Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jakarta dan Karpet Merah Megantara
Jalanan aspal ibu kota yang berdebu menyambut kedatangan jip militer hitam yang membawa Jenderal Eshar Megantara dan Erica Fiorenza kembali dari perbatasan utara.
Jakarta pada tahun sembilan belas delapan dua itu sedang gencar dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat, kepulan asap oplet, dan hiruk-pikuk klakson mobil-mobil sedan keluaran Jepang.
Alih-alih langsung mengarahkan kemudi menuju kediaman utama klan Megantara yang megah di kawasan Menteng, Eshar memberikan instruksi pendek kepada Axelo yang mengemudikan kendaraan.
Mobil Jip tersebut berbelok langsung memasuki gerbang besi tinggi Markas Komando Distrik Militer (Kodim) khusus di pinggiran Jakarta.
"Kita tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk mempersiapkan diri, Erica," ujar Eshar, penuh kalkulasi saat mereka turun di depan barak kompi militer yang dijaga ketat.
"Jika kita langsung ke Menteng, Bianca dan Benny akan langsung memasang dinding pertahanan. Di sini, kita berada di wilayahku sendiri."
Erica turun dari jip dengan keanggunan seorang direktur mode yang tak luntur oleh perjalanan jauh, terpancar dari bagaimana ia langsung merapikan blus biru toskanya dari debu perjalanan.
Ia tersenyum dan menatap suaminya.
"Aku setuju. Di barak kompi ini, intelijen kita bisa bekerja dengan lebih leluasa tanpa terendus oleh mata-mata keluarga."
Axelo yang membawakan koper-koper mereka langsung berbisik dengan nada siaga,
"Nyonya Besar, kamar khusus untuk kalian sudah disiapkan. Tim medis juga sudah bersiaga jika luka Jenderal membutuhkan pemeriksaan pasca perjalanan jauh."
"Terima kasih, Axelo. Oh ya, pastikan telegraf ke pangkalan perbatasan tetap aktif untuk memantau pergerakan Mayor Bambang," perintah Erica teratur.
Selama beberapa jam, kompi militer itu menjadi pusat komando tak terlihat bagi Erica dan Eshar. Dari bilik kamar mereka yang sederhana dan berstandar militer, Erica mulai menerima laporan keuangan terbaru dari Fiorenza Fashion yang dikirimkan oleh asisten pribadinya di Jakarta, Hilya.
Sementara itu, Eshar duduk bersama beberapa perwira intelijen Jakarta untuk menyinkronkan bukti-bukti penyelundupan Daniel.
Siasat mereka telah tersusun rapi. Tapi, sebuah variabel baru muncul saat senja mulai menjelma di langit Jakarta.
Tok! Tok! Tok!
Axelo melangkah masuk ke dalam ruang tengah kamar khusus Eshar dan Erica dengan membawa sebuah amplop tebal berwarna maroon beraroma parfum mahal khas kelas atas di Menteng.
"Jenderal, Nyonya Besar," lapor Axelo, wajah humorisnya kini digantikan oleh senyuman seringai.
"Seorang kurir pribadi baru saja mengantarkan ini ke gerbang kodim. Kelihatannya, kepulangan kita ke Jakarta sudah terendus lebih cepat dari perkiraan." katanya sambil menyodorkan amplop tersebut.
Eshar menerima amplop itu dan membukanya dengan gerakan yang tegas. Di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan berlapis emas tipis.
Gala Bisnis Tahunan Megantara Corp & Rekan Global
Malam Penghargaan dan Kemitraan Investasi Baru
Tempat: Ballroom Hotel Kartika Plaza, Jakarta
Pukul: 19.30 WIB
Di bagian bawah undangan, terdapat tulisan tangan beraksen kaku yang sangat dikenal Eshar, yakni tulisan tangan kakaknya, Benny Megantara.
"Gala bisnis," gumam Eshar, matanya menyipit berbahaya.
"Benny ingin memamerkan kemitraan barunya dengan investor asing malam ini, sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa Megantara Corp tidak goyah meskipun posisi Daniel sedang goyang karena kasus penyergapan kita di perbatasan."
Erica melangkah mendekat, matanya yang bulat itu menatap undangan emas tersebut. Wajahnya juga kini dihiasi oleh senyuman seringai yang sangat menawan.
"Ini bukan sekadar gala bisnis, Eshar. Ini adalah panggung yang sengaja disiapkan khusus untuk membuktikan bahwa mereka masih berkuasa. Dan bagi kita, ini adalah tempat terbaik untuk melemparkan bom pertama kita langsung di depan para kolega mereka."
Eshar menatap Erica, rasa kagum terhadap istrinya tergambar jelas dari mata coklatnya.
"Kalau begitu, bersiaplah, Istriku. Kita akan menunjukkan pada mereka bagaimana singa perbatasan ini menghadiri pesta di ibu kota."
Pukul delapan malam, pelataran Hotel Kartika Plaza dipadati oleh deretan mobil mewah, mulai dari Mercedes-Benz Tiger hingga Volvo seri terbaru milik para pejabat negara dan pengusaha papan atas.
Alunan musik jazz klasik mengalir lembut dari dalam ballroom yang diterangi oleh lampu kristal gantung yang mewah.
Di tengah kerumunan tamu yang mengenakan gaun malam bermanik-manik dan setelan jas mahal, terlihat sosok Daniel Megantara berdiri di dekat pilar utama.
Meskipun wajahnya tersenyum ramah menyapa para kolega, binar matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang sedang melanda dirinya.
Di sampingnya, Bianca Megantara yang mengenakan kebaya sutra merah menyala dengan sasak sanggul tinggi khas sosialita Menteng terus melirik ke arah pintu masuk dengan cemas.
"Ma, apakah Paman Eshar benar-benar datang?" bisik Daniel dengan nada ketus yang tertahan.
"Jika dia membawa dokumen penyelundupan itu ke depan umum malam ini, hancur semua reputasiku di depan investor asing."
"Tenang, Daniel," desis Bianca dingin, matanya melebar seolah ingin menebar racun manipulatif.
"Eshar hanyalah seorang tentara kaku yang tidak tahu cara bermain dibelakang dalam dunia bisnis Jakarta. Lagipula, dia terluka di perbatasan, bukan? Dia tidak akan berani berbuat macam-macam jika masih ingin mempertahankan posisinya di Megantara Corp."
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu ganda ballroom yang besar dibuka lebar oleh petugas hotel. Suara obrolan di dalam ruangan mendadak senyap bagai disapu angin malam.
Langkah kaki yang seirama dan penuh wibawa terdengar memasuki karpet merah.
Jenderal Eshar Megantara melangkah masuk dengan pembawaan yang terlihat sangat mendominasi.
Malam ini, ia tidak mengenakan seragam loreng lapangan, melainkan setelan jas hitam double breasted khusus militer yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya yang tegap dan tinggi.
Perban di pundaknya tersembunyi sempurna, hanya terlihat aura kegagahan seorang panglima perang yang tak terkalahkan. Paras tampannya yang misterius tampak begitu dingin di bawah sorotan lampu kristal.
Tidah hanya itu, yang paling mencuri perhatian seluruh pasang mata di ruangan itu adalah wanita yang menggandeng lengan kirinya dengan erat.
Erica Fiorenza tampil memukau tanpa perlu mengenakan perhiasan berlian yang berlebihan. Dia hanya mengenakan gaun malam berpotongan sederhana tapi terlihat sangat elegan dari bahan sutra satin berwarna hitam, karya original dari butiknya sendiri, Fiorenza Fashion.
Rambut hitamnya ditata dalam sanggul modern yang rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih. Wajahnya yang manis memancarkan aura keanggunan, rasa percaya diri dan mental yang kuat.
Pasangan itu berjalan dengan langkah seiring yang sempurna, seolah-olah karpet merah itu adalah wilayah kekuasaan mereka sendiri.
Axelo berjalan beberapa langkah di belakang mereka dengan setelan jas hitamnya yang rapi, membawa sebuah tas kulit tipis yang berisi "hadiah" istimewa untuk malam ini.
Melihat kehadiran Erica yang begitu anggun dan Eshar yang tampak bugar tanpa luka sedikit pun, wajah Daniel seketika memucat. Gelas minuman di tangannya hampir saja tergelincir dari jemarinya yang mendadak bergetar.
Eshar menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di hadapan Daniel dan Bianca. Matanya yang setajam elang menatap langsung ke dalam manik mata keponakannya itu, terpancar aura intimidasi dingin yang sanggup meruntuhkan keberanian siapa pun.
"Selamat malam, Kakak Ipar. Selamat malam, keponakanku, Daniel." sapa Eshar, suaranya yang berat dan dalam terdengar begitu tenang. Tetapi yang terdengar di telinga mereka adalah ancaman yang mematikan di tengah ramainya sudut ballroom tersebut.
Erica menyunggingkan senyuman manisnya yang paling menawan, menatap Daniel dengan binar mata yang terasa dingin sedingin es perbatasan.
"Bagaimana kabar proyek garmen barumu di Jakarta, Daniel? Kudengar... kamu sedang sangat membutuhkan pasokan kain berkualitas tinggi akhir-akhir ini?"
Skakmat pertama di Jakarta dimulai.
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂