NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekapan Hangat Di Bawah Badai 12.

Gerimis yang sejak siang menggantung di langit SMA Bhineka akhirnya pecah menjadi hujan deras tepat saat bel pulang berbunyi.

Koridor sekolah seketika riuh oleh derap langkah siswa yang terburu-buru mencari tempat berteduh atau berlari menuju jemputan.

Di lobi utama, Langit berdiri menyandarkan punggungnya pada tiang beton.

Matanya tertuju pada layar ponsel, membaca pesan singkat dari Zara, sang kekasih.

“Sayang, hujan deras banget. Aku dijemput sopir hari ini, ya. Kamu hati-hati pulang pakai motor nya ya. Love you.”

Langit menghela napas pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dipaksakan. Ia mengetik balasan singkat,

“Iya, hati-hati di jalan.”

Tepat setelah pesan itu terkirim, sebuah bayangan berhenti di sampingnya. Langit menoleh dan langsung mengenali langkah kaki yang teratur itu.

Ulfa. Ketua OSIS SMA Bhineka yang selalu tampil rapi, tegas, dan dingin.

Ulfa menatap tirai hujan dengan kening sedikit berkerut. Tangannya mendekap beberapa map berisi berkas rapat OSIS agar tidak kecipratan air.

"Zara sudah pulang?" suara Ulfa terdengar datar, nyaris tenggelam oleh suara gemuruh guntur. Gadis itu tidak menoleh pada Langit, menjaga pandangannya tetap lurus ke depan demi menghindari kecurigaan siswa lain yang masih berlalu-lalang.

"Sudah. Dijemput sopirnya," jawab Langit, sama datarnya. Ia melirik jam tangan. "Lu nggak ada yang jemput?"

"Supir rumah lagi antar mama ke luar kota. Angkutan umum pasti penuh jam segini, dan bus sekolah sudah berangkat dari tadi," ujar Ulfa. Ada nada frustrasi yang disembunyikan dengan baik dalam suaranya yang tenang.

Langit terdiam beberapa saat, menimbang opsi yang mereka miliki.

Ego remajanya menolak, tetapi rasa tanggung jawab sebagai seorang laki-laki dan status hukumnya sebagai suami membuatnya tidak bisa membiarkan Ulfa telantar di sekolah sampai malam.

"Pulang sama gue. Pakai motor," kata Langit akhirnya.

Ulfa menoleh cepat, matanya sedikit melebar. "Kita bisa ketahuan, Langit. Kalau anak-anak lain lihat—"

"Hujannya deras, Ulfa. Semua orang fokus menyelamatkan diri masing-masing. Pakai jas hujan, pakai helm, nggak akan ada yang sadar itu lu," potong Langit tegas, menyudahi perdebatan sebelum dimulai. "Tunggu di sini. Gue ambil motor di parkiran."

Tanpa menunggu persetujuan, Langit menerobos hujan menuju area parkir motor.

Ulfa hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ada rasa hangat yang aneh sekaligus gelisah yang menggelitik dadanya. Ini gila, yang dilakukan suaminya benar-benar nekat.

Sepuluh menit kemudian, motor sport hitam Langit berhenti di depan lobi.

Langit sudah mengenakan jas hujan setelan berwarna hitam, menyodorkan satu jas hujan serupa berukuran lebih kecil yang biasa ia simpan di bagasi untuk Zara. Namun hari ini, jas itu berpindah tangan ke Ulfa.

Setelah Ulfa memakai jas hujan dan helmnya, ia naik ke jok belakang.

Jarak di antara mereka terasa begitu canggung. Ulfa sengaja menggeser duduknya sedikit ke belakang, menyisakan ruang kosong di antara punggung Langit dan dadanya.

Tangannya memegang besi behel di belakang motor dengan erat.

Motor bergerak membelah jalanan kota yang mulai tergenang air.

Hujan turun semakin beringas, seperti ditumpahkan dari langit.

Jarak pandang menjadi sangat terbatas, dan angin kencang beberapa kali membuat motor bergoyang tidak stabil.

Langit harus ekstra fokus. Jalanan licin, dan petir sesekali menyambar. Saat motor melewati sebuah lubang yang tertutup air, roda belakang tersentak keras.

"Ah!" Ulfa terpekik kecil saat tubuhnya terdorong ke depan, menghantam punggung Langit. Pegangannya pada besi belakang terlepas.

"Ulfa! Pegangan yang benar! Bahaya, jalannya licin!" teriak Langit dari balik helm, suaranya berusaha mengalahkan suara badai.

Ulfa ragu-ragu. Melalui kaca helm yang buram oleh bintik air, ia bisa melihat punggung tegap Langit yang menjadi tamengnya dari hantaman angin dan air hujan di depan.

Di tengah keraguan itu, motor kembali oleng karena terpaan angin dari truk yang melintas cepat di sisi mereka.

Rasa takut kehilangan keseimbangan mengalahkan segala kekakuan ego.

Kedua tangan Ulfa bergerak maju, melingkari pinggang Langit. Ia merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di balik pundak cowok itu untuk menghindari terpaan angin dingin.

Langit tersentak di balik kemudinya. Sentuhan itu instan mengirimkan sengatan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Berbeda dengan saat ia membonceng Zara yang penuh tawa dan obrolan manja, dekapan Ulfa terasa berbeda.

Ada kepasrahan, kebutuhan akan perlindungan, dan getaran tubuh Ulfa yang kedinginan yang langsung menembus jas hujan mereka.

Langit perlahan menurunkan kecepatan motornya. Ia membiarkan tangan Ulfa mendekapnya erat.

Tanpa sadar, satu tangan Langit yang tidak menarik gas sempat menyentuh punggung tangan Ulfa di pinggangnya selama dua detik, memastikan sang istri memeluknya dengan aman, sebelum kembali memegang stang motor.

Di tengah badai sore itu, di atas motor yang membelah kemacetan kota, dua orang yang terikat janji suci namun terpisahkan oleh realita sekolah itu menemukan sebuah momen hening. Tidak ada kata-kata. Hanya ada resonansi detak jantung yang berpacu serasi dengan ketukan air hujan yang menghantam aspal.

Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka perlahan terkikis, menyisakan kehangatan yang perlahan mulai mencairkan dinding es yang selama ini mereka bangun.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 makanya jangan selingkuh nyesel kan lu
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!