Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Weird feeling.
Hembusang angin yang begitu kencang, cahaya kilat menyambar dinding jendela. suara keras bergemuru di langit tiba-tiba Hujan turun begitu deras, Aktar yang masih duduk di ruang bacanya melihati Kopi yang dibawah oleh Najwa. Ia ragu untuk meminumnya karena dirinya yang elergi dengan Kopi, Aktar menengok jam di dinding yang sudah menunjukkan angka 00.12 WIB.
Rasa dingin dan kantuk bercampur menjadi satu, Aktar tidak ingin kembali ke kamar karena keegoisannya. Apa kata Najwa jika ia ditanya dengan dirinya tadi yang berubah, bahkan dipikiran Najwa itu malah aneh.
Suara rintikan hujan terdengar jelas saat jatuh ke lantai teras, jam berputar dan terus berputar hingga semakin larut. Sedangkan hembusan angin semakin kencang terdengar tangkai pohon patah karena petir.
Badan Aktar yang masih memakai kemeja putih karena tidak sempat menggantinya. dasinya pun masih terkalut di lehernya, kemeja tipis dengan angin yang kencang menusuk kebadan Aktar, ia ingin ke kamar tapi ia malu. karena Aktar lebih memilih keegoisannya ia memutuskan untuk tetap berada di ruang bacanya meski tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
Malu ? entah kapan perasaan malu itu ada di diri Aktar. dia Pria yang di hormati, ini pertama kalinya ia merasa Malu dengan seseorang karena perbuatannya.
Karena Aktar tidak dapat lagi menahan kantuknya ia memutuskan untuk menutup matanya dengan menempelkan kepalanya di atas meja, sekerjap saja bayangan sudah hilang karena lelah dan kantuk.
Najwa yang tadinya sudah kembali setelah membawakan Aktar kopi, dikamar ia pun masih berdiam. Ia heran karena Aktar belum juga kembali ke kamar. Angin pun sangat kencang, hujan sangat deras. Najwa menyandarkan badannya di kepala kasur, ia merasa lelah.
Sempat terlintas di pikiran Najwa, sampai kapan ia harus menjalani kehidupan ini, menjadi suami orang kaya di kota ini. Bahkan dirinya yang berbeda dari wanita lain. Najwa tahu, pasti ada banyak wanita-wanita yang mengejar Aktar.
Apalagi saat menikah ia tidak pernah berhenti mendengar ocehan para gadis yang tergila-gila dengan Aktar, dimana namanya menjadi paling buruk saat itu. Tapi dia juga merasa tidak ada ruginya ia menikah, karena ia bisa mempunyai mertua yang menyayanginya. Mungkin wanita lain hanya menginginkan Aktar dan hartanya. Tapi dia tidak tahu betapa baiknya kedua orang tuanya yang tidak seperti anaknya. Aktar.
Sekian lama Najwa menunggu, Apakah dia benar-benar sibuk ? tapi ia ingat saat masuk kedalam ruang bacanya. Ia tidak melihat kalau Aktar sedang sibuk selain hanya berdiam diri disana. Apa lagi hujan begitu deras mengapa dia begitu betah disana tanpa merasakan dingin, selain itu sudah sangat larut, Apakah dia tidak Kantuk ?
Gadis itu tidak tahu lagi ia tidak bisa menebak sifat Aktar yang setiap kali berubah, tapi kali ini benar-benar Najwa bingun dengan sikabnya yang sekarang, entahlah.... mungkin dia sedang banyak pikiran. pikir Najwa.
Karena kantuk Najwa sudah hilang, ia mengambil buku dzikirnya kembali. Berzikir di malam petang sambil menunggu Aktar.
Jam terus berputar hingga menunjuk kan angka satu, Najwa juga sudah merasa sangat lelah menunggu dan juga ia sudah merasa kantuk. Saat tadi ia berdzikir matanya sempat tertutup tanpa ia sadari. Najwa melihat jam, lalu melihat keluar pintu.
Sudah jauh malam, kenapa kak Aktar belum kembali ?
Najwa bangkit dari duduknya, ia simpan buku dzikirnya lalu pergi menuju ruang baca milik Aktar. Eh ? dari atasNajwa melihat ibunya yang masuk kedalam dapur tapi anehnya dia masih dalam keadaan tidur, matanya sedikit-sedikit terbuka dan kadang tertutup lagi. Dengan cepat Najwa menuruni anak tangga hingga tiba di bawah.
"Ibu ?"
Natri mengusap matanya lalu berbalik ke arah suara yanh memanggilnya, dan rupanya Najwa.
"Ibu sedang apa ?"
"Ibu tiba-tiba merasa haus, jadi ingin pergi minum. Air di kamar sudah habis."
"Oh,"Najwa menghembuskan nafas lega, ia tadi hanya cemas. Karena ia lihat ibunya yang tengah sadar.
"Loh... kamu kenapa belum tidur ?"tanya Natri seraya mengisi air ke gelasnya.
"Tidak bisa tidur bu', ya sudah bu' Najwa ke kamar dulu."Natri mengangguk, kemudian Najwa pergi ketempat tujuan sebenarnya.
Clek..
Najwa masuk melihat Aktar yang tertidur di atas meja kerjanya. Sebelumnya, Najwa sempat menunggu Aktar karena tidak kunjung muncul dan segera ke kamar, hingga hujan turun Najwa mulai heran karena Aktar yang tidak juga datang Apa lagi sudah sangat malam.
Kini melihat tingkah Aktar semakin aneh, Najwa berjalan menghampiri Aktar. melihat Aktar yang tertidur di atas meja kerjanya yang masih menggunakan kemeja, ada rasa kasihan di hatinya. Entah apa sebenarnya yang dipikirkan Aktar.
"Kak,,"Najwa menyentuh pundak Aktar dan seketika Aktar bangun karena dirinya belum sepenuhnya terlelap dalam tidurnya.
Najwa melihat Cangkir yang masih dalam tempat semula tidak ada kurangnya sedikit pun bahkan tanda disentuh pun tidak ada.
"Kakak, kenapa tidur disini? "tangan Najwa masih tertempel di pundak Aktar.
Deg, jantung Aktar tiba-tiba saja berdengup Aktar merasa tangan Najwa terasa hangat. ingin sekali Aktar menyuruh Najwa untuk memeluknya, dan menghangatkan dirinya.
Najwa melihat Aktar yang juga melihatnya, begitu tangan Najwa masih menempel di pundak Aktar Najwa merasa ada yang goyang, ia baru sadar kalau tubuh Aktar sedang gemetar dan kedinginan, bibirnya pun pucat dan gemetar.
"Pffftt..."Najwa ketawa kecil.
"Aa..apa yang kau ter..tawakan ?" tanya Aktar sedikit gemetar, melihat Najwa yang tertawa tampak manis.
Aku tidak menyangka ternyata badan besar dan kekar ini bisa merasakan kedinginan. gumam Najwa sedikit mencemooh.
"Kakak yang seperti ini ? apa akan tetap begini ?" tanya Najwa dan langsung memegang pundak satunya.
Aktar kaget dan heran.
"Ayo kak, Najwa bantu ke kamar,"kata Najwa lembut. dan mulai membantu Aktar untuk bangun, Najwa heran melihat Aktar dia yang sudah tidak tahan kedinginan bahkan berdiri pun sudah tidak sanggup masih saja nekad untuk tetap tinggal di ruang bacanya.
Saat tiba di kamar Najwa membantu
Aktar duduk di tepi ranjang, dan kemudian membantunya untuk membuka Dasi.
"Kak, Najwa sediakan Air hangat dulu yah. biar kakak bisa mandi dengan Air hangat, dan rasa kedinginan kakak hilang."kata Najwa segera kekamar mandi.
Beberpa menit kemudian Najwa kembali dari kamar mandi Jilbab yang di pakainya sedikit basah karena sempat terkena air.
"Airnya sudah siap,"kata Najwa.
"Oh," Aktar kemudian mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.
Lanjut Najwa memilih pakaian tidur yang baik Aktar pakai biar dia tidak merasa dingin lagi, setelah Najwa sudah menemukannya ia kemudian menaruhnya di atas kasur.
Cukup lama Najwa sudah merasa letih melihat Aktar yang belum juga keluar, ia langsung menarik selimut dan masuk kedalamnya. sudah sangat malam dan Najwa sudah merasa kantuk, perlahan mata Najwa tertutup hingga ia tertidur. ceritanya ia ingin menunggu Aktar tapi karena dia lama ia pun tidak sadarkan diri lagi.
Bersambung...
*Mohon dukungannya😉
*See you😚
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak