Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sang Warok melepas cengkeramannya, lalu berdiri sambil menendang kapak besar di dekat kaki Jangkrik hingga terlempar jauh.
"Bangun. Jangan manja seperti anak sodagar manja. Angkat tubuhmu," perintah Sang Warok sembari melangkah membelakangi Jangkrik.
Jangkrik menggeram. Sambil menahan perih yang luar biasa di telapak tangannya yang terbalut getah daun hutan, ia bangkit berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang robek.
"Kenapa kau mengajariku ini?" tanya Jangkrik tiba-tiba, suaranya serak namun sarat akan tuntutan.
Sang Warok menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik, ia menjawab, "Mengajarimu apa? Menebang pohon?"
"Kau tahu maksudku, Warok!" sentak Jangkrik, untuk pertama kalinya ia menyebut nama gelar pria itu. "Kau pembunuh. Kau merampok keluargaku. Kenapa kau malah memberiku ilmu? Kau tidak takut suatu hari nanti kapak ini, atau golokmu sendiri, yang akan memutus lehermu?"
Mendengar itu, Sang Warok memutar tubuhnya perlahan. Wajah angkernya yang penuh guratan luka tampak mengeras, sebelum akhirnya sebuah senyum sinis mengembang di sela-sela kumis lebatnya.
"Takut? Hahaha!" Sang Warok tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di sepanjang tebing batu karang. "Jangkrik, Jangkrik... Kau pikir aku ini siapa? Aku adalah Warok. Di dunia ini, tidak ada yang lebih membosankan daripada hidup tanpa musuh yang sepadan."
Pria itu melangkah mendekati Jangkrik, memperkecil jarak hingga Jangkrik bisa mencium bau anyir sirih dari mulutnya.
"Aku sengaja memeliharamu, anak manis. Aku memberimu makan, mengeras ototmu, dan akan mencekokimu dengan seluruh kesaktianku. Mengapa? Karena aku ingin melihat seberapa jauh dendam seorang bocah ingusan bisa membawanya."
"Aku akan membunuhmu," bisik Jangkrik dengan pandangan mata yang menusuk tajam, sedikit pun tidak gentar.
"Bagus! Katakan lagi! Aku suka binar mata itu!" Sang Warok menepuk pundak Jangkrik dengan keras hingga bocah itu nyaris terjerembab. "Tapi ingat apa yang kukatakan sore itu? Amarahmu masih terlalu murahan. Kalau kau bertarung denganku sekarang, kau bahkan tidak akan sempat melihat kilatan golokku."
Jangkrik mengepalkan tangannya yang terluka. Rasa sakitnya berdenyut, namun ego dan dendamnya jauh lebih tersiksa. "Lalu kapan? Kapan kau akan mengajariku cara bertarung yang sebenarnya?"
"Sabar, Jangkrik. Jangkrik yang berisik di awal malam biasanya akan mati pertama kali diinjak orang," sahut Sang Warok sambil berjalan menuju salah satu batang jati yang baru saja tumbang. Ia menduduki batang itu dengan santai.
"Kau lihat tiga pohon jati ini? Mulai besok, siang dan malam, kau harus memukul batang-batang ini dengan bagian samping telapak tanganmu. Sampai hancur. Sampai kayunya pecah."
Jangkrik terbelalak menatap batang pohon jati purba yang begitu keras dan tebal. "Memukul ini? Dengan tangan kosong? Kau gila. Tanganku bisa hancur!"
"Kalau tanganmu hancur dan patah, artinya kau memang tidak ditakdirkan untuk membalas dendam," jawab Sang Warok dingin, menatap lurus ke mata Jangkrik. "Seorang Warok sejati harus memiliki fisik yang melampaui batas manusia biasa. Kulitmu harus sedingin es, tapi tulangmu harus sekeras baja karang pesisir selatan."
Jangkrik terdiam, memandangi telapak tangannya yang terluka, lalu beralih menatap batang kayu jati di depannya.
"Jika aku bisa menghancurkan kayu ini..." Jangkrik menggantung kalimatnya, menatap Sang Warok dengan seringai tipis yang mulai meniru gaya gurunya. "...apakah itu artinya aku sudah bisa mulai mengincar lehermu?"
Sang Warok tertegun sesaat, lalu senyumnya melebar. "Hahaha! Boleh. Begitu kau bisa memecahkan batang jati ini dengan sekali pukul, aku akan mengizinkanmu menyerangku dari arah mana pun. Tapi sampai hari itu tiba, patuhi semua perintahku. Paham, Jangkrik?"
"Paham, Warok," sahut Jangkrik pelan namun tegas. Hubungan gila antara guru dan murid, antara pembunuh dan pembawa dendam, kini resmi terkunci di bawah langit Pegunungan Sewu.
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan semburat warna merah jingga yang membakar langit di atas Pegunungan Sewu. Hawa dingin perlahan merayap kembali, mengusir sisa-sisa terik siang tadi.
Sang Warok berdiri dari duduknya, mengibas-ngibas bagian belakang kain kombor hitamnya yang terkena serpihan kayu. Ia melirik Jangkrik yang masih menatap nanar tiga batang jati di depannya.
"Ayo kembali ke gubuk. Bawa kapak itu," perintah Sang Warok sembari melangkah mendahului.
Jangkrik tidak langsung bergerak. Ia memungut kapak besar yang tadi terlempar, memikulnya di pundak, lalu berjalan mengekor di belakang Sang Warok dengan langkah yang diseret karena kelelahan.
Sepanjang perjalanan menyusuri jalan setapak, keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh deru angin gunung dan suara langkah kaki. Namun, isi kepala Jangkrik berkecamuk. Ada satu hal yang mengganjal di benaknya sejak ia melihat wajah asli gurunya tadi pagi.
"Warok," panggil Jangkrik memecah kesunyian.
Pria di depannya tidak berhenti melangkah, hanya kepalanya sedikit miring ke samping. "Apa?"
"Wajahmu... Luka melintang di pipimu itu," Jangkrik menjeda langkahnya sesaat sebelum melanjutkan, "Siapa yang melakukannya? Apa ada orang yang lebih sakti darimu di luar sana?"
Mendengar pertanyaan itu, Sang Warok menghentikan langkahnya tepat di sebuah kelokan tebing. Ia berbalik, menatap Jangkrik dengan dahi berkerut, lalu sebuah tawa rendah keluar dari tenggorokannya.
"Hahaha, kau penasaran dengan luka ini, Jangkrik?" Sang Warok menyentuh bekas luka melintang di pipi kirinya dengan ibu jari yang kasar. "Ini adalah tanda mata. Sesuatu yang mengingatkanku bahwa di dunia persilatan, lengah satu detik saja artinya kehilangan nyawa."
"Siapa yang melakukannya?" kejar Jangkrik, matanya menyipit tajam. "Apakah musuhmu?"
"Dulu, dia musuhku. Tapi sekarang, dia sudah membusuk di tanah," jawab Sang Warok datar, matanya menerawang menatap hamparan lembah di bawah mereka. "Dia adalah seorang perwira prajurit Mataram. Dia mengira ilmu pedang kerajaannya bisa menundukkan cambuk dan golokku. Dia berhasil menyayat pipiku, tapi sebagai gantinya, lehernya kupatahkan dalam tiga hitungan."
Sang Warok kembali menatap Jangkrik, kali ini dengan sorot mata yang penuh penekanan.
"Kenapa kau menanyakan itu? Apa kau berpikir untuk mencari orang lain yang bisa membunuhku?"
Jangkrik mendengus dingin, menegakkan pundaknya yang ringkih. "Tidak. Aku hanya ingin memastikan tidak ada orang lain yang membunuhmu sebelum aku yang melakukannya. Kau adalah milikku, Warok."
Mendengar ucapan berani dari bocah berumur delapan tahun itu, Sang Warok tertegun sejenak. Sesaat kemudian, tawa baritonnya kembali pecah, menggema di antara dinding-dinding batu kapur.
"Hahahahaha! Bagus! Luar biasa! Kau benar-benar jangkrik yang punya taring!" Sang Warok melangkah maju, mencengkeram rahang Jangkrik dengan jari-jarinya yang kuat, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya. "Ingat kata-katamu itu, bocah. Jangan biarkan ada orang lain yang mengambil nyawaku. Tapi kalau dalam lima tahun ke depan kau belum juga bisa menyentuh kulitku, maka aku sendiri yang akan menguburmu di samping bangkai macan kemarin. Paham?!"
Jangkrik tidak bisa mengangguk karena cengkeraman di rahangnya terlalu kuat, namun matanya memancarkan jawaban yang sama kerasnya. "Lepaskan tanganmu, Warok. Tanganku malam ini harus mulai memukul jati, bukan meladeni banyolanmu."
Sang Warok tersenyum puas, lalu menyentakkan tangannya hingga cengkeramannya terlepas. "Bagus. Kita lihat, berapa malam tangan manjamu itu bisa bertahan sebelum tulang-tulang jarimu hancur menjadi bubur."
Mereka kembali berjalan menembus malam yang mulai pekat. Sesampainya di gubuk, tanpa berganti pakaian atau membersihkan diri, Jangkrik langsung melangkah ke halaman samping. Di depannya, seonggok batang jati yang keras telah menunggu.
Bugh!
Tebasan samping telapak tangan pertamanya mendarat di kulit kayu jati yang tebal. Rasa sakit yang luar biasa seketika menjalar hingga ke siku, membuat air matanya hampir meleleh. Namun, Jangkrik mengertakkan gigi, menarik kembali tangannya, dan kembali mengayunkan pukulan kedua diiringi bayangan wajah ibunya yang bersimbah darah.
Bugh! Bugh!
Di dalam gubuk, Sang Warok duduk di dekat perapian sembari mendengarkan detak pukulan yang berirama dari luar. Ia tersenyum tipis, mulai menikmati simfoni dendam yang sedang digubah oleh muridnya sendiri.