NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Dari Seberang

​Kirana masih berdiri terpukau di tengah kemegahan mansion tersebut. Langkah kakinya menyusuri lorong berlantai marmer yang mengilat hingga tiba di area teras belakang. Pandangannya tak henti-hentinya menyapu sekeliling: lanskap taman yang tertata rapi dengan rumput hijau segar, kolam renang berdesain infinity yang memantulkan pendar langit senja, serta pemandangan bukit kecil di kejauhan. Semuanya terasa bagaikan mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan bagi seorang gadis panti asuhan.

​Kemewahan ini terasa begitu asing, namun kehangatan mansion ini seolah perlahan menyapa jiwanya yang selama ini terbiasa dengan kepahitan dan penolakan.

​"Sudah berjalan-jalan keliling rumah?"

​Suara bariton yang berat dan khas memecah lamunan Kirana dari arah belakang.

​Kirana tersentak pelan, buru-buru memutar tubuhnya. Di sana, Rian sedang memutar kursi rodanya mendekat, membelah kesunyian teras. Jas resminya telah dilepas, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga ke siku, menampilkan lengan kokoh dan jam tangan kulit hitam berdesain mewah. Wajahnya yang tegas tampak sedikit lebih rileks dibanding tadi siang saat berada di Kantor Catatan Sipil.

​"Mas Rian..." bisik Kirana, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Iya, tadi Bi Asih menunjukkan perpustakaan, lalu saya berjalan ke teras ini. Rumah ini sangat indah dan... luas sekali."

​Rian menghentikan kursi rodanya di samping Kirana, ikut melemparkan pandangannya ke arah kolam renang yang diterpa cahaya jingga matahari terbenam.

​"Mulai sekarang, ini rumahmu juga. Kamu tidak perlu merasa canggung atau takut," ujar Rian pelan namun sarat akan kepastian. "Bagaimana dengan perpustakaannya? Apakah ada buku yang menarik perhatianmu?"

​Mata Kirana berbinar seketika, mengikis sisa-sisa rasa canggungnya. "Sangat menarik, Mas! Koleksinya lengkap sekali. Saya bahkan melihat beberapa jurnal hukum dan literatur ekonomi yang sulit sekali dicari di perpustakaan umum."

​Rian melirik gadis di sampingnya. Binar antusiasme yang jujur di mata Kirana membuat sudut bibir sang CEO terangkat tipis. Di tengah dunia yang sering kali dipenuhi kepalsuan, kepolosan dan kecerdasan Kirana terasa seperti hembusan angin segar.

​"Baguslah kalau kamu menyukainya. Gunakan perpustakaan itu sesukamu," kata Rian santai. Ia lalu menatap Kirana dengan sorot mata yang lebih serius. "Besok pagi, asistenku, Doni, akan mengantarmu ke kampus untuk menyelesaikan seluruh proses administrasi pendaftaran kuliahmu. Semua biayanya sudah dituntaskan."

​Kirana membelalakkan matanya terkejut. "Sebegitu cepatnya, Mas? Padahal baru tadi sore kita..."

​"Aku tidak pernah menunda hal yang penting," potong Rian tegas namun lembut. "Tugasmu sekarang hanya satu: fokus belajar dan kejar impianmu."

​"Oh ya, makan malam dimulai pukul 7.30," ucap Rian sebelum memutar kursi rodanya berbalik arah. "Turun dan nikmati makan malam bersama-ku nanti."

​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Rian mendorong roda kursinya meninggalkan teras belakang, membiarkan Kirana meresapi sisa-sisa keterkejutan dan rasa terima kasih yang bergemuruh di dadanya. Rian meluncur tenang menyusuri lorong menuju sayap barat, kembali masuk ke dalam ruang kerjanya yang sunyi dan tertutup rapat.

​Begitu pintu ruang kerja tertutup dan ia merapat ke balik meja kayunya yang besar, ponsel pintar di atas meja mendadak berdering nyaring. Layar perangkat tersebut menampilkan nama yang sangat ia kenal sekaligus hormati: Eyang.

​Rian menarik napas sebentar, lalu menyentuh tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.

​"Halo, Eyang," sapa Rian dengan nada suara yang seketika berubah jauh lebih lembut dan penuh takzim, kontras dengan ketegasannya saat memimpin para bawahannya.

​"Rian... cucuku," suara parau namun hangat milik Eyang terdengar di seberang sana. "Bagaimana kabarmu? Dan... bagaimana urusan yang Eyang tanyakan kemarin?"

​Rian melirik sekilas ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. Bayangan Kirana yang berdiri di teras tadi sempat melintas di benaknya sebelum ia menjawab dengan suara tenang dan meyakinkan.

​"Semuanya berjalan lancar, Eyang. Sesuai dengan apa yang Eyang harapkan," jawab Rian dengan nada pasti. "Hari ini, aku sudah resmi menikah."

​Di seberang telepon, terdengar helaan napas lega yang panjang dan bergetar. Suara tawa kecil yang penuh rasa syukur lolos dari bibir renta sang matriark.

​"Syukurlah... Puji Tuhan, Rian. Eyang senang sekali mendengarnya," ucap Eyang dengan nada penuh kelegaan yang amat mendalam. "Bawa cucu menantuku itu berkunjung ke kediaman utama secepatnya. Eyang ingin sekali melihat wajah istri yang telah meluluhkan hati cucu kesayangan Eyang ini sebelum mata Eyang lelah."

​"Baik, Eyang. Segera setelah kondisinya siap dan urusan kampus selesai, aku akan membawanya ke sana untuk menemui Eyang," janji Rian dengan tulus.

​Setelah perbincangan singkat penuh kehangatan itu berakhir dan sambungan terputus, Rian menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Ia tahu, sandiwara ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas untuk menenangkan hati sang nenek yang sedang sakit. Ada takdir baru yang sedang mereka ukir berdua, dan malam ini, di meja makan utama mansion tersebut, lembaran baru itu akan resmi dimulai.

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!