"Aku harus menikahi Maura dan membalaskan dendamku kepadanya," Dave mengepalkan tangannya geram setelah ia dinyatakan bebas dari jerat hukum yang menderanya.
Beberapa waktu lalu, dalam keadaan mabuk, Dave menabrak seorang pemuda dan meninggalkannya terkapar seorang diri.
Leo adalah ayah dari Maura yang juga seorang jaksa yang menyelidiki kasus tabrak lari Dave. Leo menyuruh Maura untuk mendekati Dave dan mendapatkan barang bukti agar Dave bisa dijebloskan ke jeruji besi.
"Aku akan menceritakan semua rahasiaku kepadamu, tetapi dua hari lagi kita harus bertunangan," ucap Dave yang sudah tergila gila pada Maura. Tanpa ia sadari, Maura merekam semua ucapannya.
Bagaimanakah kisah cinta antara Dave dan Maura Sanggupkah Dave balas dendam kepada wanita yang masih ia cintai?
Cover Source : Pinterest.
Setting tempat : Paris, Perancis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zinnia Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Razel
Rumah Sakit Pitie Salpetriere
Hari ini Jaksa Leo dan Sophie, istrinya sedang berada di perjalanan untuk mengunjungi Rumah Sakit Pitie Salpetriere. Jaksa Leo segera memakirkan mobilnya saat mereka sudah sampai di tempat parkir rumah sakit. Tampak dokter dan perawat yang berlalu lalang dengan segala kesibukannya. Jaksa Leo dan istrinya segera melangkahkan kakinya menuju ruang ICU lantai satu, tempat di mana Razel sedang dirawat secara insentif. Terlihat Eric (Ayah Razel) sedang duduk di ruang tunggu ditemani oleh Esme (Ibu Razel).
"Eric?" Sapa Jasa Leo seraya mendekati Eric dan Esme.
"Leo?" Eric mendekati Leo, dan memeluk teman SMA nya itu. Sophie pun refleks memeluk Esme. Tampak Esme menangis tersedu-sedu di pelukan Sophie.
"Razel pasti kuat!" Sahut Sophie menenangkan seraya melihat Razel dari kaca luar ruangan, nampak Razel sedang terbaring dengan keaadaan tidak berdaya.
"Bagaimana keadaan Razel?" Tanya Jaksa Leo
"Kemarin kondisinya drop, dokter bilang dia membutuhkan banyak darah. Untunglah ibunya berhasil mendonorkan darahnya. kondisi Razel lebih baik hari ini. Tadi pagi dia membuka matanya walaupun dia belum bisa berbicara, dan semua tubuhnya tidak bisa digerakan. Tapi aku yakin dia akan sembuh dan kembali bersama kami," ucap Eric, ayah Razel dengan mata berkaca-kaca.
'Razel adalah anak yang kuat. Aku yakin dia akan segera sembuh. Dan mulai membantumu lagi berjualan di Cafe" Jaksa Leo menepuk bahu Eric pelan.
Ketika pulang kuliah, Razel terbiasa membantu pekerjaan orang tuanya di Cafe. Dia membantu ayahnya untuk menyajikan hidangan kepada pembeli, tak jarang juga Razel membantu ayahnya memasak. Karna kepandaian Razel dalam memasak cukup baik.
Ayah Razel adalah seorang koki di Cafe milik mereka sendiri, Cafe itu menyajikan makanan khas Perancis. Cafe itu kecil namun penghasilan dari Cafe itu cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, dan dapat menyekolahkan Razel dan adik-adiknya. Menginjak Semester ke dua, Razel mendapatkan beasiswa dari universitas itu karna kecerdasannya menguasai ilmu pengetahuan bisnis. Tak Heran bila ia termasuk salah satu mahasiswa terpintar di kelasnya mengalahkan Valerie putri pebisnis hebat di Paris.
"Iya, dia anak yang kuat. Aku yakin dia akan segera sembuh."
Tak lama kemudian, datanglah seorang dokter di ikuti dengan dua perawat di belakangnya.
"Maaf nyonya! Pasien akan dokter periksa dulu," perawat itu membungkukan badannya sopan. Eric hanya menganggukan kepalanya. Perawat itu langsung menggeser tirai dan menutup kaca, sehingga Eric tidak bisa melihat dokter yang akan memerika Razel.
"Siapa disini keluarga dari pasien?" Tanya dokter yang keluar dari ruangan Razel, setelah beres memeriksanya,.
" Kami orang tuanya dok!" Jawab Esme.
"Kondisi pasien jauh lebih baik dari kemarin, tetapi saya perlu menginformasikan bahwa pasien sebaiknya segera dipindahkan ke Europeen Hospital. Setelah kami melakukan Rontgen, kami melihat tulang kedua kaki pasien remuk dan harus segera dilakukan operasi. Kedua tangannya pun mengalami luka yang hebat. Kami lihat juga ada gangguan di mata pasien. Sepertinya ini akibat dari hantaman yang begitu keras. Tapi tuhan masih memberikan keajaiban, dengan luka separah ini pasien termasuk kuat, karena ia mampu melewati masa kritisnya," Dokter menjelaskan kondisi Razel dengan detail.
Orang tua Razel menangis haru, setidaknya mereka mempunyai harapan agar Razel bisa kembali pulih.
"Kalau Tuan dan Nyonya setuju, kami akan mengurus kepindahan pasien ke Europeen Hospital dan memindahkannya besok," lanjut dokter lagi.
"Lakukanlah dok! Jika itu yang terbaik untuk anak kami," Sahut Esme dengan terisak.
"Eric,, apa kau sudah tahu siapa orang yang menabrak Razel?" Jaksa Leo bertanya setelah dokter dan perawat itu pergi.
"Aku tidak tahu Leo. Aku tidak terlalu mempedulikan itu, yang terpenting harapanku saat ini adalah Razel sehat seperti sedia kala, " sahut Eric serasa mengusap sudut matanya yang basah.
"Tapi dia harus dihukum seberat-beratnya, kau tidak dengar tadi perkataan dokter ? Mata Razel terancam buta" Esme berkata dengan suara bergetar, terdengar sekali ia menanan tangis.
Sementara Sophie dan Jaksa Leo melihat pemandangan itu dengan iba, tekad Jaksa Leo semakin menguat untuk memasukan Dave ke jeruji besi.
**
"Dad bagaimana kondisi Razel?" Tanya Maura saat tahu orang tuanya menjenguk Razel tadi pagi.
"Razel sudah mulai membukakan matanya, akan tetapi semua tubuhnya tidak bisa digerakan. Besok dia akan dipindahkan ke Europeen Hospital untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik," Sophie menjelaskan sambil menyajikan teh hangat untuk suaminya .
Maura bergetar dengan informasi yang diberitahukan ibunya, perlahan air mata bahagia meleleh dipipinya. Dia sangat bahagia Razel bisa sadar dari komanya. Meskipun seluruh tubuhnya tidak bisa digerakan.
"Syukurlah!" Lirih Maura dengan suara parau.
"Apa daddy sudah tahu siapa orang yang menabrak Razel?" Maura menatap serius Jaksa Leo.
"Daddy sudah tahu, akan tetapi daddy belum mempunya cukup bukti," Batin Jaksa Leo
"Dad?" Maura membuyarkan lamunan Jaksa Leo.
"Belum," jawab Jaksa Leo gugup, lalu ia menyeruput teh hangatnya.
"Daddy harus menemukannya! Bagaimanapun dia harus dihukum dengan hukuman setimpal. Penderitaan Razel adalah karna ulahnya. Dia seorang pecundang yang lari begitu saja meninggalkan Razel yang tak berdaya," Maura mengepalkan tangannya dengan emosi berapi-api.
"Tentu saja daddy akan menemukannya. Kita hanya perlu bersabar! Detektif Martin sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menjeratnya ke meja hijau."
"Mudah mudahan segera ada titik terang ya dad? Oh ya daddy, mommy? Apa boleh Maura nanti malam pergi ke pesta ulang tahun Valerie?"
Maura tampak merajuk, ia sangat berharap ayah dan ibunya mengizinkannya untuk datang ke pesta itu.
"Boleh, tapi kau harus diantar oleh supir,"
Jawab Sophie lembut.
"Baiklah, terima kasih dad, mom ?"
"Sama-sama sayang, Nanti mommy yang akan membantu meriasmu ya?"
Maura menganggukan kepalanya dengan riang, ia tak sabar untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya itu.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung novel terbaru author. Terima kasih 🤗