh meninggalkannya disini untuk sementara waktu. Lagi pula keluarga Lavis memang memiliki hubungan dengan Fenrir sejak dahulu kala.
"Bisa dibilang Fenrir adalah lambang tak resmi dari keluarga kita. Jadi tidak mungkin juga ada yang berani untuk memburu mereka," lanjut sang Marquis.
"Tapi apa tidak akan jadi masalah kawanan itu meninggalkan habitat asli mereka?" Kali ini Julius yang bertanya.
"Binatang yang sudah menjalin ikatan dengan seorang Penjinak akan mendapat tambahan kecerdasan yang membuat mereka jauh lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kehilangan beberapa sifat binatang alamiah mereka." Argeas mencoba memberikan informasi yang mungkin berguna.
"Aku tidak terlalu mengawatirkan akan hal itu. Tapi habitat di wilayah ini. Aku rasa Fenrir merupakan rantai makanan tertinggi di wilayah ini. Bila suatu wilayah kehilangan Pemangsa Utamanya, maka ekosistem akan jadi kacau." Julius menjelaskan kekuatiran dari pertanyaan sebelumnya.
"Jangan kuatir. Kak. Menurut Snow, kawanan Fenrir tidak hanya satu di wilayah ini. Mungkin memang akan ada yang berubah. Yaitu perubahan wilayah berburu kawanan-kawanan tersebut.
"Jadi yang harus kita waspadai adalah kemungkinan adanya pertarungan antar kawanan di kedepannya nanti. Begitu kalau menurut Snow," ucap Evangeline mencoba menjawab kekuatiran sang kakak.
"Ah... kau memang senang sekali merepotkan orang, Eve." Julius terlihat sedikit kesal setelah mendengar kemungkinan masalah yang akan muncul di wilayahnya itu.
"Hei, mana kutahu kalau Fenrir yang ku jinakan adalah Alfa. Dan dampak dari ikatannya berpengaruh keseluruh kawanannya." Evangeline terlihat tidak senang.
"Semua itu tidak akan terjadi kalau kau tidak ingin menjinakan hewan buas pada mulanya."
"Tapi aku kan juga ingin punya [Partner] seperti Ar."
"Memang Argeas punya [Partner]?" Kali ini Julius bertanya nyaris berbarengan dengan sang Marquis.
Sedangkan Argeas sendiri hanya bisa tersenyum canggung mengangkat kedua bahunya saat Marquis dan Julius menatap ke arahnya seperti sedang meminta penjelasan.
"Bu-bukan begitu. Maksudku aku ingin... penjaga... yang seperti Ar. Ya, secara aku kan seorang [Erudite]. Jadi memiliki [Partner] adalah salah satu solusinya," karang Evangeline sebisanya.
"Benarkan? Kau memang selalu saja membuat ulah," sahut sang kakak seraya menghembuskan nafas panjang.
"Sudah terjadi ini..." balas Evangeline dengan wajah manyun dan sedikit kesalnya.
-
Setelah itu Snow dan kawanannya diberikan tempat di hutan sisi timur kastil untuk tinggal dan berburu.
Sementara keseharian Argeas berjalan dengan tenang tanpa adanya masalah yang berarti sampai waktu dimana Evangeline harus kembali ke Akademi, dan Argeas pun juga kembali pulang ke kediamannya.
-
apakah tubuh tidak akan meledak jika tidak mampu menampung beban level ?