Nuri adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak berusia satu setengah tahun mendapat nafkah dari suaminya tak lebih dari lima ratus ribu perbulan selama tiga tahun usia pernikahan mereka. Selain itu, Nuri sering kali mendapat perlakuan tidak adil dari sang ibu kandung serta ke dua Kakak kandung terhadap dirinya. Suami Nuri yang bekerja di kota tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan keras Nuri di rumah ibu kandungnya. Nuri harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari hari serta gaya hidup ibunya. Suatu hari hal buruk menimpa Nuri. Dimana sang suami menceraikan nya dan memilih untuk kembali bersama mantan istri sang suami dengan alasan Nuri adalah seorang istri yang tidak berguna dan tidak dapat di andalkan. Mampukah Nuri menjalani hidup dari keluarga yang tidak berlaku adil padanya serta sebagai seorang single mom?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu teman
Ibu tertegun mendengar aku membicarakan uang dua puluh juta yang pernah ku pinjam kan pada bang Supri empat tahun yang lalu sebelum aku menikah. Dia bilang untuk modal usaha tapi hingga saat ini tidak ada usaha apa pun yang dia kelola selain kerja jadi buruh pabrik gula. Aku heran kemana uang tabungan ku yang berjumlah dua puluh juta itu larinya.
"Dih, perhitungan banget kamu sama saudara kamu sendiri Nur, Nur." Ucap ibu dengan nada pelan. Tumben tumbenan dia merendahkan suaranya ketika aku menagih uangku yang di pinjam oleh anak kesayangannya.
"Ck, perhitungan itu harus meskipun sama saudara sendiri. Apalagi saudaranya model kayak bang Supri yang tidak tau diri. Apa ibu pikir dia selama ini menganggap ku saudaranya? ucap ku dengan sengit. kesal sekali rasanya saat ini pada ibu.
Aku ngeloyor pergi meninggalkan ibu yang masih menatap tidak suka ke arahku karena aku menagih uang dua puluh juta pada anak kesayangannya.
Aku menyuapi Zain makan dengan kecap di teras samping rumah. Aku bersyukur anak ku selalu mau makan apa saja yang aku beri padanya.
"Nur...Nuriii !" ibu berteriak lagi di dalam rumah.
Aku bergegas masuk ke dalam untuk menemuinya. Ku lihat rambutnya basah seperti habis mandi."Ada apa lagi Bu?"
"Mana bubur yang ku suruh beli tadi?" tanya ibu sambil berkacak pinggang.
"Aku kan sudah bilang kalau aku mau menyuapi Zain makan. Lagi pula ibu kan bisa pergi sendiri."
"Jangan membantah Nur, Dosa kamu."
Lagi lagi ibu membicarakan soal dosa. Aku tidak mau banyak bicara lagi dengan ibu. Aku segera mengambil mangkok dan masuk ke kamarku untuk mengambil uang sisa nafkah dari suamiku. Ku hitung uang itu tinggal tersisa delapan puluh ribu lagi. masih harus menunggu dua puluh lima hari lagi untuk mendapat jatah nafkah dari suamiku. Aku tersenyum kecut. nafkah yang tidak seberapa itu bukan aku yang menikmatinya melainkan ibuku.
Ku ambil satu lembar uang warna ungu lalu bergegas pergi ke tukang bubur sambil menggendong Zain. Tiba di warung bubur Bu Minah aku langsung memesan satu mangkok bubur dengan toping lengkap. Seseorang menepuk pundak ku dari belakang lalu aku berbalik. Tampak wanita cantik dengan make up tebal serta rambut di cat pirang.
"Sumi.....!" sapa ku dengan melongo karena aku benar benar pangling melihat penampilan teman main di kampung ku yang sudah cukup lama bekerja di Jakarta.
"Iya Nur, ini aku Sumi." jawab Sumi sambil tersenyum lebar ke arahku.
"Mashaallah kamu cantik banget Sum!" puji ku. Jujur, aku tidak bicara bohong atau ber basa basi pada teman mainku itu. Sumi sekarang memang terlihat jauh berbeda dari pada sebelum dia merantau ke Jakarta. Dulu warna kulitnya hitam serta kusam tapi sekarang kinclong. Dulu rambutnya lepek dan sering berminyak tapi sekarang rambutnya bagus dan tebal seperti di rawat tiap hari. postur tubuhnya juga tidak sekurus dulu, sekarang lebih berisi. Sumi sendiri merupakan seorang janda anak satu. Dulu dia menikah di usia dua puluh tahun. Setelah bercerai dengan suaminya, Sumi memilih untuk bekerja di Jakarta tapi aku tidak tahu Sumi bekerja apa di sana.
"Hidup di Jakarta itu ya memang harus cantik biar bisa terus bertahan Nur. eh, kamu kok makin kurus aja Nur, kayak kurang makan."
"Bukan kurang makan Sum, tapi makan ku memang sedikit. kan kamu tau sendiri." Aku sengaja bicara bohong. Tidak mungkin aku bicara yang sebenarnya.
"Oya gimana kabar suamimu apa dia sering pulang ke sini Nur? aku pernah lihat dia makan di restouran sama seorang perempuan dan dua anak Nur."
Deg
Jantung ku langsung berdetak kencang. pikiranku langsung melayang ke hal yang tidak mau aku pikirkan sebenarnya.
"Apa suamiku bertemu dengan mantan istri serta dua anaknya?" gumam ku dalam hati.
Sebelum aku menikah dengan suamiku. Suamiku seorang duda yang sudah memiliki dua anak. Aku sendiri memiliki perbedaan usia dua belas tahun dengan suamiku. perbedaan usia yang cukup jauh. Aku sendiri tidak pernah pacaran sebelumnya dengan suami. Kami kenal lewat kakak pertamaku karena suamiku memang teman kakakku. Proses kami saling mengenal pun cukup singkat yaitu hanya dua minggu saja lalu kami memutuskan untuk menikah. Hal ini terjadi karena desakan kakak pertamaku serta ibuku agar aku langsung menikah saja. Entah apa alasan mereka aku tidak tahu.
Bertepatan dengan di kenalkan nya aku dengan suamiku oleh kakakku. pada saat itu, aku juga sedang di kenalkan oleh temanku pada seorang laki laki. Tapi, kakak pertamaku sangat menentang jika aku menerima laki laki tersebut. Bahkan dia mengancam aku untuk tidak akan mau menjadi wali nikahku kalau seandainya aku menikah dengan pria tersebut. Kakak ku hanya menginginkan aku menikah dengan temannya saja yang saat ini menjadi suamiku.
Sebenarnya sejak awal pertama bertemu, aku sendiri tidak memiliki rasa apapun pada suami. Namun, setelah menikah aku mulai belajar mencintainya karena walau bagaimana pun dia sudah menjadi suamiku yang sah.
"Nur...Nuri...!"
Aku terperangah mendengar Sumi memanggilku."Oh, maaf Sum," ucapku lalu tersenyum seolah olah aku baik baik saja.
"Nuri...ini buburnya." Bu Minah memanggilku memberi tahu bahwa bubur ku sudah siap untuk di bawa.
"Oh, iya Bu Minah, ini uangnya." Aku menyodorkan uang sepuluh ribu pada Bu Minah.
"Terima kasih Bu."
"Oia Sumi, aku pulang duluan ya, ibuku sedang menunggu bubur ini."
"Oh, yaudah kalau gitu."
Aku segera bergegas pulang ke rumah. Aku takut ibu akan mengomel kalau aku lama membeli bubur. Ku langkahkan kaki ku menuju rumah namun pikiranku kembali mengingat ucapan Sumi di warung tadi. Aku segera menepis pikiran negatif itu. Dan aku meyakini bahwa suamiku adalah pria baik dan tidak mungkin akan menyakitiku. Lagi pula jika suamiku masih bertemu dengan mantannya itu merupakan hal yang wajar karena mereka memiliki dua anak. sampai kapan pun tidak ada yang namanya mantan anak dan aku harus memakluminya.
"Ini Bu, buburnya." ku letak kan bubur yang harum dan terlihat enak itu di atas meja. Kemudian aku berjalan hendak ke kamar.
"Nur, kamu mau kemana?" tanya ibuku yang sedang berdiri di samping meja makan. Aku berhenti melangkah lalu melihat ke arahnya.
"Mau ke kamar. Mau apa lagi Bu?"
Kemudian ibu berjalan ke arah kamarnya tanpa bicara. Aku menatap heran ke arah punggung ibuku. Mau apa dia pikirku. Tak selang lama ibu kembali dari kamarnya sambil membawa pakaian yang sepertinya masih baru. Aku mengerutkan dahi ku melihat ibu membawa baju baru. Apa ibu mau memberikan nya padaku? pikirku. Seulas senyum mengembang di bibirku melihat ibu membawa baju baru ke arahku.
"Coba Nur, turunkan dulu si Zain nya,"titah ibu. Aku menurut lalu segera menurunkan Zain di atas lantai.
"Coba kamu berdiri tegap, gamis ini cocok ngga di badan kamu." Dengan senyum yang masih tak lepas dari bibirku. Aku menuruti kata ibu. Aku pun berdiri tegap. Ibu mulai mencocokan gamis baru itu di tubuhku.
"wah, cocok. ngga salah pilih aku." gumam ibu sambil menyunggingkan senyum yang sama sepertiku.
"Gamis ini ibu belinya mahal lho. Besok si Yati ulang tahun ibu mau memberikan gamis ini sebagai kado."
Senyum ku mulai memudar. Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Aku pikir baju itu akan di berikan ibu padaku tapi kenyataannya dia akan memberikan nya pada menantunya. Sebegitu sayangnya ibu pada bang Supri sampai ulang tahun istrinya saja dia perhatikan. Aku, sebagai anak kandungnya saja jangankan di beri kado ingat hari ulang tahun ku pun sepertinya tidak.
Hati ini rasanya sakit melihat ibu lebih sayang pada menantunya di bandingkan aku anak kandungnya. Aku yang tidak pernah merasakan memakai baju baru yang di belikan oleh ibuku dari kecil merasa kasihan sekali pada diriku sendiri yang hidupnya tidak pernah di anggap ada oleh ibu kandungnya.