NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Tamu Dari Masa Lalu

Kehangatan perayaan ulang tahun Justin yang penuh kesederhanaan meninggalkan kesan mendalam bagi seisi mansion.

Sejak malam potong tumpeng itu, suasana rumah terasa jauh lebih cair, namun, kehidupan di puncak kekuasaan The Ardiansyah Syndicate tidak pernah benar-benar sepi dari kejutan.

Kali ini, kejutan itu datang bukan dari perbatasan kota atau jalur pelabuhan, melainkan dari sebuah mobil jemputan resmi organisasi yang membawa seseorang dari masa lalu Kimberly.

Kamis sore yang sejuk, Kimberly sedang berada di halaman samping, merapikan tanaman anggrek hitam yang baru saja dipindahkan ke pot tanah liat.

Kegiatannya terhenti ketika melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti di area parkir dalam pintu belakang terbuka, dan sesosok pria paruh baya dengan pakaian batik rapi serta rambut yang mulai memutih melangkah turun.

Pria itu membawa sebuah kotak kayu kecil yang diikat tali rami, wajahnya tampak takjub sekaligus gugup melihat kemegahan arsitektur mansion di hadapannya.

Kimberly mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat raut wajah yang terasa sangat akrab tersebut.

Ketika pria itu menoleh dan mata mereka bertemu, Kimberly langsung meletakkan sekop kecilnya.

"Pakde Darmo?" panggil Kimberly setengah ragu, pria paruh baya itu tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca.

"Kim... Kimberly? Astaga, Nduk, kamu sudah besar dan... anggun sekali sekarang."

Pakde Darmo adalah kakak kandung dari mendiang ayah Kimberly, beliau adalah seorang ahli botani tradisional di desa tetangga yang sudah merantau ke luar pulau sejak Kimberly masih kecil.

Hubungan mereka terputus bertahun-tahun lalu, dan Kimberly mengira tidak akan pernah bertemu lagi dengan satu-satunya garis keturunan ayahnya yang tersisa.

Kimberly langsung menghambur memeluk pria tua itu dengan rasa haru yang membuncah.

"Pakde... bagaimana Pakde bisa sampai ke sini? Bagaimana Pakde tahu rumah Kim?"

Pakde Darmo melepaskan pelukannya, menunjuk ke arah Marco yang berdiri tegak di dekat mobil.

"Ada orang-orang tegap yang mencariku di stasiun kota sebelah, Kim. Mereka bilang, suami dari keponakanku ingin mempertemukan kami kembali dan memberiku pekerjaan untuk mengelola laboratorium herbal baru milik keluarganya. Pakde awalnya takut, tapi mereka memperlakukanku dengan sangat terhormat selama perjalanan."

Kimberly menoleh ke arah koridor utama, di sana, Justin berdiri bersandar pada pilar marmer, pria itu mengenakan kemeja kasual hitam dengan lengan digulung, memperhatikan reuni keluarga itu dengan tatapan tenang yang dipenuhi perlindungan.

Rupanya, setelah mendengar cerita tentang latar belakang keluarga Kimberly saat mengurus masalah Danu minggu lalu, Justin diam-diam memerintahkan jaringan intelijennya untuk melacak keberadaan kerabat kandung Kimberly yang masih hidup, dia ingin memastikan istrinya memiliki akar keluarga yang kuat di kota ini.

Kimberly berjalan mendekati Justin, matanya berkaca-kaca karena rasa terima kasih yang tak terhingga.

"Mas... kamu yang melakukan ini semua?" Justin mengelus pipi Kimberly dengan ibu jarinya, menghapus setitik air mata haru di sana.

"Aku sudah berjanji untuk menjaga duniaku agar tidak membunuh duniamu, Kim. Menghadirkan kembali keluargamu adalah bagian dari caraku memastikan kau selalu merasa memiliki rumah yang utuh di sini."

Justin kemudian melangkah maju, menjabat tangan Pakde Darmo dengan sikap hormat yang tegas namun sopan.

"Selamat datang di rumah kami, Pakde Darmo. Saya Justin, suami Kimberly."

Pakde Darmo menelan ludah, bisa merasakan aura wibawa yang sangat besar dari pria muda di depannya.

"Terima kasih, Nak Justin. Kimberly ini anak yang mandiri sejak kecil. Melihatnya hidup bahagia dan dirawat dengan baik olehmu, rasa bersalahku karena meninggalkannya merantau rasanya sedikit berkurang."

Malam harinya, suasana makan malam di mansion terasa sangat hangat dengan kehadiran Pakde Darmo.

Berbeda dengan jamuan formal yang kaku, kali ini meja makan dipenuhi oleh obrolan tentang masa lalu ayah Kimberly dan rahasia-rahasia tanaman obat yang menjadi keahlian keluarga mereka.

Setelah makan malam selesai, Pakde Darmo meletakkan kotak kayu kecil yang dibawanya sejak sore tadi di atas meja.

Dia membukanya perlahan, mengeluarkan sebuah buku catatan usang bersampul kulit binatang dan sebotol kecil minyak berwarna keperakan.

"Kim, Nak Justin... sebelum ayahmu meninggal, dia menitipkan ini padaku," ucap Pakde Darmo dengan nada serius.

"Ini adalah buku formula ekstraksi anggrek hutan liar dari lereng gunung Jawa Tengah. Ayahmu dulu menemukan bahwa senyawa dari tanaman ini bisa menetralkan berbagai jenis racun zat kimia beracun yang menyerang sistem saraf."

Mendengar kata 'menetralkan racun zat kimia', tatapan mata Justin yang tadinya santai langsung menajam.

Sebagai pemimpin organisasi yang sering berhadapan dengan taktik kotor musuh termasuk racun tiruan yang sempat merenggut kesehatan ibunya dulu informasi ini memiliki nilai taktis yang sangat tinggi.

"Ayahmu tahu kalau formula ini bisa berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah," lanjut Pakde Darmo, menatap Justin dengan pandangan menyelidik yang bijak.

"Tapi melihat Nak Justin yang memiliki fasilitas dan kekuatan besar, namun memiliki hati yang tunduk pada kepolosan Kimberly, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkannya pada kalian. Gunakan ini untuk melindungi, bukan untuk menyakiti."

Justin menerima buku catatan usang itu dengan kedua tangannya, pria itu menatap Kimberly yang duduk di sampingnya.

Kejutan dari masa lalu ini seolah menjadi lingkaran takdir yang sempurna, gadis desa yang dia bawa paksa untuk menyelamatkan jiwanya, kini justru membawa warisan leluhur yang bisa menjadi perisai terkuat bagi organisasinya di masa depan.

"Saya berjanji, Pakde," ucap Justin dengan suara berat yang penuh komitmen.

"Formula ini akan dikembangkan di laboratorium medis khusus kami hanya untuk tujuan perlindungan dan pengobatan. Keamanan dan kesejahteraan Pakde juga akan dijamin sepenuhnya oleh organisasi saya mulai hari ini."

Kimberly tersenyum manis, menggenggam erat tangan suaminya di bawah meja.

Keesokan paginya, suasana di mansion kembali ke ritme rumah tangga mereka yang unik dan penuh warna.

Pakde Darmo sudah diantar oleh Marco menuju kompleks laboratorium herbal baru di pinggiran kota untuk mulai bekerja bersama tim peneliti medis pilihan Justin.

Di kebun belakang, Kimberly sedang sibuk menyiram tanaman anggrek hitamnya sambil bersenandung kecil.

Tiba-tiba, dari arah belakang, dua lengan kekar kokoh melingkar di perutnya, menarik punggungnya bersandar pada dada bidang yang sangat familiar.

Justin menumpukan dagunya di bahu Kimberly, ikut memandangi tanaman anggrek di depan mereka. Sandal jepit hijau legendarisnya kembali terpasang rapi di kakinya.

"Mas Justin tidak ke kantor hari ini?" tanya Kimberly, menoleh sedikit hingga hidungnya bersentuhan dengan pipi suaminya.

"Nanti siang," bisik Justin rendah.

"Aku hanya ingin menikmati waktu lima menit lagi untuk melihat 'penjinak' singaku sedang mengurus kebunnya."

Kimberly tertawa renyah, membiarkan selang air di tangannya tetap mengalir kecil ke arah akar tanaman.

"Sekarang Mas Justin sudah punya formula penawar racun dari ayahku. Jadi, Mas tidak perlu takut lagi pada taktik kotor musuh di luar sana."

Justin membalikkan tubuh Kimberly agar menghadapnya, menatap lurus ke dalam manik mata bulat istrinya dengan pandangan yang dipenuhi cinta membara.

"Formula dari ayahmu adalah perisai fisik bagi organisasiku, Kim. Tapi kau... ketulusanmu, jamu pahitmu, dan tawamu di rumah ini... adalah satu-satunya penawar racun sejati bagi jiwaku."

Justin menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam dan penuh rasa syukur di bawah siraman cahaya matahari pagi.

Di balik tembok pembatas dunia hitam metropolitan, rumah tangga mereka yang unik ini telah membuktikan bahwa takdir tidak pernah salah memilih jalan.

Bersama-sama, sang gadis desa dan sang tuan mafia siap melangkah menghadapi masa depan dengan pondasi cinta yang kini takkan pernah bisa tergoyahkan oleh badai apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!