Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17 : Hujan dan Pelukan Tak Sengaja
Malam kian larut ketika Nadira melangkah keluar dari lobi Rumah Sakit Medika Permata. Sisa-sisa tangisnya telah mengering, meninggalkan jejak sembap di seputar kelopak matanya yang lelah. Tepat saat ia menginjakkan kaki di pelataran luar, langit yang sejak sore menggantung pekat seolah tumpah tanpa ampun. Hujan deras langsung mengguyur kota dengan volume yang masif, meredam seluruh kebisingan jalanan dalam gemuruh air yang menghantam bumi.
Nadira menghela napas panjang. Beruntung, ia membawa mobil operasional rumah yang dipinjamkan oleh Opa Wijaya. Dengan langkah tergesa, ia masuk ke dalam kabin mobil, menyalakan mesin, dan mulai membelah jalanan kota yang kian samar akibat jarak pandang yang terbatas.
Namun, nasib buruk tampaknya enggan beranjak dari pundak Nadira hari itu.
Memasuki kawasan jalur protokol yang berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit, arus lalu lintas mendadak macet total. Air luapan drainase mulai menggenangi aspal, naik dengan cepat hingga setinggi betis orang dewasa. Banjir di area ini memang terkenal buruk, dan sialnya, mobil sedan yang dikendarai Nadira bukanlah kendaraan yang dirancang untuk menerobos genangan air setinggi itu.
*Batuk... batuk...*
Mesin mobil mendadak tersedak keras. Indikator di dasbor berkedip merah sebelum akhirnya seluruh sistem kelistrikan padam sepenuhnya. Setir mobil menjadi berat, dan mesin mati total di tengah-tengah genangan air yang kian meninggi.
"Astaga, jangan sekarang... tolong," bisik Nadira panik. Ia mencoba memutar kunci kontak berulang kali, namun hanya suara dinamo starter yang melemah yang merespons usahanya. Mobil itu mogok.
Menyadari tidak ada gunanya tetap bertahan di dalam kabin mobil yang mulai kemasukan air dari sela-sela bawah pintu, Nadira terpaksa mengambil tas jinjingnya. Menggunakan tas itu sebagai pelindung kepala yang sia-sia, ia membuka pintu dan melangkah keluar ke tengah amukan badai. Air banjir yang sedingin es langsung merendam kakinya, sementara angin malam yang kencang menusuk kulitnya hingga ke tulang.
Dengan tubuh yang mulai basah kuyup, Nadira berjalan terseok-seok menerobos genangan air menuju satu-satunya tempat bernaung terdekat: sebuah halte bus tua yang tampak sepi dan remang-remang di tepi jalan.
---
Di bawah atap halte yang bocor di beberapa sudut, Nadira berdiri mematung. Pakaian rajut jalus yang ia kenakan kini menempel ketat di tubuhnya karena basah kuyup, kehilangan seluruh fungsi kehangatannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha memeluk dirinya sendiri demi menghalau hawa dingin yang luar biasa. Tubuhnya menggigil hebat, dan bibirnya mulai berubah warna menjadi kebiruan.
Ia memeriksa ponselnya. Layar perangkat itu hitam pekat—mati total karena sempat kemasukan air saat ia keluar dari mobil tadi. Nadira mengigit bibir bawahnya, menahan rasa putus asa yang kembali membuncah. Di tengah malam yang buta, terjebak di halte banjir, tanpa alat komunikasi, dan baru saja melewati hari yang penuh dengan penghinaan, ia merasa benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya.
Sementara itu, dari arah berlawanan, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam bergerak perlahan membelah kemacetan jalanan. Di kursi belakang, Arka Mahendra sedang menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan mata terpejam. Rapat darurat yang melelahkan bersama jajaran komisaris di luar kota baru saja usai, namun pikiran Arka sama sekali tidak bisa lepas dari rahasia masa lalu Nadira yang dibongkar oleh Selena sore tadi.
Kalimat-kalimat tajam dari ibunya, senyuman licik Selena, dan yang paling utama—tatapan mata Nadira yang penuh luka namun begitu teguh saat mengakui kebangkrutan keluarganya—terus berputar di benak Arka bagaikan pita rekaman yang rusak.
"Tuan Arka, di depan banjir cukup tinggi. Tampaknya ada beberapa mobil yang mogok," lapor Yudha dari balik kemudi, memperlambat laju kendaraan.
Arka membuka matanya, menatap keluar jendela samping yang buram oleh rintik air. Tatapannya menyapu barisan kendaraan yang berhenti, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sebuah halte bus yang remang-remang di pinggir jalan.
Jantung Arka mendadak melewatkan satu detak.
Di bawah pendar lampu jalanan yang kuning dan samar, seorang wanita sedang berdiri sendirian. Sosoknya tampak begitu kecil, rapuh, dan gemetar di tengah terpaan angin badai. Meskipun wanita itu menundukkan kepalanya, Arka tidak akan pernah salah mengenali postur tubuh dan sepasang bahu yang beberapa hari lalu ia lihat mengenakan syal cokelat susu pilihannya.
Itu Nadira.
"Yudha, hentikan mobilnya di dekat halte itu," perintah Arka, suaranya mendadak berubah tajam dan tegas, memecah kesunyian kabin mobil.
"Baik, Tuan."
Begitu mobil berhenti sempurna di sisi jalan yang tidak terlalu dalam genangannya, Arka tidak menunggu Yudha untuk membukakan pintu. Ego dan keraguan sempat menahannya selama beberapa detik—*mengapa wanita ini ada di sini malam-malam? Bukankah dia pamit karena urusan yayasan?* Namun, melihat bagaimana tubuh Nadira bergetar kedinginan, seluruh dinding logika Arka runtuh. Ia menyambar payung hitam besar di dekat pintu mobil dan langsung melangkah keluar menembus derasnya hujan.
---
Nadira sedang menunduk menatap ujung sepatunya yang basah ketika sebuah bayangan besar mendadak menghalangi pendar cahaya lampu di depannya. Embusan angin dingin yang biasanya menerpa wajahnya tiba-tiba mereda, digantikan oleh payung hitam besar yang kini teracung di atas kepalanya.
Nadira mendongak dengan perlahan, matanya yang sembap membelalak tidak percaya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Pak... Arka?" bisik Nadira, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan.
Arka berdiri di sana, mengabaikan fakta bahwa ujung celana bahan mahalnya kini basah terkena cipratan air. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh tubuh Nadira yang basah kuyup. Tanpa memberikan peringatan, Arka melepaskan cengkeraman payung dengan satu tangan, lalu dengan gerakan cepat, ia menanggalkan jas kerja hitamnya yang tebal.
Dengan gerakan yang terbilang tegas namun menyimpan kelembutan yang tersembunyi, Arka menyampirkan jas mahal tersebut ke atas bahu Nadira yang gemetar.
"Pak, tidak usah... nanti baju Anda basah," tolak Nadira canggung, berusaha menggeser jas itu dari bahunya. Namun, tangan Arka menahannya dengan kuat di kedua sisi bahunya, memaksa kain tebal yang masih menyimpan kehangatan tubuh pria itu untuk tetap membungkus tubuh Nadira.
"Diam dan pakai saja. Kamu bisa mati kedinginan di sini," potong Arka datar, suaranya yang berat terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan.
Kehangatan yang mendadak menjalar dari jas milik Arka membuat tubuh Nadira sedikit melonggar. Aroma parfum kayu cedar yang maskulin dan khas milik suaminya menguar dari kain jas, memberikan rasa aman yang aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mereka berdiri sangat dekat di bawah naungan satu payung yang sama. Kekakuan dan kecanggungan akibat ketegangan sore tadi membuat keduanya saling membuang muka, terjebak dalam keheningan yang intens di antara deru badai.
*DUAARRRR!!!*
Tiba-tiba, sebuah kilatan petir yang sangat besar membelah langit malam, disusul oleh suara gemuruh guntur yang menggelegar dahsyat tepat di atas kepala mereka. Suaranya begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke lantai halte yang mereka pijak.
"Aah!"
Nadira yang memang sejak kecil trauma dengan suara petir langsung terlonjak kaget. Rasa takut yang instan membuat akal sehatnya lumpuh selama sedetik. Tanpa sadar dan sepenuhnya refleks, Nadira merangsek maju dan menjatuhkan tubuhnya ke depan, memeluk erat pinggang tegap Arka. Ia menyembunyikan wajahnya yang pucat di dada bidang pria itu, meremas kemeja putih Arka dengan kedua tangannya yang gemetar karena ketakutan.
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar.
Arka membeku total di tempatnya berdiri. Payung hitam di tangan kanannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera memperkuat genggamannya. Tubuhnya menegang kaku bagaikan batu. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana tubuh mungil Nadira menempel sempurna pada tubuhnya, bergetar hebat bukan lagi hanya karena hawa dingin, melainkan karena rasa takut yang nyata terhadap petir.
Untuk beberapa detik yang terasa berjalan seperti keabadian, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Hanya ada suara deburan ombak hujan yang menghantam aspal dan detak jam dinding tak kasat mata yang berdentang keras di dalam kepala masing-masing.
Di dalam keheningan pelukan yang tidak disengaja itu, indra mereka mendadak menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif.
Arka dapat merasakan kelembutan tubuh Nadira yang rapuh di dalam dekapannya. Napas wanita itu yang pendek dan tersengal-sengal terasa hangat menembus kain kemejanya yang mulai lembap. Ada dorongan aneh di dalam sanubari Arka—sebuah insting purba seorang pria yang mendesaknya untuk mengangkat tangan kirinya, melingkarkannya di punggung Nadira, dan mendekap wanita itu lebih erat untuk melindunginya dari kerasnya dunia luar. Namun, akal sehat dan benteng gengsinya menahan tangan itu tetap menggantung di udara.
Sementara itu, di dalam dekapan Arka, Nadira yang wajahnya masih menempel di dada pria itu mendadak tersadar akan sesuatu. Di balik balutan kemeja katun tipis yang dikenakan Arka, ia bisa mendengar dengan sangat jelas sebuah ritme yang tidak wajar.
*Deg... deg... deg... deg...*
Detak jantung Arka Mahendra berdegup dengan sangat kencang dan cepat, seolah-olah sedang berkejaran dengan badai di luar. Itu bukan detak jantung seorang pria yang dingin, acuh tak acuh, atau mati rasa. Itu adalah detak jantung yang bergetar hebat karena kehadirannya. Kesadaran itu menghantam Nadira bagaikan sengatan listrik, membuat rasa takutnya terhadap petir menguap digantikan oleh debaran lain yang jauh lebih membingungkan.
Menyadari apa yang baru saja ia lakukan dalam posisi yang sangat intim itu, Nadira seketika tersentak. Dengan wajah yang mendadak memanas, ia buru-buru melepaskan cengkeramannya pada kemeja Arka dan melangkah mundur dua langkah hingga punggungnya membentur tiang halte.
"Ma-maaf... Pak Arka... saya refleks. Saya tidak bermaksud..." kata Nadira terbata-bata, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah padam yang kini menjalar dari pipi hingga ke lehernya.
Arka ikut berdeham kecil, mengalihkan pandangannya ke arah jalanan banjir dengan wajah yang ikut merona merah samar di bagian telinganya. Ia merapikan posisi payungnya dengan kikuk, berusaha keras mengembalikan ekspresi dinginnya yang sempat runtuh berantakan.
"Tidak apa-apa," jawab Arka pendek, suaranya terdengar sedikit serak. "Ayo ke mobil. Yudha sudah menunggu."
Tanpa menunggu jawaban Nadira, Arka berbalik dan berjalan menembus hujan, namun ia sengaja memperlambat langkahnya dan mengarahkan sebagian besar payung hitamnya untuk melindungi tubuh Nadira yang berjalan di sampingnya, membuat bahu kanannya sendiri basah kuyup terkena guyuran air hujan.
---
Perjalanan pulang di dalam mobil SUV hitam itu dilewati dalam kesunyian yang paling pekat sepanjang pernikahan mereka. Nadira duduk di kursi belakang berdampingan dengan Arka, dipisahkan oleh jarak satu jengkal yang terasa sarat akan ketegangan emosional. Nadira menatap keluar jendela, memeluk erat jas Arka yang masih melekat di tubuhnya, sementara Arka melirik ke depan dengan raut wajah kaku yang tak terbaca.
Namun, di balik keheningan yang merayap itu, ada sesuatu yang telah bergeser secara radikal di dalam hati mereka berdua.
Sejak malam insiden hujan dan pelukan tak sengaja itu, atmosfer di dalam kediaman Mahendra mulai berubah secara perlahan, namun pasti. Jarak kaku yang selama ini sengaja dibangun oleh lembar kontrak satu tahun itu perlahan-lahan mulai terkikis oleh debaran-debaran halus yang enggan diakui oleh ego masing-masing.
Keesokan paginya, saat sarapan bersama di meja makan, Arka tidak lagi sepenuhnya mengabaikan kehadiran Nadira. Meski tidak banyak bicara, mata pria itu sesekali akan melirik ke arah pergelangan tangan Nadira, memastikan tidak ada lagi tanda-tanda wanita itu menyembunyikan luka atau kesedihan. Bahkan, ketika Ibu Sarah mencoba kembali mengungkit masalah utang masa lalu keluarga Nadira di meja makan, Arka dengan dingin memotong pembicaraan tersebut.
"Masalah keuangan masa lalu keluarga Nadira sudah selesai diselesaikan oleh tim legal saya, Ma. Tidak perlu dibahas lagi di meja makan ini," ucap Arka datar, membuat Ibu Sarah terbungkam seketika dengan wajah kesal.
Nadira yang mendengar pembelaan tak langsung dari Arka itu hanya bisa tertegun, menatap suaminya dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru yang samar. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian berdiri di rumah yang asing ini.
Perubahan kecil itu pun merayap hingga ke ruang kamar mereka. Arka kini sering kali kedapatan pulang lebih awal dari kantor, sengaja meluangkan waktu untuk duduk di ruang tengah menemani Opa Wijaya bermain catur—sebuah aktivitas yang ia tahu pasti akan melibatkan Nadira yang selalu datang membawakan teh hangat untuk mereka.
Mereka belum saling terbuka mengenai perasaan masing-masing, dan kesalahpahaman tentang Selena serta rahasia penyakit ibu Nadira masih menggantung sebagai misteri yang belum terpecahkan. Namun, di antara sela-sela kesunyian koridor rumah dan tatapan mata yang tidak sengaja saling bertemu di bawah pendar lampu malam, baik Arka maupun Nadira sama-sama menyadari: bahwa pelukan di bawah halte yang basah malam itu telah menyalakan sebuah percikan api yang tidak akan pernah bisa dipadamkan lagi oleh dinginnya lembar kontrak di antara mereka.