NovelToon NovelToon
Mr. Governor

Mr. Governor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: SheisUgly

Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.

Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIMBIOSIS MUTUALISME

...JAUH DI MATA, BOROS DI KUOTA...

...💕Rengganis💕...

🌿🌿🌿🌿🌿

Akibat introgasi sang Ibu siang tadi membuat Rengganis enggan memejamkan mata. Ganis mencoba menjelajah webtoon dan Drakor untuk membuat matanya cepat lelah dan mengantuk. Alih-alih mengantuk, mata Ganis kian terbuka saat menonton film TRAIN TO BUSAN. Melihat akting Gong Yo yang apik di film itu membuatnya semakin tegang. Apalagi teror-teror zombie di kereta membuat Ganis ingin menjerit. Namun itu tak mungkin karena Mamaknya akan terbangun di tengah malam seperti sekarang ini.

Ganis masih keheranan dengan jalan pikiran sang Ibu. Saat dia masih betah dengan status jomblonya, Ibu selalu memaksa untuk mencari suami. Menjodoh-jodohkannya dengan anak temannya atau laki-laki yang masih tetangga desanya. Disaat jodoh sudah ada di depan mata, mamaknya malah curiga kenapa anaknya mendapatkan pria yang bukan dari kalangan biasa. Bagi Mamak, Ndaru itu ketinggian untuk Rengganis. Dia itu Gubernur, mapan dan kaya, lulusan luar negeri juga.

Memang sih, mamak belum pernah bertemu atau sekedar melihat foto calon menantunya itu di Google, tapi mamak meyakini ada yang tak beres dengan anaknya. Pernikahan ini terlalu terburu-buru.

Seperti siang itu saat mereka berdua sedang memetik merica di ladang.

"Nggak ada yang kamu sembunyikan dari Mamak kan Ganis??" Tanya Mamak dengan sorot mata seperti hendak menguliti anaknya.

Rengganis mengerutkan dahi tak mengerti dengan pertanyaan mamak.

"Maksud mamak apa?"

Mamak beralih dari satu pokok merica ke pokok yang lain. Di susul Rengganis yang bertugas mengangkat ember berisi merica hasil panenannya.

"Kemarin mamak nyuruh kamu nikah tapi kamu cuek. Sekarang kamu tiba-tiba datang minta dinikahkan"Jawab Mamaknya seraya memetik merica . Ganis hanya diam tak berani menanggapi atau mamaknya akan melempar pertanyaan lebih detail lagi.

"Sampek Mamak mikirnya kamu sudah----" Mamak melirik kearah Ganis. Matanya fokus melihat ke arah perut rata milik anak gadisnya.

Ganis yang menangkap maksud sang Ibu beringsut mundur satu langkah. Dapat ilham darimana ibunya bisa berpikir sejauh itu?

"Ya enggak mungkinlah mak. Aku sama Mas Ndaru itu enggak pernah pacaran. Gak mungkin gitu-gituan" Ganis mengatupkan bibirnya untuk tidak menceritakan lebih rinci tentang alasan kenapa dia bisa menikah. Atau Mamaknya akan lebih kepo dan memaksanya untuk bercerita.

"Kalau enggak pacaran kok bisa kalian nikah? Jelasin ke Mamak !" Ini yang Ganis mati-matian hindari. Kenapa tadi dia bodoh banget, keceplosan kalau dirinya dan Pak Gubernur tidak berpacaran.

Yang Mamak Ganis ketahui, jika wanita punya pilihan calon suaminya sendiri, berarti karena mereka pacaran. Kalau tidak pacaran tapi menikah itu terjadi karena di jodohkan. Mamak Ganis semakin bingung hanya saling kenal lalu menikah.

"Ya, karena kita udah sama-sama dewasa Mak. Makanya enggak pacaran, langsung nikah aja." Jawaban ini tidak sepenuhnya salah. Mereka memang tidak saling mencintai tapi bersedia berkomitmen.

"Terus kamu juga rela ngurusin anaknya. Enggak satu lho Nis anaknya itu tapi tiga. Kamu enggak punya pengalaman ngurus anak" Mamak beralih ke pokok di deretan sebelahnya memetik merica yang sudah berwarna merah.

"Anaknya udah gede semua kok Mak. Mereka bukan bayi" Ganis menjelaskan seraya memetik merica, agar cepat selesai dan segera pulang ke rumah.

"Terus, apa kamu enggak nanya masalah nafkah, harta gono gini dan lain-lain. Bukan apa-apa Ganis kalau pernikahan kalian tiba-tiba bermasalah, mamak takut kamu enggak dapat apa-apa belum lagi kalau kalian punya anak. Apa dia juga akan adil sama anak kamu??"

Ganis hanya menghela nafas berat. Masalah harta gono gini itu bukan menjadi urusan Rengganis, dia malah takut jika dia memang punya anak dengan Pak Gubernur. Ganis reflek menggelengkan kepalanya, dia belum mau punya anak. Ganis hanya takut, jika dia punya anak, Ganis tak bisa membuat dia bahagia. Menjadi saudara tiri bagi Abimanyu, Nawang dan Sadewa akan membuat anak yang akan dilahirkan Ganis bisa saja merasa terkucilkan.

Jika Ganis memutuskan memakai alat kontrasepsi, tidak bagus juga untuk kesehatan. Dari mulai terganggunya hormon, organ reproduksi hingga tekanan darah akan berpengaruh untuk kesehatannya.

Berhubungan badan dengan Ndaru juga tidak mungkin karena Ganis tak akan memberi izin. Ganis tidak mau melakukan hubungan intim tanpa cinta. Dan Gadis itu belum merasakan getaran seperti orang yang jatuh cinta. Jadi, peluang untuk menghasilkan keturunan dengan pria itu hampir tidak ada. Ndaru juga menikahi Ganis sebagai kepantasan saja.

"Kalau lagi di ladang jangan ngelamun !" Teguran Mamak membuat Ganis kaget sampai berjingkat. Ganis mengamati sekeliling dan menggaruk tengkuknya karena ngeri.

Ganis menaruh IPAD di meja dalam keadaan menyala, menampilkan adegan Gong Yo yang berubah menjadi Zombie dan akan menjatuhkan diri dari kereta. Scene ini sebenarnya menarik namun ketika dia ingat pembicaraan Mamaknya, Ganis buru-buru mengambil pena dan buku agenda.

Ponsel yang tergeletak di sebelah bukunya berkedip-kedip tanda ada chat masuk.

Ndaru Ayodya

Udah tidur?

Ganis menyesal karena membuka pesan dari Ndaru dan kini jadi centang biru. Harusnya tadi tidak usah dibaca agar Ndaru mengira Rengganis sudah tidur.

sedang mengetik......

Rengganis mengabaikan chat dari Ndaru untuk fokus dengan apa yang ditulisnya agar tak lupa. Jika dia memilih membalas pesan itu kemungkinan apa yang dipikirkannya bisa buyar dan melupakannya.

Ndaru Ayodya

Kenapa kok belum tidur?

Lagi-lagi, Ndaru mengirim whatsapp. Gadis itu mendadak kesal. Selama Ganis di kampung hanya sekali Pak Gubernur menghubunginya. Itupun lewat chat saja. Sekarang malah mengirim pesan di tengah malam. Ganis hanya menggerutu.

Ganis berhenti menulis tatkala pesan yang diabaikan Ganis berubah menjadi panggilan video call. Dengan malas gadis itu menggeser panel gambar kamera di layar ponselnya.

"Assalamualaikum, kenapa kamu kok belum tidur? Udah malam banget ini" Wajah Ndaru terlihat antusias. Tapi wajahnya terlihat belum mengantuk meskipun sudah pukul 23.54.

"Waalaikumsalam. Mas Ndaru kenapa jam segini belum tidur?" Ganis mengusap wajahnya, menyugar rambut kemudian memasang earphone wireless di telinganya agar mamak yang tidur di kamar sebelah tidak mendengar.

"Saya masih meriksa laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi. Banyak yang harus saya tandatangani" Nampak di layar ponsel, Ndaru yang mengenakan sewater warna merah marun ini menunjukkan beberapa snelhecter warna warni berlabelkan instansi terkait untuk di tunjukkan di kamera agar Ganis melihatnya.

"Enggak mau dituduh makan gaji buta nih?" Ledek Ganis yang melihat Ndaru lembur sebagai pencitraan.

Dibalik sikap acuhnya waktu pertama kali bertemu Rengganis, Ndaru sekarang adalah sosok yang berbeda. Dia tidak tersinggung dengan hinaan Ganis yang menyebutnya pencitraan, dan kini malah tersenyum manis.

"Ini kan amanah, kalau saya enggak tanda tangan , banyak masyarakat yang terlambat di tangani saat berobat ke Rumah Sakit karena kebijakan yang masih simpang Siur. Penambahan fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat juga akan terhambat kalau saya menunda pekerjaan." Ganis merasa tertohok dengan jawaban Ndaru yang masih bisa ramah bahkan lengkap dengan penjelasannya.

"Mas Ndaru gangguin saya deh" Ganis cemberut dengan pulpen di dagu.

"Kamu lagi apa sih?? Lagi nulis diary?" Tanya Ndaru seraya membolak balik dokumen.

Ganis terbahak dengan volume rendah seraya menutup mulutnya dengan tangan. Ndaru yang nampak di layar ponsel juga ikut tertawa.

"Hari gini nulis diary? Enggak jaman banget deh"

"Abisnya kamu megang pulpen begitu, kayak mau nulis sesuatu" Ndaru bersandar di kursi kerjanya memandang Ganis lekat.

"Saya nulis poin-poin penting dalam pernikahan kita" Jawab Rengganis membalas tatapan Ndaru.

Ndaru menegakkan badan, mendekat kearah kamera.

"Poin-poin apa? Kayaknya udah jelas deh kemarin." Bisik Ndaru. Ganis membuka beberapa lembar buku agenda bersampul coklat tua itu dan menulis.

"Kita belum membahas tentang hak-hak dan kewajiban kita setelah menikah. Apa yang boleh di lakukan dan apa yang dilarang." Ganis fokus menulis mengabaikan Ndaru yang mulai tertarik dengan pembahasan ini. Pandangan Ganis menerawang mengingat-ingat sesuatu kemudian menulis lagi dengan mulut bergerak-gerak tanpa suara.

" Emang penting banget ya ?" Tanya Ndaru dengan tangan diatas meja. Jarinya bertaut.

"Ya penting Mas. Kita harus menyadari pernikahan ini terjadi karena kita punya kepentingan. Bukan karena kita saling cinta. Jadi kita punya batasan. Ok, yang pertama tentang anak-anak." Ganis menulis lagi di bukunya, sedang calon suaminya itu menyimak.

"Pengambilan keputusan mengenai anak-anak harus kita berdua yang tentukan. Saya enggak mau jadi ibu yang enggak punya tanggung jawab mengurus anak. Karena saat saya mutusin nikah sama Mas Ndaru, saat itu juga saya menerima anak Mas Ndaru, jadi saya juga ikut andil. Mungkin perbandingannya 40 60%. Mas Ndaru 60%, saya yang 40%. Saya juga berhak berpendapat yang terbaik bagi anak-anak. Karena saya sering dengar keluhan Sadewa dengan cara didik Mas yang otoriter itu" Ganis memanyunkan bibir, seraya mengingat cerita Sadewa. Dalam seminggu, jadwal bimbel Sadewa padat merayap dan itu membuatnya bosan.

Ndaru seketika memalingkan wajah. Dalam hati dia menggerutu, anaknya buka kartu soal didikannya yang otoriter.

"Mas Ndaru denger saya kan?" tanya Rengganis tegas karena melihat Ndaru memalingkan wajah..

"Iya, saya denger. Terus apalagi?"

"Yang kedua soal uang nafkah. Mas Ndaru kan nyuruh saya resign dari kerjaan. Jadi nafkah saya gimana?" Ganis mencatat di buku. Seperti notulen yang mencatat semua pembicaraan di forum.

"Saya akan kasih kamu uang nafkah pribadi diluar kebutuhan anak-anak dan rumah tangga" Jawab Ndaru mantap.

"Berapa Mas??" Ganis menatap Ndaru serius. " Yang jelas ya?" Lanjut Ganis, seraya menulis lagi.

"Kamu mintanya berapa?" Ndaru bersandar di kursi dengan telunjuk di dagu

"Saya minta uang nafkahnya sama dengan uang gaji yang saya terima" Tentu saja Ganis tak menuntut banyak uang nafkahnya karena Ganis tak seutuhnya menjadi istri.

"Jadi istri Gubernur itu resikonya besar lho. Kalau nafkah kamu sama dengan gaji kamu, itu enggak sebanding. Saya kasih 3x lipat sebagai nafkah" Tawaran Ndaru sejuk di telinga. Kalau 3x lipat itu uang yang lumayan banyak. Ganis bisa menambah uang jatah ibunya perbulan.

"Ok, deal. Saya mintanya tunai aja ya Mas. Soalnya kalau di transfer takutnya rekening saya di lacak PPATK. Kalau ada transaksi mencurigakan dengan nominal besar saya bisa kena pasal money laundry." Jemarinya memainkan pulpen dengan sorot mata seperti menantang Ndaru. Rekening milik pejabat terpantau negara. Ganis tak mau mengambil resiko.

"Saya akan penuhi" Meskipun sedang diintimidasi oleh Ganis, Ndaru masih terlihat kalem.

Gadis itu tersenyum karena sejauh ini Ndaru mudah di ajak bernegosiasi.

"Terus yang ketiga, ini soal kewajiban saya sebagai istri gubernur ya mas" Ganis berdehem sebentar. Mungkin pembahasan tentang kewajiban istri itu akan sedikit panas dan berjalan alot. Dia sudah siap mental jika Ndaru kali ini akan sedikit sulit diajak bernegosiasi.

"Ok, saya mau dengar" Ndaru merubah posisi duduknya agar nyaman dan bisa berkonsentrasi mendengarkan kewajiban-kewajiban istri

"Mas Ndaru sama saya kan sepakat akan memegang komitmen pernikahan. Tapi saya juga punya batasan-batasan Untuk Mas Ndaru sebagai suami saya." Ganis menatap Ndaru yang masih nyaman dengan posisi duduknya. "Mas Ndaru tidak boleh menyentuh anggota tubuh saya tanpa seizin saya" Bibir Ganis miring sebelah, seakan ini adalah hal terjahat yang dilakukan istri kepada suaminya.

"Kok bisa begitu?" Posisi yang nyaman telah berubah, kini Ndaru sedikit mencondongkan badan mendekat ke layar Ponselnya. Wajahnya memenuhi layar ponsel Rengganis.

"Saya inget, Mas Ndaru pernah megang lengan saya pas kita pergi ke Candi Plaosan kemarin. Dan masih ada sentuhan lain yang saya inget." Ndaru memutar bola mata, tak menyangka dirinya yang berniat menolong Rengganis saat berjalan di trotoar dan akan di tabrak seorang pria akan mendapat balasan Dari Ganis berupa tuduhan semena-mena. Menganggap Ndaru mencuri kesempatan.

"Saya kan nolong kamu waktu itu. Kalau enggak saya tarik kamu yang badannya kecil bisa ambruk di tabrak cowok gendut itu. Saya enggak sengaja meluk kamu" Ndaru coba membela diri dengan kedua tangan di gerak-gerakan seperti saat dia memberikan pidatonya.

"Jadi, dari kejadian itu kita harus memperjelas batasan-batasan kita Mas. Saya juga belum mau berhubungan suami istri dengan Mas Ndaru." Kata Ganis enteng, padahal Ganis tau jika tidak berhubungan suami istri maka dia akan berdosa.

"Terus kalau kamu berada di posisi saya gimana??"

"Saya enggak mungkin grepe-grepe Mas tanpa cinta."

"Itu kan keadaan darurat, saya hanya menolong. Lain kali kalau kamu kayak gitu, saya enggak bakal nolong kamu" Ndaru menghempaskan badan di sandaran kursi. Dia malas menanggapi Ganis yang mau menang sendiri, Namun senyumnya juga terbit melihat Ganis yang sewot. Wajahnya tak jauh beda seperti Nawang yang malas berangkat les.

"Beneran enggak mau nolong??" Ganis terkekeh.

"Kita kan tinggal seatap tapi di kamar terpisah kan Mas? Demi menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan?" Ganis masih menulis dan membalik kertas ke halaman berikutnya.

"Yang bener aja kamu, kita kan nikah masa kamarnya beda? Apa kata orang rumah..." Keluh Ndaru seraya mengusap wajahnya.

"Kita mau tinggal dimana sih Mas?Kan rumah pribadi Mas Ndaru.."

"Kita tinggal di Rumah Dinas Gubernur. Disana akan ada beberapa staf keamanan, jadi mana mungkin kita beda kamar. Demi menjaga reputasi saya, kita harus sekamar." Ganis yang dari tadi menulis sekarang memandang Ndaru dengan membelalakkan mata.

"Apa jaminannya Mas Ndaru enggak akan nyentuh saya. Saya belum mau berhubungan sama Mas Ndaru selain karena saya enggak cinta saya belum mau punya anak"

"Gini aja deh, kalau saya khilaf dan memaksa kamu berhubungan , kamu boleh menjatuhkan denda" Ndaru yang tidak mau berlama-lama debat dengan Guru BP ini tampak menyerah.

"Ok, dendanya 2 milyar ya Mas." Ndaru masih tak percaya jika Ganis ternyata bisa kejam juga.

"Enggak 10 milyar sekalian?" Tantang Ndaru hiperbola.

"Angka 2 milyar itu akan jadi pengingat untuk Mas Ndaru agar hati-hati sebelum punya niatan jelek sama saya." Ganis terbahak dengan volume berbisik.

Sedangkan Ndaru yang ada di Semarang hanya bisa tersenyum kecut.

"Untuk sementara cukup segini aja dulu Mas. Kalau ada tambahan nanti bisa kita bicarakan lagi"

"Terserah!" Jawab Ndaru membuang muka. Ganis malah semakin tertawa.

"Senang berbisnis dengan Anda, Pak Gubernur Yang Terhormat." Gadis itu terkikik geli.

"Jangan lupa, besok sore kamu terbang ke Semarang kan?" Ndaru mengingatkan Ganis agar besok berangkat ke Semarang.

Ganis mengangguk. Setelah Berpamitan, sambungan video call dimatikan oleh Rengganis.

Omelan dari Ibunya memberikan ide jika dia juga harus memikirkan masa depannya menjalani pernikahan dengan Pak Gubernur. Pelan-pelan mata Ganis mengatup, tertidur dengan badan condong di meja belajarnya.

🌿🌿🌿🌿

...Lama enggak update. Sampe pada lupa sampe mana ceritanya.😁😁...

...maaf...

...makasih ya untuk yang masih stay, untuk like n commentnya....

1
Bunny³²
astagaa mamaknyaa nih kok lngsung begini.
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
Bunny³²
wahh ga bener
baru kenal udh main tangan ajaa...
Bunny³²
parahhh
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
Bunny³²
kasihan sekali, ibunyaa kmnaa
Agna
Pumpkin emang bikin gemeeezzzzzz
Agna
mewakili aku ni, aku punya anak tiri 3, cowok semua
Agna
/Drool//Drool//Drool/
Agna
mmmhhh... kayakx Gamis jd penggemar pak Gubernur sejak awal lihat ya ..
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
Agna
sy selalu kangen mba Author, makax sy sering baca ulang
Agna
sy baca berulang2, random🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat
Nara
keren
Agna
kangen baca kisah romansa yg elegan kayak gini, ada rekomendasi novel lain? Ndaru Ganis berulang² sy baca
Sari Alyaa
T.O.P B.G.T👍👍🤩
Ratna Mareliana
baca ke 3 x nya.. kangen ganis sm mas ndaru
May Keisya
ibu ko gitu...ga dapet pelajarankah dr pernikahannya yg dl ancur
May Keisya
kebykn laki2 ky gini klo hbs nikah knp pd berubah jadi siluman... kelakuan asli terlihat ketika sdh menikah
May Keisya
mematikan😭🤣🤣
Renesme
Baguss 👍👍
Sandisalbiah
hah... jauh² pindah ke Amrik gak taunya masih ada satpol pp yg ngerajia kamar.. 🤭🤭🤭🤭🤭
Sandisalbiah
gak ada visual pumkin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!