NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV Lily Valley

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di samping Ayah setelah mendengar seluruh kebenaran itu. Waktu seolah berhenti, meninggalkan pikiranku terjebak di antara kenangan masa lalu dan kenyataan yang baru saja terungkap.

DNA Abadi.

Eksperimen.

Kematian orang tua Satoshi.

Pembantaian keluarga Yahiko.

Semua kata itu terus berputar di kepalaku, membentuk rangkaian peristiwa yang sulit kuterima. Aku ingin menyangkalnya. Aku ingin percaya bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman besar yang suatu hari akan terungkap sebagai kebohongan. Namun, wajah Ayah yang pucat dan tubuhnya yang kurus di hadapanku menjadi bukti bahwa penderitaan kami bukanlah sesuatu yang bisa kuhapus hanya dengan berharap.

Sejak kecil, aku selalu mengira kehidupanku memang berbeda karena aku kehilangan banyak hal yang seharusnya dimiliki seorang anak. Aku tumbuh dengan nama Lily Valley, menjalani kehidupan yang tidak sepenuhnya kupahami, dan belajar menerima bahwa ada bagian dari masa laluku yang sengaja disembunyikan dariku.

Aku tidak pernah tahu bahwa tubuhku sendiri menyimpan rahasia mengerikan.

Ternyata, bahkan sebelum aku dilahirkan, kehidupanku sudah menjadi sesuatu yang diperebutkan orang lain.

Aku memandangi kedua tanganku. Jemariku tampak biasa saja. Tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa di dalam tubuh ini terdapat sesuatu yang dianggap begitu berharga oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalku sebagai manusia.

Mereka melihat darahku.

Mereka melihat kemungkinan untuk memperpanjang hidup.

Mereka melihat hasil penelitian yang dapat mengubah dunia.

Namun, apakah pernah ada satu orang saja yang bertanya apakah aku ingin menjalani kehidupan seperti ini?

Tidak.

Tidak seorang pun bertanya kepadaku.

Aku bahkan belum sempat menangis ketika pertama kali menghirup udara dunia, tetapi orang-orang telah menentukan nasibku. Ada yang ingin memanfaatkanku, ada yang ingin menyembunyikanku, dan ada pula yang menjadikanku alasan untuk membalas dendam.

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuanku.

Selama ini, aku selalu berusaha menjadi seseorang yang tidak merepotkan orang lain. Aku belajar menahan tangis, menelan kekecewaan, dan menerima perlakuan buruk seolah-olah semuanya merupakan bagian dari kewajibanku. Ketika Satoshi menghinaku, aku memilih diam. Ketika ia membawa perempuan lain ke rumah kami, aku tetap menyiapkan makanan. Ketika ia membuatku merasa tidak berharga, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin suatu hari ia akan berubah.

Aku menghabiskan tiga tahun pernikahanku dengan menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Aku menunggu penghargaan.

Aku menunggu sedikit kebaikan.

Aku menunggu seseorang melihatku sebagai manusia yang memiliki perasaan.

Kini, setelah mendengar cerita Ayah, aku menyadari betapa seringnya aku membiarkan orang lain menentukan nilai diriku.

Aku bukan hanya seorang istri yang tidak dicintai.

Aku bukan sekadar anak yang kehilangan keluarga.

Aku bukan pula wadah bagi sesuatu yang mereka sebut DNA Abadi.

Aku adalah Lily.

Aku memiliki hak untuk merasa takut, marah, sedih, dan kecewa. Aku berhak menolak sesuatu yang tidak kuinginkan. Aku berhak menentukan ke mana kakiku akan melangkah, siapa yang boleh mendekatiku, dan kehidupan seperti apa yang ingin kujalani.

Pikiran itu terdengar sederhana, tetapi untuk pertama kalinya, aku benar-benar berusaha mempercayainya.

“Lily.”

Suara Ayah membuatku mengangkat kepala.

Ia menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan. “Maafkan Ayah.”

Aku terdiam.

“Seharusnya Ayah melindungimu dengan lebih baik. Seharusnya Ayah memastikan tidak ada seorang pun yang dapat menjadikanmu korban penelitian mereka. Namun, Ayah gagal.”

Aku menggenggam tangannya.

“Jangan berkata begitu, Ayah.”

“Tetapi semua ini terjadi karena—”

“Ayah tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.” Suaraku bergetar, tetapi aku berusaha melanjutkan. “Aku memang kehilangan banyak hal. Aku juga tidak tahu apakah aku mampu menerima semua kebenaran ini sekaligus. Namun, aku tidak ingin Ayah menghabiskan sisa tenaga hanya untuk menyalahkan diri sendiri.”

Air mata mengalir di pipiku.

“Aku sudah terlalu lama hidup tanpa mengetahui siapa diriku sebenarnya. Sekarang, setelah Ayah memberitahuku semuanya, aku ingin memiliki kesempatan untuk menentukan hidupku sendiri.”

Ayah menatapku lama sebelum mengangguk lemah.

Aku menyandarkan dahiku pada tangannya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan, tetapi untuk sesaat, aku hanya ingin merasakan bahwa aku tidak benar-benar sendirian.

Aku telah kehilangan rumah, kehilangan masa kecil, dan kehilangan kesempatan untuk mengenal keluargaku sebagaimana mestinya. Bahkan sekarang, ketika akhirnya bertemu kembali dengan Ayah, aku tidak tahu berapa lama kami bisa bersama.

Ketakutan itu menghimpit dadaku.

Aku ingin membawa Ayah keluar dari tempat ini. Aku ingin membawanya ke rumah kecil yang kubeli di desa Jepang, membuka jendela setiap pagi, menanam bunga di halaman, dan hidup tanpa harus mengkhawatirkan siapa yang mengincar darahku.

Aku ingin merasakan kehidupan sederhana yang selama ini hanya berani kubayangkan.

Namun, keinginan itu terasa begitu jauh.

Aku masih berada di tempat yang dikendalikan Gento. Ayah masih dalam kondisi lemah, dan orang-orang yang memburu kami mungkin belum berhenti bergerak. Bahkan jika aku berhasil melarikan diri, aku tidak tahu apakah tempat persembunyianku akan tetap aman.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diriku.

Aku tidak boleh membiarkan ketakutan mengambil seluruh kemampuanku untuk berpikir.

Jika mereka menginginkan sesuatu dari tubuhku, aku harus mengetahui apa yang sebenarnya mereka cari. Jika mereka takut terhadap kebenaran tentang pembantaian itu, aku harus mencari tahu siapa yang berusaha menutupinya.

Aku tidak memiliki pasukan seperti Gento. Aku tidak memiliki kekuasaan seperti keluarga Katagiri. Aku bahkan tidak tahu apakah pengetahuan yang kumiliki cukup untuk menghadapi orang-orang yang telah merencanakan semua ini selama bertahun-tahun.

Namun, aku masih memiliki pikiranku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, aku ingin menggunakannya bukan untuk bertahan dari hari ke hari, melainkan untuk mengambil kembali kehidupanku.

Pandanganku tanpa sengaja beralih kepada Gento.

Lelaki itu berdiri beberapa langkah dari kami. Wajahnya sulit dibaca, tetapi aku dapat melihat ketegangan pada rahangnya. Mungkin ia sedang memikirkan perkataan Ayah. Mungkin ia mulai meragukan cerita yang selama ini dipercayainya.

Aku tidak tahu.

Aku juga tidak ingin terburu-buru mempercayainya hanya karena ia terlihat sedang memikirkan kesalahannya.

Gento telah menculikku dan mengurung Ayah. Apa pun yang pernah dialaminya, penderitaannya tidak memberinya hak untuk mengambil kebebasan orang lain.

Aku memahami rasanya menjadi korban dari keputusan orang-orang yang lebih berkuasa. Justru karena itulah aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan membenarkan perbuatannya.

Di dalam hati, aku memikirkan Satoshi.

Aku tidak tahu di mana lelaki itu berada sekarang. Mungkin ia sedang mencariku. Mungkin ia telah mengetahui bahwa aku diculik. Atau mungkin ia hanya ingin mengembalikanku ke rumah Katagiri karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa aku telah meninggalkannya.

Apa pun alasannya, aku tidak ingin menjadikan Satoshi sebagai satu-satunya harapan untuk menyelamatkanku.

Ia pernah menjadi orang yang paling kuharapkan, tetapi juga orang yang paling sering membuatku merasa tidak berdaya. Penyesalannya, jika memang benar ada, tidak dapat menghapus ketakutan yang telah ditanamkannya dalam diriku. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku mampu memaafkannya, dan untuk saat ini, aku tidak ingin memaksakan jawaban itu.

Jika ia menemukanku, aku tetap berhak menentukan apakah aku ingin berbicara dengannya.

Aku tidak berutang cinta kepadanya hanya karena kami pernah menikah.

Aku juga tidak berkewajiban kembali kepadanya hanya karena ia menyesal.

Pernikahan kami belum selesai secara hukum, tetapi di dalam hatiku, aku telah lama berhenti menunggu kehidupan yang pernah kujanjikan kepadanya.

Aku ingin hidup untuk diriku sendiri.

Aku ingin mengenal nama asliku tanpa harus merasa takut.

Aku mengangkat wajah dan memandang lampu di langit-langit ruangan. Cahayanya terlalu terang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak ingin memejamkan mata untuk menghindari kenyataan.

Aku takut.

Aku sangat takut.

Namun, rasa takut tidak lagi berarti aku harus menyerah.

Aku mungkin tidak dapat memilih bagaimana kehidupanku dimulai. Aku tidak dapat mengubah eksperimen yang dilakukan sebelum kelahiranku, tidak dapat mengembalikan Ibu, dan tidak dapat menghapus penderitaan yang telah kualami.

Tetapi aku masih bisa memilih apa yang akan kulakukan setelah ini.

Dan jika dunia terus berusaha menjadikanku sesuatu yang dapat dimiliki, diperebutkan, atau digunakan, maka aku akan membuktikan bahwa mereka semua telah salah memahami satu hal.

Aku bukan rahasia yang harus mereka kuasai. Aku adalah manusia yang berhak menentukan akhir kisahku sendiri.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!