Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Fuuuh.
Asap tebal berhembus menutupi wajah keriputnya yang memancarkan aura kelicikan seorang pengusaha tamak.
"Ini bukan keajaiban, Wijaya, ini adalah ancaman langsung terhadap bisnis pendidikan yang sudah kita bangun belasan tahun."
"Kalau masyarakat tahu sekolah murah bisa mencetak juara, siapa lagi orang tua kaya yang mau membayar ratusan juta masuk ke Cakrawala?"
Wijaya mengangguk cepat membenarkan logika bisnis kotor yang sedang diucapkan oleh atasannya tersebut.
"Bapak benar sekali, kita harus segera menghentikan laju Garuda Kelam sebelum nama mereka semakin besar."
"Saya dengar Husen akan mendaftarkan murid-muridnya itu ke ajang Olimpiade Sains Tingkat Provinsi bulan depan."
Pak Surya menyipitkan matanya dan tersenyum miring yang terlihat sangat mematikan.
"Tingkat provinsi ya?"
"Itu adalah panggung yang sangat sempurna untuk memberikan kecelakaan tragis kepada karier guru muda yang sok suci itu."
Pak Surya mengambil sebuah map merah dari laci mejanya dan melemparkannya ke hadapan Wijaya.
Brak.
"Itu adalah data anggota dewan penguji provinsi yang semuanya berada di bawah kendali keuanganku."
"Aku ingin kamu mengatur sebuah skenario di mana Husen dituduh melakukan pencurian data soal ujian nasional."
Mata Wijaya membelalak lebar membaca rencana busuk yang tertulis di dalam dokumen rahasia tersebut.
"Tapi Pak, kalau kita memfitnahnya di tingkat provinsi, risikonya sangat besar jika sampai ketahuan oleh kementerian pusat."
"Husen juga terbukti sangat licin dan pintar membalikkan keadaan saat Reno mencoba menyabotasenya kemarin."
Pak Surya mendengus kasar dan menekan cerutunya ke dalam asbak baru dengan sangat kuat.
"Reno hanyalah anak kecil bodoh yang mengandalkan preman pasar murah dan emosi sesaat."
"Kita akan menghancurkan Husen menggunakan sistem birokrasi, hukum, dan manipulasi media massa berskala besar."
"Pastikan kamu mengirimkan mata-mata terbaik kita ke dalam sekolah buangan itu mulai besok pagi."
Wijaya menelan ludah dengan susah payah menyadari bahwa atasannya kini benar-benar berniat membunuh karakter Husen secara total.
"Baik, Pak Surya, saya akan segera mengatur penyusupan ini dengan sangat rapi dan tanpa jejak."
"Bagus, sekarang keluar dari ruanganku dan jangan pernah bawa kabar kekalahan lagi kepadaku."
Wijaya menundukkan badannya dalam-dalam dan bergegas berjalan keluar dari ruangan direktur itu dengan keringat dingin di dahinya.
Dia tahu betul bahwa berurusan dengan Pak Surya sama saja dengan bermain api di atas lautan bensin.
Satu kesalahan kecil saja, maka nyawa dan kariernya sendiri yang akan menjadi bayarannya.
Kembali ke suasana meriah di SMA Garuda Kelam yang masih terus berlangsung hingga menjelang sore hari.
Husen berjalan menyendiri menjauhi keramaian dan duduk di bangku kayu usang di bawah pohon beringin sekolah.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya memberikan rasa sejuk yang sangat menenangkan setelah berhari-hari tegang.
Wusss.
"Satu tahap sudah berhasil diselesaikan dengan baik, tapi jalan ke depan rasanya akan semakin terjal."
Husen bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata merasakan kedamaian sesaat ini.
Tiba-tiba, suara dentingan yang sangat familiar kembali bergema di dalam kepalanya tanpa peringatan.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem: Misi 1 Selesai]
[Memulai sinkronisasi data untuk Misi 2: Ancaman Tingkat Provinsi]
[Sistem mendeteksi adanya konspirasi skala besar yang menargetkan karier dan kebebasan Host]
[Fitur baru terbuka: Peta Relasi Musuh dan Radar Sabotase Pasif]
[Apakah Host ingin melihat pratinjau Misi Utama 2 sekarang?]
[Ya / Tidak]
Husen membuka kedua matanya dan menatap layar biru transparan yang melayang di depan wajahnya dengan tatapan tajam.
"Tentu saja Ya, aku tidak suka dibiarkan buta dalam menghadapi musuh yang licik."
Husen menjawab dalam pikirannya dengan cepat untuk melihat apa yang sedang dipersiapkan oleh takdir untuknya.
Layar biru itu berkedip terang dan memunculkan deretan teks berwarna merah menyala yang menandakan tingkat kesulitan tinggi.
[Misi Utama 2: Meruntuhkan Tirani Yayasan]
[Deskripsi: Lindungi SMA Garuda Kelam dari infiltrasi musuh dan rebut piala Juara Provinsi untuk membongkar korupsi Yayasan Pendidikan Arunika]
[Tantangan Khusus: Host harus menghadapi ujian integritas hukum tanpa menggunakan kekerasan fisik sedikit pun]
[Hadiah: 3000 Poin Pengalaman, Peningkatan Gedung Sekolah Instan, Skill Hipnosis Fakta Aktif]
[Hukuman jika gagal: Host akan dipenjara atas tuduhan palsu, seluruh murid XI-7 akan dikeluarkan dari sekolah negeri selamanya]
Husen membaca setiap baris kata ancaman itu dengan detak jantung yang berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Dipenjara karena tuduhan palsu?"
"Mereka rupanya berniat menggunakan hukum negara untuk menghancurkanku karena sadar tidak bisa menang lewat debat panggung."
Husen menyunggingkan senyum miring yang penuh dengan tantangan dan tidak gentar sedikit pun.
Kekuatan sistem yang dia miliki sekarang jauh lebih kuat berkat ilmu ensiklopedis dan empati yang dimilikinya.
"Mari kita lihat siapa yang akan berakhir di balik jeruji besi nanti, Wijaya."
Husen bangkit berdiri dari bangku kayunya dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki Bara dan Rico terdengar berlari mendekatinya dari arah lapangan utama.
"Pak Husen, Bapak dicariin sama Pak Haris di ruang guru sekarang."
"Katanya ada perwakilan dari dinas yang mau ngasih plakat penghargaan khusus buat Bapak pribadi."
Rico berseru antusias sambil menunjuk ke arah ruang kepala sekolah yang pintunya sedang terbuka lebar.
Husen mengangguk pelan dan berjalan beriringan bersama kedua murid setianya itu membelah lapangan sekolah.
"Kalian berdua dan Nisa harus segera bersiap secara mental mulai malam ini."
"Kita akan berlatih jauh lebih gila lagi untuk persiapan ke tingkat provinsi."
Bara tertawa keras dan memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangannya yang besar.
Bugh.
"Jangankan latihan gila, disuruh debat lawan anggota dewan asli pun gue jabanin sekarang, Pak!"
"Pokoknya ke mana aja Bapak pergi, kelas XI-7 bakal selalu jadi tameng tempur paling depan buat Bapak."
Husen tersenyum mendengar sumpah setia yang sangat tulus dari preman yang kini sudah menjadi pahlawan sekolah itu.
Ikatan di antara mereka kini sudah sekuat baja, tidak akan mudah dipatahkan oleh fitnah atau uang suap dari musuh mana pun.
Pertempuran tahap pertama memang sudah usai dengan kemenangan manis, namun panggung pembantaian kedua baru saja disiapkan secara rahasia.