NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"MINGGIR!! ENYAHLAH!!" teriak pimpinan samurai itu murka.

Warga yang menyemut di depan gedung Griya Harta Emas bergegas membelah jalan, memberi ruang bagi rombongan samurai yang melangkah keluar dengan gusar.

Pria itu sempat menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah gedung dan kerumunan yang berbisik-bisik. "Ayo pergi!" perintahnya kasar seraya melangkah makin cepat.

Dari dalam Jeep hitam yang terparkir tak jauh dari sana, mata-mata suruhan Ichikawa mengamati seluruh insiden itu dengan tatapan tajam tak berkedip.

Sementara itu, di dalam ruang utama Griya Harta Emas, Ujang dan Aska sibuk membersihkan pecahan pispot keramik yang berserakan di lantai. Bibi Sinta berdiri diam mengawasi, sedangkan Gilang menyandarkan punggungnya pada pagar besi perlindungan dengan raut berpikir.

"Mulai sekarang, kita harus ekstra waspada," gumam Gilang pelan.

Aska yang tadinya berjongkok mengumpulkan serpihan keramik sontak menegakkan tubuhnya. "Apa maksud Mas Gilang?"

"Kita harus secepatnya menemukan Emma," sahut Ujang seraya mengibaskan tangannya ke arah pintu keluar. "Kalau tidak, berandalan-berandalan seperti mereka bakal terus datang mengganggu kita!"

Bibi Sinta melangkah pelan mendekati Gilang. "Aku jadi teringat sesuatu... Tempat terakhir yang dikunjungi Emma sudah ketemu," ujarnya menatap Gilang lekat-lekat.

Gilang yang tadinya bersandar santai langsung terhenyak. "Apa?"

Bibi Sinta mendongak ke lantai dua. Pandangan Gilang, Ujang, dan Aska otomatis ikut terangkat mengikuti arah tatapan Bibi Sinta. Di balkon atas, berdiri Bella dan ayahnya yang menatap mereka bergeming.

Beberapa menit kemudian, mereka semua—minus Aska—sudah berkumpul dan duduk melingkar di ruang dalam. Kedatangan Bella dan ayahnya kali ini membawa angin segar: sebuah petunjuk berharga tentang keberadaan Emma, wanita simpanan Ichikawa yang menghilang tanpa jejak.

"Tujuh hari yang lalu, kami berhasil menemukan tukang becak yang mengantar Emma," buka ayah Bella tenang.

"Apa?! Tidak, tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" potong Ujang cepat seraya menunjuk keberatan. "Aku sudah mengejar dan menyisir semua tukang becak di Aula! Aku tanyai satu per satu, aku selidiki sendiri!" cerocosnya sembari memegangi pinggang dengan gerakan tangan menggebu-gebu.

"Dia tidak bekerja di kantor becak Aula Bulan Semi," sela ayah Bella datar, tatapannya lurus membentengi protes Ujang.

"Lalu?" tanya Gilang, menoleh penuh minat pada pria paruh baya itu.

"Kau pernah bilang, ada kemungkinan dia sudah dibunuh," sahut Bella, mengambil alih pembicaraan dengan tatapan tajam. "Kami mencoba melacak siapa calon pembunuhnya." Bella membungkukkan badannya sedikit ke depan. "Dan muncul satu nama."

"Nyonya Maera?" ulang Gilang mengernyitkan alisnya rapat-rapat. "Jadi... Yukiko Maera yang memanggil Emma?" tambahnya, menatap ayah Bella meminta kepastian.

"Awalnya dia dipanggil ke kediaman Ichikawa. Namun baru tiga puluh menit di sana, dia mendadak dipindahkan ke tempat lain," terang ayah Bella.

Gilang menyilangkan sebelah kakinya. Raut santainya sirna, berganti keseriusan mendalam. "Dipindahkan ke mana?"

"Rumah Sakit Jayakarta," jawab ayah Bella mantap.

"Jayakarta?! Rumah Sakit Jayakarta?!" seru Ujang kaget.

Gilang menoleh cepat. "Kau yakin dengan informasi ini?" tanyanya memastikan.

Ada rahasia kelam apa sebenarnya di balik dinding Rumah Sakit Jayakarta?

Kilas Balik...

Malam merambat pekat ketika suara deru mesin memecah keheningan. Bella memacu sepeda motor usangnya, sorot lampu depan menembus kegelapan malam. Di belakang motornya, terikat seutas tali tebal yang menjerat kaki seorang pria tukang becak jinrikisha yang tadi ia buntuti.

Bella memutar selongsong gas tanpa ampun, menyeret pria itu menaiki lantai atas sebuah bangunan tua yang mangkrak.

BRUMMM! BRUMMM! SRETTTT!

"AAAAAAHHH! TOLONG HENTIKAN! AMPUN!" jerit tukang becak itu histeris. Tubuhnya tergantung terbalik di tepi bangunan, rambutnya menjuntai ke bawah menyapu angin malam.

Bella menghentikan motornya tepat di tepi. Ia menoleh ke arah pria yang menggelantung itu. Di dekat sana, sang ayah sudah berjongkok, menatap dingin pada si tukang becak.

"Apakah kau yakin tempatnya adalah Rumah Sakit Jayakarta?" tanya ayah Bella, mengorek informasi dengan nada menekan.

"IYA! IYA, AKU BERSUMPAH RUMAH SAKIT JAYAKARTA! AKU BERSUMPAH DEMI AYAH DAN IBUKU!" teriak pria itu histeris dengan wajah pucat pasi.

"RUMAH SAKIT JAYAKARTA!"

"AKU SENDIRI YANG MEMBAWA DIA KE RUMAH SAKIT ITU!"

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!