Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jangan membenci
Hari ini tepat hari pernikahan Siti, rombongan santri dalam perjalanan menuju kediaman Siti.
Termasuk Nimas juga ikut dalam rombongan.
Jangan tanya masalahnya dan Ustadz Zamzam yang selama seminggu ini dibuat kacau dengan perasaan benci Nimas pada calonnya.
Setibanya di rumah Siti, Nimas beserta Rista, Sofia dan Hulliyah diajak ke kamar sang calon pengantin yakni Siti.
Ketika mereka membuka pintu kamar itu, mereka takjub dengan dekorasi kamar pengantin itu.
"Waaaaahh..cantiknyaa"Ceplos Rista yang diangguki semua temannya.
Sementara Siti nampak sudah cantik dirias.
"ini beneran Siti nih"ceplos Rista lagi.
"ah kamu tuh cantik Tii."timpal Nimas.
"Pangling aku.."saut Sofia.
"Eh kita foto buat kenangan"kata Hulliyah lantas mereka pun berfose ria.
Setengah jam berlalu akhirnya sang mempelai pria tiba.Siti nampak gugup di kamar itu..
Akhirnya Siti keluar bersama kedua orang tuanya, sementara Nimas dan konco mengikuti di belakang mereka berempat tak kalah deg degan dengan Siti bahkan kini raut tegang pun tergambar jelas di wajah mereka.
Prosesi acara satu persatu dilalui dengan khidmat.Tiba waktunya ijab kobul yang membuat Nimas ikut menahan nafas karenanya.
Dan sautan "sah" dari para saksi membuat suasana sedikit tenang dan lega, ahirnya kini Siti resmi menjadi seorang istri.
Saatnya jamuan makan, para santri ikut mengantri dan entah kebetulan atau tidak karena situasi dibelakang Nimas adalah Ustadz Zamzam.
Nimas di buat canggung karenanya hingga dia memilih keluar dari antrian dan mendudukan diri disebuah kursi tamu sambil memainkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian saat tengah asik dengan poselnya dia dikejutkan dengan sodoran sepiring nasi oleh seseorang.
Sontak Nimas mengarahkan pandangan pada orang tersebut, terlihat Ustadz Zamzam yang melakukannya dengan posisi wajah ke arah lain dia berkata "saya tau kamu menghindari saya belakangan ini, setidaknya kamu terima makanan ini biar kamu kuat menghindari saya"
Lama Nimas menerimanya sampai akhirnya dia menyerah karena sang Ustadz seakan jadi patung dihadapannya.
Setelah itu, Ustadz Zamzam berlalu begitu saja.
"apa dia antri lagi?"hati Nimas bertanya tanya.
Tanpa peduli Nimas melahap makanan itu.
Sepulang dari acara pernikahan Siti, Nimas beristirahat sejenak di kobong.
Malam ini selepas magrib Nimas bersama santriwati lain tengah mengaji kitab jurumiah dengan mudaris langsung Mama Haji.
Setelah usai sekitar pukul 10 malam, para santri bersiap beristirahat tiba tiba ponsel Nimas yang masih belum dikumpulkan berbunyi.
Nimas mengambilnya dan melihat ternyata ada pesan masuk kemudian dia membukanya.Nimas sedikit kaget sebab pesan itu dari Ustadz Zamzam namun dia sebisa mungkin bersikap biasa karena tak ingin teman temannya kepo dan malah menghampirinya.
Nimas membuka pesan tersebut kemudian membacanya.
(assalamualaikum ya habiebie)
(saya mendapat pesan dari Bi Haji, beliau berkata Nimas ingin membatalkan taaruf kita yang bahkan baru dimulai)
(saya tidak tau dimana letak salahnya saya, jikalau Nimas sudi untuk menjelaskan, saya tunggu balasan pesan ini terimakasih)
Sejenak Nimas memejamkan matanya untuk sekedar merangkai kata yang sekiranya tidak menyakitkan hati.
(Walaikumussalam Ustadz)
(disini saya akan langsung pada intinya)
(mengapa Ustadz tidak melanjutkan taaruf dengan dengan Sofia dan malah memilih saya?)
(saya masih memiliki perasaan dan lebih baik untuk mundur daripada akan ada hati yang tersakiti oleh tindakan saya)
#Nimas, bahasa mu formal gitu sama Ustadz?(author)
#itukan dulu thor (Nimas)