Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.
*******
Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.
Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.
Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Mandi Madu
Keadaan sore yang tenang seketika berubah heboh karena lengkingan teriakan Syafi yang di siram Mayfa. Perdebatan antara dua laki-laki beda generasi pun berakhir saat mendengar teriakan itu. Supir taksi online yang beruntung karena teriakan Syafi, dua orang laki-laki yang berdebat tadi sama-sama sepakat membayar doble ongkos taksi. Dari arah dalam rumah, Rosalina, dan keempat anaknya yang lain juga berlarian keluar rumah. Melihat Syafi yang basah kuyup, membuat Pak Said bingung memarahi putrinya atau menertawakan Syafi.
“Fa ….” Jerit Rosalina, kesal melihat perbuatan putrinya yang menyambut tamu dengan semburan air.
“Sudah meresap apa belum air do’a-nya?” teriak Mayfa. Mayfa menoleh kearah mamanya. “Ni orang ngeruqyah-nya pakai air yang mengalir, kalau air dari botol gak mempan bund!” oceh Mayfa.
Syafi berjalan mendekati Mayfa dengan raut wajah kesalnya. Tanpa expresi apa-apa dia terus mendekat pada Mayfa, merebut kasar selang dengan air yang masih menyala. Mayfa merasa was-was, alamat temannya ini mengeluarkan jurus dendam Tri Kesumat, Mayfa perlahan bersembunyi di balik punggung mamanya, sesomplaknya Syafi kepada orang tua dia tidak kurang aj*r, cuma kadang kurang asyem sedikit.
Dirga dan Ardhin bingung dengan apa yang mereka lihat, apalagi melihat Syafi basah kuyup. Di luar perkiraan Mayfa, bukan hal yang dia takutkan yang terjadi. Tapi, Syafi mulai menggila, sambil berjoget menyemprotkan air kesegala penjuru hingga mengenai siapa saja.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Basah-basah-basah seluruh tubuh …
Ah-ah ahhh menyentuh Syahdu …
Manis-manis-manis semanis madu …
Ah-ah-ahhh menyentuh kalbu …
Basah diri ini … basah hati ini
Kasih dan sayangmu, menyirami hidupku
Bagaikan mandi madu ...
Ah-ah-ahhh Mandi maaduuu
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
“Ayooo calon maduku, kita mandi bareng ....” Menyemprotkan air kearah Rosalina.
“Syafiiii .…” teriak Rosalina.
Sekarang teriakan bukan hanya keluar dari mulut Syafi dan Rosalina, tapi siapa saja yang terkena semprotan air darinya. Seketika keadaan semakin heboh.
“Argggtttt!” teriak Mayfa, sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Bukan kesal karena basah. Tapi, kesal dengan lagu yang Syafi nyanyikan. Dia paling pusing kalau dengar Syafi bernyanyi jika dalam lagu itu ada kata ‘ah-ah-ah,’ namun temannya itu malah gemar membuat Mayfa kesal, sengaja menyanyikan lagu yang membuat Mayfa pusing.
Sisi baru dari Syafi yang membuat Dirga semakin terpukau dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Dirga tidak menyadari kalau dirnya juga basah karena air yang Syafi semprotkan kesegala penjuru arah.
Ardhin sungguh malu melihat keponakannya ini, dia mengambil selang yang Syafi pegang, merebutnya dari tangan keponakannya itu.
“Aul!” tegur Ardhin.
“Waw … pompa air Jimatzu luarr biazahh semprotannya, bikin basahhh, ahh ... Jimatzu ….” teriak Syafi.
“Ya salam … dia malah iklan pompa air.” Mayfa berusaha menahan kekesalannya. “Sis, bunuh makhluk ini, dosa gak?” tanya Mayfa pada lima saudarinya.
“Gak tau sis, tapi aku mual lihat tu orang!” ucap Astri.
“Tahan dulu sis ….” ucap Marcelina.
Pak Said heran melihat rekan bisnisnya mengenal teman Mayfa, bahkan berani membentaknya. “Ardhin, dia siapa kamu?” tanya Pak Said.
“Ayah kenal sama Abah?” Syafi balik bertanya pada Pak Said.
“Abah?” Pak Said juga balik bertanya.
“Dia Syafi keponakan saya,” jelas Ardhin.
“Owalah ….” Pak Said tidak menyangka, gadis somplak teman anaknya adalah keponakan rekan
bisnisnya.
“Jangan bilang kalau Ayah sudah melamar saya lewat paman,” canda Syafi.
“Sis … gali tanah di kebun belakang! Kita kubur hidup-hidup ni anak!” seru Mayfa pada saudari-saudarinya. Enam anak gadis itu kompak menyeret Syafi kedalam rumah mereka.
Pandangan mata Dirga masih fokus memandangi Syafi, walau ada enam gadis lainnya yang lebih cantik dari Syafi di depan matanya.
Rosalina tertawa lepas melihat kelakuan keenam anaknya seperti itu. “Ya salam … keponakan Pak Ardhin sangat luar biasa. Di rumah ini satu orang Mayfa saja rumah ini heboh, seminggu yang lalu di tambah Syafi, ampun … seru banget Pak. Nemu di mana anak jenis begitu Pak?” Rosalina berusaha berhenti tertawa, namun sulit.
“Bagi orang lain, kelakuan Syafi sangat menghibur. Tapi, rada menakutkan bagi saya,” keluh Ardhin.
“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan Paman, dan hal itu adalah keunikan dari Syafi, yah ... walau sedikit aneh bagi orang nomal,” sela Dirga.
“Lah ini siapa lagi?” tanya Pak Said.
“Ini anak angkat saya yang sering saya ceritakan dulu sama Pak Said,” jawab Ardhin.
“Walah dalah … ini toh orangnya, salam kenal nak.” Pak Said langsung menyalami Dirga.
“Nanti dulu kenalannya, ayok masuk kedalam, basah semua ini gara-gara Syafi,” ajak Rosalina.
Semuanya masuk kedalam rumah Pak Said. Para pelayan Pak Said langsung menyediakan baju ganti buat Dirga dan Ardhin. Ardhin dan Dirga pasrah, tidak bisa kalau tidak ganti baju, karena mereka juga basah karena ulah Syafi.
Sedang kehebohan terjadi di kamar Mayfa, ketujuh anak gadis itu malah asyik bercanda di kamar itu. Lupa kalau ada anggota lain yang menunggu mereka di bawah. Syafi sudah ganti baju, dia memakai baju Mayfa. Suara gelak tawa santar terdengar dari arah kamar Mayfa, entah apa yang mereka bicarakan. Suara ketukkan pintu membuyarkan keseruan mereka.
“Eh … sudah sis, ayok kita turun, kayaknya calon suami Syafi sudah rindu sama dia, itu pasti Ayah yang menyuruh pelayan manggil kita,” ujar Mayfa.
“Enak saja calon laki! Itu anak angkat paman aku, ntar aku bicarain sama Ayah kamu, supaya jodohin Dirga sama lo!” ejek Syafi.
“Sudah! Ayok turun guys ….” Ajak Eren.
Tujuh bidadari itu segera menuruni tangga. Pandangan mata orang-orang yang tadi tengan asyik bicara, kini sorot mata mereka ter-arah kearah tangga, di mana tujuh bidadari sedang menapaki anak tangga untuk turun ke bawah. Melihat Dirga yang memandang kearah tangga, Dirga enggan mengedipkan matanya, membuat jiwa iseng Syafi bangkit.
“Ciyeee, kak Dirga pasti bingung mau milih yang mana ya?” goda Syafi.
Merasa Namanya disebut, Dirga segera menyadarkan dirinya. “Siapa yang bingung?” balas Dirga.
“Kakak lah yang bingung, bingung mau yang mana buat dimasukkan kedalam hati, karena cantik semua,” goda Syafi.
“Enggaklah, karena di hati saya sudah ada satu, saya tata dan saya kunci, biar dia enggak bisa lari lagi. Bahkan saya sudah masukkan dia ke dalam hati saya, saat saya pertama kali melihatnya,” jawab Dirga.
“Wow … siapa itu kak?” Syafi sungguh antusias.
“Kamu,” ucap Dirga.
“Ciiihaaa! Hiya-hiya-hiyaa ….” Dengan gaya somplaknya Syafi heboh sendiri.
“Ratu gombal di gombalin sis ….” teriak Mayfa.
“Ayah … bagaimana?” tanya Syafi pada Pak Said.
“Bagaimana apaan?” Pak Said bingung dengan pertanyaan Syafi.
“Itu … calon mantu pilihan aku, buat salah satu anak ayah, sebagai calon ibu sambung yang baik, aku harus memikirkan nasib anak-anak sambung aku juga, Ayah ….”
“Pak Said, ada pisau nggak? Rasanya kok begini banget ya?” Ardhin berusaha mengatur napasnya. “Kalau begini, mending kamu bunuh Abah sekarang, Aul!” ringis Ardhin.