NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Tanpa Nama

Malam berlalu tanpa membawa jawaban.

Namun bagi Niel, justru malam itu melahirkan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.

Ia masih berada di ruang kerjanya ketika jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Berkas mengenai Aluna tergeletak di sisi kanan meja, sementara beberapa foto hasil kamera pengawas masih terbuka di hadapannya.

Tatapannya berhenti pada sosok pria bertopi hitam.

Semakin lama ia memperhatikan, semakin kuat keyakinannya bahwa simbol pada gelang logam itu bukan kebetulan.

Simbol tersebut pernah menjadi mimpi buruk bagi banyak orang.

Dan kini...

Simbol itu muncul bersamaan dengan hadirnya Aluna dalam hidupnya.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Tuan."

"Masuk."

Darren melangkah masuk sambil membawa sebuah tablet.

"Hasil pemeriksaan awal sudah keluar."

Niel menerima perangkat itu tanpa banyak bicara.

"Tiga jam yang lalu, seseorang mencoba mengakses data pribadi Aluna melalui server kependudukan nasional."

Tatapan Niel berubah tajam.

"Siapa?"

"Belum diketahui. Jejak digitalnya sengaja dihapus."

"Berhasil masuk?"

"Tidak."

"Mengapa?"

Darren menggeser layar tablet.

"Karena data tersebut sudah lebih dahulu dikunci oleh pihak lain."

Ruangan kembali sunyi.

"Itu berarti..."

"Seseorang telah melindungi identitas Aluna jauh sebelum kita mulai mencarinya."

Niel menutup tablet perlahan.

Perasaannya mengatakan bahwa ia sedang melangkah ke wilayah yang tidak pernah disentuh siapa pun selama bertahun-tahun.

___________________________________________

Keesokan paginya.

Aluna memutuskan menghabiskan waktu di sebuah galeri seni yang baru dibuka di pusat kota.

Tempat itu tidak terlalu ramai.

Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan dengan berbagai tema, mulai dari pemandangan hingga potret manusia yang sarat emosi.

Aluna berjalan perlahan, menikmati setiap karya tanpa terburu-buru.

Sejak kecil, ia selalu menyukai tempat-tempat yang tenang.

Di sana, pikirannya terasa lebih jernih.

Saat berhenti di depan sebuah lukisan langit senja, seorang pria tua menghampirinya.

"Nona menyukai lukisan itu?"

Aluna mengangguk.

"Ada sesuatu yang menenangkan."

Pria itu tersenyum.

"Menarik."

"Mengapa?"

"Sebagian besar pengunjung justru mengatakan lukisan itu terasa menyedihkan."

Aluna kembali memandang kanvas tersebut.

"Mungkin karena setiap orang membawa kenangannya sendiri."

Pria tua itu tampak terkesan.

"Tidak banyak anak muda yang berpikir seperti itu."

Sebelum Aluna sempat menjawab, pria itu berpamitan karena harus menyambut tamu lain.

Aluna kembali berjalan.

Namun beberapa langkah kemudian, ia menemukan sebuah amplop putih tergeletak di atas bangku yang berada di sudut ruangan.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada perangko.

Hanya sebuah bunga lavender kecil yang digambar di bagian depan.

Aluna mengernyit.

Ia membuka amplop itu dengan hati-hati.

Di dalamnya hanya terdapat selembar kartu.

"Jangan datang sendirian ke tempat yang terlalu tenang."

Aluna membaca kalimat itu dua kali.

Tidak ada tanda tangan.

Ia menoleh ke sekeliling.

Orang-orang masih menikmati lukisan seperti biasa.

Tidak ada satu pun yang tampak memperhatikannya.

"Siapa yang mengirim ini?"

__________________________________________

Di gedung yang menjadi markas Niel, suasana mendadak berubah tegang.

Seorang anggota tim keamanan berlari memasuki ruang rapat.

"Tuan."

Niel mengangkat kepala.

"Ada apa?"

"Kami kehilangan kontak dengan dua orang yang bertugas mengawasi rumah Nona Aluna."

Darren langsung berdiri.

"Sejak kapan?"

"Hampir satu jam."

"Hubungi mereka lagi."

"Sudah dilakukan berkali-kali."

"Tidak ada jawaban?"

"Tidak."

Niel mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.

"Darren."

"Ya."

"Temukan posisi terakhir mereka."

"Baik."

_______________________________________

Sementara itu, Aluna masih memegang kartu misterius tersebut.

Ia berniat menyerahkannya kepada petugas galeri jika tidak menemukan pemiliknya.

Namun saat berbalik...

Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun berdiri di hadapannya.

"Kakak."

Aluna tersenyum.

"Ya?"

"Om itu bilang suratnya sudah dibaca."

Aluna sedikit terkejut.

"Om yang mana?"

Anak itu menunjuk ke arah pintu keluar.

"Yang pakai baju hitam."

Aluna segera menoleh.

Di luar galeri, seorang pria tinggi baru saja masuk ke dalam sedan hitam.

Jarak mereka terlalu jauh.

Wajah pria itu tidak terlihat jelas.

Mobil tersebut langsung melaju meninggalkan lokasi.

"Tunggu!"

Aluna spontan berlari keluar.

Namun ketika ia tiba di halaman depan, mobil itu telah menghilang di antara kendaraan lain.

Ia menghela napas pelan.

Anak kecil tadi ikut berdiri di sampingnya.

"Kakak kenal Om itu?"

Aluna menggeleng.

"Tidak."

"Om itu bilang Kakak pasti akan mencarinya."

Jantung Aluna berdegup sedikit lebih cepat.

"Dia mengatakan itu?"

Anak tersebut mengangguk polos.

"Lalu dia kasih aku permen."

Aluna tersenyum tipis.

"Terima kasih sudah menyampaikan pesannya."

Anak itu melambaikan tangan sebelum berlari kembali kepada ibunya.

Aluna menggenggam kartu misterius itu lebih erat.

Kini ia yakin.

Surat tersebut memang ditujukan kepadanya.

Tetapi...

untuk alasan apa?

_________________________________________

Di sisi lain kota, sebuah mobil berhenti mendadak di depan bangunan kosong.

Niel turun lebih dulu.

Di dalam gedung itu, dua orang anak buahnya ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Tidak ada luka serius.

Tidak ada darah.

Hanya sebuah simbol yang digambar dengan cat merah di dinding.

Simbol yang sama.

Simbol yang muncul pada gelang pria bertopi hitam.

Darren menatap lambang itu dengan wajah tegang.

"Mereka sengaja meninggalkan pesan."

Niel mendekat beberapa langkah.

Tatapannya dingin.

"Bukan."

Darren menoleh.

"Lalu?"

Niel mengamati simbol itu beberapa saat.

"Mereka sedang menantangku."

Hening memenuhi ruangan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Seseorang berani mengirim pesan secara terang-terangan kepada Niel.

Dan orang itu mengetahui satu hal yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Bahwa perhatian Niel kini mulai tertuju pada seorang gadis bernama Aluna.

___________________________________________

Niel tetap berdiri di depan simbol berwarna merah itu.

Tatapannya tidak berubah, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun di ruangan tersebut.

"Lakukan pemeriksaan."

Darren segera mengangguk.

"Sidik jari, jejak sepatu, rekaman kamera di sekitar lokasi. Jangan lewatkan apa pun."

"Baik, Tuan."

Beberapa orang langsung bergerak menjalankan perintah.

Sementara itu, Niel memperhatikan dua anak buahnya yang mulai sadar. Keduanya tampak kebingungan.

"Apa yang kalian ingat?" tanya Niel.

Salah seorang pria memejamkan mata, berusaha mengingat.

"Kami... hanya melihat sebuah mobil hitam berhenti. Setelah itu..." Ia menggeleng pelan. "Semuanya gelap."

"Berapa orang?"

"Saya tidak tahu."

Niel mengalihkan pandangan ke arah dinding.

Mereka sengaja tidak membunuh.

Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka mampu mendekat tanpa terdeteksi.

Itu bukan ancaman biasa.

Itu adalah peringatan.

Di saat yang sama, ponsel Darren bergetar.

Ia membaca pesan yang baru masuk, lalu wajahnya berubah serius.

"Tuan..."

"Apa?"

"Orang yang mengirim surat kepada Nona Aluna terekam kamera pengawas galeri."

Niel menatap Darren tanpa berkedip.

"Perbesar wajahnya."

Darren menelan ludah sebelum menjawab.

"Itulah masalahnya."

"Jelaskan."

"Orang itu... sengaja menoleh ke arah kamera."

"Dan?"

"Dia sedang tersenyum."

Ruangan kembali hening.

Seolah pengirim surat itu memang ingin ditemukan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!