Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.
Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.
Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.
Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?
⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga bahagia
Nampak sebuah mobil sedan hitam, telah berhenti tepat di belakang mereka. Jendela belakangnya terbuka dan seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam putih biru, menyembulkan kepalanya ke luar.
"Riri!" panggilnya.
Kedua gadis yang tengah berdiri di luar gerbang pun seketika menoleh ke belakang, melihat siapa yang berteriak itu.
"Kak Arya!" gumam Riri.
Mari menoleh ke arah Riri, karena mendengar ucapannya barusan.
"Kakak?" batin Mari.
"Kakak!" pekik Riri kecil kemudian dan berlari ke arah mobil sedan hitam itu, meninggalkan Mari yang menatapnya dengan datar.
Anak laki-laki bernama Arya itu sekilas menatap Mari, dan kemudian beralih kembali kepada sang adik.
"Kamu kenapa di luar sih?" tanya anak laki-laki itu yang keluar dari dalam mobil dan menghampiri sang adik.
Riri menghambur memeluk sang kakak laki-lakinya.
"Riri nyasar tadi, Kak." Tangisnya kembali pecah saat telah berada di dalam pelukan sang kakak.
Arya pun membalas pelukan sang adik dan menepuk-nepuk pelan punggung Riri kecil.
Mari masih berdiri di tempatnya, dan masih memandangi interaksi kedua kakak beradik itu dengan tatapan datarnya.
Pak supir membunyikan klakson, pertanda meminta untuk segera dibukakan gerbang untuknya masuk.
Sekuriti yang tadi sempat berdebat dengan Mari, segera membukakan pintu gerbang dan membiarkan mobil sedan hitam tadi masuk.
Mari menyingkir dari depan sana, saat sekuriti itu mulai membuka gerbang besar itu.
"Ayo kita pulang!" ajak Arya sambil merangkul pundak sang adik perempuan.
Riri menahan langkah kakaknya, dan menoleh ke arah di mana Mari masih berdiri.
Sang kakak laki-laki itu pun turut memperhatikan gadis, yang masih berdiri di tempat semula.
"Apa dia temanmu?" tanya Arya kepada Riri kecil.
Riri mengangguk cepat.
"Kalau begitu, ajak dia masuk juga."
Riri pun mengembangkan senyumnya. Dia segera menarik tangan Mari kecil yang sedari tadi terdiam.
"Ayo, masuk!"
Mereka bertiga pun berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah besar itu.
Begitu melangkahkan kakinya melewati gerbang, Mari dibuat terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Matanya berbinar melihat cantiknya bunga-bunga yang berjejer membentuk sebuah barisan di sisi kiri dan kanan, sepanjang jalan menuju ke sebuah bangunan utama di depan sana.
Terdapat sebuah ayunan yang berada tepat di depan kolam ikan, dengan corong air mancur di tengahnya.
Pandangannya terhenti saat ia melihat seorang tukang kebun, yang tengah memugar tanaman di dalam pot yang telah penuh sesak oleh akar, agar tanaman itu bisa berkembang lebih baik lagi.
Dia begitu tertarik dengan kegiatan yang tengah tukang kebun itu lakukan, hingga Mari menghentikan langkahnya dan terus memandangi orang itu.
"Mari!" panggil Riri kecil yang telah sampai di depan pintu.
Ia menoleh ke belakang, dan mendapati bahwa Mari tidak ada di sana. Ia pun mengedarkan pandangan dan melihat Mari sedang berdiri di tengah jalan.
Mari yang merasa terpanggil pun menoleh. Ia sekali lagi menatap ke arah tukang kebun itu dan tersenyum, lalu kemudian berlari kecil menuju di mana Riri berada.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Riri heran.
"Nggak ada kok. Cuma lihat bunga aja." Mari menyahut seadanya.
"Ayo masuk!" ajak Arya sambil terus menggandengan sang adik dengan posesifnya.
Mereka pun masuk ke dalam bangunan yang berdiri megah di tengah hamparan taman bunga, yang baru saja Mari lewati.
Begitu masuk, Mari disambut dengan sebuah foto keluarga yang sangat besar tergantung di tembok, tepat di hadapannya.
Entah kenapa, matanya mendadak perih dan setetes bening menetes dari sana tanpa ia sadari.
Ia seolah terhipnotis oleh foto itu, di mana di dalamnya nampak seorang pria dewasa bersama dengan wanita dewasa yang mungkin adalah istrinya, duduk sambil memeluk seorang anak perempuan yang terlihat seperti Riri, dan seorang anak laki-laki yang berdiri di belakang mereka, sambil memeluk Riri dari belakang. Mereka terlihat sangat bahagia.
Sangat berbeda dengan dirinya, yang terlahir di tengah keluarga yang tak berada. Mempunyai ayah yang kejam dan kerap kali menyiksa sang ibu, juga seorang kakak tiri yang sama sekali tak peduli dengan kesusahan yang tengah mereka alami.
"Ibu," ucapnya lirih.
Riri menoleh ketika ia tak sengaja mendengar gumaman Mari.
"Mari, kamu menangis?" tanya Riri kecil yang melihat pipi Mari telah basah.
Mari kecil pun segera mengusap lelehan bening itu, dan menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum.
"Nggak kok," jawab Mari.
"Ayo ke kamar ku! Kak, boleh kan?" ucap Riri kecil dua arah, mengajak Mari dan bertanya pada sang kakak.
Arya hanya mengangguk pelan. Anak laki-laki itu tak banyak bicara, namun sedari tadi dia selalu memperhatikan gerak gerik Mari.
Kedua gadis kecil itu kemudian berjalan menuju lantai atas, di mana kamar Riri berada.
Mari kembali dibuat takjub dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Luas sekali. Rumahku saja kalah besar dengan kamar ini," gumamnya dalam hati.
"Ayo, Mari. Kita main boneka bareng!" ajak Riri.
Mari kecil tersadar dari rasa takjubnya, dan berjalan menghampiri teman barunya itu.
Dia memandangi kumpulan boneka-boneka besar, lengkap dengan rumah-rumahannya yang berada di sebuah sudut kamar bernuansa serba pink itu.
Mari melihat ke kanan dan kiri, memilih boneka mana yang akan ia ambil. Ia mencari boneka yang sudah usang atau bahkan yang sudah rusak untuk ia mainkan. Tapi, dia kembali dibuat bingung karena semuanya masih sangat bagus.
Kebiasaan hidup di kampung kumuh, membuatnya enggan untuk menyentuh benda-benda yang masih terlihat bagus. Sang pemilik akan mengira bahwa ia akan mencurinya, jika sampai melihat Mari memegangnya.
Terlebih lagi, Mari yang selalu terkucil dan hanya bisa mengais mainan bekas yang sudah rusak, kemudian dibuang oleh pemiliknya.
Riri melihat temannya itu diam saja dan hanya melihat-lihat boneka miliknya yang berjumlah puluhan bahkan mungkin mencapai ratusan itu.
"Kamu nggak suka main boneka?" tanya Riri kecil.
"Suka," jawab Mari singkat sambil matanya terus mencari-cari boneka mana yang harus ia ambil.
"Terus, kenapa diam? Ayo ambil satu lalu kita main rumah-rumahan." Riri merasa kesal karena Mari terus diam, dengan bola mata yang mengabsen satu persatu koleksi bonekanya.
"Ehm … ada boneka yang udah lama nggak?" tanya Mari kemudian.
"Ini semua boneka lamaku. Minggu ini Mamih belum beliin aku boneka baru lagi," jawabnya enteng, sambil menyisir rambut boneka besar seukuran bayi, yang ia dudukkan di depannya.
"Hah … Kamu beli boneka tiap minggu?" tanya Mari tak percaya.
"Ehm …," Riri kecil hanya mengangguk sambil terus sibuk dengan bonekanya.
"Aku boleh ambil yang mana aja?" tanya Mari ragu-ragu.
Riri menatap Mari, lalu kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
Mari kecil pun tersenyum senang. Ia mengambil asal boneka yang ada di hadapannya. Sebuah boneka barbie berukuran besar, dengan gaun biru langit yang berkilauan, dan rambut emas yang menjuntai panjang hingga pinggangnya.
Ia kemudian duduk bersimpuh di atas karpet yang membentang di area bermain Riri. Untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan bagaimana rasanya bermain bersama dengan seorang teman seusianya dengan tenang.
Dia bahkan bisa memainkan mainan sebagus itu, tanpa perlu merasa takut dituduh akan mencurinya. Mari dan Riri tertawa riang dan salong sahut, seolah mereka menjelma menjadi boneka yang dipegang masing-masing.
Sudah satu jam mereka bermain, namun kegembiraan itu tak pernah surut sama sekali. Hingga sebuah suara teriakan dari luar kamar, mengalihkan perhatian kedua gadis kecil itu.
"Riri! Riri!"
Terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil nama Riri kecil.
"Mamih! Mamih …." Riri beranjak dari tempatnya dan segera berlari menuju pintu, meninggalkan Mari yang masih tertegun di tempat.
Pintu pum terbuka, dan terlihat seorang wanita cantik yang adalah Mamih Riri, telah berdiri di depan sana sambil membawa beberapa paper bag di kedua tangannya.
"Anak Mami lagi ngapain?" tanya wanita itu sambil membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan sang putri.
"Lagi main, Mih!" ucap Riri kecil tersenyum riang.
Mamih Riri melihat ke dalam kamar, dan matanya tak sengaja melihat keberadaa seorang gadis berpakaian lusuh dan dekil, tengah duduk di dalam kamar putri kecilnya.
Wanita itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan memasuki kamar Riri, dengan kedua tangan yang penuh dengan shopping bag.
.
.
.
.
Apa yang akan terjadi pada Mari kecil yah🤔
ini masih flash back yah, kalau tanya kapan selesai flash backnya, cek spoilernya di ig ku yah @shan_neen2601
jangan lupa tinggalkan like dan komen (sukur2 kembang ama kopi 🤭) kalau kamu suka sama ceritanya sebagai bentuk dukungan kepada penulis🙏😊
*cmiiw
❤❤❤❤❤❤