Nathan menjadi duda setelah menikah untuk ke dua puluh kalinya. Semuanya berakhir di saat malam pertamanya. Dia tak bisa melakukan kewajibannya pada istrinya hingga membuatnya mendadak untuk kesekian kalinya.
Jovita seorang gadis yang menikah dengan Deon karena suatu perjodohan dan tanpa ikatan cinta di antara mereka. Di malam pertamanya setelah menikah, Deon bersama wanita lain untuk menghabiskan malamnya.
Karena sering diabaikan oleh Deon, Jovita akhirnya mencari kesenangan sendiri. Secara tak sengaja dia bertemu dengan Nathan.
Awalnya hubungan mereka hanya teman biasa. Namun Nathan menaruh rasa pada Jovita yang mempunyai paras mirip seperti Cinta Pertamanya yang telah meninggal.
Bagaimanakah kelanjutan kisah cinta mereka? Apakah mereka bisa bersatu atau hanya sekedar menjadi teman saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 13 Mencari Penghulu
Tiga minggu berlalu setelah menimbang-nimbang, Nathan pun kembali mengambil keputusan.
Suatu malam setelah ia pulang berkencan dengan salah satu wanita dari restauran.
“Navya... bagaimana jika kita menikah minggu depan ?” ucap Nathan tiba-tiba yang kembali memberikan surprise mendadak bagi wanita itu. “Hah ? Serius kak ? Apa tidak terlalu cepat ?” pekik Navya terkejut namun girang. “Menikah minggu depan atau beberapa bulan lagi menurutku sama saja. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik ?” Navya berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan. “Oke kak, aku setuju.” jawabnya kemudian tanpa berpikir panjang lagi.
Nathan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada hari ini. Keesokan harinya hingga tujuh hari berturut-turut Nathan kembali mengajak enam wanita lainnya untuk menikah dua minggu ke depan.
Beberapa setelahnya Nathan terlihat sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan tujuh orang wanita di tempat yang sama dan hari yang berbeda.
Ia melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan orang dari rumah karena ia tak memberitahukan perihal pernikahannya pada keluarga yang ada di rumah.
“Pak penghulu tolong bantu aku dua minggu ke depan selama tujuh hari untuk menikah kan aku dengan tujuh wanita.” Nathan menjelaskan maksud kedatangannya pada penghulu yang ia minta tolong.
“Ha....?” bahkan penghulu itu sampai terkejut mendengar perkataan Nathan yang tidak masuk akal baginya karena selama ini kebanyakan pria menikahi dua atau paling banyak tiga wanita. “Aku minta tolong padamu.” Nathan Sebelum mengeluarkan amplop dan memberikan pada penghulu itu setelah melihat ekspresinya yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata dan kemungkinan besar akan menolak membantunya.
“Baik tuan, aku akan membantu mu sampai tuntas perihal pernikahan siri ini.”
“Baik terima kasih atas bantuannya.” Nathan segera berpamitan dan pergi dari sana setelah selesai menyampaikan maksudnya.
Dua minggu kemudian di acara resepsi pernikahan hari pertama Nathan dengan Aurel di sebuah masjid.
Terlihat Nathan dan Aurel mengenakan baju pengantin dan masuk ke sebuah masjid. Di sana sudah ada penghulu yang menunggunya dan beberapa orang wali dari pihak penghulu tanpa dihadiri oleh keluarga Nathan dan mempelai wanita.
“Kenapa menikah nya di masjid, bukannya di gedung mewah?” Aurel terlihat kecewa karena bayangannya mereka akan menikah di tempat yang mewah dan megah. “Lalu kenapa tidak ada pihak keluarga ataupun tamu undangan yang hadir di sini ?” kembali merasa aneh melihat masjid yang sepi hanya ada beberapa segelintir orang saja di sana yang bisa dihitung dengan jari.
“Kak... kenapa kita tidak menyelenggarakan resepsi pernikahan di gedung ?” tanya Aurel sesaat sebelum penghulu membacakan sumpah setia pernikahan. “Nanti setelah resmi baru kita adakan resepsi pernikahan.”
Gleg
Aurel seketika terkejut mendengar jawaban dari Nathan.
“Jadi kami hanya menikah siri saja ?” pekiknya dalam hati yang mengira pernikahan mereka adalah sebuah pernikahan resmi di mata hukum.
Acara pun akhirnya berlangsung dengan lancar dan mereka berdua menjadi pasangan suami istri.
Nathan mengulangi hal itu hingga tujuh hari berturut-turut dan setelah melakukan ijab qobul pernikahan ia tak menemani para istrinya dengan beralasan pergi ke luar negeri karena ada meeting yang harus dihadiri di sana.
Barulah di hari ke delapan ia menyambangi satu per satu istrinya.
“Aah...” Nathan kembali harus menelan kekecewaan saat harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Ia lagi-lagi tak mampu memberikan nafkah batin pada tujuh istrinya.