Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ting!
Pintu lift tertutup dan membawa mereka melesat naik dengan kecepatan yang nyaris tidak terasa guncangannya sama sekali.
Sesampainya di ruang direktur utama, Yao Wi duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit hitam premium yang luar biasa nyaman.
Seluruh dinding ruangan ini terbuat dari kaca pintar yang bisa menyesuaikan tingkat transparansinya, memperlihatkan pemandangan seluruh Kota Linzhou dari ketinggian.
"Shen Yue, duduklah, ada tugas pertama yang sangat penting untukmu hari ini," perintah Yao Wi dengan nada serius.
Shen Yue segera duduk di kursi hadapannya dan menyiapkan tabletnya untuk mencatat setiap instruksi.
"Siap menerima perintah, Tuan Bos," jawab Shen Yue mantap.
Yao Wi mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata asistennya itu lekat-lekat.
"Tugas pertamamu bukan sekadar merekrut karyawan, itu urusan gampang yang bisa kau delegasikan nanti," kata Yao Wi memulai rencananya.
"Aku ingin kau turun ke jalan hari ini juga dan beli seluruh ruko, lahan kosong, serta bangunan komersial yang ada di sepanjang Jalan Utama Sudirman."
Mata Shen Yue kembali melebar mendengar perintah ekspansi yang sangat agresif dan brutal tersebut.
Jalan Utama Sudirman adalah urat nadi perekonomian terakhir yang masih bernapas di Kota Linzhou.
Membeli seluruh properti di sana sama saja dengan memonopoli setengah dari detak jantung kota ini.
"Tuan Bos, langkah itu sangat brilian tapi juga sangat berbahaya," analisis Shen Yue dengan cepat.
"Banyak pemilik ruko di sana yang terikat hutang dengan bank lokal, dan pergerakan dana sebesar itu pasti akan memancing perhatian dari pemerintah kota."
Yao Wi menyandarkan punggungnya kembali dan tertawa meremehkan ketakutan asistennya.
"Pemerintah kota? Maksudmu kumpulan tikus korup yang selama ini membiarkan kota kelahiranku membusuk menjadi kota mati ini?" sindir Yao Wi tajam.
"Biarkan saja mereka tahu, aku justru ingin mereka merasa terancam dengan kehadiranku."
Yao Wi mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa angka di layar dengan cepat.
Ding!
Tablet di pangkuan Shen Yue berbunyi nyaring, menandakan adanya email notifikasi dari rekening operasional perusahaan.
Shen Yue melihat angka yang tertera di layar tabletnya dan harus menahan napasnya untuk kesekian kalinya hari ini.
Tiga miliar rupiah baru saja disuntikkan ke dalam rekening perusahaan sebagai dana segar.
"Gunakan uang itu untuk memborong semuanya hari ini tanpa menawar," perintah Yao Wi mutlak.
"Jika mereka minta sepuluh juta, bayar dua belas juta, hancurkan harga pasar dengan uang tunai agar mereka tidak bisa menolak."
Shen Yue menatap bosnya dengan tatapan yang kini bercampur antara kekaguman dan kengerian.
Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah pengusaha normal, melainkan seorang tiran finansial yang siap melahap dunia.
"Sesuai perintah Anda, Tuan Bos, saya akan menyapu bersih jalanan itu sebelum jam makan siang berakhir," ucap Shen Yue sambil berdiri dan membungkuk hormat.
Shen Yue langsung berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan aura membunuh yang sangat kental, siap mengeksekusi perintah sang dewa uang.
Sementara itu, di sebuah gedung pemerintahan yang terletak di pusat kota, suasana terlihat jauh dari kata mewah.
Di dalam ruang kerja Walikota yang penuh dengan asap cerutu, duduk seorang pria paruh baya berkumis tebal yang bernama Pejabat Sun.
Pejabat Sun sedang asyik menghitung tumpukan uang suap dari para pemborong jalan saat pintu ruangannya tiba-tiba didobrak dari luar.
Brak!
"Kurang ajar, siapa yang berani mendobrak pintu ruanganku!" bentak Pejabat Sun sambil buru-buru menutupi uang suapnya dengan koran bekas.
Seorang staf berseragam PNS masuk dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat kapas.
"Pak Walikota, gawat, ada pergerakan ekonomi yang sangat tidak wajar terjadi di distrik selatan pagi ini!" lapor staf itu panik.
Pejabat Sun mengerutkan keningnya, merasa terganggu dengan laporan yang menurutnya melebih-lebihkan keadaan.
"Pergerakan ekonomi apa? Kota ini sudah mati, paling hanya ada pedagang pasar yang memborong sayuran," cibir Pejabat Sun sambil mengisap cerutunya dalam-dalam.
"Bukan itu, Pak! Bangunan bekas plaza tua yang menjadi markas Geng Naga Hitam itu tiba-tiba berubah wujud menjadi gedung pencakar langit mini berteknologi tinggi semalam suntuk!"
Uhuk! Uhuk!
Pejabat Sun langsung tersedak asap cerutunya sendiri hingga wajahnya memerah menahan sakit di tenggorokan.
"Kau gila ya? Memangnya ini film fiksi ilmiah bisa membangun gedung dalam semalam?" maki Pejabat Sun tidak percaya.
"Saya bersumpah, Pak! Foto-fotonya sudah menyebar luas di grup pesan warga kota pagi ini," ucap staf itu sambil menyodorkan ponselnya ke meja.
Pejabat Sun merampas ponsel itu dan melihat deretan foto gedung kaca hitam bertuliskan LINZHOU CORP yang berdiri megah di atas tanah lapang.
Matanya melotot hampir keluar dari rongganya melihat keajaiban arsitektur yang sangat mustahil tersebut.
"Ini... siapa yang berani membangun bangunan semegah ini di wilayah kekuasaanku tanpa memberikan uang setoran kepadaku?" geram Pejabat Sun dengan gigi gemeretak.
"Bukan hanya itu, Pak Walikota," lanjut staf itu dengan suara yang semakin bergetar ketakutan.
"Setengah jam yang lalu, seorang wanita perwakilan dari perusahaan itu mulai mendatangi seluruh pemilik ruko di Jalan Utama Sudirman."
"Wanita itu membeli setiap ruko yang ada dengan harga tunai jauh di atas harga pasar tanpa negosiasi sedikitpun."
Brak!
Pejabat Sun memukul meja kayunya dengan sangat keras hingga asbak cerutunya terjatuh ke lantai dan pecah.
Jalan Utama Sudirman adalah ladang uang terakhirnya, tempat di mana ia selalu menarik pungutan liar bulanan dari para pedagang yang kesulitan.
Jika ada perusahaan asing yang memonopoli jalanan itu, maka keran pendapatan kotornya akan terpotong sepenuhnya hari ini juga.
"Sialan, perusahaan bernama Linzhou Corp ini mencoba menantang kekuasaanku di kota ini!" teriak Pejabat Sun dengan wajah merah padam karena amarah yang memuncak.
"Siapkan mobil dinasku sekarang juga, panggil kepala kepolisian distrik untuk menemaniku!"
"Kita akan mendatangi gedung sialan itu dan memberi pelajaran kepada siapapun bos sombong yang bersembunyi di baliknya!"
Staf itu segera mengangguk cepat dan berlari keluar ruangan untuk melaksanakan perintah atasannya.
Pejabat Sun berdiri dan menatap ke luar jendela ruangannya ke arah selatan kota dengan tatapan penuh kebencian.
Ia tidak tahu bahwa ia baru saja membangunkan naga tidur yang memiliki kekuatan uang tanpa batas untuk menghancurkan seluruh karirnya.
Di lantai puncak Linzhou Corp, Yao Wi masih duduk santai memandang ke luar jendela kaca pintarnya.
Ding!
[Peringatan Sistem: Fluktuasi emosi negatif tingkat tinggi terdeteksi dari pimpinan otoritas lokal.]
[Misi Sampingan Terbuka: Tundukkan Walikota korup dan ambil alih kendali birokrasi bayangan Kota Linzhou.]
[Hadiah: Peningkatan otoritas pembelian lahan tingkat provinsi.]
Yao Wi tersenyum sinis membaca layar biru transparan yang melayang di udara tersebut.
"Datanglah padaku, hai lalat-lalat kecil yang serakah," gumam Yao Wi sambil mengetuk jarinya di meja kaca.
"Aku akan mengubur kalian semua dengan uang tunai sampai kalian memohon ampun untuk bernapas."