Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN DOMINIC
Isabella membaca pesan itu berulang kali.
Nama pengirimnya masih tertera jelas di layar ponsel.
CLARA.
Padahal selama ini mereka percaya Clara telah meninggal dua puluh tahun lalu. Bahkan kematiannya menjadi awal dari semua rahasia yang menghancurkan kehidupan Isabella dan Dominic.
“Ini tidak mungkin,” bisik Isabella.
Dominic berdiri membeku di sampingnya. Wajahnya pucat, sementara matanya terpaku pada nama yang muncul di layar.
“Clara sudah meninggal,” katanya.
“Kalau begitu, siapa yang mengirim pesan ini?”
Dominic tidak menjawab.
Isabella mendekatkan ponsel ke wajahnya.
“Apa kau mengenal nomor ini?”
Dominic mengambil ponsel tersebut dan memeriksa nomor pengirimnya. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng.
“Nomor ini tidak terdaftar. Tapi ada sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Pesan ini dikirim dari dalam rumah sakit tua tempat Richard pernah dirawat.”
Isabella langsung teringat rekaman yang baru mereka tonton.
Dalam rekaman itu, Elena mengarahkan pistol kepada Richard. Namun sebelum rekaman berakhir, Richard menyebut tentang anak ketiga dan perempuan yang melahirkan Dominic.
“Kurasa kita harus mencari seseorang yang mengetahui kelahiranmu,” ujar Isabella.
Dominic menatapnya.
“Dan kalau jawabannya lebih buruk dari yang kita bayangkan?”
Isabella menggenggam tangannya.
“Setidaknya kali ini kita menghadapinya bersama.”
Dominic tidak menjawab, tetapi ia membalas genggaman itu.
Mereka tiba di rumah sakit tua menjelang tengah malam.
Bangunan itu sudah lama tidak digunakan. Sebagian jendelanya pecah, dindingnya dipenuhi lumut, dan lorong-lorongnya hanya diterangi lampu darurat yang berkedip.
Dominic berjalan di depan Isabella.
“Dulu aku pernah dirawat di sini,” katanya.
“Kapan?”
“Ketika berusia lima tahun. Aku mengalami kecelakaan, tetapi tidak pernah diberi tahu siapa yang membawaku ke sini.”
Isabella menatapnya.
“Mungkin ada hubungannya dengan ibumu.”
Dominic berhenti.
“Aku bahkan tidak tahu siapa ibuku.”
Mereka memasuki ruang arsip. Dominic menemukan sebuah lemari besi kecil di balik meja tua. Pada bagian depannya terdapat tulisan yang hampir terhapus.
PROYEK IMANUEL — DATA KELAHIRAN.
Isabella membantu membuka lemari tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa map, foto bayi, dan dokumen rumah sakit.
Dominic mengambil sebuah map berwarna merah.
Namanya tertulis di bagian depan.
DOMINIC — SUBJEK KETIGA.
Ia membuka map itu.
Lembar pertama berisi hasil pemeriksaan DNA. Lembar kedua berisi catatan kelahiran. Namun ketika Dominic melihat nama ibu biologisnya, tangannya langsung gemetar.
“Tidak…”
Isabella mendekat.
“Siapa namanya?”
Dominic tidak sanggup menjawab.
Isabella mengambil dokumen tersebut.
Di sana tertulis:
NAMA IBU BIOLOGIS: MARIANA ADISTI.
Isabella mundur satu langkah.
Mariana.
Perempuan yang beberapa waktu lalu mengaku sebagai ibu kandung Isabella.
“Ini pasti kesalahan,” ucap Isabella.
Dominic menggeleng pelan.
“Tidak. Lihat tanggal lahirnya.”
Isabella membaca tanggal yang tercantum.
Dominic lahir pada pukul 00.17.
Tanggal itu sama dengan tanggal lahir yang tercatat pada gelang bayi BABY B.
Namun ada satu catatan tambahan di bagian bawah dokumen.
ANAK INI TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN KEPADA IBU KANDUNGNYA.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lorong.
Mereka menoleh bersamaan.
Seseorang berdiri di ambang pintu.
Perempuan tua dengan rambut panjang yang mulai memutih.
Mariana.
“Mariana?” Isabella terkejut.
Perempuan itu masuk perlahan. Matanya langsung tertuju kepada dokumen di tangan Dominic.
“Kalian seharusnya tidak menemukan itu.”
Dominic menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Apakah benar Anda ibu kandungku?”
Mariana menunduk.
Tidak ada jawaban.
“Jawab aku!” suara Dominic meninggi.
Mariana mengangkat wajahnya. Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Ya.”
Dominic tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar menyakitkan.
“Jadi selama ini kau tahu?”
“Aku tidak punya pilihan.”
“Dua puluh tahun, Mariana. Dua puluh tahun aku hidup tanpa mengetahui siapa ibuku!”
Mariana mendekat, tetapi Dominic mundur.
“Aku ingin menjelaskan semuanya.”
“Jelaskan sekarang!”
Mariana menarik napas panjang.
“Pada malam itu, aku melahirkan tiga bayi. Isabella, Victoria, dan kamu.”
Isabella terdiam.
“Tiga bayi?” ulangnya.
Mariana mengangguk.
“Namun kelahiran kalian bukan kebetulan. Kalian menjadi bagian dari sebuah perjanjian yang dibuat oleh Clara, Elena, dan Adrian.”
“Apa hubungannya dengan kami?” tanya Isabella.
Mariana menatap Isabella dengan sedih.
“Clara mengetahui bahwa Adrian sedang menjalankan eksperimen keluarga yang disebut Proyek Imanuel. Dia ingin menghentikannya. Tetapi sebelum sempat melakukannya, dia mengetahui bahwa dirinya mengandung anak kembar.”
Dominic mengerutkan kening.
“Lalu aku?”
Mariana menunduk.
“Kamu adalah anak yang lahir dari hubunganku dengan Richard Laurent.”
Isabella menatap Dominic.
Selama ini mereka mengira Dominic adalah anak dari perempuan yang membunuh ibu Isabella. Namun ternyata, hubungan keluarga mereka jauh lebih rumit.
“Kenapa Richard tidak pernah mengakuimu?” tanya Dominic.
“Karena Richard takut Adrian akan menggunakanmu untuk menghancurkan semua orang.”
Mariana mengambil sebuah foto dari tasnya.
Foto itu memperlihatkan dirinya sedang menggendong bayi. Di sampingnya ada Richard, Clara, dan Elena.
“Richard mencintaimu, Dominic. Dia bahkan pernah berusaha membawamu pergi. Tetapi Clara menghentikannya.”
“Kenapa?”
Mariana menatapnya.
“Karena Clara mengetahui sesuatu tentang dirimu.”
“Apa?”
Mariana terdiam lama sebelum akhirnya menjawab.
“Kamu bukan sekadar anak ketiga dalam proyek itu. Kamu adalah anak yang seharusnya mati malam itu.”
Isabella merasa tubuhnya melemah.
“Apa maksud Anda?”
Mariana mengambil dokumen lain dari map merah.
“Ketika kalian lahir, salah satu bayi mengalami gangguan pernapasan. Adrian memerintahkan dokter untuk menyelamatkan bayi yang memiliki tanda lahir khusus di bahunya.”
Dominic refleks menyentuh bahunya.
Isabella memperhatikan gerakannya.
“Kau punya tanda lahir?”
Dominic mengangguk pelan.
Mariana melanjutkan.
“Adrian percaya bayi itu memiliki nilai paling penting dalam proyeknya. Namun Clara menolak menyerahkannya.”
“Bayi itu siapa?” tanya Isabella.
Mariana menatap Dominic.
“Kamu.”
Dominic menggeleng.
“Jadi, aku yang seharusnya mati?”
“Bukan. Ada bayi lain yang dibuat seolah-olah meninggal untuk menggantikanmu.”
Isabella menutup mulutnya.
“Bayi siapa?”
Mariana belum sempat menjawab ketika lampu ruangan tiba-tiba padam.
Terdengar suara benda jatuh.
Kemudian sebuah tembakan menggema.
“Isabella!”
Dominic menarik Isabella ke belakang lemari.
Mariana terjatuh di dekat pintu.
“Mariana!” Isabella berusaha mendekatinya.
“Jangan!” Dominic menahannya.
Dari kegelapan terdengar suara seorang pria.
“Serahkan dokumennya.”
Dominic mengangkat kepala.
“Adrian?”
Seseorang tertawa.
“Sayangnya, bukan.”
Lampu darurat menyala kembali.
Seorang pria bertopeng berdiri di tengah ruangan sambil mengarahkan pistol kepada mereka.
Dominic berdiri perlahan.
“Siapa kau?”
Pria itu tidak menjawab. Ia justru menatap Mariana.
“Sudah terlalu lama kau menyimpan rahasia ini.”
Mariana berusaha bangkit.
“Jangan sentuh anak-anakku.”
Pria bertopeng itu tertawa.
“Anak-anakmu? Kau bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya kau lahirkan.”
Ia melempar sebuah amplop ke lantai.
Isabella mengambilnya.
Di dalam amplop terdapat hasil tes DNA terbaru.
Tiga nama tercantum di sana:
* Isabella Laurent.
* Dominic Laurent.
* Victoria Laurent.
Namun hasil pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.
Isabella dan Victoria memiliki ibu biologis yang sama.
Sementara Dominic memiliki kecocokan DNA sebesar 99,9 persen dengan Mariana.
Isabella membaca hasil itu dengan bingung.
“Kalau begitu, apa yang salah?”
Pria bertopeng itu menurunkan pistolnya sedikit.
“Yang salah adalah nama ibu biologis Isabella.”
Isabella menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Pria itu membuka topengnya.
Wajah yang muncul membuat Isabella hampir kehilangan keseimbangan.
Itu adalah Richard Laurent.
Pria yang selama ini mereka yakini telah ditembak dan meninggal.
Dominic melangkah mundur.
“Tidak mungkin…”
Richard tersenyum tipis.
“Kalian terlalu mudah percaya pada kematian seseorang.”
Isabella menangis.
“Kenapa kau melakukan semua ini?”
Richard menatapnya lama.
“Karena aku ingin menyelamatkanmu.”
“Dari siapa?”
Richard mengangkat tangannya dan menunjuk Dominic.
“Dari saudaramu sendiri.”
Dominic membeku.
Richard melanjutkan dengan suara dingin.
“Dominic bukan hanya anakku. Dia adalah orang yang seharusnya menggantikan Adrian dalam Proyek Imanuel.”
Lalu Richard mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang bayi dengan gelang bertuliskan BABY A.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang membuat Isabella merinding.
BAYI YANG SELAMAT BUKANLAH ISABELLA.
Richard tersenyum.
“Sekarang kalian akhirnya akan tahu siapa yang selama ini hidup dengan identitas palsu.”
Ponsel Isabella bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Jangan percaya kepada Richard.
Pria yang berdiri di depanmu bukan Richard yang asli.
Isabella mengangkat wajahnya.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Mariana berteriak dari lantai.
“ISABELLA! LARI!”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Seorang perempuan masuk dengan wajah yang sangat mirip Isabella.
Ia menatap Richard, lalu berkata dengan suara bergetar:
“Berhenti berpura-pura menjadi ayah kami.”
Isabella menoleh.
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Karena aku tahu siapa kau sebenarnya.”
Dan nama perempuan itu adalah… CLARA IMANUEL.
jangan lupa mampir kakk..🤭