Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.
"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."
Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.
Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.
FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Aiden bukan pergi ke toilet melainkan ke ruangan di Wiliam berada. "Papa."
William mendongak menghentikan sebentar perbincangannya dengan seseorang. "Ada apa, Aiden?"
"Pah, aku butuh penangkal minuman beralkohol. Aku mau membuat minuman fruktosa." Pinta Aiden mulai merasakan efek minuman tersebut.
Fruktosa dapat membantu mempercepat metabolisme alkohol dalam tubuh. Fruktosa merupakan satu dari deret jenis gula selain glukosa dan sukrosa.
Fruktosa dapat diperoleh dari buah-buahan atau makanan ringan yang mengandung buah alami. Jus buah juga bisa jadi pilihan. Selain mempercepat metabolisme, jus buah juga membantu menghilangkan dehidrasi akibat alkohol.
William terbelalak. "Kau mabuk?" Dia segera membantu Aiden duduk. "Sudah Papa katakan untuk tidak meminum alkohol. Kenapa di minum juga?" omel William meminta karyawan nya keluar.
"Bukan aku, Bianca yang memberikannya. Aku tidak enak menolak di depan banyak orang yang terus menatapku meminta meminum minuman itu. Tapi sebelumnya aku sudah minum minyak zaitun dan memakan makanan berminyak jadi efek minumannya tidak terlalu parah," jelas Aiden.
Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa sebelum beranjak ke pesta sebaiknya orang menelan satu sendok makan minyak zaitun. Rupanya ini bukan mitos semata. Dikutip dari Everyday Health, ini digunakan untuk 'meminyaki' usus sehingga penyerapan alkohol oleh tubuh akan berlangsung lebih lama, sehingga Anda tak mudah mabuk.
Tak harus menelan minyak, orang dapat memperoleh manfaat yang sama dengan makan pizza atau makanan berlemak lain. Oleh karenanya penting untuk memastikan perut sudah terisi sebelum minum-minum.
"Kau itu ceroboh sekali. Kalau tidak bisa meminum alkohol jangan meminum ataupun menerima minuman dari siapapun. Untungnya kau sudah membentengi dirimu dan juga aku selalu menyiapkan penangkal mabuk. Papa tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Papamu yang memberikan amanat kepadaku untuk menjagamu," omel William seraya membuatkan jus buah yang mengandung fruktosa.
"Hmmmm." Aiden memejamkan matanya menahan pusing.
"Ini, minumlah. Habiskan dan kalau perlu Papa akan buatkan minuman jahe." Aiden membuka matanya menerima minuman tersebut. Meminumnya sampai habis sedangkan William membuatkan minuman jahe di campur gula merah dan tangerine sebagai penangkal terakhir supaya Aiden tidak mabuk berat.
Sebuah studi menemukan bahwa kombinasi jahe dengan gula merah dan tangerine bisa mengurangi gejala mabuk termasuk mual, muntah dan diare.
"Makasih, Pah. Ini jauh lebih baik setelah meminumnya."
"Jangan dulu kembali ke sana sebelum efeknya hilang!" larang William sambil membuatkan teh jahe.
"Iya..." Aiden menyahuti sambil mendekati meja komputer. "Pah, boleh aku melihat Cctv yang ada di ruangan VVIP? aku ingin melihat pergerakan di sana."
"Terserah kau saja."
"Ok." Kata terserah merupakan tanda iya. Aiden mulai memperhatikan kegiatan tamu-tamu itu. Penglihatannya teralihkan pada seorang pria yang ia kenal. "Kak Billy? dia ada di sana juga? eh tunggu, seseorang sedang berusaha mendekatinya."
Aiden beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" cegah William membawa segelas air jahe.
"Aku akan kembali ke sana. Aku takut wanita-wanita itu mendekati orang yang aku cintai." Jawab Aiden lalu mengambil minuman hangat itu.
"Orang yang di cintai?" gumam William tidak mengerti. Penglihatannya beralih menatap layar. Dia ingin tahu siapa orang yang di maksud Aiden.
"Tuan Bima, Tuan Billy, terima kasih sudah hadir di acara spesialku ini."
"Ah, iya. tentu kami senang bisa datang ke acara perayaan bertambah usiamu. Bukan begitu, Billy?"
"Iya," Billy menjawab se adanya. Dia malas berada di antara party orang-orang kaya. Banyak pria di temani wanita-wanita sexy pekerja malam. Ada yang berjoget, ada yang duduk hanya menonton, bahkan ada pria nakal meraba-raba wanita.
[ Sampai kapan aku terjebak di pesta ini? andai aku punya pintu ajaib, ingin ku menghilang dari sini. ]
"Boleh aku duduk disini?" tanya wanita mendekati Billy.
Billy mendongak menilai penampilan wanita itu dari atas hingga bawah. [ Biasa saja, tidak seperti Aiden, membuat mataku tak berpaling. ]
"Tidak boleh! Cari tempat duduk lain saja." Tolak Billy tegas mengusir wanita itu.
Tapi dia malah duduk di samping Billy membuatnya repleks berdiri namun, wanita itu menariknya sampai Billy duduk lagi. "Saya akan melayani tuan. Ini sudah menjadi pekerjaan saya."
"Baby, kemarilah!" ujar Damian melambaikan tangan pada seseorang. Bima dan Billy melihat ke arah yang ditujunya.
[ Aiden?! ] batin keduanya terkejut.
[ Selaku itu dia di sini sampai seorang Damian saja menyebutnya Baby? ] batin Billy menatap tajam.
Aiden membalas tatapan itu seraya mendekat dan duduk di pinggiran pegangan sofa dekat Damian. "Maaf lama."
"Tidak apa-apa. Oh iya, kenalkan, mereka Bima dan Billy rekan bisnis saya."
"Saya sudah kenal. Dia juga salah satu pelanggan saya," jawab Bima menatap tidak suka. Begitupun dengan Billy yang juga tidak menyukai kedekatan Aiden dengan Damian.
Billy mengambil minuman meminumnya tanpa melihat minuman apa yang ia minum. Matanya terus tertuju dengan rasa bergejolak di dada. Dengan santai Aiden melayani Damian tapi matanya sesekali melirik Billy yang terus minum sambil menatapnya.
[ Sudah tiga gelas dia minum Vodka. Semoga kau kuat tidak mabuk berat. ]
"Hahaha rupanya kau juga salah satu penggemar Aiden. Ya, ku akui Aiden sangat cantik, sexy, tak bosan bila di pandang mata. Itulah sebabnya saya sering menggunakan jasanya." Ujar Damian menatap sayu Aiden.
"Dia memang membuat pria begitu menyukainya. Pelayanan yang diberikannya membuat pelanggan betah," balas Bima juga menatap Aiden.
Billy menggenggam keras gelasnya meminta wanita di sebelahnya menambahkan minuman lagi. Padahal dia sudah sangat mabuk. Telinganya panas mendengar pembahasan soal pelayanan, pikirannya mulai kotor kesana kemari, rahangnya mengeras seakan ada sesuatu yang membuatnya tidak begitu menyukainya.
"Tuan, kau sudah menghabiskan satu botol minuman!" ucap wanita di samping Billy.
"Tambah lagi! Kau hanya perlu melayaniku tanpa banyak protes." Sergah Billy masih menatap tajam pada Aiden.
Aiden mendongak ke depan mendengar bisikan-bisikan kedua orang tersebut. Dia bisa melihat kalau Billy sudah sangat mabuk membuatnya risau takut Billy membuat ulah.
Sedangkan Damian dan Bima saling bersitegang membahas Aiden lebih jelasnya memperebutkan wanita itu. Billy berdiri dengan kepala yang sudah teramat pusing akibat pengaruh alkohol dalam dosis tinggi. Dia berjalan keluar sempoyongan merasa tidak betah lagi melihat dua pria terus berbincang mengenai Aiden.
Wanita yang menemani Billy ingin menemaninya namun, ia tepis secara kasar tak ingin di sentuh. Aiden memperhatikannya kemudian diam-diam dia mengikuti Billy meninggalkan Bima dan Damian yang masih berbincang.
"Kau mabuk berat, Kak. Biar ku bantu," ucap Aiden ingin memapah Billy.
"Aku tidak butuh pertolongan kupu-kupu malam seperti mu." hardik Billy mendorong tubuh Aiden berjalan sempoyongan memegang kepala bahkan ia terus menabrak seseorang hingga dirinya terjatuh.
Aiden segera membantu Billy membawanya ke tempat dimana dia beristirahat. "Kalau kau tidak bisa mabuk jangan minum! Menyusahkan sekali. Mana tubuhmu berat lagi," gerutu Aiden memapah tubuh berat suaminya.
Billy menghempaskan Aiden, matanya memerah marah ketika telinganya terus mendengar omongan para pria yang menyukai pelayanannya. "Kau kupu-kupu malam, aku tidak menyukaimu, aku membencimu."