Spinn Off cerita dari Vira dan Firlan dari novel "Pesona Cinta Amartha". Kelakuan Vira yang seperti bocil dan sifat keras Firlan membuat hubungan cinta keduanya semakin sulit untuk dilanjutkan ataupun diakhiri. Kehadiran Gusti yang notabene duda beranak satu pun semakin memperkeruh suasana. Bagaimana akhir cerita dari Vira dan Firlan? apakah mereka akan bersatu dalam satu ikatan perkawinan? ataukah mereka memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suapan Untuk Vira
Keesokan harinya di ruang kelas Vira. Wanita itu sedang membereskan kembali ruangannya setelah tadi dipakai untuk mengajar kelas painting. Anak-anak merasa senang mengikuti kelas karena sosok Vira yang bukan seperti seorang guru les, tapi lebih mirip teman untuk mereka. Vira yang ceria dan masih suka bermain pun sangat nyambung dengan anak-anak ini.
"Baru jam 11 siang, masih ada waktu buat merajut..." kata Vira setelah melihat jam tangannya.
Vira mengeluarkan alat rajutnya, lalu dengan lincahnya ia menjalin benang dari kedua alat yang ia pegang dengan tangannya. Ia akan membuatkan syall untuk Evren, anak dari sahabatnya.
Selama satu jam, Vira berkutat dengan pekerjaannya. Terdengar suara ketukan pintu bersamaan dengan selesainya rajutan syall buatan Vira.
Vira segera meletakkan syall berwarna cokelat muda itu kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Tanteeeeee!" sebuah sapaan anak kecil terdengar nyaring di telinga Vira saat pj tu seudah ia buka lebar.
"Gia...?" Vira terkejut dengan kehadiran sosok gadis kecil yang ada di hadapannya.
"Kamu kesini sama siapa, Sayang?" Vira berjongkok memegang kedua tangan Gia.
Kemudian munculah sosok pria yang bertemu dengan Vira kemarin disusul dengan Penny pengasuh Gia.
"Anda?" Vira berdiri dan menatap pria itu dengam bingung.
"Jadi, Gia yang anda maksud adalah Gia..." ucap Vira menggantung.
"Benar, Nona. Perkenalkan saya Larry, asisten tuan Gusti,"
"Astaga," Vira menutup mulutnya.
"Tante, apakah aku boleh masuk ke dalam?" tanya Gia.
"Oh, boleh boleh, Sayang. Maaf ... ayo kita masuk,"
"Kalau begitu saya permisi," kata pria bernama Larry.
"Nona kecil, supir anda menunggu di luar. Jadi, apabila kelas sudah selesai Nona bisa..."
"Ya aku tau!" serobot.
"Baiklah kalau begitu, permisi..." Larry berbalik badan dan berjalan ke arah mobilnya.
"Tante..." Gia menyentuh jari kelingking Vira dan menggoyangkannya.
"Eh, iya. Ayo masuk Gia ... ayo, Mbak?" ucap Vira pada Gia dan Penny.
Vira membawa Gia masuk ke dalam ruang kelasnya yang begitu nyaman.
"Woaaah! aku suka dengan warna-warna ini," kata Gia menyentuh tembok.
"Kau suka tempat ini?" tanya Vira tersenyum.
"Sangat!" sahut Gia dngan wajah berbinar.
Namu ketika nona kecil sedang melihat-lihat ruangan itu dengan detail, terdengar suara kruk kruk perut Vira.
"Tante? aku juga lapar," kata Gia menyahuti suara perut Vira.
Vira memandang Penny meminta jawaban.
"Tapi..."
"Kita makan di luar. Tante mau, ya?" rengek Gia yang ingin mengajak Vira jalan keluar.
"Bagaimana?" Vira bertanya pada Penny.
"Aku meminta izin tuan terlebih dahulu," kata Penny yang mengeluarkan ponselnya dan menjauh dari Vira dan Gia.
"Sebentar ya? Penny akan meminta izin dulu dengan papi Gia..." ucap Vira berjongkok di depan Gia, menyamai tinggi gadis itu.
"Baiklah," kata Gia pasrah.
"Anak pintar!" puji Vira.
Tak lama Penny kembali dan memberitahu jika Gusti mengijinkan mereka untuk keluar dan makan.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ujar Gia tak sabaran.
"Iya iya, sebentar tante ambil tas dulu, ya?" Vira berdiri dan membuka loker tempat ia menyimpan tasnya.
Dan mereka pun pergi menaiki mobil menuju sebuah restoran.
Sepanjang perjalanan Gia nemplok terus dengan Vira. Penny yang melihat itu benar-benar tidak menyangka jika Vira bisa mendapatkan hati Gia secepat itu.
Dan setelah beberapa saat mobil mereka berhenti di sebuah restoran.
Vira membantu nona kecil itu turun dari mobil lalu menggandengnya masuk ke dalam.
Gia menunjuk sebuah meja dan mereka pun duduk ditempat yang sudah Gia tentukan.
"Silakan, Nyonya..." kata seorang pelayan seraya menyodorkan buku menu.
Mata Vira mendadak kedap-kedip melihat daftar harga setiap menu yang akan membuat isi dompetnya mendadak ludes dalam sekejap.
"Buset! harganya lawak banget, dah! satu menu aja bisa ratusan ribu! ckc ck ckc," batin Vira. Wanita itu dengan susah payah menelan salivanya.
Jari imut Gia dengan lincahnya menunjuk apa saja yang ingin ia makan. Vira mendadak kelu, ia mencoba menghitung berapa duit yang harus ia keluarkan untuk memberi makan anak ini.
Di tengah kesetresannya, munculan sosok ayah dari nona kecil nan imut yang sedang sibuk memilih minuman.
"Gia?" panggil pria itu pada anaknya.
"Papi?" seru Gia senang. Penny yang semula dudum disamping Gia langsung beranjak dan pindah ke sebelah Vira.
"Gia sudah pesan makanan?" kata Gusti seraya menarik kursi di samping Gia, dan mendudukinya.
"Sudah," kata Gia yang tersenyum ceria.
"Kamu sudah pesan?" kali ini Gusti bertanya pada Vira.
"Ehm, belum..." jawab Vira lirih.
"Mungkin kamu harus mencoba menu ini," kata Gusti menunjuk sebuah menu di buku yang sedang Vira buka.
"Yang ini saja, Mbak..." Vira menunjuk menu yang tadi ditunjukkan Gusti.
Setelah mereka menentukan masing-masing makanan yang ingin mereka nikmati siang hari ini, pelayan pun pergi meninggalkan meja yang berada di satu sudut restoran itu.
"Apa yang sudah kamu pelajari hari ini?" tanya Gusti pada Gia.
"Belum ada," jawab Gia jujur.
"Maaf, Gia datang 1 jam lebih awal dari jam lesnya. Dan dia minta untuk ditemani makan, jadi kami belum memulai apapun..."
"Oh, begitu. Haha, maaf ... mungkin Gia begitu bersemangat ingin bertemu dengan kamu. Makanya ia datang lebih awal,"
"Iya, nggak masalah sih ... hanya saja, aku kaget ternyata Gia Putri Alvaro itu nama anak cantik ini," kata Vira seraya menyentuh tangan Gia yang ada di atas meja.
"Iya, aku menyematkan nama ibunya ditengah nama Gia..."
Makanan pun datang dan mereka mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja, ditemani rintik gerimis siang itu.
"Tante, buka mulutnya..." Gia menodong Vira dengan finger chicken. Vira yang duduk berhadapan dengan Gia pun melirik Gusti. Dia tidak tahu harus menerima suapan itu atau tidak.
Gusti mengangguk memberi persetujuannya. Dengan canggung Vira pun mencondongkan tubuhnya ke depan dan membuka mulutnya saat jari kecil itu memberinya potongan ayam berbentuk stick.
"Enak, Tante? Tante harus makan yang banyak seperti Gia. Iya kan, Pih...?" tanya Gia yang memberi Vira satu potong finger chicken lagi.
"Sudah, Gia. Mulut tante sudah terlalu penuh..." kata Vira dengan susah payah.
"Papih, Gia sudah selesai," kata Gia pada Gusti.
"Penny, antarkan aku ke toilet." kata Gia yang kemudian turun dari kursinya.
"Baik, Nona..."
"Lanjutkan makananmu, biar saya saja yang mengantar Gia..."
"Biar Penny saja, Vira..." Gusti mencegah Vira untuk berdiri.
"Betul yang dikatakan tuan. Biar saya saja mbak Vira..." kata Penny.
"Ayolah, aku udah nggak tahan," Gia menarik tangan Penny agar mau mengikutinya.
Sedangkan Gusti hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan Gia.
"Lanjutkanlah makananmu," kata Gusti pada Vira. Wanita itu tersenyum canggung, dia tidak biasa duduk berhadapan seperti ini dengan Gusti.
...----------------...
ceritamu selalu bisa bikin hati hanyut thor. semangat Thor ❤️