NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Hei, kakakku yang cantik bagai kepompong belum matang!" cemooh Cesa dengan volume suara yang langsung melonjak drastis. Sumbu pendeknya telah terbakar sempurna. Ia bangkit berdiri dari sofa empuknya, menatap Alice dengan pandangan mata yang menyala-nyala penuh sarkasme.

Cesa berkacak pinggang, membuat dress motif bunga mawar merah sebesar gaban yang dikenakannya berkibar heboh. "Sekarang Devan itu suami sah gue, kakakku sayang! Suami resmi, legal secara hukum dan agama! Mana bisa lo tiba-tiba datang terus main minta nikah sama dia lagi? Dikira mas-mas penghulu bisa di-refund apa?!" dengus Cesa keras-keras.

Alice yang masih bersimpuh di lantai mendongak. Wajahnya yang semula tampak sembab dan penuh penyesalan mendadak berubah tegang. Ia merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu bangkit berdiri dengan perlahan, mencoba mengembalikan pembawaannya yang selama ini dikenal selalu tenang, lembut, dan elegan.

"Aku lebih segalanya dari kamu, Cesa," ujar Alice dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, mencoba meniru ketenangan para wanita bangsawan. Matanya menatap Cesa dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan. "Semua orang tahu kalau aku ini anggun dan layak untuk mendampingi penerus Mahardika Holdings. Bukan gadis barbar yang hobi bikin malu di lobi kantor dan restoran mewah seperti kamu."

Mendengar ucapan itu, Devano Alvian Mahendra yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan langsung memicingkan matanya. Devan menatap Alice, perempuan yang awalnya dijodohkan dengannya dulu, dengan pandangan sinis dan penuh rasa muak.

Devan benar-benar tidak menyangka. Perempuan yang selama ini dicitrakan oleh keluarga besar sebagai sosok gadis ideal, kalem, berpendidikan tinggi, dan penuh tata krama, ternyata malah terang-terangan membandingkan diri dan merendahkan adik kandungnya sendiri demi memperebutkan status menantu konglomerat. Di mata Devan, topeng keanggunan Alice baru saja retak dan hancur berkeping-keping.

"Waktu itu... waktu hari H pernikahan, aku ditipu," kilah Alice cepat, menyadari tatapan sinis dari Devan dan aura dingin yang mendadak memancar dari Kakek Satya. Alice buru-buru memasang wajah melas, air mata buayanya mulai menggenang lagi di pelupis mata. "Aku ditipu sama temen aku sendiri, Kek. Aku dibawa kabur ke tempat terpencil dan dikunci di sana. Aku gak ada niat sama sekali buat kabur dari pernikahan ini, Kek! Sumpah! Aku dijebak!"

Kakek Satya Mahardika tidak merespons. Orang tua tunggal yang mengendalikan seluruh dinasti bisnis Mahardika itu hanya menatap Alice dengan pandangan mata yang sangat datar, kosong, dan dingin. Kakek Satya yang sudah makan asam garam kehidupan selama puluhan tahun tentu tahu mana tangisan yang tulus dan mana akting murahan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kakek Satya membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang mantap dibantu ketukan tongkat naganya yang ritmis, beliau berjalan pergi meninggalkan ruang keluarga begitu saja menuju lantai atas, seolah-olah keberadaan Alice di sana tidak lebih dari seonggok angin lalu yang mengganggu ketenangannya.

Melihat Kakek Satya pergi tanpa memberi keputusan, Alice panik. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Devan. Dengan langkah yang sengaja dibuat selemah lembut mungkin, Alice mendekati Devan, mencoba meraih ujung jas pria itu. "Devan... kamu harus percaya sama aku. Pernikahan kamu sama Cesa itu salah. Aku yang seharusnya berdiri di samping kamu..."

SET!

Sebelum jemari Alice sempat menyentuh kain jas Devan, sebuah tas Hermes merah menyala berukuran besar tiba-tiba melayang di antara mereka, menghadang gerakan tangan Alice dengan presisi yang luar biasa.

"Jauh-jauh lo, kuman!" bentak Cesa, menepis tangan Alice menggunakan tas mahalnya tanpa beban. Cesa langsung melangkah maju, memposisikan tubuhnya yang berbalut dress bunga-bunga raksasa tepat di depan Devan, bertindak bagaikan benteng pertahanan utama yang kokoh. "Nggak usah pakai acara pegang-pegang! Kulit suami gue terlalu premium buat disentuh sama tangan lo yang hobi kabur-kaburan!"

Devan yang berdiri di belakang punggung Cesa hanya bisa tertegun. Ada perasaan aneh yang mendadak menggelitik dadanya saat melihat bagaimana si sumbu pendek ini begitu agresif melindunginya dari wanita lain. Meskipun Cesa bersuara cempreng dan luar biasa barbar, entah kenapa bagi Devan, keberanian Cesa jauh lebih nyata dan jujur daripada keanggunan palsu yang ditunjukkan oleh Alice.

Cesa menoleh sedikit ke arah Devan, lalu kembali menatap kakaknya dengan senyum penuh kemenangan yang terkembang lebar di wajah cantiknya. "Dengar ya, Kakakku yang merasa paling anggun se-kecamatan. Kakek aja ogah dengerin dongeng lo. Mending sekarang lo pulang, mandi yang bersih, terus renungkan kesalahan lo kenapa bisa kalah telak sama adek lo yang barbar ini!"

Alice mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, wajahnya memerah padam menahan malu dan amarah yang luar biasa karena baru saja diusir secara tidak langsung oleh adik yang selalu dianggapnya berada di bawah levelnya.

Malam harinya, suasana di dalam mobil Alphard hitam yang melaju menuju kawasan Puncak terasa begitu sunyi dan mencekam. Perintah mutlak Kakek Satya tidak bisa diganggu gugat. Devan dan Cesa benar-benar langsung didepak malam itu juga ke villa peristirahatan keluarga Mahardika demi menjalankan misi ekstrem: menghasilkan seorang cicit.

Devan duduk di kursi kemudi, fokus menembus kegelapan jalan raya yang mulai berkabut. Sementara Cesa duduk di kursi samping kemudi, bersandar malas dengan tangan terlipat di dada. Dress mawar merahnya sudah diganti dengan sweater rajut longgar berwarna lilac, namun topi jerami pantai raksasanya tetap bertengger manis di kursi belakang mobil sebagai properti wajib.

"Gara-gara lo ya, monyet!" cetus Cesa tiba-tiba, memecah keheningan dengan omelan khasnya. "Kalau lo nggak tebar pesona sama mantan kanebo kering lo itu di restoran, Kakek nggak bakal murka dan ngusir kita ke Puncak!"

Devan mendengus, melirik Cesa sekilas dari sudut matanya. "Heh, sumbu pendek! Harusnya gue yang protes! Lo ngapain pakai acara gebrak meja marmer? Kalau meja itu retak, lo mau ganti pakai apa? Pakai batu akik?"

"Gue belain harga diri keluarga lo, Devan kampret! Lo denger sendiri kan kakak gue tadi ngomong apa? Dia ngerasa lebih segalanya dari gue. Dan lo... lo tadi sempet-sempetnya bengong pas dia datang. Jangan-jangan lo nyesel ya nikah sama gue? Lo sebenarnya maunya sama kakak gue yang sok kalem itu?!" tuduh Cesa dengan mata membelalak, emosinya langsung tersulut lagi hanya karena asumsinya sendiri.

Devan menghela napas panjang, mengeratkan genggamannya pada roda kemudi.

"Gue sinis sama dia bukan karena nyesel, Sa. Gue cuma habis pikir aja. Ternyata cewek yang bokap lo agung-agungkan sebagai anak teladan itu mentalnya serendah itu. Berani-beraninya dia jelek-jelekin adiknya sendiri di depan orang lain cuma demi harta." Devan terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, "Gue gak pernah nyesel nikah sama lo. Meskipun lo mirip petasan banting, setidaknya lo gak bermuka dua."

Mendengar kalimat terakhir Devan, Cesa mendadak terbungkam. Kalimat jujur dari mulut suaminya yang tengil itu entah kenapa berhasil memberikan sengatan hangat di dadanya. Cesa memalingkan wajahnya ke arah jendela luar yang gelap, mencoba menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba muncul di kedua pipinya. 'Sialan si Devan, pinter banget kalau urusan bikin jantung orang mau copot,' rutap Cesa dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!