NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Udara lembap terowongan tambang terputus seketika, digantikan oleh hempasan hawa panas yang menyengat kulit wajah.

Begitu Ren melangkah keluar dari ceruk batu, pemandangan Lantai 12 terhampar luas seperti bengkel raksasa peninggalan peradaban purba yang terkubur di perut bumi. Di atas kepala mereka, deretan roda gigi tembaga setinggi menara berputar lambat, berdecit berat saat gigi-gigi logamnya saling mengunci. Rantai transmisi baja sebesar paha orang dewasa meliuk di antara pilar berkarat, sementara pipa-pipa uap memuntahkan kabut putih yang berbau jelaga dan oli terbakar.

Di bawah jembatan besi kisi-kisi tempat mereka berdiri, terbentang parit pembuangan logam cair yang membara oranye kemerahan. Permukaan cairan mendidih itu terus melepaskan letupan gelembung pijar, memancarkan radiasi panas yang membuat udara bergelombang dan mengeringkan keringat di kening dalam sekejap. Sisa-sisa cetakan terak besi kuno berserakan di tepi parit, membatu menjadi gundukan hitam berjelaga.

Setiap getaran dari putaran turbin raksasa di kejauhan merambat melalui jeruji jembatan, mengguncang telapak kaki mereka yang kebas dan lelah.

"Tempat macam apa ini..." bisik Riku seraya merapatkan punggungnya ke dinding terowongan batu yang panas. Tangan kanannya mencengkeram erat busur kayu yang telah dipasangi tali kawat baja darurat. "Udaranya membakar paru-paru di setiap tarikan napas."

"Rapatkan barisan di belakang perisai," bisik Shizuka seraya merogoh belati perak di pinggangnya. Gadis tabib itu membasahi kain kasa dengan sisa air bersih untuk menutupi hidung Riku dari asap beracun. Matanya yang awas menyapu jembatan-jembatan besi yang bersilangan di atas parit logam cair. "Jangan menyentuh pipa tembaga yang mengeluarkan uap mendesis. Logam di sini bisa mengelupas kulit dalam sekali sentuh."

Vargas melangkah ke samping Ren, mengetuk pelat perisai menaranya yang telah diperkuat dengan lempengan cangkang kitin hitam dari rawa.

"Ren, ke arah mana tangga penghubung menuju lantai atas?" tanya Vargas seraya menyeka jelaga di pelipisnya dengan punggung sarung tangan kotor.

Ren menatap lurus ke arah anjungan besi bundar di tengah aula pabrik.

Di atas anjungan yang dikelilingi pilar hidrolik tersebut, sesosok golem logam setinggi empat meter berdiri mematung di antara kepulan asap minyak.

Tubuh golem itu terbuat dari lempengan baja hitam berkarat dengan engsel-engsel tembaga tebal. Di rongga dadanya, sebuah tungku mekanis menyala merah membara, membuang jelaga pekat melalui dua cerobong di punggungnya. Kepalanya berbentuk helm algojo kaku tanpa mata, hanya menyisakan satu celah mendatar yang memancarkan pendar merah darah bagai mata iblis mesin.

Di tangan kanannya, golem itu menggenggam sabit gergaji sepanjang tiga meter. Bilah sabit itu berupa rantai baja bergigi ganda yang terus berputar kencang, mendesing tajam membelah uap panas di sekitarnya dengan suara geraman mekanikal yang memekakkan telinga.

Sang Algojo Ratapan. Penjaga gerbang mekanikal Lantai 12 yang bertugas memusnahkan siapa pun yang mencoba melintasi jembatan pabrik.

Sebelum Vargas sempat menarik napas panjang, katup hidrolik di kedua tungkai golem meletupkan uap putih dengan desisan keras.

WUUUSSS!

Beban logam seberat berton-ton itu melesat menyeberangi jembatan besi. Dentang langkahnya menggetarkan seluruh kisi-kisi jembatan bagai gempa lokal. Hanya dalam dua lonjakan panjang, golem itu telah memangkas jarak puluhan meter, mengangkat sabit gergajinya ke udara untuk membelah barisan penyintas menjadi serpihan daging.

"Paman Vargas, kunci perisaimu!" seru Ren memberi peringatan darurat.

Vargas menancapkan kedua sol bot besinya ke celah kisi-kisi lantai, mengangkat perisai menaranya dengan kedua tangan untuk menahan hantaman frontal.

KRAAAK!

Bilah sabit gergaji yang berputar liar menghantam tepi atas perisai Vargas.

Percikan api menyembur ke segala arah bagai semburan kembang api maut. Gerigi baja golem mengikis lapisan cangkang kitin dan mengoyak pelat besi perisai dalam hitungan detik. Tekanan dorongannya menekan lutut kiri Vargas hingga tertekuk ke lantai kisi-kisi, mematahkan tulang selangka kirinya dengan bunyi retakan kering yang memilukan.

"Ughh!" Vargas meraung menahan sakit, tubuhnya terseret mundur sejauh tiga langkah dengan pelindung dada yang penyok.

Sang Algojo tidak memberi jeda istirahat. Cerobong uap di punggungnya menyemburkan asap hitam, sementara lengan kirinya yang berupa cakar hidrolik meluncur deras untuk meremukkan helm besi sang veteran yang sedang kehilangan keseimbangan.

Ren melompat maju menyongsong bahaya, menghunus belati taring monster dan menusukkannya ke sela engsel siku golem untuk membelokkan arah cakar tersebut.

Perhitungan Ren meleset fatal.

Begitu bilah belatinya menyentuh engsel siku, golem itu tidak menahan gerakannya. Bagian torso dan pinggangnya berputar penuh tiga ratus enam puluh derajat pada poros mekanisnya dengan kecepatan luar biasa.

Gagang pipa baja sabit berayun menyamping, menghantam pelipis kiri Ren bagai hantaman gada raksasa seberat ratusan kilogram.

Brak!

Tulang pelipis Ren remuk seketika oleh benturan tumpul tersebut. Pandangannya meledak menjadi serpihan cahaya putih sebelum tubuhnya terlempar melewati pagar pembatas jembatan, meluncur bebas ke dalam aliran logam cair yang mendidih membara di dasar pabrik.

Sebelum panasnya lautan logam sempat membakar dagingnya menjadi abu, kesadaran Ren telah padam sepenuhnya ke dalam kegelapan pekat.

Kesadarannya tersentak kembali ke udara panas di atas jembatan besi.

Dada Ren kembang kempis dengan cepat. Denyut ngilu di pelipis kirinya berdenyut hebat, sementara darah segar mengucur dari cuping hidung kanannya, menetes ke lantai kisi-kisi besi yang mendesis panas. Ia menelan darah di mulutnya, mengunci tatapannya pada golem baja yang baru saja mengangkat sabit gergajinya di anjungan tengah.

Salah perhitungan.

Golem itu memiliki poros pinggang putar bebas tiga ratus enam puluh derajat. Menyerang sambungan engsel lengannya dari sisi samping hanya akan memicu ayunan rotasi gagang sabit yang mematikan.

Menahan serangannya secara frontal dengan perisai juga merupakan bunuh diri bagi Vargas.

"Paman Vargas!" teriak Ren membelah gemuruh putaran roda gigi pabrik. "Jangan tahan hantamannya! Begitu sabitnya turun, jatuhkan tubuhmu ke kanan dan biarkan bilahnya menancap ke lantai kisi-kisi!"

Vargas menoleh sekilas, melihat ceceran darah di wajah Ren dan kilatan tekad di matanya. Pria tua itu mengangguk kaku tanpa bertanya alasan instruksi aneh tersebut.

"Shizuka, siapkan tali kawat baja Riku!" lanjut Ren cepat seraya merendahkan posisi tubuhnya di atas lantai jembatan. "Kita kunci putaran sabitnya di rel penopang!"

Jembatan besi berderit melengkung saat golem purba itu melonjak maju. Semburan uap hidrolik melontarkan tubuh bajanya ke udara, mengayunkan sabit gergaji yang berputar mendesing lurus ke arah kepala Vargas.

Vargas menunggu hingga bilah gergaji berada sejengkal dari wajahnya, lalu membanting tubuhnya ke sisi kanan jembatan.

CRAAAANG!

Bilah sabit gergaji yang berputar kencang menghantam lantai besi kisi-kisi yang kosong.

Gigi-gigi baja sabit itu mencengkeram celah jeruji lantai jembatan, menembus pelat besi dan tersangkut kuat di antara balok penopang silang. Turbin internal golem berderak kasar saat bilah gergajinya terkunci paksa oleh kerangka jembatan yang liat.

Percikan api menyala membakar serbuk karat di lantai. Golem itu mendengung keras, berusaha menarik sabitnya ke atas dengan katup hidrolik yang meraung, namun celah jeruji baja menahan bilahnya dengan rapat.

"Sekarang!" seru Ren melesat maju dari titik buta sebelah kiri.

Ren tidak mengincar sambungan engsel siku golem. Tubuhnya meluncur rendah di atas lantai kisi-kisi, menusukkan belati taring monsternya tepat ke katup pembuangan uap di pergelangan kaki kanan golem.

Bilah taring purba itu merusak seal tembaga katup tekanan tinggi.

Pshhhhh!

Semburan uap panas bertekanan tinggi menyembur liar dari kaki kanan golem, menyiram lantai jembatan dengan kabut putih pekat. Panas uap menyengat lengan bawah Ren, namun pemuda itu tidak melepaskan tekanannya hingga katup tembaga terlepas dari dudukannya.

Keseimbangan mesin raksasa itu goyah ke arah parit logam cair saat tekanan hidrolik di kaki kanannya anjlok total. Cerobong punggungnya memuntahkan api merah saat tungku pembakar di dadanya mengalami lonjakan panas akibat katup pengatur yang rusak.

"Riku, jerat lehernya!" teriak Ren memberi aba-aba berikutnya.

Dari barisan belakang, Riku menarik tali busurnya yang dilapisi kawat baja kerek tambang. Remaja itu membidik celah leher golem dan melepaskan anak panah berujung kait besi dengan akurasi pengintai terbaiknya.

Trang!

Kait besi menancap sempurna di sela lempengan leher golem. Riku melilitkan ujung kawat lainnya ke pilar roda gigi di sampingnya, mengunci kepala mesin purba itu agar tidak bisa memutar badannya kembali.

Shizuka berlari maju, menyiramkan sebotol air dingin ke poros rantai gergaji yang masih berputar lambat. Perubahan suhu mendadak membuat rantai baja panas itu berderak menyusut dan mengunci roda gigi penggerak di dalam bilah sabit.

Vargas bangkit dari lantai jembatan, mengayunkan kapak pendeknya ke engsel lutut kiri golem yang mulai bergetar hebat.

Brak!

Benturan kapak baja Vargas memecahkan pasak penahan lutut golem. Kaki kiri monster itu tertekuk kaku, memaksanya berlutut di atas jembatan besi dengan sabit yang masih tertancap di celah jeruji.

Golem itu meraung melalui celah cerobong uapnya yang membara, memuntahkan lidah api dan asap hitam pekat ke langit-langit kubah bengkel. Mata merah darahnya berkilat liar menatap Ren yang telah melompat ke atas bahu bajanya dengan belati taring purba terangkat tinggi.

Di bawah kaki mereka, parit logam cair terus bergolak menanti mangsa yang tergelincir.

Pertarungan mekanis di Lantai 12 telah memasuki babak penentuan yang mempertaruhkan seluruh sisa napas mereka. Dan Ren tahu, satu kesalahan milimeter saja akan kembali meremukkan tengkoraknya dan melempar jiwanya ke dalam kobaran api neraka.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!