Karena suatu perjodohan, Ayline menikahi Oswald. Seorang pengusaha muda, sukses di banyak negara yang diidam-idamkan oleh banyak wanita.
Musibah menimpa saat usia pernikahannya masih seumur jagung.
Dalam keputusasaan, Ayline bertemu dengan seorang pria pengertian yang mampu membuat Ayline berdebar di tiap pertemuan keduanya.
Bagaimana kelanjutan kisah Ayline dalam mencari kebahagiaan dan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KP 13 - Pagi Yang Buruk
“Mas!”
Dari kejauhan teriakan Ayline sudah menggema, mengalihkan perhatian Oswald dan Dokter Siska.
Padahal pagi itu cuaca sedikit mendung. Hangatnya sinar mentari bahkan tak bisa dirasakan, sebab ditutupi oleh kumpulan awan kelabu. Namun entah mengapa, Ayline yang merasa sangat gerah. Seperti ada sesuatu yang terbakar dari dalam tubuhnya. Dengan segala perasaan tak nyaman itu, ia tetap melangkahkan kakinya menghampiri suami dan juga wanita yang disebut-sebut sebagai dokter pribadi sang suami.
“Kamu sudah bangun, Ay,” ucap Oswald menyambut sang istri.
“Hem,” jawab Ayline hanya berdeham. “Kamu sarapan di luar saat cuaca buruk seperti ini. Bagaimana jika nanti kamu masuk angin,” ucap Ayline memperingati suaminya.
Tak ada niatan Ayline untuk sekedar basa-basi menyapa Dokter Siska. Lagian, ini dokter apa enggak ada kerjaan lain apa?! Pagi-pagi sudah ada di rumah orang! gerutunya dalam hati.
Ayline bahkan mendorong kursi roda Oswal sedikit menjauh dari meja. Lalu ia kancingkan sweater rajut berwarna abu-abu yang dikenakan Oswald.
“Maaf Nyonya Ayline, tapi saya yang mengajak Tuan Oswald sarapan bersama di taman. Maafkan kelancangan saya, Nyonya.” Tanpa diminta dan Ayline pun memang tak mengharapkannya, Dokter Siska memberi penjelasan yang semakin membuat panas hati Ayline.
Memang lancang! umpatnya. Namun, hal itu hanya berani ia lakukan dalam hati.
“Oh, ya?! Jadi, sepagi ini kamu mengunjungi rumah kami untuk mengajak suamiku sarapan di taman rumah kami. Begitu?” tanya Ayline dengan penekanan di setiap katanya.
Ayline berharap dengan begitu, Dokter Siska yang memang lancangnya luar biasa ini sadar jika saat ini dia berada di mana.
“Maaf jika aku melakukan kesalahan, Nyonya. Akan tetapi, pada setiap pasienku aku pun melakukan ini,” ucap Dokter Siska seolah sedang memberikan pembelaan dirinya.
“Melakukan apa? Mengajak pasien Anda sarapan bersama? Di rumah pasien Anda, tanpa sepengetahuan istri pasien Anda?!”
Ayline tak tahan lagi. Dokter Siska ini benar-benar sudah menguji kesabarannya. Namun siapa sangka, Dokter Siska mengangguk untuk membenarkan ucapan Ayline.
“Sebelum memulai terapi, aku ingin menumbuhkan kepercayaan antara aku dan pasienku. Itulah sebabnya, sebelum memulai sesi terapi biasanya aku akan menyempatkan mengobrol bersama pasienku,” jelas Dokter Siska memberi pembelaan.
Ayline merasa geram. Dokter Siska ini memang tangguh, ia memiliki jawaban untuk setiap ucapan Ayline.
“Termasuk menyentuh wajah pasien Anda?” Ayline melayangkan tatapan tajam pada Dokter Siska seakan ingin menguliti wanita yang menjadi lawan bicaranya itu.
“Kupikir Anda di sini untuk melakukan terapi pada kedua kaki suamiku. Bukan wajahnya!” lanjut Ayline membungkam Dokter Siska.
Ya, itu adalah alasan mengapa Ayline sangat geram. Ia bahkan meninggalkan sarapannya dan segera menyusul di mana Oswald berada. Itu ia lakukan sesaat setelah dirinya tahu jika suaminya dan Dokter pribadinya sedang sarapan bersama di taman belakang rumah mereka.
Belum juga kakinya melangkah mendekat, dari kejauhan ia bisa melihat dengan jelas adegan romantis Dokter Siska dan suaminya. Dokter Siska tampak sedang mengusap sudut-sudut bibir Oswald. Itu yang membuat Ayline sampai memekik tadi.
“Ayline!” teguran itu datangnya dari Oswald.
Awalnya, pria itu cukup menikmati perdebatan antara istri cantiknya juga dokter pribadinya. Dia bisa merasakan kecemburuan Ayline, dan jujur saja dia merasa senang. Namun lama kelamaan, perdebatan kedua wanita itu tampak semakin memanas. Oswald sampai bergidik saat melihat sorot mata dari kedua wanita di hadapannya.
“Hem,” Ayline menjawab malas-malasan pada suaminya.
“Pergilah jalan-jalan. Kemarin kamu belum mengelilingi rumah ini, bukan?” tanyanya.
“Berkelilinglah, Sayang. Nikmati waktumu, jika ingin pergi cukup jauh maka ajak Denis bersamamu,” lanjutnya.
Ayline mengernyitkan keningnya. Apakah saat ini Oswald sedang mengusirnya? Apa mungkin dia ingin aku pergi karena telah mengganggu waktunya saat berdua dengan dokter centil itu? batin Ayline.
Saat Ayline sedang berperang dengan segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang terpikirkan olehnya, ia lantas dikejutkan dengan genggaman tangan Oswald. “Berkelilinglah Sayang, seraya mengenalkan dirimu pada seluruh orang di rumah ini jika kau adalah Nyonya Pallas!”
Nyonya Pallas, ulang Ayline dalam hatinya. Meski Oswald ucapkan dengan sangat lembut, namun dalam hatinya Ayline paham jika kini suaminya itu sedang menegurnya. Ia jadi teringat pembicaraannya bersama suaminya semalam yang membahas soal sikapnya sebagai seorang Nyonya Pallas.
Maka dengan senyum yang berusaha Ayline paksakan, wanita itu pun mengangguk. Berpura-pura baik-baik saja di balik senyumnya.
“Baiklah. Jadi kapan kita mulai terapinya, Dokter?” tanya Oswald sudah beralih menatap Dokter Siska.
“Sekarang juga boleh,” jawab Dokter Siska. “Eh, maksudku setelah Anda menghabiskan sarapan Anda.” Keduanya bersamaan menoleh ke arah meja di mana masih ada sarapan yang tersisa.
“Saya sudah kenyang. Silakan, Anda saja yang habiskan,” jawab Oswald namun pandangannya tertuju pada Ayline yang berdiri mematung di sampingnya. Ditatap seperti itu membuat Ayline merasa menjadi yang disalahkan.
Lihat, aku tak lagi berselera makan karena kamu mengacaukannya! begitu kira-kira yang diartikan Ayline dari sorot mata suaminya hingga ia hanya bisa mematung dibuatnya.
Bahkan hingga Dokter Siska mulai mendorong kursi roda Oswald, Ayline masih bergeming di tempatnya. “Aku akan terapi dulu, Sayang. Nikmatilah waktumu,” ucap Oswald sebelum Dokter Siska mulai mendorong kursi rodanya menjauh. Meninggalkan Ayline dengan air mata yang perlahan berlinang membasahi pipinya.
...…...
Setelah selesai dengan semua perang batin yang terjadi dalam dirinya, Ayline pun mulai melangkahkan kakinya berlalu. Meninggalkan taman belakang rumah yang baru saja menjadi tempat suaminya dan Dokter Siska melewati pagi bersama.
Ayline mengikuti saran Oswald untuk berjalan-jalan, berkeliling di rumah megah mereka yang bagai istana. Ayline berjalan seorang diri, para pelayan sepagi ini sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Tanpa sengaja Ayline melihat sosok Denis yang sedang menikmati sarapannya sorang diri di meja makan. Melihat sosok Denis, Ayline jadi berpikir, mungkin akan bagus jika dirinya juga memiliki seorang asisten. Seseorang yang nantinya menjadi asistennya tak harus orang dengan pengalaman dan pendidikan tinggi. Seseorang itu hanya perlu asyik untuk diajak mengobrol dan tak mudah bosan.
Meninggalkan Denis yang sibuk sendiri dengan sarapannya, Ayline bergegas keluar rumah. Ia menuju ke taman bunga di sisi kanan bangunan megah rumahnya. Ayline merasa bersyukur sudah menemukan taman bunga itu. Pemandangan sekumpulan bunga berwarna-warni. Jika di lihat dari atas, taman bunga ini tampak seperti labirin yang biasa Ayline lihat di film-film. Belum lagi beberapa kupu-kupu yang indah berterbangan bebas dan hinggap di atas bunga, sungguh memanjakan kedua netra Ayline.
Namun, saat sedang menikmati semua pemandangan indah yang disuguhkan di hadapannya, samar-samar Ayline mendengar ada suara seorang wanita yang sedang mengobrol dengan seorang pria. Ayline tak bisa begitu jelas mendengarkan obrolan mereka, namun sesekali ia bisa mendengar tawa renyah wanita itu. Saat ia edarkan pandangannya ke sekeliling, Ayline tak menemukan siapa pun di sana selain dirinya.
Ayline pun mulai melangkah dengan pelan sembari mencoba menebak dari mana asal suara itu. Hingga, pencariannya pun tak sia-sia. Senyumnya mengembang saat ia melihat seorang wanita duduk bersila di rerumputan. Wanita itu tampaknya sedang terhubung dengan seorang pria melalui panggilan video.
Tak ingin mengganggu, Ayline diam saja berdiri di tempatnya. Hingga tanpa sengaja ia terkena sorotan kamera ponsel, membuat si wanita itu terkejut.
“Si-Siapa kamu?!” pekiknya. Sepertinya dia sangat terkejut, bahkan sampai melupakan panggilan videonya yang masih terhubung.
“Ka-kamu pasti penyusup kan?!” Wanita itu seenaknya saja menuduh Ayline tanpa mendengar jawaban Ayline lebih dulu.
“Pergi sekarang sebelum kupanggil keamanan untuk mengusirmu!”
...————————...
kita bongkar
saat membuat novel konflik pemeran utama pria (suami) salah maka istri dibuat tegas pergi dan tidak memaafkan dan menerima kembali, suami dibuat nangis menyesal ngemis maaf, berjuang keras dapat kesempatan, dan akan dihadirkan lelaki lain yang baik pada istri dan dipuja2
tapi banding
novel yang pemeran utama wanita salah bahkan selingkuh sekalipun bahkan kayak pelacur tebar pesona dengan banyak pria, apa yang terjadi itu bukan dianggap kesalahan, mala dibela dibilang romantis (menjijikan), bahkan author berjiwa munafik ini malah membenarkan semua kelakuan menjjijikan pemeran utama wanita (yang artinya sama saja dia membenarkan kelakuan menjijikan dirinya sendiri), sang suami dibuat kayak orang bodoh harus Terima saja diperlakukan kayak gitu
dan karya2 mu kita bisa sifat aslimu yaitu munafik dan murahan
saat suami salah kau laknat tapi kau membenarkan semua kelakuan mu bahkan selingkuh dan kayak wanita murahan tebar pesona pada banyak lelaki kau benarkan,
jika berkenan mampir dikaryaku judulnya Karena Amin Yang Sama🙏