“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — ISTRI YANG TIDAK BOLEH DIKENAL
Roma, Italia — Pukul 00.17
Bianca Elena Vieri.
Nama itu masih terasa asing ketika Bianca mengulanginya dalam hati. Beberapa jam lalu, ia berdiri di sebuah kapel pribadi dan mengucapkan janji pernikahan kepada Dante Alessandro Vieri. Kini, cincin berlian bersafir biru melingkar di jari manisnya, menjadi bukti bahwa ia telah terikat dengan seorang pria yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang mampu ia bayangkan.
Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.
Foto ibunya.
Perempuan yang selama ini hanya ia kenal sebagai sosok penyayang dalam kenangan masa kecilnya ternyata memiliki hubungan dengan keluarga Vieri. Dan Dante, suaminya sendiri, tampak mengenali foto itu.
Bianca berdiri di balkon vila, menggenggam foto lama tersebut begitu erat hingga ujung kertasnya tertekuk.
“Siapa sebenarnya ibuku?” bisiknya.
“Bianca.”
Suara Dante membuatnya menoleh.
Pria itu berdiri beberapa langkah darinya. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja gelap dengan lengan yang tergulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot mata biru safirnya tetap tajam.
“Berikan foto itu kepadaku,” katanya.
Bianca segera menyembunyikannya di belakang tubuh.
“Tidak.”
Dante mengembuskan napas panjang.
“Aku perlu memeriksanya.”
“Untuk apa? Agar Anda bisa menyembunyikannya di dalam laci rahasia seperti yang dilakukan ayah Anda?”
Rahang Dante mengeras.
“Kau tidak memahami apa yang sedang kau hadapi.”
“Kalau begitu, jelaskan kepada saya!”
Suara Bianca menggema di balkon.
“Apa hubungan ibu saya dengan keluarga Anda? Mengapa seseorang mengirimkan ancaman tepat setelah pernikahan kita? Dan mengapa Anda terlihat seperti baru saja melihat hantu ketika membaca pesan itu?”
Dante terdiam.
Bianca menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tetapi ia menolak membiarkan air matanya jatuh.
“Saya sudah menikahi Anda. Saya sudah mempertaruhkan hidup saya demi menyelamatkan keluarga saya. Setidaknya, berikan saya kebenaran.”
Dante menatap wajahnya lama.
“Aku tidak memiliki semua jawabannya.”
“Tetapi Anda memiliki sebagian.”
“Ya.”
Pengakuan itu terasa seperti tamparan.
Bianca tertawa hambar.
“Terima kasih karena akhirnya mengatakan sesuatu yang jujur.”
Ia berbalik hendak meninggalkan balkon, tetapi Dante memanggilnya.
“Ayahku mengenal ibumu.”
Langkah Bianca terhenti.
“Apa?”
“Mereka pernah bertemu sebelum aku dewasa. Aku menemukan beberapa surat lama di ruang kerja ayahku setelah kematiannya. Surat-surat itu menyebut nama Elena Laurent.”
“Dan Anda tidak pernah merasa perlu memberi tahu saya?”
“Aku baru menghubungkan semuanya setelah melihat foto itu.”
Bianca berbalik.
“Apakah ibu saya memiliki hubungan dengan ayah Anda?”
Dante tidak segera menjawab.
Keheningan itu cukup untuk membuat pikiran Bianca berlarian ke berbagai kemungkinan.
“Jawab saya!”
“Aku tidak tahu,” kata Dante tegas. “Dan aku tidak akan menuduh ibumu melakukan sesuatu tanpa bukti.”
Bianca menatapnya, mencoba menentukan apakah ia bisa mempercayai kalimat tersebut.
Untuk pertama kalinya, Dante tidak memintanya untuk menurut. Ia juga tidak mencoba menghentikannya dengan ancaman.
Namun, Bianca belum siap memaafkannya.
“Saya ingin melihat surat-surat itu.”
Dante mengangguk.
“Besok pagi.”
“Bukan besok pagi. Sekarang.”
“Bianca, sudah lewat tengah malam.”
“Dan ibu saya sudah meninggal selama bertahun-tahun tanpa pernah saya ketahui kebenarannya.”
Kali ini Dante tidak membantah.
Ia mengulurkan tangan, bukan untuk mengambil foto itu, melainkan untuk menawarkan sesuatu yang tidak pernah Bianca duga.
“Ayo ikut denganku.”
Ruang kerja Dante terletak di sayap timur vila, terpisah dari kamar-kamar utama oleh lorong panjang yang dijaga dua pria bersenjata.
Ruangan itu dipenuhi rak buku, lemari kayu gelap, dan meja besar dari kayu mahoni. Sebuah lukisan tua menggambarkan pelabuhan Italia pada abad sebelumnya, sementara lampu meja menerangi tumpukan dokumen yang belum tersentuh.
Dante membuka laci di bawah meja.
Ia mengeluarkan sebuah kotak besi kecil, lalu meletakkannya di hadapan Bianca.
“Kotak ini ditemukan di antara barang-barang pribadi ayahku.”
Bianca memperhatikan ketika Dante membuka kuncinya.
Di dalamnya terdapat beberapa surat, foto hitam putih, dan sebuah liontin perak berbentuk bulan sabit.
Bianca langsung mengenali liontin itu.
Tangannya terangkat ke leher, menyentuh liontin emas milik ibunya yang selalu ia kenakan.
“Kenapa ada benda seperti milik ibu saya?”
Dante mengambil liontin perak tersebut.
“Karena mungkin keduanya berasal dari satu tempat.”
Ia meletakkan kedua liontin berdampingan.
Bentuknya hampir identik. Perbedaannya hanya terletak pada ukiran kecil di bagian belakang: sebuah lambang keluarga yang menyerupai bunga dengan delapan kelopak.
Bianca mengeluarkan liontin miliknya dan membaliknya.
Ukiran yang sama.
Napasnya tertahan.
“Ayah saya mengatakan liontin ini milik keluarga ibu saya.”
“Kalau begitu, kita perlu mengetahui mengapa ayahku menyimpan benda serupa.”
Dante membuka salah satu surat.
Tulisan tangannya rapi, tetapi tinta pada beberapa bagian telah memudar.
Ia membaca dalam diam sebelum menyerahkannya kepada Bianca.
Alessandro, apa yang terjadi malam itu tidak boleh diketahui siapa pun. Jika keluarga Vieri mengetahui kebenaran tentang Elena, bukan hanya dia yang akan berada dalam bahaya. Anak-anak kita juga akan menanggung akibatnya.
Bianca membaca kalimat itu dua kali.
Anak-anak kita.
Ia mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya.
“Anak-anak siapa?”
Dante mengambil surat tersebut kembali, memeriksa bagian bawahnya.
Tidak ada tanda tangan.
Hanya sebuah tanggal dan inisial yang hampir tidak terbaca.
“Surat ini mungkin ditulis oleh seseorang yang mengenal kedua keluarga kita,” katanya.
“Apakah ayah Anda memiliki anak selain Anda dan Luciano?”
“Tidak ada yang pernah diakui.”
Bianca menatapnya.
“Dan apakah ayah Anda pernah memiliki hubungan dengan perempuan lain selain ibu Anda?”
Wajah Dante berubah dingin.
“Ayahku sudah meninggal. Aku tidak akan membicarakan kehidupan pribadinya berdasarkan dugaan.”
“Namun, Anda bersedia membiarkan ibu saya menjadi bagian dari dugaan itu?”
Dante menatapnya tajam.
“Aku sedang mencoba mencari kebenaran, Bianca. Sama sepertimu.”
Bianca menunduk kembali pada surat tersebut.
Ada satu hal yang tidak masuk akal.
Jika surat itu benar-benar berkaitan dengan ibunya, mengapa ayahnya tidak pernah menceritakan apa pun? Mengapa ia harus mengetahui semuanya melalui pria yang baru saja dinikahinya?
Dan yang paling mengganggu, siapa yang mengetahui keberadaan kotak ini?
Sebelum Bianca sempat bertanya, terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk,” kata Dante.
Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan setelan abu-abu melangkah masuk. Rambutnya berwarna cokelat gelap, dan terdapat bekas luka kecil di dagunya.
“Maaf mengganggu, Tuan. Ada laporan dari penjaga gerbang.”
Dante menutup kotak besi.
“Apa yang terjadi?”
“Seorang perempuan mencoba memasuki halaman vila sekitar dua puluh menit lalu. Dia mengatakan mengenal Nyonya Vieri.”
Bianca langsung menoleh.
“Siapa namanya?”
Pria itu memandang Dante terlebih dahulu.
“Isabella Moretti.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Bianca pernah mendengar nama itu disebut oleh Sofia ketika mereka membicarakan keluarga Vieri. Isabella adalah perempuan yang dahulu dekat dengan Dante, seseorang yang menurut kabar hampir menjadi istrinya.
Dante berdiri.
“Di mana dia sekarang?”
“Di ruang penerima tamu.”
“Suruh dia menunggu.”
Pria itu mengangguk, tetapi sebelum keluar, ia menambahkan sesuatu.
“Dia mengatakan memiliki bukti bahwa pernikahan ini akan membawa malapetaka bagi keluarga Vieri.”
Pintu tertutup.
Bianca menatap Dante.
“Apakah Anda masih mencintainya?”
Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menimbangnya.
Dante tampak terkejut.
“Kenapa kau menanyakan itu?”
“Karena dia datang pada malam pernikahan kita.”
“Isabella adalah bagian dari masa laluku.”
“Itu bukan jawaban.”
Dante berjalan mengitari meja, lalu berhenti di hadapannya.
“Tidak ada hubungan romantis antara aku dan Isabella sekarang.”
“Sekarang?”
“Bianca.”
“Tidak perlu menjelaskan. Saya hanya ingin tahu apakah saya akan menghadapi perempuan lain yang merasa memiliki hak atas suami saya.”
Dante menatap cincin di jari Bianca.
“Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menentukan siapa yang boleh berada di sisiku.”
Ia berhenti sejenak.
“Termasuk dirimu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ingin Bianca akui.
Ia segera mengalihkan pandangan.
“Bagus. Karena saya juga tidak berniat mengendalikan hidup Anda.”
Namun, ketika Dante kembali menatapnya, ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya.
“Kalau begitu, kita sudah sepakat.”
Ia mengambil kotak besi dan memasukkannya ke dalam laci rahasia.
“Besok kita akan menyelidiki surat-surat ini. Malam ini, kau harus beristirahat.”
Bianca mengangguk, meskipun pikirannya masih dipenuhi pertanyaan.
Ketika ia meninggalkan ruang kerja, Dante tidak menyadari bahwa satu lembar kertas tertinggal di bawah meja.
Kertas itu terlipat dua.
Dan di bagian belakangnya terdapat sebuah tulisan yang tidak pernah dibaca Dante.
Jika Bianca menjadi istri seorang Vieri, jangan biarkan dia mengetahui siapa ayah kandungnya.
Pukul 01.12.
Bianca memasuki kamar yang disediakan untuknya dan menutup pintu perlahan.
Ia melepaskan sepatu, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah, tetapi pikirannya semakin sulit ditenangkan.
Di atas meja samping ranjang terdapat sebuah kotak kecil yang tidak ia ingat pernah melihatnya sebelumnya.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu hitam dengan tulisan tangan Dante.
Kamarmu adalah milikmu. Tidak seorang pun akan memasuki ruangan ini tanpa izinmu, termasuk aku.
Bianca membaca kalimat itu berulang kali.
Di samping kartu tersebut terletak sebuah kunci.
Ia tidak tahu apakah harus menganggapnya sebagai tanda penghormatan atau sekadar cara Dante membuatnya tetap berada di dalam vila.
Namun, di balik kunci itu, terselip secarik kertas lain.
Tulisan di atasnya berbeda.
Bianca, jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu, jangan percaya kepada siapa pun yang memakai nama Vieri.
Bianca membeku.
Ia menoleh ke arah pintu.
Di luar, terdengar langkah kaki seorang penjaga yang berpatroli.
Tangannya bergetar ketika membaca pesan itu sekali lagi.
Seseorang telah memasuki kamarnya.
Seseorang mengetahui apa yang sedang ia selidiki.
Dan seseorang ingin memastikan bahwa ia tidak mempercayai suaminya sendiri.
Bianca meraih ponselnya, berniat memotret pesan tersebut sebelum menyimpannya.
Namun, saat layar ponselnya menyala, sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama.
Besok malam, datanglah ke Piazza Navona sendirian. Jika kau ingin mengetahui siapa ayah kandungmu, jangan beri tahu Dante.
Bianca memandang layar ponselnya tanpa berkedip.
Ayah kandungnya?
Bukankah pria yang membesarkannya selama dua puluh empat tahun adalah ayahnya?
Air mata menggenang di matanya, tetapi ia menahannya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Bianca menyadari bahwa ancaman terbesar dalam hidupnya mungkin bukanlah menjadi istri rahasia seorang mafia.
Melainkan mengetahui bahwa seluruh kehidupannya dibangun di atas kebohongan.
Di sisi lain vila, Dante berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ia memandang Roma yang mulai diselimuti kabut tipis, tanpa mengetahui bahwa istrinya baru saja menerima pesan yang dapat menghancurkan kepercayaan di antara mereka.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Selamat atas pernikahanmu, Dante. Semoga kau menikmati kebahagiaanmu selama masih memilikinya.
Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.
Foto Bianca sedang berdiri di balkon vila beberapa menit sebelumnya.
Seseorang telah mengawasi mereka dari kejauhan.
Dante mengepalkan tangan.
“Temukan orang itu,” katanya ketika menelepon kepala keamanannya. “Aku ingin tahu siapa yang berani mengawasi istriku.”
Ia memutus panggilan, lalu menatap cincin pernikahannya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Dante merasa takut.
Bukan karena seseorang mengincar nyawanya.
Melainkan karena ia mulai peduli pada seorang perempuan yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dan jika musuh-musuhnya mengetahui hal itu, Bianca akan menjadi sasaran paling berharga dalam perang yang akan datang.
Bersambung ke Bab 6 — Kamar di Ujung Lorong.
jangan lupa mampirr🤭