Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Terungkap
Deon telah tiba di pemakaman. Pria itu mengambil buket bunga Lily yang sudah tersedia di jok penumpang. Pria itu merapikan penampilannya lagi sebelum turun. Alis Deon saling bertaut ketika ia tidak menemukan wanita yang ia cari di sana.
"Dimana Alsha?" Deon melirik jam di pergelangan tangannya. "Biasanya jam segini Alsha sudah ada di pemakaman."
Makan kedua orang tua Alsha memang letaknya tidak jauh dari jalan. Berdiri di samping mobil saja sudah bisa tahu kalau memang ada orang di pemakaman. Namun, kali ini Deon merasa kecewa. Wanita yang ingin ia temui tidak ada di sana.
"Apa dia sudah pulang?"
Untuk memastikan apa benar Alsha sudah pulang, Deon masuk ke areal pemakaman sambil membawa buket yang ia beli. Sambil berjalan Deon memperhatikan satu persatu makam yang ia lewati. Tiba-tiba saja pria itu merasa takut. Ia mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di makan kedua orang tua Alsha.
Saat hampir sampai, Deon di kagetkan dengan makam baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam kedua orang tua Alsha.
"Alsha?" Deon mendekati makam yang namanya sama dengan mantannya tersebut. Pria itu memperhatikan tanggal lahir dan tanggal kematian yang tertera di baru nisan. "Kenapa tanggal lahirnya sama? Jika memang Alsha sudah meninggal, lalu yang tinggal bersama Youra siapa?"
Deon menggeleng dengan wajah pusing. "Tidak. Mungkin hanya kebetulan saja. Tidak mungkin Alsha sudah meninggal. Ada banyak sekali nama Alsha di dunia. Mungkin kebetulan saja nama dan tanggal lahir mereka sama."
Deon melanjutkan langkahnya. Ia berhenti di depan makam kedua orang tua Alsha sebelum meletakkan buket bunga yang ia bawa.
"Makamnya masih bersih. Belum ada taburan Bun di atasnya. Sepertinya hari ini Alsha tidak ke sini. Tetapi, pergi kemana Alsha? Apa dia berada dalam bahaya?"
Deon beranjak dan segera pergi. Pria itu ingin mencari keberadaan Alsha untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. Deon juga sangat mengkhawatirkan anak yang ada di dalam kandungan Alsha. Walau mereka belum bisa bersama, tetapi Deon sangat peduli dengan anak tersebut.
...***...
Axela baru saja tiba di markas. Wanita itu turun dari mobil dengan wajah kesal. Beberapa bawahannya yang ada di sana terlihat panik. Biasanya jika Axela muncul dengan wajah tidak bersahabat seperti itu, mereka semua yang ada di markas akan di buat repot.
"Bos, apa kabar?" sapa salah satu bawahan dengan wajah ramah.
Axela memandang wajah wanita itu sejenak sebelum melihat ke depan lagi. "Baik," jawabnya singkat sebelum masuk ke dalam. Beberapa wanita yang tadi sempat menyapa Axela kini saling memandang sebelum mengikuti Axela dari belakang.
Axela mengambil sebotol anggur merah sebelum membawanya ke sebuah mini bar. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana sebelum menuang anggur merah tersebut ke dalam gelas.
"Bos, apa kita memiliki misi baru? Apa anda baru saja menjalankan sebuah misi dan ...."
"Aku tidak sedang menjalankan misi baru. Semua berjalan lancar. Satu-satunya misi yang belum selesai adalah menyamar menjadi Alsha. Ini misi yang sulit hingga membuatku tidak tahu kapan akan berhasil," jawab Axela.
"Lalu, kenapa wajah anda kusut seperti itu Bos?"
"Ada pria songong tadi di jalan. Aku sangat membencinya. Kami sudah dua kali bertemu. Tapi, dalam situasi yang berbeda. Sepertinya dia juga tidak mengenaliku."
"Apa yang sudah dia lakukan hingga membuat anda marah, Bos?" tanya wanita tangguh itu penasaran.
Axela membanting gelas yang sudah kosong di atas meja sebelum menatap wajah wanita di depannya dengan saksama.
"Dia menggangguku saat sedang bermain di jalanan. Dia mengikutiku dan menghalangi jalanku. Ketika dia keluar dari mobil, kau tahu apa yang dia ucapkan?" Nada bicara Axela meninggi. Terlihat jelas kalau wanita itu masih emosi ketika membayangkan wajah Gibson.
"Tidak, bos. Sebenarnya apa yang dia katakan?"
"Dia bilang seperti ini." Axela berdiri tegak sambil menirukan gaya Gibson tadi. "Selamatlah kau hari ini karena kau seorang wanita!"
Bawahan Axela yang kebetulan ada di sana dan mendengar apa yang diceritakan Axela sampai menahan tawa. Mereka juga tidak mau terlihat seolah sedang meledek Axela karena itu akan membuat masalah baru.
"Bos, kenapa anda tidak menghajarnya saja?"
"Tadinya aku mau seperti itu. Tapi, aku tidak mau meninggalkan bekas luka di tubuhku. Aku nanti akan pulang ke rumah dan menyamar lagi sebagai Alsha. Bekas luka tidak akan hilang dalam hitungan menit."
Seorang pria muncul sambil membawa sebuah dokumen di tangannya. Axela kembali duduk ketika melihat pria tersebut. Sedangkan pengawal yang tadi sempat ada di sana menyingkir untuk memberi Axela waktu berdua bersama pria tersebut.
"Bos, ini informasi yang anda minta." Pria itu meletakkan dokumen yang ia bawa di depan Axela.
"Bacakan saja intinya. Aku tidak tertarik membuka dan membaca berkas setebal itu satu persatu," tolak Axela sebelum menuang lagi anggur merah ke dalam gelasnya.
"Baik, Bos." Pria itu mengambil informasi lengkap tentang Youra terlebih dahulu. "Youra merupakan anak yang tidak memiliki ayah sejak lahir. Ibunya ditinggal pergi oleh pria yang sudah menghamilinya. Setelah itu ibunya-"
"Itu tidak penting. Aku ingin tahu bagaimana cara mengalahkan Youra! Bukan ingin mendengar asal usulnya," protes Axela.
"Maaf, Bos." Pria itu menunduk sebelum membuka lembar selanjutnya. "Youra kehilangan keperawanannya saat usia 15 tahun. Ayah tirinya yang sudah melakukan semua itu!"
"Tunggu. Maksudmu ayah kandung Alsha?"
"Tidak, Bos. Tetapi, pria yang sebelumnya pernah dinikahi Ibu kandung Youra."
"Bagus. Aku bisa menggunakan rahasia ini sebagai senjata. Lanjutkan. Apa lagi informasi yang kau dapat."
"Luisa baru saja merintis karirnya di dunia model. Sifatnya penakut. Ia memiliki karakter mudah di hasut. Beberapa minggu lagi Luisa akan menjadi icon sebuah brand ternama. Jika saja dia sampai gagal datang ke lokasi pemotretan, kemungkinan besar karirnya akan hancur. Dia tidak akan dipercaya oleh agen manapun karena tidak on time," jelas pria itu lebih semangat. "Sepertinya untuk masalah seperti ini sangat mudah, Bos. Biar saja yang menculiknya nanti."
"Bagus. Lalu, bagaimana dengan pria bernama Gibson?"
"Gibson?" Pria itu mengeryitkan dahi dan membuka beberapa lebar tumpukan di atas. Bibirnya tersenyum ketika dia berhasil menemukan berkas yang dia cari.
"Di sini tidak ada nama yang jelas, Bos. Tetapi dari informasi yang saya dapat, Youra sengaja menjual nona Alsha untuk menebus hutang keluarganya. Hutang keluarga Andra akan lunas apabila Nona Alsha menikah dengan seorang pria kaya raya."
"Apa? Jadi Alsha mau menikah karena di paksa?"
"Ya, benar Bos."
"Benar-benar keluarga kejam. Mereka tidak hanya memiliki niat untuk merampas seluruh harta yang dimiliki Alsha, tetapi juga memiliki niat untuk menjual tubuh Alsha kepada pria hidung belang."
"Nona, apa anda sudah bertemu dengan pria yang akan dinikahi Nona Alsha? Jika Nona Alsha telah hamil, bukankah itu berarti pria yang akan menikahi Nona Alsha sudah tidak mau lagi. Apa jangan-jangan Nona Alsha sengaja melakukan perbuatan seperti itu dengan Deon agar pria yang ingin menikahinya tidak mau lagi dan membatalkan perjanjian ini?"
"Masuk akal juga. Tetapi, Alsha tidak seperti itu. Aku yakin, dia pasti memiliki rencana lain agar bisa terlepas dari semua masalah ini. Sayangnya dia mudah putus asa."
Ponsel Axela berdering pertanda ada pesan masuk. Ia membuka pesan tersebut dan segera melebarkan kedua matanya.
"Non, anda ada di mana? Nyonya Youra mencari anda. Anda sudah terlalu lama keluar."
Pesan itu dikirim oleh Bi Ina.
"Gawat! Jam berapa sekarang?"
"Jam enam sore, Bos."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku harus segera kembali ke rumah itu. Mereka akan curiga," ujar Axela kebingungan. Ia segera melangkah pergi meninggalkan markas. Pria yang tadi berbincang dengan Axela hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Padahal masih banyak lagi rahasia yang tersembunyi yang belum aku beri tahu. Aku akan memberi tahu Bos Axela lewat telepon saja," ujar pria itu di dalam hati.
Surprise
Kapan ?
Dimana?