NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suasana pagi di Dapur Arka Absolute kembali dipenuhi oleh hiruk pikuk antrean pelanggan yang mengular.

Kring kring kring.

Suara mesin kasir Nisa terus berbunyi menyambut datangnya lembaran uang yang masuk tiada henti.

"Mas Bos, pesanan sate sapi meja nomor lima sudah siap belum?" Nisa bertanya sambil menyeka keringat di pelipisnya.

"Ini sudah siap Nisa, tolong antarkan selagi asapnya masih mengepul." Arka menyerahkan nampan kayu dengan senyum penuh semangat.

Arka mengayunkan pisaunya dengan sangat cepat memotong ayam bakar madu pedas.

Tak tak tak.

Di tengah kesibukan dapur yang menyenangkan itu, tiba-tiba hawa dingin yang aneh merayap di tengkuk Arka.

Perasaannya mendadak menjadi sangat tidak enak seolah ada bahaya besar yang sedang mengintainya dari kegelapan.

Ting tong.

Lonceng pintu masuk restoran berbunyi menandakan ada pelanggan baru yang baru saja melangkah masuk.

Seorang pria paruh baya mengenakan jaket kulit hitam tebal dan topi fedora berjalan menunduk menuju meja sudut yang agak sepi.

Pria itu membawa sebuah koper kecil berwarna perak yang terlihat sangat tidak wajar untuk dibawa ke tempat makan.

Arka menatap pria misterius itu dari balik kaca dapur terbukanya dengan dahi berkerut.

"Sistem, aku merasa ada yang tidak beres dengan tamu bertopi itu." Arka berbicara di dalam hatinya dengan nada waspada.

[Ding!]

[Mendeteksi adanya anomali tingkat tinggi pada target di meja nomor dua belas.]

[Peringatan Darurat: Target membawa senyawa kimia berbahaya berjenis racun kontak saraf mematikan.]

Mata Arka seketika membelalak lebar membaca peringatan merah dari layar biru transparan di depannya.

"Racun kontak saraf? Jadi si tua Hendra benar-benar berniat membunuh pelangganku untuk menghancurkan restoran ini?" Batin Arka dengan amarah yang mulai mendidih.

"Sistem, bagaimana caranya aku bisa membuktikan racun itu tanpa harus menyentuhnya secara langsung?" Arka bertanya dengan cepat.

[Host dapat membeli fitur tambahan Mata Dewa Pemindai Kontaminasi seharga 100 Poin Kepuasan.]

[Fitur ini akan memblokir semua zat beracun dan memunculkan aura merah menyala pada benda yang terkontaminasi di mata Host.]

"Beli sekarang juga sistem, jangan buang waktu lagi!" Perintah Arka tanpa ragu sedikit pun.

[Memproses pembelian fitur Mata Dewa Pemindai Kontaminasi... Berhasil.]

[Sisa Poin Kepuasan Host: 20 Poin.]

Tiba-tiba pandangan Arka berkedip sesaat dan matanya terasa sedikit hangat seperti baru saja ditetesi obat tetes mata.

Saat ia kembali membuka matanya, dunia terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.

Ia melihat pria bertopi fedora itu sedang mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berukuran sebesar ibu jari dari dalam kopernya.

Tangan pria itu terbungkus oleh sarung tangan karet tipis yang sangat transparan dan sulit dilihat oleh mata telanjang.

Sret sret.

Pria itu meneteskan cairan bening tidak berbau ke atas tisu dan mulai mengoleskannya ke tepian meja serta kursi di sekitarnya.

Di mata Arka, cairan bening yang mematikan itu kini terlihat memancarkan aura asap berwarna merah darah yang sangat menyala.

"Nisa, jangan biarkan ada pelayan atau pelanggan lain yang mendekat ke meja nomor dua belas." Arka memberi perintah dengan suara rendah namun sangat tegas.

"Eh, kenapa Mas Bos? Bukannya orang itu baru saja mau memesan makanan?" Nisa bertanya dengan raut wajah kebingungan.

"Lakukan saja perintahku Nisa, orang itu membawa masalah yang sangat berbahaya." Arka melepas celemeknya dan berjalan keluar dari dapur.

Pria bertopi fedora itu tersenyum licik di balik bayang-bayang topinya.

"Hanya butuh sentuhan kulit sekecil apa pun dan pelanggan restoran ini akan kejang-kejang lalu mati berbusa dalam hitungan menit." Pria itu bergumam pelan pada dirinya sendiri.

"Keluarga Kusuma memang selalu membayar mahal untuk hasil kerja yang rapi dan mematikan." Tambahnya sambil bersiap mengoleskan racun ke gagang pintu toilet.

Namun sebelum pria itu sempat berdiri dari kursinya, sebuah tangan yang sangat kuat mencengkeram bahu kirinya dari belakang.

Grep!

"Mau ke mana Tuan? Anda bahkan belum memesan makanan pembuka kami." Suara dingin Arka terdengar tepat di telinga pria misterius tersebut.

Pria bertopi itu sedikit terkejut namun ia mencoba untuk tetap tenang dan mempertahankan penyamarannya.

"Maaf Mas, saya tiba-tiba ada urusan mendadak dan harus segera pergi dari sini." Pria itu mencoba melepaskan cengkeraman Arka dengan kasar.

"Buru-buru sekali, apakah Anda takut terkena racun saraf yang baru saja Anda oleskan di atas meja saya ini?" Arka menekan bahu pria itu lebih keras hingga ia kembali terduduk.

Mendengar kata racun disebut secara langsung, mata pria pembunuh bayaran itu langsung membelalak panik.

"A-apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa soal racun!" Pria itu membentak mencoba menutupi kegugupannya yang luar biasa.

"Jangan berpura-pura bodoh di depanku, botol kecil di tangan kananmu yang disembunyikan itu adalah buktinya." Arka menunjuk tepat ke arah tangan pria tersebut.

Menyadari bahwa penyamarannya telah terbongkar total, pria itu langsung bertindak nekat.

Ia mengayunkan botol kaca berisi sisa racun kontak itu tepat ke arah wajah Arka dengan kecepatan penuh.

Wush!

"Mati kau koki sialan!" Teriak pria itu dengan wajah beringas layaknya psikopat.

Namun berkat Keterampilan Bela Diri Praktis tingkat menengah, gerakan pria itu terlihat sangat lambat dan mudah ditebak di mata Arka.

Sring!

Arka memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari cipratan racun mematikan tersebut dengan sangat elegan.

Tangan kanan Arka kemudian melesat cepat menangkap pergelangan tangan pria pembunuh bayaran itu dengan cengkeraman sekuat baja.

Krak!

"Aaaargh!" Pria itu menjerit kesakitan saat tulang pergelangannya dipelintir paksa oleh Arka hingga botol racun itu terlepas dari genggamannya.

Arka dengan sigap menangkap botol kaca itu dengan tangan kirinya sebelum sempat jatuh ke lantai dan membahayakan orang lain.

Bugh!

Arka kemudian melayangkan satu tendangan keras ke perut pria itu hingga tubuhnya terpental menabrak dinding restoran.

Kejadian yang berlangsung sangat cepat itu langsung memicu kepanikan dari beberapa pelanggan yang duduk di dekat sana.

"Astaga, ada perkelahian, tolong panggil polisi!" Teriak seorang ibu-ibu sambil melindungi anak perempuannya.

"Semuanya tolong tetap tenang dan jangan mendekat ke area ini demi keamanan kalian bersama." Arka berbicara dengan suara lantang menenangkan situasi.

Arka mengambil sebuah kain lap tebal dari saku celananya dan membungkus botol racun itu dengan sangat hati-hati.

Pria pembunuh bayaran itu mencoba merangkak bangun dengan darah yang menetes dari sudut bibirnya.

"Tuan Hendra tidak akan pernah melepaskanmu hidup-hidup dari kota ini." Pria itu masih sempat memberikan ancaman kosong dengan napas tersengal-sengal.

"Katakan pada majikanmu itu, aku justru sedang menunggunya datang kemari untuk berlutut memohon ampun." Arka berjalan mendekat dan menginjak punggung pria itu agar tidak bisa kabur.

Tidak lama kemudian, Nisa yang sudah menelepon pihak keamanan datang berlari bersama empat orang satpam bertubuh kekar dari Grup Malika.

"Mas Arka, satpam sudah datang, orang ini kenapa bisa mengamuk begini?" Nisa bertanya dengan suara gemetar melihat pria yang tersungkur di lantai.

"Dia adalah pembunuh bayaran yang mencoba menaburkan racun di meja kita Nisa." Jawab Arka yang seketika membuat semua orang di sana memucat ngeri.

"Bawa orang ini ke ruang interogasi keamanan dan serahkan dia beserta botol racun ini ke polisi sebagai barang bukti." Arka menyerahkan pria itu kepada para satpam.

"Siap Tuan Arka, kami akan memastikan dia membusuk di penjara hari ini juga." Kepala satpam itu membungkuk hormat lalu segera menyeret pria itu keluar.

Arka kemudian meminta Nisa untuk memanggil petugas kebersihan khusus demi menyemprotkan cairan desinfektan kimia ke meja dan kursi yang terkontaminasi.

Hanya dengan menggunakan Mata Dewa Pemindai, Arka bisa memastikan bahwa semua sisa aura merah mematikan itu benar-benar lenyap tanpa sisa.

Setelah situasi kembali aman terkendali, Arka kembali masuk ke dalam dapurnya dan mencuci tangannya hingga sangat bersih.

Ia menatap pantulan wajahnya di kaca oven dengan tatapan mata yang jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya.

"Keluarga Kusuma sudah melewati batas toleransi bisnis dan mulai bermain dengan nyawa manusia yang tidak bersalah." Arka bergumam sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Mereka pikir aku hanya akan bertahan dan membiarkan mereka menyerang terus-menerus sesuka hati?" Arka tertawa sinis dan sangat dingin.

Sudah saatnya Dapur Arka Absolute melakukan serangan balik yang akan menghancurkan pondasi bisnis keluarga Kusuma selamanya.

Arka mengambil ponselnya dan memutar nomor kontak Clara Malika yang sedang berada di luar negeri.

Tuut tuut.

"Halo Arka, ada masalah apa meneleponku di jam sibuk begini?" Suara Clara terdengar sedikit kelelahan namun tetap elegan.

"Nona Clara, apakah penawaran kemitraan strategis kita masih berlaku untuk ekspansi yang lebih besar?" Arka bertanya langsung ke inti pembicaraan.

"Tentu saja, aku selalu siap mendanai rencana gila apa pun yang kau miliki." Clara menjawab dengan nada mulai tertarik.

"Aku butuh izin untuk menggunakan lahan kosong milik Grup Malika yang berada tepat di seberang pabrik pengolahan makanan keluarga Kusuma." Arka membeberkan rencana besarnya.

Terdengar suara tawa kecil yang sangat merdu dari seberang telepon.

"Kau mau membangun cabang kedua tepat di depan pabrik utama mereka? Itu namanya menabuh genderang perang secara terbuka Arka." Clara terdengar sangat terkesan.

"Mereka baru saja mengirimkan pembunuh bayaran dengan racun saraf ke restoranku hari ini Nona Clara." Arka memberikan alasan utamanya yang sangat kuat.

Hening sejenak dari seberang telepon sebelum akhirnya Clara merespons dengan suara yang sangat dingin dan mematikan.

"Baiklah Arka, aku akan memberikan lahan itu secara gratis untukmu, hancurkan bisnis mereka sampai tidak tersisa sedikit pun debu." Clara memberikan persetujuan penuhnya.

"Terima kasih Nona Clara, aku jamin dalam waktu satu bulan, pabrik mereka akan berhenti beroperasi selamanya." Arka mematikan panggilan itu dengan senyum seringai yang sangat lebar.

Arka kembali memakai celemek hitamnya dan menatap lautan pelanggan yang masih setia mengantre di luar restorannya.

Kini ia bukan hanya akan menyajikan makanan paling lezat di dunia, tetapi juga akan menyajikan pembalasan dendam paling manis untuk keluarga Kusuma.

Srenggg!

Api biru kembali menyala besar menyambut era baru dominasi kuliner Dapur Arka Absolute yang tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!