NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: SIDANG KELUARGA PAK KARIM

Malam setelah Rendo datang dan mengancam akan merebut aku dan anakku, rumah Pak Karim di ujung desa mendadak ramai seperti ada hajatan. Lampu-lampu terang benderang menyala semua. Beberapa mobil kijang tetangga terparkir di halaman.

Pak Karim menelepon Arga sore tadi, suaranya tegas dan berat di telepon.

"Ga, malam ini kamu, Kirana, Salsa, Rendo, Bu Lastri, semua kumpul di rumah induk. Kita sidang keluarga. Masalah ini harus selesai malam ini juga. Bapak tidak mau nama keluarga besar kita hancur karena kelakuan Rendo."

Sidang keluarga. Kata yang sangat aku takuti. Aku hanya anak rantau, mahasiswi yang diusir, hamil di luar nikah, sekarang harus menghadapi sidang keluarga mantan Kades yang paling disegani se-Wonorejo.

Jam 8 malam, aku, Arga, dan Salsa berangkat ke rumah Pak Karim. Aku memakai daster terbaikku yang sudah dicuci bersih, kerudung pinjaman dari Bu Minah, dan menggendong Salsa yang sudah tertidur di bahuku. Perutku yang masih 8 minggu belum terlihat, tapi aku mengelusnya terus-menerus untuk menguatkan diri.

Sesampainya di rumah Pak Karim, ruang tamu besar itu sudah penuh. Ada Pak Karim duduk di kursi utama dengan peci hitamnya, Bu Lastri duduk di sampingnya dengan wajah cemberut, ada Pak RT, Pak RW, Mbah Joyo dukun sakti dari Sumberjo, dan di pojok, Rendo duduk dengan jaket kulitnya yang masih kotor lumpur, merokok dengan santai, seolah-olah tidak ada masalah apa pun.

Semua mata tertuju padaku saat aku masuk menggendong Salsa. Tatapan mereka campur aduk, ada yang iba, ada yang sinis, ada yang penasaran.

"Duduk, Ga, Kirana, Salsa," kata Pak Karim dengan suara berat.

Kami duduk di karpet, berhadapan dengan Rendo.

Sidang dimulai. Pak Karim membuka dengan doa, lalu langsung to the point.

"Rendo, kamu saya panggil ke sini karena tadi pagi kamu datang ke rumah kakakmu Arga dan bikin keributan, bawa pisau, ancam Kirana yang sedang hamil. Benar begitu, Ga?" tanya Pak Karim pada Arga.

Arga mengangguk. "Benar, Pak. Dia bawa pisau lipat dan ancam mau bunuh saya dan Kirana. Warga bisa jadi saksi. Bu Minah lihat."

Pak Karim menatap Rendo tajam. "Rendo, apa benar kamu yang menghamili Kirana?"

Rendo menghembuskan asap rokoknya dengan santai. "Ah, Bapak ini. Mana buktinya, Pak? Kirana kan mahasiswi gaul di Jombang. Pacarnya banyak. Masa iya anak itu pasti anak saya? Bisa saja anak dosennya, Pak. Atau anak teman kampusnya."

Aku yang mendengar fitnah itu langsung menangis. Air mataku tumpah.

"Rendo! Kamu yang bilang cinta sama aku! Kamu yang janji mau nikahin aku setelah lulus! Kamu yang ajak aku ke kos-kosanmu!" teriakku histeris, tidak tahan lagi.

"Eh, Kirana, jangan bawa-bawa cinta. Cinta itu cuma main-main, Sayang. Kamu kan juga mau diajak ke kos. Sama-sama mau, kan?" jawab Rendo dengan enteng dan senyum sinis, membuat darahku mendidih.

Bu Lastri, ibu kandung Rendo, yang dari tadi diam, tiba-tiba membela anaknya. "Sudah, Pak Karim. Jangan pojokkan Rendo terus. Kirana ini juga salah. Perempuan baik-baik mana mau diajak ke kos laki-laki kalau tidak mau? Pasti ada maunya juga."

Mendengar ibu tirinya membela Rendo dan menyalahkan aku, Arga langsung berdiri dengan mata merah.

"Bu Lastri! Jaga mulut Ibu! Kirana itu korban! Rendo yang bujuk rayu dia! Rendo yang janji palsu! Ibu jangan bela anak Ibu yang salah!"

"Arga! Kamu jangan bentak Ibu! Ibu ini ibumu juga! Kamu bela perempuan lain daripada ibumu sendiri!" balas Bu Lastri tidak mau kalah, berdiri juga.

Suasana sidang keluarga langsung panas, hampir bentrok fisik antara Arga dan Bu Lastri.

Pak Karim menggebrak meja dengan keras. "Diam semua! Diam! Ini sidang keluarga, bukan pasar! Duduk semua!"

Semua terdiam.

Pak Karim lalu menatap Mbah Joyo yang dari tadi diam di pojok sambil merokok kemenyan.

"Mbah Joyo, saya minta Mbah Joyo terawang, anak yang ada di perut Kirana ini anak siapa? Anak Rendo atau bukan? Mbah Joyo kan orang pintar," kata Pak Karim.

Mbah Joyo, kakek tua umur 90 tahun yang sakti itu, membuka matanya yang sipit. Dia menatap perutku lama, lalu menatap Rendo lama.

Dia menghisap rokok kemenyannya dalam-dalam, lalu berkata dengan suara serak pelan, "Anak itu... anak Rendo. Darah daging Pak Karim. Darah daging keluarga ini. Saya lihat, ada ikatan batin antara Rendo dan janin itu. Ikatan ayah dan anak."

Mendengar itu, Rendo langsung kaget, rokoknya jatuh.

"Ah, Mbah Joyo ngarang! Mana ada terawangan begitu!" bantah Rendo gugup.

"Tapi Mbah Joyo tidak pernah salah terawang, Do," kata Pak RT yang ikut sidang. "Dulu Mbah Joyo bilang Mira disantet, benar disantet. Sekarang Mbah Joyo bilang anak itu anakmu, berarti benar anakmu."

Pak Karim menghela napas panjang dan menatap Rendo dengan kecewa.

"Rendo, dengar. Mbah Joyo bilang anak itu anakmu. Berarti kamu harus tanggung jawab. Kamu harus nikahi Kirana secara resmi, secara negara, bukan cuma janji."

Rendo tertawa sinis. "Nikahi? Enak saja, Pak! Saya masih muda, Pak! Saya masih mau kuliah S2! Masa saya nikah sama janda hamil anak saya sendiri? Malu, Pak! Malu sama teman-teman saya di kota!"

"Janda? Dia belum janda! Dia belum pernah nikah resmi! Kamu yang bikin dia seperti ini!" bentak Pak Karim, mulai emosi.

Arga yang dari tadi menahan amarah, akhirnya bicara dengan suara dingin tapi tegas.

"Pak, Bu, Pak RT, Pak RW, Mbah Joyo, saya minta izin bicara."

Semua menoleh ke Arga.

"Saya, Arga, kakak kandung Rendo, sudah menikahi Kirana secara siri tiga hari yang lalu, di depan Mbah Sarti, ibu kandung Kirana, dan disaksikan Bu Minah. Saya nikahi dia bukan karena saya cinta pada pandangan pertama, tapi karena saya kasihan pada Kirana yang diusir dari rumah, hamil tanpa suami, dan saya kasihan pada Salsa yang butuh ibu. Dan juga... karena saya trauma kehilangan Mira dengan cara yang sama."

Arga menggenggam tanganku erat di depan semua orang.

"Jadi, secara agama, Kirana sekarang adalah istri sah saya. Istri siri saya. Dan anak yang ada di perutnya, saya anggap sebagai anak saya juga. Saya yang akan tanggung jawab, saya yang akan biayai lahirannya, saya yang akan kasih nama saya di akta kelahiran anak itu nanti. Rendo tidak perlu tanggung jawab lagi. Biar saya yang tanggung jawab. Asal Rendo janji tidak pernah ganggu Kirana dan Salsa lagi."

Pernyataan Arga itu membuat semua orang di ruangan itu terkejut, terdiam, terharu.

Pak Karim meneteskan air mata. Bu Lastri terdiam. Mbah Joyo mengangguk-angguk.

Aku sendiri menangis deras. Tidak menyangka Arga yang dingin dan irit bicara itu bisa berkata seberani dan se-tulus itu di depan keluarganya.

Rendo yang mendengar itu malah tertawa lebih keras, tapi tawanya kini terdengar gugup dan malu.

"Wah, pahlawan kesiangan! Ya sudah, ambil saja, Mas! Ambil sampahku! Aku tidak butuh! Aku kasih gratis ke kamu! Tapi ingat, Mas, anak itu tetap darah dagingku! Suatu saat aku akan ambil lagi kalau aku sudah sukses!"

"Jaga mulutmu, Rendo! Kamu sudah saya kasih hati, jangan minta jantung!" bentak Pak Karim, berdiri dan menampar meja lagi.

Pak Karim lalu membuat keputusan akhir sebagai kepala keluarga besar.

"Keputusan sidang keluarga malam ini: Pertama, Rendo terbukti menghamili Kirana dan harus diusir dari Desa Wonorejo selama satu tahun untuk merenungi kesalahannya di Kalimantan, tidak boleh pulang. Kedua, pernikahan siri Arga dan Kirana disahkan oleh keluarga dan akan segera diurus menjadi nikah resmi negara di KUA bulan depan setelah masa iddah Kirana? Eh, Kirana tidak ada iddah karena belum pernah nikah resmi, jadi bisa langsung diurus. Ketiga, anak yang ada di perut Kirana adalah cucu keluarga Pak Karim, darah daging keluarga, dan akan menjadi anak sah Arga secara hukum. Keempat, Rendo dilarang mendekati Kirana, Salsa, dan rumah Arga dalam radius 500 meter."

Keputusan itu dibacakan dengan tegas dan disetujui semua yang hadir, kecuali Rendo dan Bu Lastri yang masih cemberut.

Rendo berdiri dengan wajah merah karena malu dan marah. "Oke, Pak! Saya pergi! Saya tidak butuh keluarga ini! Saya akan sukses di Kalimantan dan kalian akan menyesal!"

Rendo pergi dengan membanting pintu rumah Pak Karim keras-keras dan menggeber motor RX King-nya pergi lagi dalam kegelapan malam, meninggalkan sidang keluarga yang masih terdiam.

Setelah Rendo pergi, Pak Karim mendekati aku dan Arga dan Salsa.

"Kirana, Nduk, maafkan keluarga kami ya. Maafkan kelakuan Rendo. Kamu yang sabar jadi istri Arga. Arga itu anak baik, cuma dingin karena trauma. Jaga dia ya, Nduk. Jaga Salsa ya. Dan jaga cucu saya yang ada di perutmu itu baik-baik ya, Nduk."

Aku mengangguk sambil menangis dan mencium tangan Pak Karim.

Bu Lastri juga mendekat dengan wajah yang sudah tidak sinis lagi, tapi iba. "Kirana, maafkan Ibu tadi ya, Nduk. Ibu cuma bela anak Ibu. Ibu titip Arga dan Salsa ya."

Mbah Joyo mendekat dan memberikan sebuah jimat kecil dari kain putih berisi garam dan merica.

"Nduk Kirana, ini jimat penolak santet sisa-sisa Wiryo. Pakai di bawah bantalmu sampai kamu melahirkan nanti. Biar kutukan Wiryo yang masih sisa-sisa tidak kena kamu. Kamu harus selamat, Nduk. Kamu pemutus kutukan."

Malam itu, sidang keluarga Pak Karim selesai dengan keputusan yang melegakan. Rendo diusir, pernikahanku dengan Arga disahkan keluarga, dan anak di perutku diakui sebagai cucu Pak Karim.

Dalam perjalanan pulang naik motor trail bertiga di bawah sinar bulan purnama, Arga memelukku dari belakang dengan satu tangan sambil menyetir.

"Terima kasih, Kir. Kamu berani bicara di sidang tadi," bisik Arga.

"Terima kasih juga, Pak. Bapak sudah bela saya di depan keluarga Bapak," bisikku balik.

Salsa yang ada di depan, di antara kami berdua, tertawa cekikikan karena angin malam menerpa wajahnya.

Untuk pertama kalinya, kami bertiga terasa seperti keluarga sungguhan. Keluarga kecil yang baru saja memenangkan sidang keluarga besar dan memutus kutukan 76 tahun.

Tapi aku tahu, ini belum selesai. Karena Rendo bilang dia akan kembali. Dan dia akan mengambil anaknya.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!