NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 11

"Cambuk Api ..." Arya mengernyitkan dahinya.

"Benar ... Pusaka itulah yang aku ciptakan dari kekuatan ayahmu. Tapi jangan terlalu sering menggunakan cambuk api, Cucuku, sebab kekuatannya belum maksimal karena energi siluman penguasa unsur api masih belum menyatu di tubuhmu. Cambuk Api itu akan menjadi senjata andalanmu selain Pedang langit pemberian ibumu. Tapi ingat, kau harus bijak menggunakannya. Tirulah jalan kebenaran yang diambil kedua orang tuamu!" Dewi Anjani tersenyum lalu membelai rambut Arya.

"Terima kasih atas pemberian ini, Nenek."

Dewa Anjani mengeluarkan sebuah kitab dan diberikannya kepada Arya. "Di dalam kitab ini ada beberapa jurus yang bisa kau pelajari. Tapi untuk menyempurnakan kekuatan cambuk api itu, kau harus menemui seseorang untuk menyempurnakannya."

"Siapa, Nek?" tanya Arya penasaran.

"Nanti setelah kau menguasai isi dari kitab ini, nenek akan mengatakan siapa dia. Tapi yang pasti dia sangat kenal baik dengan kedua orang tuamu," jawab Dewi Anjani.

Setelah menghembuskan napas panjang, Dewi Anjani berpamitan kepada Arya. Ratu kerajaan Jin di puncak gunung Rinjani itupun menghilang dari pandangan mata pemuda tersebut.

Tanpa terasa, perjalanan lima orang yang membawa tubuh Arya telah sampai di sebuah istana megah. Mereka bergegas membawanya menuju ruang pengobatan untuk menyembuhkan luka dalam yang dialami pemuda tersebut.

"Prajurit, cepat panggil tabib istana!" perintah lelaki yang berpakaian mewah, setelah mereka meletakkan tubuh Arya di sebuah ranjang.

"Baik, Tuan." Seorang prajurit bergerak keluar dari ruangan tersebut.

"Kalian berempat jaga di depan. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan ini! Aku mau berganti pakaian dulu."

"Baik, Tuan Jaya." sahut empat orang lainnya bersamaan.

Sesaat setelah pintu ruang pengobatan tertutup dari luar, hawa di dalam ruangan tersebut secara perlahan memanas. Sesuatu yang mendebarkan tiba-tiba terjadi pada tubuh Arya, kulit kuning langsatnya secara perlahan memerah seperti udang direbus. Tak lama berikutnya, asap kehitaman mengepul keluar dari setiap pori-pori yang ada di tubuhnya.

Proses yang terjadi itu berlangsung tidak terlalu lama. Tubuh Arya akhirnya kembali seperti semula setelah kepulan asap yang berbau busuk sudah berhenti merembes keluar.

Pemuda berambut kemerahan itu membuka matanya perlahan. Rasa heran sempat menyergap pikirannya, karena yang dia lihat saat ini adalah sesuatu yang sangat berbeda dari yang terakhir kali dia lihat.

"Di mana aku sekarang?" gumamnya pelan.

Arya bangkit lalu duduk di bibir ranjang. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di balik pakaiannya, tepatnya di bagian perut. Pemuda itu merogoh ke balik pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kitab yang diberikan Dewi Anjani kepadanya.

Dahi Arya mengernyit tebal dan kedua alisnya menyatu menjadi satu. "Kitab ...?" Pemuda itu lalu teringat dengan kitab pemberian wanita cantik yang dia temui baru saja di dalam mimpinya.

"Berarti aku tidak bermimpi," gumamnya lagi.

Arya membuka kitab di tangannya itu dari satu halaman ke halaman lainnya. Belum sempat dia menyelesaikan hingga halaman terakhir, terdengar langkah kaki suara dari depan pintu. Dia buru-buru memasukkan lagi kitab tersebut ke dalam balik pakaiannya dan kembali berbaring. Berpura-pura masih pingsan adalah cara yang diambilnya untuk mengetahui sekarang dia berada di mana.

Seorang prajurit dan lelaki tua yang penampilannya seperti tabib, memasuki ruangan tersebut dengan tergesa-gesa. lelaki tua tersebut membawa sebuah kotak kayu yang tidak terlalu besar di tangannya.

"Cepat kau tangani dia, Ki Prana! Tuan Jaya tidak ingin terjadi sesuatu dengannya."

Lelaki tua yang bernama Ki Prana itu mengangguk lalu mendekati Arya. Setelah itu Ki Prana memegang pergelangan tangannya untuk memeriksa denyut nadi pemuda tersebut.

Raut wajah lelaki tua itu tiba-tiba saja berubah. Dia tidak merasakan adanya luka dalam seperti yang dikatakan prajurit kepadanya.

Tak lama berselang, Jaya memasuki ruangan itu setelah kembali dari kamarnya.

"Bagaimana keadaannya, Ki?"

"Maaf, Tuan Jaya. Tapi hamba rasa dia baik-baik saja. Tidak ada luka dalam ataupun penyakit lain dalam tubuhnya," jawab Ki Prana.

"Apa kau yakin, Ki?"

"Hamba tidak mungkin berbohong, Tuan Jaya. Kalau dia ada penyakit dalam seperti yang dilaporkan, hamba pasti mengetahuinya."

"Kalau racun?" Dahi Jaya mengernyit tebal.

"Tidak ada juga, Tuan. Tubuhnya benar-benar sehat," pungkas Ki Prana.

Jaya pantas merasa heran, sebab dia mendengar sendiri dari mulut Nyi Asih jika racun dari ketua Perguruan Topeng Sesat itu sudah bersarang di tubuh pemuda tersebut.

Merasa tidak mendapat jawaban atas dari rasa penasarannya, Arya bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.

Jaya dan tabib tersentak kaget. Padahal mereka mengira pemuda itu masih dalam keadaan pingsan.

"Ternyata Pendekar sudah siuman!" Jaka terlihat begitu gembira melihat Arya sudah siuman dari pingsannya.

Arya tersenyum kepada Jaya. Dia melihat ke segala penjuru ruangan tersebut dengan kerutan di dahi sesekali terlihat.

"Panggil saja aku Arya, Paman. Oh, iya, aku sekarang berada di mana?"

"Kau sekarang berada di dalam istana kerajaan Kanjuruhan Arya. Karena kau sudah baikan, sekarang ikutlah denganku! Akan aku tunjukkan di mana kamarmu." Jaya beranjak menuju sebuah meja dan mengambil pedang serta bungkusan kain Arya yang tadi diletakkannya di atasnya.

"Tadi aku membawa barang-barangmu sekalian ke sini," sambung Jaya sambil menyerahkan pedang dan bungkusan kain kepada Arya.

Arya turun dari ranjang setelah mendapatkan kembali pedang dan bungkusan kainnya yang berisi pakaian. Dia mengayunkan langkah tegap mengikuti Jaya dari belakang.

Sesampainya di sebuah kamar, mereka berdua masuk ke dalamnya dan kemudian duduk di kursi yang saling berhadapan.

"Sebelumnya aku ucapkan begitu banyak terima kasih atas bantuan yang sudah kau berikan tadi. Jika kau tidak datang membantu, entah bagaimana nasibku saat ini," kata Jaya membuka pembicaraan.

"Itu hanya bantuan kecil saja, Paman. jadi tidak perlu dibesar-besarkan," balas Arya sambil tersenyum.

"Bantuan kecil bagaimana? Kau hampir saja kehilangan nyawamu untuk menyelamatkanku, jadi sudah seharusnya aku memberimu hadiah besar atas jasamu tadi?"

"Tidak perlu, Paman. Aku tidak butuh hadiah apa-apa. Tapi kalau boleh, aku ingin menginap beberapa hari di sini?"

Jaya terlihat sedikit kecewa karena Arya menolak atas tawaran hadiah yang hendak dia berikan. Tapi dia masih bisa tersenyum karena Arya meminta untuk menginap di istana.

"Selamanya juga boleh, Arya. Bahkan kalau perlu, aku akan meminta kepada Paduka raja untuk memberimu jabatan di istana ini."

Arya menggeleng pelan, "Sepertinya aku tidak bisa menerima jabatan itu, Paman. Aku lebih suka untuk menjadi orang biasa saja," jawabnya.

Jaya tersenyum kecut. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan Arya agar pemuda itu mau bertahan di istana tersebut.

Keesokan harinya, Arya bertanya kepada Jaya tempat di mana para prajurit berlatih. Dia ingin ingin mempelajari isi dalam kitab yang di berikan Dewi Anjani kepadanya. Selain membutuhkan tempat yang sedikit luas, tempat itu juga harus sepi agar tidak ada yang mengetahu apa yang sedang dilakukannya.

"Jangan di tempat para prajurit berlatih! Ada tempat lain yang sepi dan cukup luas untuk kau buat berlatih. Biar nanti prajurit yang menjaga pintunya agar tidak ada yang mengganggumu," usul Jaya.

Arya mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan menuju tempat yang dijanjikan Jaya.

Pertama kali berada di dalam istana, Arya terkagum-kagum dengan megahnya bangunan dan properti di dalamnya yang begitu mewah, menurut ukuran jaman dulu. Tidak sedikit patung kayu dan berbagai benda seni baik dari kayu maupun batu yang dipahat rapi yang mungkin sengaja diperlihatkan agar tahu bahwa pemilik istana tersebut adalah sosok penyuka seni kelas tinggi.

Di lain tempat dan masih berada di dalam istana Kanjuruhan, Putri Citra dan dua orang dayang-dayang sedang bersantai dan bersenda gurau di sebuah taman yang lumayan luas.

Putri Citra tiba-tiba saja diam dan melihat ke arah kejauhan. Sesaat dia melihat sosok yang dikenalnya melintas dan lalu menghilang.

"Ada apa, Gusti Putri?" tanya seorang dayang-dayang.

"Apa kalian tidak melihat tadi ada dua orang yang melintas di sana?" Putri Citra menunjuk ke suatu arah.

"Kami tidak melihat siapa-siapa, Gusti Putri," balas seorang dayang-dayang.

"Mungkin saja Gusti Putri telah salah melihat," sahut dayang-dayang lainnya.

"Apa iya aku salah melihatnya?" Hati Putri Citra bertanya-tanya. Pandangannya masih tetap tertuju kepada tempat di mana dia melihat Arya berjalan seseorang.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!